Memories Of You

Memories Of You
Bab 15



sebaiknya kau minggir dari hadapanku sebeluk aku colok matamu"ancam isabella.


fabian tersenyum dan ia lalu menegakkan badannya. mereka pun keluar dari taxi itu. barang-barang mereka sudah dikeluarkan oleh sopir taxi. fabian lalu memberikan sejumlah uang kepada sopir itu.


"Merci. au fait c'est un restaurant très réputé dans tout montmartre. J'espère que tu es heureux (terima kasih. ngomong-ngomong ini adalah restaurant yang sangat terkenal di seluruh montmartre. semoga kalian bahagia)".ujar sopir itu yang kemudian masuk kedalam mobilnya.


fabian melihat kearah isabella yang menatap restaurant di depannya. restaurant yang bernama le marbell itu sangat ramai sekali sekarang. restaurant yang sangat asri dimana terbentang rumput hijau yang rapi dengan fountain ditengah-tengahnya, tawa canda mengisi restaurant itu.


"ayo"ajak fabian yang sudah mengulurkan tangannya.


isabella melihat tangan fabian yang terulur di depannya. ia lalu menepis tangan itu dan melangkahkan kakinya mendahului fabian.


fabian menggelengkan kepalanya melihat kekerasan kepalanya isabella. isabella masuk kedalam resataurant mencari tempat yang kosong. fabian menyusul dengan membawa kopernya dan segera merangkul leher isabella.


"kau mencari apa?"tanya fabian. isabella melepaskan rangkulan fabian. dia lalu memasang wajah pembunuh di hadapan fabian. sedangkan pria disampingnya terus mengulum senyum.


"fabian" panggil seorang wanita.


isabella dan fabian menoleh kearah sumber suara tersebut seorang perempuan berpakaian pelayan berdiri tak jauh dari mereka.


dibelakang wanita tampak beberapa orang berlarian kearah isabella dan fabian. mereka sangat senang melihat fabian yang sudah kembali.


"Comment allez-vous, les gars? (bagaimana kabar kalian?)"tanya fabian. 3 orang pria di belakang wanita itu lalu menghampiri fabian dan memeluk fabian.


"bien. pourquoi tu prends si longtemps? (baik. kenapa kau lama sekali?)". tanya seorang pria berambut keriting.


fabian menepuk pundak mereka satu persatu. si wanita yang menyapa fabian hanya gigit jari, dia iri seandainya dia perempuan dia ingin sekali memeluk fabian.


seorang pria berambut pirang melihat kearah isabella yanh masih betah memakai hodie dan topi hitamnya. ia pun menyipitkan matanya. sedangkan isabella terus menurunkan topinya ketika ditatap oleh si pria berambut pirang.


fabian melihat kearah temannya itu dan kemudian kearah isabella. fabian pun merangkul bahu isabella.


"présenter! C'est mon ami. (kenalkan! ini temanku)"ucap fabian.


ehem ehem..


suara dehaman muncul dari belakang mereka. semua pun melihat suara siapa itu. seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah dan wibawa muncul di tengah keakraban mereka. sang pria tua paruh baya itu tampak memakai pakaian koki.


"vous ai-je payé pour discuter? (apa aku membayar kalian untuk mengobrol?)"tanya pria itu. semuanya pun langsung berlari kembali ke tempat masing-masing kecuali isabella dan fabian.


pria tua itu lalu melihat kearah fabian dan juga isabella. fabian langsung memeluk pria tua itu.


"comment vas-tu papa? Tu me manques. (apa kabar ayah? aku merindukanmu).


pria tua itu menepuk pelan punggung fabian pelan sambil tatapannya masih menatap isabella yang juga menatapnya.


"être papa normal comme je le disais avant. (bersikap biasalah ayah. seperti yang aku bilang)"ucap fabian.


pria tua itu melepaskan pelukannya dan menagnggukkan kepalanya. ditepuknya bahu fabian bangga.


"emmène-le en haut (bawa dia keatas)"perintah ayahnya fabian.


fabian lalu mendorong kopernya dan menggoyangkan kepalanya ketika melihat isabella dan mengisyaratlan supaya ikut dengannya.


isabella dengan canggung mengikuti fabian dari belakang. mereka lalu naik kelantai atas. disana terdapat ruangan keluarga yang sangat nyaman dan diluar balkon terdapat meja panjang yang isabella pikir itu adalah ruang makan. pria tua itu memberhentikan langkahnya saat mereka berhenti di ruang tengah. tampak banyak photo disekitar ruangan itu. pria itu lalu mengulurkan tangannya.


" nous ne sommes pas encore au courant. je m'appelle alexandre (kita belum berkenalan. namaku alexandre)"ucap pria itu.


isabella tampak terkejut dengan nama alexandre seperti nama ayahnya. ia pun melihat kearah fabian dan sedikit melototkan matanya.


"apa yang kau lihat?"tanya fabian.


"edward"ucap isabella yang menjabat tangan pria itu.


fabian yang melihat ayahnya dan isabella berjabat tangan menatap haru dan bangga melihatnya.


