Memories Of You

Memories Of You
Bab 3



Bella menghentikan mobilnya tepat di pintu lobby. dia keluar dari mobilnya dengan perasaan marah tak disangka dihari spesialnya dia akan mendapatkan kejutan yang sangat menguras jiwanya.


dilemparnya kunci mobil sport yang ia bawa kepada petugas valet tanpa melihat kearah petugas itu. wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang sebentar lagi meledak. ia berjalan lurus kedepan tanpa menghiraukan tatapan orang yang melihatnya kagum dan juga penasaran. suara panggilan namanya juga tidak ia hiraukan baginya panggilan itu hanya angin lalu.


"nona! nona!"panggil petugas resepsionis yang memanggil namanya. petugas itu tampak kesulitan menyamai langkah bella yang sudah jauu di depannya.


bella berhenti di depan pintu lift dan menekan tombol lift itu.


"nona"panggil resepsionis tersebut yang sudah menghadang jalan bella. resepsionis tersebut tampak mengambil nafas dalam-dalam. sungguh ia tidak percaya wanita anggun dan elegan didepannya ini mempunyai langkah kaki yang besar.


"nona anda mau kemana? an..anda harus melapor ke resepsionis dulu kalau mau masuk kesini"ucap wanita itu yang masih mengambil nafasnya dalam-dalam.


isabella melipat tangan didadanya, tatapannya sangat tajam kearah resepsionis wanita itu. nyali resepsionis itu menciut tapi dirinya tetap berusaha untuk menjalankan prosedur pekerjaannya. dirinya tidak ingin mendapatkan teguran dari atasannya karena tidak menjalankan prosedur pekerjaan yang baik.


ting


bunyi pintu lift terbuka. isabella mendorong tubuh wanita itu kesamping. seketika tubuh wanita itu bergeser kesamping. saat hendak masuk kedalam tangan bella ditarik oleh resepsionis tersebut membuat dirinya tetarik keluar dari lift. tubuhnya hampir tersungkur jatuh kelantai.


"maaf nona anda harus melapor"keukeuh resepsionis tersebut.


isabella membalikkan tubuhnya dan jarinya menunjuk ke wajah wanita itu.


"kau tidak tahu siapa aku?"tanyanya geram.


"maaf nona! saya tidak tahu tapi siapa pun anda harus melapor ke resepsionis jika harus masuk kedalam hotel ini". ucap wanita itu sopan.


bella mengeluarkan smirknya. sungguh ia tidak percaya dirinya harus mengalami ini.


"kau! apa aku harus memecatmu"


"maafkan saya nona. saya hanya menjalankan prosedur hotel kami".


"ada apa ini?"tanya seseorang yang muncul dari belakang.


isabella melihat kearah sumber suara dan ia langsung mendongakkan kepalanya.


"kau bisa singkirkan kecoa ini! dia menghalangi jalanku".


"baik nona"ucap pria itu yang tak lain adalah kevin yang baru sampai di hotel tersebut.


saat hendak menekan tombol lift lagi wanita itu masih menghalangi lagi langkah bella membuat wanita itu geram.


"kau! apa aku harus mengungkapkan siapa diriku"bentak bella.


"maaf nona"


"aku isabella Claudya Lèonore dan aku pemilik hotel ini. hari ini juga kau ku pecat"ucapnya dengan marah.


tubuh resepsionis itu bergetar kuat ketika mendengar nama wanita yang ia halangi dari tadi. seketika dirinya terjatuh ke lantai. kevin yang melihat wanita itu terjatuh dengan sigap ia membantu wanita itu berdiri.


