Memories Of You

Memories Of You
Bab 23



"Oncle (paman)!" teriak suara gadis remaja.


fabian yang sudah menghabiskan makanannya menoleh kearah sumber suara. gadis cilik berusia 11 tahun berlari menghampiri fabian. fabian langsung menyambut gadis cilik itu dan memeluknya.


"Tu me manques oncle. pourquoi as-tu mis si longtemps à rentrer à la maison? (aku merindukanmu paman. kenapa lama sekali pulangnya?"rajuk gadis itu.


"pardonne mon cher oncle. oncle est très occupé là-bas. (maafkan paman sayang! paman sangat sibuk disana)"jawab fabian sambil mengelus rambut gadis cilik itu.


"fabian kau sudah pulang?"tanya seorang wanita yang menghampiri mereka.


fabian melepaskan pelukan gadis itu dan kemudian berdiri. ia pun memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.


"aku baru sampai beberapa jam yang lalu"jawab fabian.


gadis cilik itu lalu menarik lengan kemeja fabian. fabian menundukkan kepalanya dan mengelus puncak kepala gadis itu.


"où sont mes cadeaux, mon oncle? (mana oleh-olehku , paman?)"tanya gadis itu polos.


"bianca"tegur wanita itu.


"tidak apa-apa, kak. aku memang berjanji kepadanya. oh iya ini temanku edward keturunan edward cullen"goda fabian.


isabella melotokan matanya sedangkan yang dipelototin hanya terkekeh geli. wanita itu lalu mengulurkan tangannya kepada isabella.


"rania".


"edward"ucap isabella yang suaranya diberatkan seperti laki-laki.


kak dihadapanmu adalah adik ipar yang sangat kau rindukan. adik ipar yang selalu kau tanyakan.


"oh iya aku ke kamar sebentar"ucap fabian yang berlari ke kamarnya.


rania dan isabella melepaskan tangannya dan suasana canggung tercipta disana.


"oh..ehmm c'est ma fille, bianca (ini anakku, bianca)"ucap rania.


"aku bisa bahasa indonesia"potong isabella.


isabella lalu menatap gadis cilik bernama bianca itu. sedangkan gadis itu menatapnya dari atas sampai kebawah. isabella melototkan matanya ketika melihat gadis itu menatapnya menyelidik.


"bianca"panggil fabian yang sudah kembali sambil membawa paper bag. fabian melihat kearah isabella dan juga bianca. ia pun tersenyum geli.


"ce! un cadeau spécial pour une jolie fille comme toi. (ini! hadiah special untuk gadis cantik sepertimu)".ucap fabian sambil mengusap pipi bianca.


bianca lalu mengambilnya dan melihat isinya. betapa senangnya ia melihat gaun cantik bermotif batik dan juga lengkap dengan tasnya. isabella melototkan matanya, ia tahu gaun itu. ia sendiri yang membuatnya. fabian berdiri dan melihat kearah isabella dan kemudian mengediokan sebelah matanya.


"dire quel amour à l'oncle? (bilang apa sayang pada paman?)"ucap rania.


"Merci oncle".


gadis cilik itu lalu berlari keluar. rania melihatnya senang gadis ciliknya adalah penyemangatnya.


"aku permisi dulu. kalian istirahat saja".


isabella dan fabian menatap kepergian rania.


"gadis kecil yang menyebalkan"gumam isabella.


"hei! dia sangat cantik dan menggemaskan"protes fabian.


isabella memandang jijik fabian. ia pun mengangkat tangan kanannya dan melakukan gerakan seperti menyecan diri fabian dari atas sampai bawah.


"dan paman yang menjijikan".


"hei! banyak gadis yang mengejarku".


"wow! mereka semua pasti buta".


"kau".


"aku gerah tunjukkan aku dimana kamar mandinya"perintah isabella. fabian mengulum bibirnya kesal.


"ikut aku". isabella lalu mengekori fabian. mereka lalu menurunin tangga di samping balkon itu dan berjalan ke belakang rumah. disana ada sebuah kolam renang yang besar sekali. mereka pun mengitari kolam renang itu dan menurunin tangga di samping kolam


jauh sekali.


fabian membuka pintu kamar yang beda beberapa anak tangga yang mereka turunin tadi. setelah dibuka isabella sedikit terkesiap melihat pemandangan kamar itu. kamar yang luasnya hampir sama dengan kamarnya tapi kamar ini menghubungkan langsung dengan pemandangan dalam kolam renang yang bisa ia lihat dibalik kaca tebal. kolam renang itu didesaign layaknya laut lepas sana. interior dikamar itu pun sangat modern sekali, sangat nyaman untuk menghabiskan waktu seharian di kamar itu. kekaguman isabella terhenti ketika melihat kasur berukuran king size. dia baru tersadar dan langsung melihat kearah fabian.


"jangan bilang...."


fabian menganggukkan kepalanya antusias, dia memikirkan apa yang isabella pikirkan. fabian pun mengangkat alisnya sebelah ia lalu berjalan kesamping dan berdiri tepat di belakang isabella dan kepalanya ada di samping kirinya.


"kau lihat kasur itu isabella. kita akan tidur disitu berdua dengan suasan kamar yang romantis ini. kau akan terus menyebutkan namaku terus"ucap fabian yang suaranya dibuat menjadi mendesah.


