Memories Of You

Memories Of You
Bab 17



☆☆☆☆☆


Sedangkan di lain tempat seorang nyonya besar mendatangi kediaman putrinya. Putri yang sudah membuat heboh seluruh dunia membuatnya sedikit ketakutan dengan pengakuannya itu. Penjaga keamanan rumah putrinya itu menundukkan kepala hormat kepada nyonya besar itu. Seluruh pekerja isabella di rumah itu tahu siapa yang ada di hadapan mereka tapi isabella mengingatkan mereka jika hanya mereka saja yang boleh mengetahuinya dan tidak boleh keluarga mereka ataupun selain mereka mengetahuinya dan jika ketahuan hidup mereka akan sengsara.


Pintu utama rumah itu terbuka. Beberapa pelayan memberi hormat. Martha tetap melajukan langkahnya hingga berhenti di ruang makan. Tampak kevin dan paman george masih duduk di meja makan sambil menikmati kopi mereka. Isabella sudah tidak ada dirumah itu maka tidak ada larangan untuk meminum kopi.


"sedang apa kau disini george?"tanya martha.


Paman george menyesap kopinya santai. Ia tidak takut sama sekali dengan orang yang melahirkan isabella itu. paman george menolehkan wajahnya dan tersenyum.


"selamat malam nyonya. senang bertemu dengan anda lagi".


martha menatap tajam kearah george. sesuatu pasti sudah terjadi pikirnya.


"dimana dia sekarang?"


paman george pun terkekeh dengan pertanyaan martha. ia lalu berdiri dari tempat duduknya. kevin yang disana hanya terdiam dan menunggu instruksi dari ayahnya.


"yang mana harus saya jawab dulu nyonya. tentang keberadaan saya disini atau nona sekarang?".


martha melipat tanganya dan mendongakkan sedikit kepalanya.


"jawab saja george. kau pasti tahu apa yang diperbuat oleh asuhanmu itu".


"dan asuhanku itu adalah anakmu"potong paman george.


suasana menjadi mencekam ketika dua orang paruh baya berbeda jenis kelamin bersihtegang.


"wow baiklah nyonya! anda selalu menang"kekeh paman george.


"anda tidak ingin duduk. biar saya suruh kevin menyiapkan minuman buat anda"ucap paman kevin yang mempersilahkan nyonyanya untuk duduk.


"aku tidak ada niat untuk mendengar ocehanmu. cukup jawab saja".


"aku disini untuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan yang anda lakukan dengan orang suruhan anda. dengan mengirimnya ke tempat seharusnya ia berada".


martha membelalakkan matanya dan maju kearah george. ditamparnya wajah mantan asistennya itu dan juga sahabat mantan suaminya itu.


"kau gila!! apa kau disuruh pengecut itu untuk mengirim anakku. dia bahkan tidak berusaha menemuinya sejak dulu".


"anda lupa nyonya. anda sendiri yang menyuruh saya untuk mengumumkan kalau nona sudah meninggal karena kebakaran dulu. dan itu membuat pengecut itu terpukul dan tidak kembali disini".


martha terdiam dengan ucapan george. ucapan pria di hadapannya itu semua benar. dirinya yang menyuruh george mengumumkan kematian palsu isabella agar anaknya itu bisa selamat. martha memundurkan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"aku harus membawanya kembali".


"kalau saya sarankan biarkan dia merasakan sentuhan ayahnya yang sudah tidak ia dapatkan berpuluh-puluh tahun".


"memangnya siapa kau?"bentak martha yang sudah membalikkan tubuhnya. ditunjukknya jari manis itu kearah paman george.


"aku adalah peganti orang tuanya yang tidak pernah ada untuknya. dan anda tidak bisa menyingkirkanku tanpa seijin anak asuhku itu". ucapan paman george sangat sarkastis. martha serasa ditampar dan dirinya kalah telak melawan pria berotak licik itu.


"akan aku pastikan kau menyesal george".


paman george mendongakkan kepalanya ketika melihat lawannya kalah.


"sebelum anda membuat saya menyesal. saya yang akan memastikan anda yang akan menyesal duluan".


martha menurunkan tangannya dan lalu kedua tangannya mengepal kuat. ia lalu pergi meninggalkan george dan kevin dengan hati yang sangat dongkol.


paman george menoleh kebelakang melihat kevin yang sedikit tegang. dia pun tersenyum miring kepada anaknya itu.


"awasi gerak geriknya. jangan sampai mengacaukan rencana kita"ucap paman george.


kevin yang perintah ayahnya itu lalu menganggukkan kepalanya patuh dan dia berharap nonanya segera sembuh. dirinya lebih baik mendengar amukan isabella dari pada perseteruan antara ayahnya dan nyonya besar.


benar-benar menyeramkan dan menegangkan. pikir kevin sekarang.


