Magic Records

Magic Records
Pemandangan yang Langka



Levi roboh beberapa kali saat menjalani latihan uji coba pertarungan dengan Edgard.


Berbagai teknik dan simulasi pertarungan terus terjadi dalam setiap kesempatan latihan yang ada.


Edgard pun sebenarnya juga ikut belajar dalam pertarungan melawan Levi. Pasalnya, semua gerakan Levi merupakan teknik beladiri modern di bumi.


Levi juga belajar banyak teknik dari Edgard, setidaknya ia tidak sampai kebosanan dengan latihannya.


Sudah tiga bulan semenjak latihan pertarungan dengan Edgard, kemampuan fisik Levi sudah bisa ia kendalikan dengan sempurna.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu ruangan kerja kakek Jhon berbunyi


"Silahkan masuk Nak" ucap kakek Jhon yang merasakan kehadiran Levi


"Salam kakek Jhon" ucap Levi dengan penuh hormat


"Sudah tiga bulan, kau tidak pernah masuk ke ruangan ini?" tanya kakek Jhon heran


"Ya, kek. Ada yang perlu ku diskusikan dengan kakek ber dua"


Levi membicarakan sesuatu dengan kakek Jhon mengenai rencananya berpergian keluar Mana Island untuk mengetahui penyebab pasti ia bisa masuk ke dunia ini.


Kakek Jhon sudah menduga bahwa cepat atau lambat pasti Levi akan meminta ijinnya untuk berpergian keluar dari Mana Island.


Ia pun menyetujui permintaan Levi dengan berbagai syarat dan kondisi yang ia ajukan.


Pertama, setidaknya Levi harus sudah menguasai sihir tingkat menengah. Diluar kemampuan fisiknya sekarang yang hampir mendekati kemampuan Edgard, tetap saja kemampuan sihir harus segera ia kuasai.


Lalu beberapa misi yang akan dijelaskan saat waktu keberangkatannya nanti. Levi akan tinggal di Mana Isla setidaknya sampai akhir tahun ini yang berarti tidak sampai dengan tujuh bulan lamanya.


Levi pun harus mengikuti pelajaran tambahan dari kakek Jhon dan Edgard untuk membekali pengetahuannya dalam perjalanan yang akan datang nanti.


Setelah selesai berdiskusi, Levi kembali ke kamarnya sambil merenungkan banyak hal. Sebenarnya ia sudah nyaman tinggal di Mana Isla, tetapi tak jarang juga rasa penasaran tumbuh di pemikirannya mengenai penyebab ia berada disini sekarang.


Keesokan harinya, Levi kembali mengikuti pelajaran di rumah belajar beserta teman - teman barunya.


"Hey Gilbert, apakah semua ras peri berukuran seperti dengan ras peri yang berada disini?" tanya Levi


"entahlah, Aku pun belum pernah keluar dari Mana Isla ini. Tetapi untuk ukuran tubuh kami bisa kami ubah saat umur kami mencapai 15 tahun!" jawab Gilbert tersenyum bangga


"ehem, mari kita mulai pelajarannya untuk hari ini" "Kakek akan mulai mengajari cara untuk mengenali sihir utama dalam diri kalian masing - masing"


Ucap Kakek Jhon sambil mengeluarkan satu bola kristal transparan dan satu bola kristal berwarna hitam pucat sebesar buah pohon kelapa serta beberapa bongkahan batu berwarna abu - abu terang seukuran bola tennis.


"Bola kristal transparan ini digunakan untuk mengetahui karakteristik dasar sihir utama seseorang serta mengetahui jumlah mana yang dapat ditampung oleh tubuh. Sedangkan bongkahan batu ini dinamakan dengan Mana stone, batu ini menyimpan jumlah mana yang cukup lumayan. Dianggap sebagai cadangan mana, fungsinya mirip dengan blue potion yang Kakek Jelaslan pada kelas sebelumnya."


"Lalu kek, untuk apa bola yang satunya lagi?" tanya Jennie penasaran


'hmmh hmh' Teman - teman lainnya pun mengangguk dengan antusias, tanda setuju untuk meminta penjelasan dari kakek Jhon.


"Bola kristal yang gelap ini dinamakan Lich Ball, berfungsi untuk menyimpan mana dengan karakteristik kegelapan dalam jumlah yang besar. Biasanya bola ini digunakan oleh cadangan mana bagi ras iblis saat peperangan dulu, dan masih digunakan oleh undead berjenis Lich sebagai sumber mananya"


"Aku membawa bola ini, hanya untuk memberikan perbandingan saja kepada kalian" Jawab kakek Jhon


"oohhh" jawab anak - anak tersebut serempak sambil mengangguk angguk


Levi merasakan perasaan familiar saat melihat mereka menggangguk angguk setelah diberikan penjelasan dari Kakek Jhon.


