Memories Of You

Memories Of You
Bab 19



"kakak kau sudah pulang?" tanya fabian yang melihat kakaknya berdiri di depan isabella.


"ehm... dan kapan kau pulang kesini?"tanya pria itu yang masih menatap isabella.


fabian yang melihat tatapan kakaknya kearah isabella cukup risih. ia pun memasang badan di depan isabella. isabella cukup tersentak ketika fabian membawanya kebelakang tubuh pria itu.


"aku baru sampai kemarin"jawab fabian.


pria itu menganggukkan kepalanya. ia lalu memiringkan kepalanya dan melihat isabella yang mengintipnya dari balik tubuh tegap fabian.


"dia siapa?"


fabian sekilas melihat kearah isabella dibelakangnya dan kemudian kearah kakaknya.


"ini temanku. namanya edward. dia dari indonesia juga".


fabian menarik tubuh isabella kedepan dia lalu memegang kedua isabella dengan erat.


"edward ini kakakku martin. dia suaminya kak raina"


ehem.


pria yang bernama martin berdeham ketika fabian menyebut posisinya. isabella lalu mengulurkan tangannya.


"edward"ucap isabella tampak gugup dirinya entah kenapa sangat gugup ketika bertemu dengan martin. martin menyambut uluran tangan isabella dan menggoyangkannya tegas.


"martin".


martin itu adikmu bella. bella yang sering kau tangisi.


ada desiran yang muncul dari dalam lubuk hati martjn. dia merasa tidak asing dengan tatapan takut dan gugup itu. mata yang bulat dan manik mata yang hampir sama dengannya, membuatnya mengingat adiknya yang sudah lama meninggal.


"papa"panggil bianca takut-takut.


isabella menarik tangannya dan melihat kearah fabian tajam. sedangkan martin melihat anaknya itu dan mengelus puncak kepalanya.


"bianca miss papa. papa ne manque pas Bianca? (bianca kangen papa. papa tidak kangen dengan bianca?)"tanyanya.


martin mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya itu dan tersenyum tipis. di elusnya lagi wajah mungil gadis cilik itu. fabian tersenyum kecil melihatnya dan pandangannya beralih kearah isabella yang menatapnya tajam sedari tadi.


hanya kau yang bisa membuat kakakmu luluh sayang. hanya kau yang bisa membuat dirinya menerima kakak ipar dan juga bianca.


isabella memutuskan pandangannya ke fabian dan kemudian pergi dari hadapan orang-orang yang melihatnya dari kejauhan. fabian lalu mengejar isabella.


"edward tunggu"pekiknya.


martin melihat kearah perginya isabella.


kenapa aku tiba-tiba aku teringat isabella.


"bella"panggil fabian yang membalikkan tubuh isabella saat mereka sudah berada di halaman besar depan rumah tersebut.


"lepaskan aku".


"dengarkan aku dulu. kamu jangan pergi dari sini. aku akan mengantarmu kesana. tapi jangan pergi".


isabella menggoyang kan bahunya yang dicengkeram fabian hingga terlepas.


"memamgnya siapa kau menyuruhku tidak pergi?"maki isabella. wanita itu lalu membalikkan tubuhnya tetapi di tahan oleh fabian.


"lepaskan aku fabian!!!! akhh".


tubuh isabella terjatuh dan terduduk diatas tanah. dia langsung memegang dadanya yang terasa nyeri sekali seakan ada tombak yang menancapnya.


"isabella"lirih fabian yang sudah panik melihat tubuh gadisnya ambruk.


isabella terus meremas dadanya yang sangat sakit itu.


"kita kerumah sakit sekarang"


"tii...tidak usah! sudah tidak sakit lagi"


"kau gila apa? mukamu pucat sekali. aku panggil kak martin dia seorang dokter".


"antar aku ke kantorku"


"tidak kau harus di periksa"bentak fabian.


isabella memejamkan matanya sejenak dan kemudian bangkit dengan perlahan. rasa sakit itu memang masih ada tapi dia mencoba untuk menahannya.


"aku tidak perlu menurutimu. aku harus ke kantorku sekarang".


isabella lalu berjalan meninggalkan dengan langkah tertatih tatih. fabian mengeram marah.


fabian menghela nafasnya berat. dia harus bersabar menghadapi isabella.


"baiklah! tunggu disini sebentar"ucapnya pelan.


isabella menganggukkan kepalanya pelan. fabian berusaha tersenyum tipis ia pun mengambil kursi yang tak jauh dari mereka berdiri dan meletakkannya di belakang isabella. ia lalu menuntun isabella untuk duduk.