"ini yang aku tunggu setelah sekian lama"


Isabella POV


aku sangat kesal dengan uncle george, Bagaimana bisa ia mengetahui rencanaku dan juga aku menyimpan uang di ranselku. benar-benar keterlaluan, jika dia bukan pamanku sudah aku pastikan ia aku pecat dan dia akan menderita seumur hidupnya.


setelah sampai di tempat tujuan yang tidak aku inginkan aku bingung harus kemana. uangku hanya  beberapa lembar dollar yang aku yakini tidak akan cukup bertahan satu hari. uncle george benar-benar keterlaluan, lihat saja nanti aku akan memberinya pelajaran. tapi sebelum aku memberinya pelajaran dia pasti duluan membuatku tak berkutik seperti sekarang.


sekarang aku berdiri di pinggir jalan memikirkan cara untuk keluar dari hal-hal rumit ini. kalau ini bukan acara melarikan diri pasti hidupku sudah teratur, ada asisten kevin yang berada disisiku. disampingku berdiri orang yang menyebalkan, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. tapi aku tidak tahu kenapa saat bersamanya jantungku berdetak, ada rasa rindu yang muncul ketika mendengar suaranya. aku harap ini hanya halusinasiku saja.


pria itu lalu berteriak di sampingku dengan bahasa perancis. aku mengerti apa yang ia katakan karena aku menguasai bahasa ini. aku menatapnya horor, benar-benar aneh. untuk apa dia berteriak toh dia pikir kalau berteriak membuat semua orang yang mendengarnya senang tentu saja tidak. dia lalu melihat kearahku dan aku segera memalingkan wajahku dan mengejeknya. dia bertanya aku tinggal dimana. ahhh. aku baru ingat salah satu pusat perusahaanku ada disini dan paman georgeku yang menggantikanku memimpin disini.


aku lalu melihat sekitar mencari telpon umum atau sejenisnya dan lalu menelpon paman george. tapi! aku menepuk jidatku. bagi luaran sana pasti mengenalku sebagai seorang perfectionis tapi tidak kalau aku lagi menyalakan mode ceroboh begini. handphoneku rusak karena kecerobohanku tadi di bandara tentu saja nomor paman ada disana. aku lalu menendang-nendangkan kakiku ke aspal. aku mengutuk diriku sendiri.


orang gila disampingku terus berbicaraku tapi tentu saja aku tidak akan menggubrisnya pikiranku sekarang apa aku akan mati dalam waktu sehari disini. pria itu lalu menarik tanganku dan mengehntikan sebuah taxi. sopir taxi itu lalu turun dan memghampiri kami. kemudian dia memasukkan barang-barang pria itu.


"ehhh apa-apaan ini?"bentakku. aku mencoba menbebaskan tanganku dari genggaman orang gila ini tapi genggaman itu sangat kuat sekali.


"aku tahu kau tidak ada tempat tujuan. sementara kau bisa tinggal dirumahku. cepat masuk"perintahnya. huh dia pikir dia siapa memerintahku?.


"aku tidak mau".


"masuk atau aku cium kau" dia ancamku dan apa itu wajahnya sudah mendekat ke wajahku. dasar orang gila.


aku mengutuk dia dalam hatiku dan aku berpikir lebih baik aku menurutinya daripada dia melakukan apapun yang lebih gila lagi. lagian aku butuh tempat berteduh sebelum mememui paman grorge. aku menjauhkan wajahku dan lalu dia dengan segera masuk kedalam taxi itu.


"au restaurant le marbell montmartre (ke restaurant le marbell montmartre)". aku melototkan mataku ketika tahu kemana tujuannya.


pengemudi taxi itu pun menganggukkan kepalanya dan mobil pun melaju membela jalanan perancis.


"kenapa kau mengajakku ke restaurant?"tanyaku


pria itu merangkul bahuku dan membawa tubuhku itu semakin dekat kepadanya. aku sungguh sangat risih, si pengkhianat jhonny saja harus meminta izin padaku jika dia ingin memelukku, tapi orang ini. astaga aku berharap tubuhku mengeluarkan duri-duri layaknya landak dan menusuk disetiap kulitnya.


"kau bisa bahasa perancis rupanya. aku lapar dan aku lihat selama di pesawat kau tidak makan karena kau tidak ada uang"ejeknya.


what the hell


aku mengangkat tangannya yang ada di bahuku semakin lama dibiarkan dia akan semakin melunjak. saat tangan itu berhasil aku singkirkan dengan kurang ajarnya dia merangkulku lagi bahkan lebih kuat.


"tenanglah isabella. di indonesia kau memang ratunya. tapi di perancis aku adalah rajanya".


aku mendecih. memangnya dia siapa? bahkan aku tidak pernah melihatnya dimana pun.


"apa maksudmu?"


"kau tahu aku bisa menyuruh sopir taxi ini berhenti"jawabnya asal.


aku menghembuskan nafas keatas. aku pun bisa melakukannya bahkan anak kecil pun bisa melakukannya. tuhan!! bodoh sekali dia. akupun kemudian menjewer telinga sebelah kanannya


"aahhhh..ahhh sakit"adunya.


syukurin.