Magic Records

Magic Records
Kerabat dan Sesuatu yang Familiar



Levi, Silvi, dan Kakek Jhon sudah sampai ke rumah belajar. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, terlihat hanya ada empat orang yang seumuran dengan Silvi dan dua anak yang usianya terlihat lebih muda, serta tiga ras peri yang ukuran tubuhnya lebih kecil dari ras peri dewasa yang terlihat disepanjang desa.


"ehem, selamat pagi semuanya, Kakek akan memperkenalkan kerabat jauh kakek dari luar Mana Isla,.." kata Kakek Jhon sambil mempersilahkan Levi memperkenalkan diri.


"Selamat pagi semua, perkenalkan namaku L.Levience, berumur 13 tahun, aku berasal dari kerajaan ink-lis dan berkerabat dengan Kakek Jhon serta Silvi" ucap Levi sambil membungkukkan sedikit badannya


Ucapan dari Levi adalah hasil diskusi bersama dengan kakek Jhon, Silvi pun mengetahui akan hal tersebut.


"wahh, dia melayang"


"apakah ia termasuk peri raksasa?"


"coba kau lihat, terbangnya tidak tinggi dan tidak mempunyai sayap"


"wajahnya terlihat berbeda dengan kita"


"lihat pakaiannya, aneh sekali"


keributan pun terjadi di ruangan belajar tersebut


"ehem.. Levi mempunyai suatu keadaan fisik khusus yang belum diketahui penyebabnya, maka dari itu ia dikirim kepada ku untuk di berikan sedikit masukan" kata kakek Jhon


Segera Levi dan Silvi duduk di kursi dan meja belajar yang ada dikelas itu.


Kakek Jhon memulai kelasnya mengenai etika di masyarakat luas dalam teritori kerajaan ink-lis walaupun penduduk tidak mau keluar desa, tetapi mereka tetap diajarkan mengenai etika dasar agar terlihat terpelajar.


Setelah itu , dua jam kemudian kakek Jhon beralih ke pelajaran mengontrol mana agar dapat menggunakan sihir tingkat dasar.


Kakek Jhon mempraktekan sedikit kebolehannya, ia mengumpulkan gumpalan mana berwarna biru transparan berbentuk lingkaran sebesar bola tennis lalu membuat mana itu menyebar ke sekeliling tubuhnya.


'rasenggan?' batin Levi terkagum


Diketahui sihir tingkat dasar meliputi ketahanan, percepatan dan penguatan tubuh yang umum (enchanment) serta pengendalian terhadap element dasar utama yang nantinya akan berkembang menjadi element khusus seperti angin , air , api , tanah serta sub element dasar seperti kegelapan dan cahaya.


Untuk kegelapan sendiri biasanya dimiliki oleh ras demi-human dan iblis, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk di pelajari oleh beberapa ras lain. Karena untuk kegelapan dan cahaya itu sendiri lebih mencocokkan kepada kemurnian mana penggunanya, bukan kemurnian mana lingkungannya.


Pengumpulan mana sendiri tidak tergolong sulit, hanya memfokuskan dan merakan sedikit akan keberadaan mana. Mengalirkan dan mengendalikan nya yang agak sulit dilakukan.


Tetapi berkat kemurnian, kepadatan mana di desa serta pengajaran dari kakek Jhon, hampir semua penduduk desa sudah mahir dalam menggunakan sihir tingkat dasar dan menengah.


Hanya anak - anak yang ada di dalam ruangan belajar ini yang masih agak sulit mengendalikan mana nya. Terkecuali dengan Silvi, ia lebih mengerti karena sering diajari pribadi oleh sang Kakek.


Mereka pun mempraktekan apa yang diajarkan kakek Jhon tadi, semua murid berhasil kecuali dengan Levi.


'huh? kenapa tidak terkumpul apa - apa di tangan ku?' gumam Levi kebingungan


Levi pun terus mengulang pergerakan nya, sampai percobaan yang ke enam belas kalinya, baru ia sanggup mengumpulkan bola mana seukuran kelereng.


Penyebaran mananya pun hanya meliputi tubuh bagian atas dari pinggang sampai kepalanya.