"tu.. tuan"panggilnya gemetar. kevin hanya memandangnya miris.


isabella masuk kedalam lift dan pintu lift itu tertutup pandangannya lurus kedepan tanpa mau melirik kearah resepsionis tersebut.


isabella sekarang sudah didepan kamar yang ditujunya, ia lalu merogoh tasnya dan mengambil kartu acess miliknya yang bisa membuka seluruh kamar hotel ini. pintu kamar itu terbuka, dia lalu masuk kekamar itu.


suasana suite room tersebut tampak gelap. terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. penghuni kamar mandi itu tidak tahu jika diluar sudah terjadi perang dingin. isabella yang duduk di sofa kamar itu tampak menatap dingin kearah wanita dihadapannya sambil memegang selimut yang menyelimutinya. kevin sekretarisnya tampak setia berdiri disamping bella otaknya sedang mencari tahu apa yang terjadi.


"cintya bisa kau ambilkan pakaianku"teriak pria dari dalam kamar mandi.


hening.


wanita yang bernama cintya itu tidak menjawab panggilan itu. dirinya sangat takut menjawab panggilan tersebut disaat di depannya ada seorang wanita yang menjelma menjadi malaikat pencabut nyawanya.


"cintya! baby! kau dengar aku"panggil pria itu lagi.


isabella masih menatap tajam wanita dihadapannya itu. dia tersenyum miring ketika pria di dalam kamar mandi itu terus memanggil.


pintu kamar mandi itu pun terbuka dan pria itu keluar dengan memakai bathrobe. dirinya masih sibuk mengelap rambutnya yang basah.


"sayang kenapa kau diam saja! apa kau masih ingin lagi"ucap pria itu yang tak lain adalah jhonny.


jhonny tersenyum memikirkan gadis seksi dibar itu pasti masih menginginkan dirinya lagi. ia lalu membuka matanya dan melihat kearah gadis itu yang menatap takut kearahnya. senyuman jhonny pun memudar dan ia lalu mengikuti arah pandang wnaita yang barusan ia tidurin. matanya langsung terbelalak.


"hi honey"sapa isabella dengan senyuman iblisnya.


jhonny terdiam ditempatnya berdiri. tubuhnya terasa membeku, kakinya sulit untuk digerakkan seperti disemen dengan campuran semen yang solid.


"hi honey! kau mencari ini?"tanya bella yang sedang memegang secumpuk pakaian jhonny.


bella benci ini. dia benci dikhianati, dia benci melihat orang didekatnya membohonginya, memanfaatkannya, dan meminum minuman keras. dan malam ini kekasihnya melakukan semua yang ia benci.


lidah jhonny keluh, dia tidak menyangka kalau bella akan memergokinya. selama ini dia selalu rapi dalam bermain dibelakang bella. tapi dewi fortuna tidak mendukungnya malam ini.


bella bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju balkon kamar hotel itu. dibukanya pintu balkon itu dan ia berjalan keluar. dia lalu membalikkan tubuhnya dan merentangkan tangan kirinya yang memegang semua pakaian jhonny.


"kau tidak menjawab pertanyaanku jhonny".


isabella menaikan sebelah alisnya.


"oh! aku baru ingat pertanyaanku terlalu banyak. bukan begitu kevin?"tanya bella kepada kevin yang juga sama tegangnya dengan jhonny seakan ia juga menjadi terdakwa.


"jadi apa ini yang kau cari?"tanya bella lagi.


jhonny memberanikan dirinya melangkah mendekati bella walau sangat sulit.


"honey! aku bisa je...."


"sssttttt! aku tidak butuh penjelasanmu. aku butuh jawabanmu".


jhonny menghela nafasnya pasrah.


"iya honey! tolong berikan kepadaku"


bella tersenyum miring ketika melihat lawannya pasrah.


"baiklah! tapi....upppsssss!!" ucap bella ketika dengan sengaja membuang semua pakaian jhonny dari atas balkon.


