
setelah menempuh penerbangan selama 21 jam lebih akhirnya isabella sampai di negara kelahirannya. saat turun dari pesawat dirinya sangat lesu sekali. mengapa tidak? saat dirinya transit di negara turki dirinya langsung melesat untuk membeli tiket dan saat akan membayar dirinya terkejut dengan isi tasnya. tak ada uang yang ia selundupkan dari paman george yang ada hanya beberapa lembar dolar yang ditinggalkan. akhirnya dirinya kembali naik ke pesawat yang akan mengantarnya ke perancis. tidak ada jalan lain selain dia kenegara itu, disana dia akan menemui paman george dan meminta pertanggung jawaban serta pembalasan dendam kepada orang tua itu. tapi naas handphonenya terjatuh dan terinjak kakinya sendiri sehingga ponsel itu tidak menyala. isabella hanya menggeram marah, kenapa dirinya bisa sial seperti ini. seandainya ada asisten kevinnya itu tentu semua aman terkendali. isabella pun menaiki pesawat dengan hati yang dongkol.
fabian yang selalu mengikuti langkah isabella tertawa terbahak-bahak dibelakang gadis itu. tentu saja tawanya tidak keluar dia takut wanita itu akan mengetahui dirinya menjadi stalker.
"je suis de retour (aku kembali)"teriak fabian ketika dirinya sudah di luar bandara dan berdiri di samping badan jalan. isabella yang berada disampingnya menusuk kupingnya dan menggoyangkannya. ia menatap horor kearah fabian.
fabian menolehkan kepalanya kesamping dan tersenyum. isabella memalingkan wajahnya dan mengejek pria itu.
"dimana kau tinggal? apa kau sedang menunggu jemputan?"tanya fabian.
isabella tidak menjawab dirinya sibuk untuk mencari telpon umum dan menelpon pamannya itu untuk segera menjemputnya. tapi ia lupa. handphonenya mati dan ia tidak bisa melihat nomor handphone pamannya itu.
"nona apa kau mendengarkanku?"tanya fabian.
isabella menendang-nendang jalanan aspal didepannya dengan menggunakan kaki kanannya. kepalanya menunduk, kedua tangannya dimasukkan di jaket hodienya dan mulutnya mengerucut serta berkomat-kamit.
fabian tersenyum melihatnya. itu adalah kebiasaan isabella jika sedang kesal dengan seseorang. fabian lalu mengambil tangan sebelah kanan isabella dan menariknya. ia lalu menghentikan sebuah taksi dan membuka pintu.
"ehhh apa-apaan ini?"bentak isabella yang mencoba menbebaskan tanganya dari genggaman fabian. tapi genggaman itu sangat kuat sekali.
"aku tahu kau tidak ada tempat tujuan. sementara kau bisa tinggal dirumahku. cepat masuk"perintah fabian.
"aku tidak mau".
"masuk atau aku cium kau"ancam fabian yang sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah isabella.
isabella menjauhkan wajahnya dan lalu dia dengan segera masuk kedalam taxi itu. fabian menyeringai dalam hatinya sangat senang rencananya berhasil dan isabella akan selalu ada di dekatnya.
fabian kemudian masuk kedalam taxi dan duduk di samping isabella. ditutupnya pintu taxi itu.
"au restaurant le marbell montmartre (ke restaurant le marbell montmartre)"ucap fabian.
pengemudi taxi itu pun menganggukkan kepalanya dan mobil pun melaju membela jalanan perancis.
"kenapa kau mengajakku ke restaurant?"tanya isabella.
fabian merangkul bahu isabella dan membawa tubuh gadis itu semakin dekat kepadanya.
"kau bisa bahasa perancis rupanya. aku lapar dan aku lihat selama di pesawat kau tidak makan karena kau tidak ada uang"ejek fabian.
isabella mengangkat tangan fabian yang ada di bahunya. tetapi fabian merangkulnya lagi bahkan lebih kuat.
"tenanglah isabella. di indonesia kau memang ratunya. tapi di perancis aku adalah rajanya".
isabella mendecih.
"apa maksudmu?"
"kau tahu aku bisa menyuruh sopir taxi ini berhenti"jawab fabian asal.
isabella menghembuskan nafasnya keatas dan kemudian menjewer telinga sebelah kanan fabian.
"aahhhh..ahhh sakit"teriak fabian. tiba-tiba sopir taksi itu berhenti. isabella terheran kenapa sopir itu berhenti mendadak.
"désolé monsieur s'il vous plaît calmez-vous. Je dois me concentrer. (maaf tuan tolong tenang. saya harus berkonsentrasi)."ucap sopir itu.
"Pardonnez-nous. nous venons de nous marier (maafkan kami. kami baru saja menikah)"bohong fabian.
isabella memukul lengan fabian dan memalingkan wajahnya keluar.
tak terasa perjalanan menempuh waktu 25 menit dan mereka sekarang sampai di tempat tujuan yang disebutkan fabian. tangan fabian masih saja merangkul bahu isabella yang sudah tertidur lelap di bahu fabian.
