
fabian menganggukkan kepalanya antusias, dia memikirkan apa yang isabella pikirkan. fabian pun mengangkat alisnya sebelah ia lalu berjalan kesamping dan berdiri tepat di belakang isabella dan kepalanya ada di samping kirinya.
"kau lihat kasur itu isabella. kita akan tidur disitu berdua dengan suasan kamar yang romantis ini. kau akan terus menyebutkan namaku terus"ucap fabian yang suaranya dibuat menjadi mendesah.
kedua tangan isabella sudah mengepal kuat, ia sungguh muak dengan ucapan fabian sedari tadi.
"ehmmn kau bahkan pasti akan meminta... ahhhhhhhhhhhhhhhh".
fabian berteriak keras ketika isabella menginjak kakinya sangat kuat. sakitnya sampai sekujur tubuh.
"oh benarkah? lalu bagaimana dengan aku lakukan tadi. kau pasti akan mengingatku terus, orang yang membuat kakimu remuk"tantang isabella.
"isabella kau...". fabian yang ingin melayangkan protes menjadi urung. dia lalu mendudukkan dirinya diatas tempat tidur sambil membuka sepatunya. dilihatnya kakinya yang memerah dan langsung ia urut-urut.
"kenapa kau kasar sekali?"gerutunya. isabella tidak memperdulikannya dan membawa tasnya kemudian mencari dimana kamar mandi.
"dipojok kanan..auhhh.. handuk bersih diatas lemari kamar mandi"teriak fabian. ia masih mengurut kakinya, sungguh isabella kuat sekali.
isabella menemukan kamar mandi sesuai arahan fabian tadi. ia pun segera mengunci kamar mandi mencegah hal yang tidak-tidak. ia lalu membuka tasnya yang berisi 2 helai pakaian. paman george keterlaluan memang, masa ia tidak memakai dalaman malan ini.
ia lalu membuka hodienya dan semua pakaiannya. ia lalu menghidupkan shower dan menyetelnya ke mode air panas. setelah lima belas menit ia keluar dengan kemeja hitam yang terdapat di ranselnya dan celana pendek. ia melihat fabian yang sudah berbaring dengan posisi menggoda.
isabella sudah berkacak pinggang.
"apa tidak ada kamar lain?"tanya isabella.
"sayangnya tidak ada cantik. ehmmm kemarilah"goda fabian.
"aku sungguh bodoh mengikutimu dari bandara".
"ayolah sayang. lagian kau mau tidur dimana lagi, semua kamar kosong. disini ada 6 kamar, kamar papa, kamar kakak dan kakak ipar, kamar bianca, kamar karywan wanita dan pria, dan terakhir kamarku". jelasnya.
"kau tidak mungkin tidur dikamar papa, atau kamar kakak dan kakak ipar. kau pasti akan dibilang pelakor. sedangkan kamar bianca kau pasti akan dibilanh fedofil, dan jika kau memlilih karyawan wanita kau pasti berakhir babak belur, begitu juga dengan kamar karyawan pria jika mereka tahu kau wanita kau pasti akan habis dengan mereka. mending kau bersamaku kita bisa membuat isabella junior atau fabian junior".
isabella tak habis pikir dengan ucapan fabian di kalimat terakhirnya. ia lalu menggantungkan ranselnya dan hendak berjalan pergi.
fabian yang melihar itu lalu segera bangun dari tempat tidurnya dan menahan lengan isabella.
"eh... tunggu! baiklah.. kau tidur di kasur biar aku disofa". fabian akhirnya kalah.
isabella menghempas ranselnya ke atas meja dan menghela nafasnya. ia lalu menatap tajam kearah fabian.
"jika kau menyentuh kau akan habis"
"uhh takut".
isabella lalu menaiki kasur king size itu dan membaringkan tubuhnya. ehmmm nyaman sekali. sedangkan fabian dirinya tersenyum melihat isabella yang sudah mulai mengistirahatkan tubuhnya. ia pun langsung menuju ke kamar mandi.
setelah lima belas menit menghabiskan waktu untuk menyegarkan tubuhnya. fabian keluar dari kamar mandinya dan melihat isabella yang sudah terlelap. ia lalu menghampiri isabella dan duduk di tepi ranjang. ditatapnya wajah damai isabella sungguh sangat cantik sekali, diusapnya pipi isabella itu dan ia mendekatkan wajahnya. diciumnya bibir mungil isabella itu dengan lembut.
"itu ciuman selamat datang sayang"
fabian lalu mencium isabella lagi sedikit lebih lama dan kemudian melepaskannya.
"itu ciuman dariku. i miss you lot baby".
"fabian".
fabian langsung melihat siapa yang memanggilnya dan ia merasa malu ketika melihat papanya yang menangkap basah dirinya ketika mencium isabella.
"pap..papa".
"bisa kita bicara?"pintanya.
fabian menganggukkan kepalanya dan ia lalu bangkit dari lasur dan mengecup kening isabella terakhir kalinya.
saat ia sudah di luar kamar dan menutup pintu tersebut. papanya sudah memeluknya erat.
"terima kasih fabian. kau membawanya pulang. aku tidak tahu dia masih hidup. aku masih tidak percaya ini"isak ayahnya.
fabian mengelus punggung ayahnya yang begetar itu.
"sama-sama pa. tolong rahasiakan ini dari kakak. kita harus bersikap seperti biasanya".
alexandre melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"baiklah fabian. tapi kalian tidak seharusnya tidur satu kamar setelah melihatmu tadi".