"isabella!! kau..."jhonny segera berlari kearah bella. ia marah ketika melihat bella membuang pakaiannya yang didalamnya masih ada dompet dan ponselnya yang tidak sempat ia pisahkan. kevin yang melihat pergerakan jhonny dengan segera menarik tangan jhonny dan menguncinya dibelakang kedua kaki jhonny pun di tendang kevin sehingga dirinya berlutut dihadapan bella.


bella tersenyum dan berjalan kearah jhonny yang meringis karena tangannya dikunci kevin dengan kuat. bella menundukkan kepalanya dan ia melihat kevin dengan tatapan tajamnya.


"gila? kejam? norak? yang mana ingin kau ungkapkan sekarang?"tanya bella mengintimidasi.


jhonny melihat bella dengan sangat tajam, ia tidak terima direndahkan oleh kekasihnya itu.


"kau berani melotot di depanku. wow! aku terkejut. kau tidak merasa bersalah atau malu padaku. bagaimana kalau kita rekam kejadian malam ini dan aku sebarkan di semua berita"ancam bella.


"isabella cukup!"bentak jhonny. bella melihat kearah kevin yang segera dibalas dengan anggukan oleh sekretarisnya itu.


"baiklah kalau kau bilang cukup kepadaku". isabella lalu mendongakkan kepalanya dan menatap kevin yang sudah sedari tadi merekam.


"apa ini live?"tanya bella meyakinkan kevin. kevin menganggukkan kepalanya, beberapa menit sebelumnya saat bella melihat kearah kevin, ia langsung mengeluarkan handphonennya dan segera mengetik cepat menghubungi seluruh pihak berita.


jhonny yang mendengar pertanyaan bella langsung membelalakan matanya dan berusaha memberontak.


"bella tidak aku mohon. aku bersalah bella. jangan lakukan ini"teriak jhonny.


bella tidak menggubris teriakan jhonny dia menatap cintya yang juga menatap takut dirinya. bella menghembuskan nafasnya pelan.


"jhonny stevanus smith".


"isabella"teriak jhonny. isabella geram dengan teriakan jhonny dengan refleksnya dia menampar jhonny sehingga pria itu terdiam.


"jhonny stevanus smith! kau bukan lagi kekasihku. dan semua sponsor yang aku berikan selama ini berikut juga sahamku di perusahaan orang tuamu, dan semua aset yang aku berikan. aku tarik semuanya"vonis bella.


jhonny memejamkan matanya baginya ini hari tersialnya. karirnya hancur seketika akibat perbuatannya sendiri.


"dan kau"ucap bella yang melihat perempuan yang ditiduri oleh jhonny.


"kau salah memilih pria yang kau ajak tidur. dia bukanlah pria kaya yang seperti kau bayangkan. dia hanyalah bocah laki-laki yang hanya memanfaatkan wajahnya dan tidak memiliki apa-apa. aku sarankan kau mencari pekerjaan yang baik. jangan kau rendahkan martabat kita sebagai perempuan dengan menjajahkan tubuh terhadap pria hidung belang yang bahkan kau tidak tahu uang yang mereka punya haram atau tidak".


cintya terdiam ketika mendengarkan ucapan bella.


bella melihat kearah kevin lagi dan menganggukkan kepalanya.


"kita pergi".


"isabella! aku mohon jangan lakukan ini padaku. aku mencintaimu"mohon jhonny yang merangkul kedua kaki bella. bella menarik kakinya dan meninggalkan jhonny yang masih memanggilnya.


cintya bangkit dari tempat tidur dan segera memakai pakaiannya. ia lalu berjalan melewati jhonny yang sudah berlutut di depan pintu. ia lalu melihat jhonny dari bawah keatas dan melemparkan senyum merendahkan. vintya lalu membuka ointu kamar itu dan meninggalkan jhonny yang sudah berteriak melepas amarahnya.


"kau sudah mendengarnya?"tanya cintya ketika menelpon seseorang.


"dia sangat mengerikan. tapi kalian sangat mirip. saatnya kau membayar utangmu"setelah mendengar ucapan seseorang yang ia telpon itu, cintya memutuskan panggilannya.


"maldives. i'm coming".