
Isabella perlahan membuka matanya, ia pun menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. matanya pun tertuju kearah pria yang sedari tadi menatap dan menunggunya sadar. setelah mengetahui siapa yang dilihatnya, Isabella pun menutup matanya dengan cepat.
"selamat pagi nona! silahkan buka mata anda"ucap pria yang bersuara berat itu.
isabella tidak menggubris omongan pria itu dan masih memejamkan matanya.
"jika anda tidak membuka mata anda saya akan menyuruh kevin mengangkat anda dan kita langsung terbang ke perancis"ancam pria itu.
mendengar hal itu isabella lalu membuka matanya dan segera duduk.
"uncle sejak kapan tahu aku sadar?"tanya isabella yang mendongakkan kepalanya angkuh.
"sejak tengah malam nona sadar dan kemudian menghabiskan air di nakas"jawab pria yang dipanggil uncle itu.
Isabella melihat kearah nakasnya. ia memang sudah sadar dari tengah malam dan ia langsung kehausan. saat itu sang uncle menatapnya disudut ruangan kamar itu yang gelap. isabella sempat melirik kearah sudut ruangan kamarnya dan ia sedikit terkejut melihat sang paman berada disini, maka dari itu ia kembali memejamkan mata.
pintu kamarnya terbuka dan melihat mbok jati yang masuk dengan membawa bubur dan juga air hangat. ia pun meletakkan sarapan bella di atas nakas. setelah itu mbok jati mengundurkan diri.
"silahkan makan nona"ucap uncle.
isabella mengambil buburnya dan menyuap bubur itu kedalam mulutnya.
"sejak kapan paman datang?"tanya isabella sambil menyuap buburnya.
"sedetik yang lalu"jawab paman asal.
isabella yang mendengar ucapannya sedikit kesal dan meletakkan sendokknya dan menatap tajam pamannya.
"paman tahu aku tidak suka main-main?"
pria itu melipat kedua tangannya dan menatap kerah bella yang menatapnya tajam.
"dan kau tahu paman tidak suka kebohongan".
isabella mengernyitkan keningnya bingung.
"maksud paman?".
pria tua itu lalu bangkit dari duduknya.
"habiskan sarapanmu dan minum obat! kita bicara dibawah".
pria itu lalu keluar dari kamar isabella yang menatap kepergian pamannya.
☆☆☆☆
pria paruh baya itu lalu turun menuju keruangan makan. saat sudah sampai disana dia lalu disambut oleh mbok jati yang tersenyum kearahnya.
"selamat pagi tuan george. Anda mau sarapan apa?". tanya mbok jati sopan
"selamat pagi mbok. buatkan saya secangkir kopu". jawab paman george.
ketika mendengar jawaban paman george, mbok jati mengernyitkan keningnya. dalam hatinya ia bertanya-tanya apa pria yang dihadapannya ini melupakan sesuatu. paman george yang melihat kebingungan mbok jati akhirnya terkekeh kecil.
"maafkan aku! aku lupa bocah itu tidak menyukai aroma kopi. Dia bisa mencium aroma itu dalam radius dua kilometer".
mbok jati tersenyum lega. pria itu masih mengingat kebiasaan nonanya. isabella tidak menyukai kopi jenis apapun dan variasi apapun, dia juga bisa mencium bau kopi dari pos penjaga rumahnya. Maka dari itu dia melarang bawahannya menyeduh bahan minuman berwarna hitam itu baik dirumah, dikantor, dan dimanapun ia berada.
mbok jati pun segera menganggukkan kepalanya dan segera pergi menuju dapur rumah itu.
selepas mbok jati pergi, paman george melihat setiap sudut ruangan rumah tersebut. rumah yanh ia dan isabella bangun yang tentu saja atas permintaan nona mudanya yang tidak ingin tinggal bersama nyonya martha. rumah yang menggabungkan nuansa perancis dan juga indonesia memang tidak berubah.
"selamat pagi ayah"sapa seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ayah.
paman george memutar tubuhnya dan melihat anak semata wayangnya yang sudah tumbuh dewasa fan sangat mirip dengannya saat masih muda. tatapan bangga ia berikan kepada anaknya itu.
"morning son".
pria muda itu yang tak lain dan tak bukan adalah kevin yang datang dengan setelan pakaian kerja yang rapih.
"kau sudah sarapan?"tanya paman george yang menarik kursi makan di depannya. ia lalu duduk disana dan diikuti kevin yang duduk di sebelah kanan ayahnya.
"sudah ayah".
"bagaimana?"tanya paman george yang langsung to the point.
saat akan menjawab kevin melihat mbok jati yanh datang dengan dua cangkir teh. saat akan mengambil cangkir mbok jati melihat kevin datanh dan ia pun berinisiatif menghidangkan secangkir teh untuk kevin juga. mbok jati lalu meletakkan dua cangkir itu kepada pamam george dan juga kevin. setelah itu ia pamit tak lupa dengan ucapan terima kasih dari keduanya.
"kemarin siang nyonya martha mengadakan konferensi pers dan menyebutkan kalau nona muda adalah anaknya dari pernikahan keduanya dan bukan anak dari tuan lèonorè. dan nyonya juga menyuruh orangnya untuk menarik semua video yang tersebar di awak media"terang kevin.
pamam george menganggukkan kepalanya dan menyesap tehnya.
"baiklah! ternyata nyonya sudah bergerak cepat. jangan sampai bella tahu".
"tapi ayah?"tanya kevin yang masih risau akan seseuatu.
"tapi apa?".
"tuan besar". paman george menghela nafasnya dan melihat kearah anaknya itu.
"fabian yang akan mengurusnya. kau jangan khawatir. selama aku disini tugasmu tidak akan berat"ucap paman george yang merasa bersalah karena membebankan tugas berat kepada anaknya itu. ia lalu menepuk bahu anaknya itu untuk menyalurkan kekuatan dan kebanggaan.
"apa dirumahku menjadi ajang acara reuni?"tanya bella yang sudah muncul di belakang mereka.
paman george melepaskan genggaman di bahu kevin dan menyatukan tangannya dan ditumpukan di dagunya. sedangkan isabella menarik kursi disebalah kiri paman georgenya dan kemudian duduk di singgahsananya.
"setidaknya ada alasan aku pulang kesini. aku ingin mengetahui bagaimana keadaan anakku disini. memastikan tidak ada lecet sedikit pun dari atasannya yang terkenal kejam"sindir paman george.
"cihh.. bahkan paman yang mengajarkanku untuk kejam didunia ini".
paman george tersenyum miring dan meminum kembali tehnya.
isabella menyenderkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangannya. raut mukanya menjadi serius seketika.
"jadi untuk apa paman datang kesini? ini sudah sepuluh tahun kau tidak menemuiku dan tidak mungkin kau hanya ingi menemui anakmu sedangkan kau sering melihatnya?"tanya isabella to the point.
paman george melihat kearah isabella dan tersenyum tipis.
"menagih janjimu 10 tahun yang lalu dan membawamu kembali ke perancis"ucapnya santai namun tegas.
isabella pun langsung menegang mendengar ucapan paman george tersebut.
Like, comment, vote yang banyak teman-teman... terima kasih