"isabella bangun". panggil fabian. isabella masih enggan untuk membuka matanya. fabian lalu melihat kearah isabella di lihatnya wajah isabella yang tertidur pulas itu.
"cantik".
tak lama kemudian mata bella perlahan terbuka. dan saat ini mata mereka saling menatap satu sama lain.
"sebaiknya kau minggir dari hadapanku sebeluk aku colok matamu"ancam isabella.
"Merci. au fait c'est un restaurant très réputé dans tout montmartre. J'espère que tu es heureux (terima kasih. ngomong-ngomong ini adalah restaurant yang sangat terkenal di seluruh montmartre. semoga kalian bahagia)".ujar sopir itu yang kemudian masuk kedalam mobilnya.
fabian melihat kearah isabella yang menatap restaurant di depannya. restaurant yang bernama le marbell itu sangat ramai sekali sekarang. restaurant yang sangat asri dimana terbentang rumput hijau yang rapi dengan fountain ditengah-tengahnya, tawa canda mengisi restaurant itu.
"ayo"ajak fabian yang sudah mengulurkan tangannya.
isabella melihat tangan fabian yang terulur di depannya. ia lalu menepis tangan itu dan melangkahkan kakinya mendahului fabian.
fabian menggelengkan kepalanya melihat kekerasan kepalanya isabella. isabella masuk kedalam resataurant mencari tempat yang kosong. fabian menyusul dengan membawa kopernya dan segera merangkul leher isabella.
"kau mencari apa?"tanya fabian. isabella melepaskan rangkulan fabian. dia lalu memasang wajah pembunuh di hadapan fabian. sedangkan pria disampingnya terus mengulum senyum.
"fabian" panggil seorang wanita.
isabella dan fabian menoleh kearah sumber suara tersebut seorang perempuan berpakaian pelayan berdiri tak jauh dari mereka.
dibelakang wanita tampak beberapa orang berlarian kearah isabella dan fabian. mereka sangat senang melihat fabian yang sudah kembali.
"Comment allez-vous, les gars? (bagaimana kabar kalian?)"tanya fabian. 3 orang pria di belakang wanita itu lalu menghampiri fabian dan memeluk fabian.
"bien. pourquoi tu prends si longtemps? (baik. kenapa kau lama sekali?)". tanya seorang pria berambut keriting.
fabian menepuk pundak mereka satu persatu. si wanita yang menyapa fabian hanya gigit jari, dia iri seandainya dia perempuan dia ingin sekali memeluk fabian.
seorang pria berambut pirang melihat kearah isabella yanh masih betah memakai hodie dan topi hitamnya. ia pun menyipitkan matanya. sedangkan isabella terus menurunkan topinya ketika ditatap oleh si pria berambut pirang.
fabian melihat kearah temannya itu dan kemudian kearah isabella. fabian pun merangkul bahu isabella.
"présenter! C'est mon ami. (kenalkan! ini temanku)"ucap fabian.
ehem ehem..
suara dehaman muncul dari belakang mereka. semua pun melihat suara siapa itu. seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah dan wibawa muncul di tengah keakraban mereka. sang pria tua paruh baya itu tampak memakai pakaian koki.
"vous ai-je payé pour discuter? (apa aku membayar kalian untuk mengobrol?)"tanya pria itu. semuanya pun langsung berlari kembali ke tempat masing-masing kecuali isabella dan fabian.
pria tua itu lalu melihat kearah fabian dan juga isabella. fabian langsung memeluk pria tua itu.
"comment vas-tu papa? Tu me manques. (apa kabar ayah? aku merindukanmu).
pria tua itu menepuk pelan punggung fabian pelan sambil tatapannya masih menatap isabella yang juga menatapnya.
"être papa normal comme je le disais avant. (bersikap biasalah ayah. seperti yang aku bilang)"ucap fabian.
pria tua itu melepaskan pelukannya dan menagnggukkan kepalanya. ditepuknya bahu fabian bangga.
"emmène-le en haut (bawa dia keatas)"perintah ayahnya fabian.
fabian lalu mendorong kopernya dan menggoyangkan kepalanya ketika melihat isabella dan mengisyaratlan supaya ikut dengannya.
isabella dengan canggung mengikuti fabian dari belakang. mereka lalu naik kelantai atas. disana terdapat ruangan keluarga yang sangat nyaman dan diluar balkon terdapat meja panjang yang isabella pikir itu adalah ruang makan. pria tua itu memberhentikan langkahnya saat mereka berhenti di ruang tengah. tampak banyak photo disekitar ruangan itu. pria itu lalu mengulurkan tangannya.
" nous ne sommes pas encore au courant. je m'appelle alexandre (kita belum berkenalan. namaku alexandre)"ucap pria itu.
isabella tampak terkejut dengan nama alexandre seperti nama ayahnya. ia pun melihat kearah fabian dan sedikit melototkan matanya.
"apa yang kau lihat?"tanya fabian.
dengan ragu isabella mengulurkan tangannya.
"edward"ucap isabella yang menjabat tangan pria itu.
fabian yang melihat ayahnya dan isabella berjabat tangan menatap haru dan bangga melihatnya.
"ini yang aku tunggu setelah sekian lama"