☆☆☆☆☆


"Oncle (paman)!" teriak suara gadis remaja.


fabian yang sudah menghabiskan makanannya menoleh kearah sumber suara. gadis cilik berusia 11 tahun berlari menghampiri fabian. fabian langsung menyambut gadis cilik itu dan memeluknya.


"Tu me manques oncle. pourquoi as-tu mis si longtemps à rentrer à la maison? (aku merindukanmu paman. kenapa lama sekali pulangnya?"rajuk gadis itu.


"fabian kau sudah pulang?"tanya seorang wanita yang menghampiri mereka.


fabian melepaskan pelukan gadis itu dan kemudian berdiri. ia pun memasukkan kedua tangannya di kantong celananya.


"aku baru sampai beberapa jam yang lalu"jawab fabian.


gadis cilik itu lalu menarik lengan kemeja fabian. fabian menundukkan kepalanya dan mengelus puncak kepala gadis itu.


"où sont mes cadeaux, mon oncle? (mana oleh-olehku , paman?)"tanya gadis itu polos.


"bianca"tegur wanita itu.


"tidak apa-apa, kak. aku memang berjanji kepadanya. oh iya ini temanku edward keturunan edward cullen"goda fabian.


isabella melotokan matanya sedangkan yang dipelototin hanya terkekeh geli. wanita itu lalu mengulurkan tangannya kepada isabella.


"rania".


"edward"ucap isabella yang suaranya diberatkan seperti laki-laki.


kak dihadapanmu adalah adik ipar yang sangat kau rindukan. adik ipar yang selalu kau tanyakan.


"oh iya aku ke kamar sebentar"ucap fabian yang berlari ke kamarnya.


rania dan isabella melepaskan tangannya dan suasana canggung tercipta disana.


"oh..ehmm c'est ma fille, bianca (ini anakku, bianca)"ucap rania.


"aku bisa bahasa indonesia"potong isabella.


isabella lalu menatap gadis cilik bernama bianca itu. sedangkan gadis itu menatapnya dari atas sampai kebawah. isabella melototkan matanya ketika melihat gadis itu menatapnya menyelidik.


"bianca"panggil fabian yang sudah kembali sambil membawa paper bag. fabian melihat kearah isabella dan juga bianca. ia pun tersenyum geli.


"ce! un cadeau spécial pour une jolie fille comme toi. (ini! hadiah special untuk gadis cantik sepertimu)".ucap fabian sambil mengusap pipi bianca.


bianca lalu mengambilnya dan melihat isinya. betapa senangnya ia melihat gaun cantik bermotif batik dan juga lengkap dengan tasnya. isabella melototkan matanya, ia tahu gaun itu. ia sendiri yang membuatnya. fabian berdiri dan melihat kearah isabella dan kemudian mengediokan sebelah matanya.


"dire quel amour à l'oncle? (bilang apa sayang pada paman?)"ucap rania.


"Merci oncle".


gadis cilik itu lalu berlari keluar. rania melihatnya senang gadis ciliknya adalah penyemangatnya.


"aku permisi dulu. kalian istirahat saja".


isabella dan fabian menatap kepergian rania.


"gadis kecil yang menyebalkan"gumam isabella.


"hei! dia sangat cantik dan menggemaskan"protes fabian.


isabella memandang jijik fabian. ia pun mengangkat tangan kanannya dan melakukan gerakan seperti menyecan diri fabian dari atas sampai bawah.


"dan paman yang menjijikan".


"hei! banyak gadis yang mengejarku".


"wow! mereka semua pasti buta".


"kau".


"aku gerah tunjukkan aku dimana kamar mandinya"perintah isabella. fabian mengulum bibirnya kesal.


"ikut aku". isabella lalu mengekori fabian. mereka lalu menurunin tangga di samping balkon itu dan berjalan ke belakang rumah. disana ada sebuah kolam renang yang besar sekali. mereka pun mengitari kolam renang itu dan menurunin tangga di samping kolam


jauh sekali.


fabian membuka pintu kamar yang beda beberapa anak tangga yang mereka turunin tadi. setelah dibuka isabella sedikit terkesiap melihat pemandangan kamar itu. kamar yang luasnya hampir sama dengan kamarnya tapi kamar ini menghubungkan langsung dengan pemandangan dalam kolam renang yang bisa ia lihat dibalik kaca tebal. kolam renang itu didesaign layaknya laut lepas sana. interior dikamar itu pun sangat modern sekali, sangat nyaman untuk menghabiskan waktu seharian di kamar itu. kekaguman isabella terhenti ketika melihat kasur berukuran king size. dia baru tersadar dan langsung melihat kearah fabian.


"jangan bilang...."