"ehmmn kau bahkan pasti akan meminta... ahhhhhhhhhhhhhhhh".


fabian berteriak keras ketika isabella menginjak kakinya sangat kuat. sakitnya sampai sekujur tubuh.


"oh benarkah? lalu bagaimana dengan aku lakukan tadi. kau pasti akan mengingatku teru, orang yang membuat kakimu remuk"tantang isabella.


"isabella kau...". fabian yang ingin melayangkan protes menjadi urung. dia lalu mendudukkan dirinya diatas tempat tidur sambil membuka sepatunya. dilihatnya kakinya yang memerah dan langsung ia urut-urut.


"kenapa kau kasar sekali?"gerutunya. isabella tidak memperdulikannya dan membawa tasnya kemudian mencari dimana kamar mandi.


"dipojok kanan..auhhh.. handuk bersih diatas lemari kamar mandi"teriak fabian. ia masih mengurut kakinya, sungguh isabella kuat sekali.


isabella menemukan kamar mandi sesuai arahan fabian tadi. ia pun segera mengunci kamar mandi mencegah hal yang tidak-tidak. ia lalu membuka tasnya yang berisi 2 helai pakaian. paman george keterlaluan memang, masa ia tidak memakai dalaman malan ini.


ia lalu membuka hodienya dan semua pakaiannya. ia lalu menghidupkan shower dan menyetelnya ke mode air panas. setelah lima belas menit ia keluar dengan kemeja hitam yang terdapat di ranselnya dan celana pendek. ia melihat fabian yang sudah berbaring dengan posisi menggoda.


isabella sudah berkacak pinggang.


"apa tidak ada kamar lain?"tanya isabella.


"sayangnya tidak ada cantik. ehmmm kemarilah"goda fabian.


"aku sungguh bodoh mengikutimu dari bandara".


"ayolah sayang. lagian kau mau tidur dimana lagi, semua kamar kosong. disini ada 6 kamar, kamar papa, kamar kakak dan kakak ipar, kamar bianca, kamar karywan wanita dan pria, dan terakhir kamarku". jelasnya.


"kau tidak mungkin tidur dikamar papa, atau kamar kakak dan kakak ipar. kau pasti akan dibilang pelakor. sedangkan kamar bianca kau pasti akan dibilanh fedofil, dan jika kau memlilih karyawan wanita kau pasti berakhir babak belur, begitu juga dengan kamar karyawan pria jika mereka tahu kau wanita kau pasti akan habis dengan mereka. mending kau bersamaku kita bisa membuat isabella junior atau fabian junior".


isabella tak habis pikir dengan ucapan fabian di kalimat terakhirnya. ia lalu menggantungkan ranselnya dan hendak berjalan pergi.


fabian yang melihar itu lalu segera bangun dari tempat tidurnya dan menahan lengan isabella.


"eh... tunggu! baiklah.. kau tidur di kasur biar aku disofa". fabian akhirnya kalah.


isabella menghempas ranselnya ke atas meja dan menghela nafasnya. ia lalu menatap tajam kearah fabian.


"jika kau menyentuh kau akan habis"


"uhh takut".


isabella lalu menaiki kasur king size itu dan membaringkan tubuhnya. ehmmm nyaman sekali. sedangkan fabian dirinya tersenyum melihat isabella yang sudah mulai mengistirahatkan tubuhnya. ia pun langsung menuju ke kamar mandi.


setelah lima belas menit menghabiskan waktu untuk menyegarkan tubuhnya. fabian keluar dari kamar mandinya dan melihat isabella yang sudah terlelap. ia lalu menghampiri isabella dan duduk di tepi ranjang. ditatapnya wajah damai isabella sungguh sangat cantik sekali, diusapnya pipi isabella itu dan ia mendekatkan wajahnya. diciumnya bibir mungil isabella itu dengan lembut.


"itu ciuman selamat datang sayang"


fabian lalu mencium isabella lagi sedikit lebih lama dan kemudian melepaskannya.


"itu ciuman dariku. i miss you lot baby".


"fabian".


fabian langsung melihat siapa yang memanggilnya dan ia merasa malu ketika melihat papanya yang menangkap basah dirinya ketika mencium isabella.


"pap..papa".


"bisa kita bicara?"pintanya.


fabian menganggukkan kepalanya dan ia lalu bangkit dari lasur dan mengecup kening isabella terakhir kalinya.


saat ia sudah di luar kamar dan menutup pintu tersebut. papanya sudah memeluknya erat.


"terima kasih fabian. kau membawanya pulang. aku tidak tahu dia masih hidup. aku masih tidak percaya ini"isak ayahnya.


fabian mengelus punggung ayahnya yang begetar itu.


"sama-sama pa. tolong rahasiakan ini dari kakak. kita harus bersikap seperti biasanya".


alexandre melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"baiklah fabian. tapi kalian tidak seharusnya tidur satu kamar setelah melihatmu tadi".


"ayolah pa! fabian dan isabella sudah dewasa. dan kalaupun kami melakukannya, fabian akan langsung menikahinya".


"kau"


fabian langsung memeluk alexandre.


"aku bercanda pa aku tidak akan melakukan apapun kepada isabella tapi kalau menikahinya aku pastikan itu akan terjadi"kekehnya.


alexandre sangat bahagia melihat putrinya masih hidup dan dia akan menjaga dan melindunginya mulai sekarang. meski dia harus berpura-pura menjadi orang lain.