"tunggu disini". fabian pun dengan refleks mencium puncak kepala isabella lalu berlari masuk kedalam rumahnya.


fabian berlari menaiki tangga dan disambut oleh alexandre.


"ada apa? apa yang terjadi?"tanya alexandre panik. fabian menepuk kedua bahu ayahnya dan menatap semua orang termasuk kakaknya yang menatap bingung.


"tidak apa-apa pa. aku akan mengantar edward kesuatu tempat. dia ada urusan mendadak"


"baiklah".


fabian langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil jaketnya dan kunci mobilnya ia lalu keluar dari kamarnya.


"hati-hati nak"ucap alexandre.


fabjan menganggukkan kepalanya dan turun kelantai bawah dan menuju kebelakang. ia lalu mengambil mobilnya yang terparkir di belakang restaurant rumahnya.


dipanaskan sebentar mobilnya dan kemudian lalu mengeluarkan mobilnya. dia lalu sampai di depan halaman rumahnya dan melihat isabella yang masih memegang dadanya. ia lekas keluar dan berlari menuju isabella.


"apa masih sakit?"tanya fabian yang khawatir.


"tidak. ayo pergi".


fabian menganggukkan kepalanya dan membantu isabella berdiri. mereka berjalan kearah mobil setelah sampai disana fabian membuka pintu untuk isabella. isabella tersenyum kecil melihat tingkah fabian yang memperlakukan dia seperti dirinya adalah istrinya.


fabian lalu menutup pintu mobil ketika isabella masuk dan ia pun memutar dirinya dan segera masuk kedalam mobilnya. saat akan menyalakan mobilnya ia lalu seakan melupakan sesuatu. ia lalu memajukan tubuhnya kearah isabella. isabella yang melihat fabian memajukan tubuh kearahnya menjadi waspada.


ceklek


kunci kursi yang diduduki isabella berbunyi dan sandaran kursi itu pun menurun. fabian lalu menunduk kearah kaki isabella dan menggapai sesuatu. sebuah sandaran kaki membuat kaki isabella sekarang bertengger disana. sekarang posisi isabella seperti berbaring.


"aku seperti kambing yang siap disembeli dengan posisi begini".


"kau tidak akan ku sembelih tapi aku akan mengisap semua darahmu seperti vampir kesukaanmu".


isabella mencibirkan bibirnya dan kedua alisnya terangkat. fabian lalu melajukan mobilnya dan membelah jalanan montmartre.


"kau tidak mandi dulu? kau tau aku tidak suka bau-bau yang tidak sedap".


fabian melirik kearah isabella sebentar.


"mandi dan kemudian membuatmu menungguku lama. oh aku tidak akan percaya kau terkenal dengan ketidaksabaran"sindir fabian.


"ehmm benarkah? sepertinya aku akan memberikan penulis artikel tentangku itu. apa lagi yang dia tahu tentangku?".


"tidak sebanyak yang aku tahu tentangmu. termasuk kemana tujuan kita sekarang".


isabella membelalakan matanya dan segera menegakkan tubuhnya.


"kau tahu dimana kantorku?"pekiknya.


auhh...


fabian dengan cepat menepikan mobilnya dan membuka setbeltnya. ia lalu melihat kearah isabella panik.


"apa masih sakit? ada rumah sakit disekitar sini, kita kesana dulu".


"tidak usah. aku sudah terbiasa"ucap isabella enteng.


ia pun berbaring lagi dan memasangkan seatbeltnya.


"jawab pertanyaanku tadi"pintanya.


fabian yang sudah mengendarai mobilnya lagi mendecih ketika isabella memaksanya.


"apa? bukannya aku sudah bilang kalau aku rajanya disini"


isabella memutar matanya malas, dia menyesal bertanya kepada pria disampingnya itu. perjalananmu berlanjut dengan keterdiaman mereka hingga mereka sampai tempat tujuan isabella.


saat mereka akan keluar isabella membuat fabian terdiam.


"fabian! aku tidak tahu seberapa banyak yang kau ketahui tentangku atau kau rencanakan padaku. aku akan membiarkannya sekarang. aku akan berpura-pura tidak tahu. tapi jika sampai aku tahu yang kau rencanakan itu dan berdampak buruk padaku. kau tahu akibatnya"


vote, komen, like, and share.. makasih