"kau"
fabian langsung memeluk alexandre.
"aku bercanda pa aku tidak akan melakukan apapun kepada isabella tapi kalau menikahinya aku pastikan itu akan terjadi"kekehnya.
alexandre sangat bahagia melihat putrinya masih hidup dan dia akan menjaga dan melindunginya mulai sekarang. meski dia harus berpura-pura menjadi orang lain.
pagi hari yang sejuk dan indah menyambut dua anak manusia yang masih asyik memejamkan matanya. posisi mereka begitu intim dan mesra dimana sang pria memeluk erat sang wanita yang kepalanya bersandar nyaman di dada sang pria.
entah apa yang membuat mereka bisa tidur berdua di kasur yang sama dan dibawa selimut yang sama. sang pria membuka matanya, ia lalu tersenyum ketika melihat objek pertama yang lihat. seorang isabella tidur di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di dadanya. "good morning my love"bisiknya. tak berapa lama isabella terbangun dari tidurnya dan fabian langsung menutup matanya. dia ingin melihat ekspresi isabellanya sekarang. entahlah sejak bertemu lagi dengan isabellanya otaknya sudah tidak jernih. dia bahkan berani mencium isabella di depan ayahnya dan menyebut isabella dengan sebutan isabellanya.
isabella mulai mengerjapkan matanya. hal yang pertama yang ia harapkan ialah dia berada di dalam kamarnya. dia memejamkan matanya sebentar. entah kenapa dia merasa nyaman, dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya berdetak kencang. tunggu dulu kenapa detak jantungnya terdengar sangat kencang sekali sedangkan dirinya tidak mengalami gejala apapun?. tunggu dulu! dia merasakan hembusan nafas di puncak kepalanya. siku tangan kanannya seperti sedang menyentuh otot yang kencang,keras, dan juga berpetak-petak. isabella lalu membuka matanya kembali dan ia baru sadar pemandangan yang ia lihat saat pertama kali membuka tadi bukanlah sofa kulit yang biasa ia tiduri tapi ini kulit manusia.
isabella lalu segera bangkit dan ketika akan bangkit, fabian lalu memeluknya erat. kaki kiri fabian menindih kedua kali isabella dan keduanya memeluk erat isabella. posisi mereka sekarang miring berhadapan. fabian mendekap wanita itu dengan erat.
"lepaskan tidak!"ucap isabella dengan gigi yang dirapatnya.
ehmmmm.
fabian hanya mengerang pelan dia masih berpura-pura memejamkan tangannya.
isabella lalu memutar matanya jengah dan kemudian membuka mulutnya lebar-lebar.
"agggggggggghhhhhhhhhhhhhh"
fabian segera melepaskan pelukannya dan bangkit duduk. sedangkan isabella juga duduk dan memberikan tatapan tajam kepada fabian. pria itu masih mengusap dada sebelah kirinya yang digigit oleh fabian.
"kau apa kau memang seorang vampir. ini sakit sekali. sssshhhhh"makinya.
fabian lalu melihat bekas gigitan isabella. wow biru.
"lihat!! biru. kau kalau mau cupangin jangan begini".
"bagaimana kau bisa tidur disini?"tanya isabella yang mengabaikan semua protesan fabian.
"memangnya kenapa? ini kamarku bukan kamarmu"
"bukannya kau tidur disofa?"tanya bella lagi.
"awalnya"fabian lalu mengaruk kepalanya ia mencari alasan. pasalnya ia memang tidak tidur di sofa melainkan langsung tidur sekasur dengan isabella.
isabella menghembuskan nafasnya dan segera turun dari kasur.
"isabella kau mau kemana? seharusnya aku yang marah. kau menggigit dadaku"pekik fabian yang melihat isabella membawa tasnya yang ia lempar di meja semalam dan masuk kedalam kamar mandi. saat pintu kamar mandi sudah tertutup rapat fabian terkekeh pelan.
"dia bahkan tidak pakai dalam. astaga. ayah! putrimu sungguh menggodaku".
sepuluh menit kemudian isabella keluar dari kamar mandi dan segera mengemaskan barang-barangnya. fabian yang masih duduk di atas tempat tidur langsung beranjak. dan memegang tangan isabella.
"kau mau kemana?"tanya fabian.
"pergi dari sini dan mencari alamat perusahaanku disini. lebih baik aku disana daripada aku disini"ucapnya datar. isabwlla lalu memakai sepatunya dan saat selesai ia lalu menyampirkan tasnya.
"please jangan pergi. kita cari bersama"bujuk fabian.
isabella membuka pintu kamar fabian. fabian segea mengambil kaosnya dan segera berlari keluar mengejar isabella.
"bella"panggilnya.
"edward"ralatnya.
isabella tidak menggubris panggilan itu dan terus berjalan menaiki tangga di tempatnya makan malam. disana dia melihat semua orang sedang sarapan dan melihat kearahnya. ia pun tidak peduli dan terus berjalan. alexandre melihat itu mengernyitkan keningnya.
"edward"cegah fabian yang berhasil menghadang bella.
"minggir"ucapnya datar.
"aku mohon jangan pergi"pinta fabian.
"minggir". isabella lalu mendorong fabian kesamping.
saat ia akan melangkahkan kakinya. ia terkejut ketika melihat seorang pria masuk kedalam ruangan itu. mata mereka lalu betabrakan saling menatap satu sama lain. tubuh isabella seketika menegang dan kaku. nafasnya sulit untuk bernafas.
ada apa ini?