Kakek Jhon pun hanya tersenyum tipis melihat itu sementara anak lainnya sibuk dengan sendirinya.


Setelah kelas selesai, anak - anak lainnya mulai mengerumuni Levi. Salah satu perempuan yang sedikit aktif mulai memperkenalkan dirinya berserta temannya yang lain.


"Perkenalkan, namaku Elis, umurku sama denganmu tiga belas tahun. Ketiga teman yang seumuranku bernama Edward, Robin dan Sasa sedangkan untuk mereka berdua adalah Jennie dan Richard, mereka baru berumur 10 tahun" kata Elis sambil menunjuk teman - teman disekitarnya


'pfftt' pikiran Levi teringat sesuatu tentang dua nama dari ras peri tersebut.


Setelah berbincang - bincang cukup lama, mereka pun pulang ke rumahnya masing - masing. Levi pun kembali bersama Kakek Jhon dan Silvi sambil melanjutkan kegiatannya.


Hari berganti dengan cepat, sampai pada hari pertemuan bulanan penduduk desa. Levi pun mengikuti kakek Jhon ke tempat balai pertemuan desa.


Ketika sampai, Levi langsung memasuki sebuah ruangan yang cukup luas dengan meja bundar serta sepuluh kursi yang melingkari meja tersebut.


Di ruangan itu sudah terkumpul sembilan orang yang terlihat sudah dewasa, beberapa diantaranya sudah berumur, adapun dua diantara mereka adalah ras peri.


Kakek Jhon kemudian duduk di kursi kosong yang tersisa. Ia pun membuka topik tentang kesejahteraan desa.


Levi sempat mengira kakek Jhon adalah pemimpin desa, karena desa ini ditemukan oleh kakek itu sendiri. Tetapi kakek Jhon menjelaskan kalau di desa ini tidak ada kesenjangan sosial, hanya saja kalau terjadi keadaan darurat maka kakek Jhon dan ke sembilan orang yang ada di ruangan ini lah yang dapat mengambil keputusan penting.


Setelah membahas tentang desa, topik pun berganti mengenai identitas Levi, mereka semua sempat tidak percaya sampai akhirnya Levi menunjukkan sedikit kemampuan devicenya.


"seperti alat perekam sihir"


"apakah dia ras demi god yang hilang?"


"hmm, kau telah membawa anak yang menarik"


"bisa kau ajarkan aku tentang alat yang ada ditanganmu itu nak?"


Berbagai pertanyaan dan pernyataan keluar dari ucapan masing - masing ke delapan orang yang sedang berada di sana, hanya satu laki - laki yang terlihat berumur tiga puluhan dengan tenangnya masih duduk dengan diam.


Pertemuan pun berakhir dengan hasil keputusan bahwa identitas Levi harus tetap ditutupi dari penduduk yang lainnya.


Saat Levi dan kakek Jhon akan kembali ke rumahnya, terlihat sosok laki - laki yang sejak awal pertemuan tersebut hanya berdiam saja.


Sosok itu menghampiri kakek Jhon,


"Salam Sir Jhonson" ucap laki - laki itu


"Salam Edgard, apa maksud kedatanganmu sama dengan yang aku pikirkan?" tanya kakek Jhon


"Sir Jhonson pasti sudah berpikir jauh kedepan, Aku sudah tidak terheran lagi kalau Sir Jhonson sudah mengetahui maksud ku" kata Edgard


"Nama mu Levience kan? Besok, setelah selesai belajar, temui lah Aku di lahan kosong di dekat rumah Sir Jhonson" ucap Edgard kepada Levi


Setelah selesai berbicara, Levi pun menanyakan maksud dari Edgard kepada kakek Jhon.


Kakek Jhon menjelaskan bahwa Levi akan sedikit diajari cara mengendalikan kelebihan dalam aspek fisiknya. Agar Levi tidak harus selalu ditemani oleh kakek Jhon saat berpergian.


Levi pun mengangguk tanda ia mengerti maksud dari kakek Jhon.


Mereka kemudian pulang ke rumah dan menuju kamar masing - masing. Sebelum tidur pun Levi tidak bosan - bosan nya memainkan devicenya, walaupun hanya dalam waktu yang tidak lama.


*


*