"Ayo silahkan Elis maju untuk mencoba bola kristal ini"


Elis pun maju ke depan ruangan, dengan instruksi dari kakek Jhon, ia meletakkan kedua telapak tangannya sambil mengarahkan aliran mana dari dalam tubuhnya ke dalam bola kristal transparan tersebut.


Suara bola kristal berdengung, bola itu bercahaya hijau muda terang dengan memunculkan tulisan angka 800


"Hebat Elis, element utama mu adalah element angin dengan jumlah mana didalam tubuh delapan ratus. Ini sudah termasuk pencapaian yang besar untuk anak seusiamu" Jawab kakek Jhon senang


Normalnya angka penyimpanan mana pada tubuh ras manusia seusia Elis tidak mencapai angka 300, hanya beberapa anak keturunan bangsawan atau anak yang diberikan sumber daya untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan mana nya.


Elis pun tersenyum gembira, ia adalah pribadi yang sangat aktif, setelah mengetahui jumlah penyimpanan mana didalam tubuhnya, ia pun melompat lompat bahagia.


Berikutnya mereka bergantian mencoba bola kristal tersebut, hasilnya tidak jauh berbeda dari Elis untuk yang seusianya. Sedangkan untuk Jennie dan Richard mencapai angka 500 an.


Gilbert, Lala dan Dipsy menyentuh angka seribu sampai seribu seratus dengan semua unsur elemen cahaya.


'Sungguh bakat generasi yang menyeramkan' batin kakek Jhon


Sebenarnya kakek Jhon sudah mengetahui bahwa mereka semua berbakat, tetapi ia tetap tak menyangka jumlah mana mereka melebihi ekspetasi sang kakek.


Selanjutnya giliran Silvi, bola kristal tersebut berubah warna menjadi putih susu bercampur corak hijau gelap bersinar dengan terang menyinari seisi ruangan.


Setelah sedikit redup, jumlah mananya menunjukkan angka seribu dua ratus. Sungguh!


Kakek Jhon sungguh bahagia dengan jumlah mana cucunya.


"Selamat Silvi, berelement utama ganda cahaya dan angin dengan jumlah mana mencapai angka seribu dua ratus" angguk kakek Jhon sambil mengelus rambut cucu nya tersebut


"whoaaaa" seisi ruangan tersebut berteriak kagum sekaligus gembira atas pencapaian bakat Silvi


Silvi pun mengeluarkan air mata bahagia karena dirinya sudah lama tidak merasakan momen bangga atas hasil kerja kerasnya.


"Terakhir Nak Levi, silahkan" kata Kakek Jhon tegas


"Selamat Silvi, sekarang giliranku" ucap Levi sambil menepuk pundak Silvi tanda mengapresiasi hasil pencapaian Silvi


Silvi pun hanya menunduk dengan pipi yang mulai merona. Sejak memperhatikan tingkah laku Levi setiap harinya, Silvi mulai merasa perasaan akrab dengan teman serumah nya tersebut.


Levi mulai menyalurkan mana di dalam tubuhnya dengan perlahan. Ia sudah bisa mengendalikan mana dengan hampir sempurna berkat bimbingan kakek Jhon dan Edgard.


Ngiinngg Nginngg Nginnggggggg


Bola kristal berbunyi nyaring, cahaya nya berkelap kelip terang berwarna warni. Semua mata terpana akan apa yang mereka semua saksikan.


Kakek Jhon tanpa sengaja membuka mulutnya lebar lebar menyaksikan peristiwa yang terjadi saat ini


'sungguh pemandangan yang langka' batin Levi yang melihat kakek Jhon


Bola kristal tersebut mulai meredup, berwarna merah untuk api, hijau untuk angin, coklat untuk tanah, biru untuk air, putih untuk cahaya, serta abu-abu untuk kegelapan. Aneh nya ada dua warna yang melingkari kesemua cahaya tersebut.


Warna pertama ada cahaya transparan yang terang, lalu dilapisi cahaya hitam pekat yang gelap sekali. Dengan angka pada bola mana mencapai angka 0000


"ini.. jangan - jangan" ucap sang Kakek yang tersadar kemudian menarik tangan Levi lalu menjentikkan jarinya


"Kalian boleh langsung pulang dulu, kelas akan dimulai lagi besok. Silvi maafkan Kakek, kamu harus pulang sendirian ya ke rumah. Ada yang harus kakek pastikan dengan Levi" kata kakek Jhon terburu - buru


Ctikk


Kakek Jhon dan Levi seketika menghilang dari pandangan kesemua anak didiknya.


Meninggalkan kesan yang misterius dan mengagumkan bagi semua yang menyaksikan pemandangan tadi.


*


*