Magic Records

Magic Records
Kembali ke tujuan awal



-Kota Mencester, Grand Arena Mencester-


Langit sudah menggelap, hembusan salju yang turun tidak menghalangi sorak sorai para penonton.


Terlihat rombongan kereta berkuda yang dikellilingi oleh 12 petualang memasuki pintu belakang Grand Arena Mencester.


Rombongan tersebut adalah rombongan Tuan Austin beserta Naval dan rekan petualangnya.


Dua prajurit penjaga gerbang memaksa mereka berhenti untuk menanyakan identitas rombongan, lalu Tuan Austin memperlihatkan surat dengan tanda lambang Tuan Kota Mencester.


"Baik, silahkan masuk Tuan Austin." ucap salah satu prajurit.


Tuk Tak Tuk


Suara sepatu kuda perlahan melintasi gerbang belakang Grand Arena.


"Akhirnya kita tiba juga Naval, Aku berpikir kita baru akan tiba esok hari setelah kejadian tadi pagi."


"Ya, Tuan Austin. Tentu kita tidak bisa bersantai dengan adanya kejadian tadi pagi. Dan tempat ini terlihat lebih bagus daripada tahun lalu."


"Memang, sepertinya Tuan Kota Mencester, Marco August sangat memperhatikan perkembangan Grand Arena ini."


"Wajar saja Naval, mengingat Grand Arena adalah salah satu tempat ikonik di kota Mencester."


"Benar Tuan Austin, Aku jadi terpikirkan dengan keadaan Tuan Levi. Apakah urusannya berjalan baik ya."


...


***


-Hutan barat perbatasan Kota Mencester-


Levi terbang tinggi dan melesat dengan cepat, ia turun di sekitar bukit yang terdapat hamparan rumput oksida.


Ia memetik rumput tersebut, dan tangannya merasakan energi nya perlahan diserap dalam jumlah kecil.


"Rumput oksida ini menarik, jika di tiup angin akan menghirup oksigen berlebih, jika tersentuh oleh makhluk hidup, malah mengambil energi kehidupan." ujar Levi terkagum.


Bahkan rumput tersebut tidak tersentuh oleh salju sama sekali. Kandungan air dalam butiran salju yang menetes, langsung diserap oleh rumput tersebut.


Ia lalu mengeluarkan kotak kayu dari dalam cincin penyimpanan, kotak kayu itu berbentuk persegi panjang dengan luas 4 x 8 cm.


Levi mengeluarkan sihir tanahnya untuk mengeruk semua tanah yang di tumbuhi oleh rumput oksida.


"Earth Magic : Earth shock wave."


Tanah disekitarnya mulai bergelombang dan terangkat, lalu Levi menggunakan sihir udara untuk memindahkan semua tanah beserta rumput oksida ke dalam kotak kayu tersebut.


Kotak kayu Levi bukanlah kotak biasa. Kotak tersebut adalah sebuah relic sihir yang dapat mengecilkan, menyimpan, dan merawat banyak tumbuhan, serta menjaga agar efek dan kesegarannya tetap dalam kondisi sempurna.


Jika Levi langsung memasukan tumbuhan itu ke dalam cincin nya, ia takut efek dari rumput itu akan berkurang.


Walaupun cincin penyimpanan dapat memperlambat arus waktu benda yang berada di dalamnya, namun dalam menjaga kesegaran tumbuhan, tetap kotak kayu itu yang menjadi andalan.


Setelah selesai memindahkan banyak rumput oksida, Levi memandang sekitarnya lagi.


Tanah disekitarnya telah menurun sekitar 3 cm dan telah ditutupi oleh salju yang turun. Namun Levi tidak mengeruk semua rumput, ia tetap membiarkan rumput oksida yang lainnya untuk berkembang di tanah asalnya.


Levi kemudian melanjutkan perjalanannya dengan cepat menuju jalan utama perbatasan hutan.


Setelah setengah harian terbang, langit pun sudah gelap. Levi melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu tepat tengah malam.


Merasa sudah cukup dekat dengan gerbang kota, Levi memutuskan untuk berteduh dibawah salah satu pohon besar.


Levi sudah mulai terbiasa lagi dalam hal berkemah di alam bebas. Apalagi dengan segala perlengkapannya, ia tak perlu merasa terlalu khawatir.


tuing tuing


Gagang kayu itu adalah sebuah gagang dari kapak besar yang digunakan untuk menebang pohon berukuran sedang.


Terlihat dua orang laki - laki berumur sekitar 14 dan 18 tahun sedang mencoba membangunkan pemuda lainnya yang sedang tertidur dibawah pohon.


"Kenapa ia tidak bisa disentuh, kak?" tanya laki - laki yang lebih muda.


"Entahlah dik, tapi kurasa ia adalah pengunjung kota yang sedang memakai relik sihir perlindungan." balas sang kakak.


"Dari mana kakak yakin, kalau ia pengunjung?"


"Aku juga tidak yakin, tetapi selama aku hidup 18 tahun disini, aku memang belum pernah melihat wajah pemuda ini di kota Mencester."


Kedua pemuda itu nampak akan menyerah membangunkan pemuda yang sedang tertidur itu, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke arah dalam hutan kota.


Relik perlindungan Levi memberikan sinyal kepada dirinya, bahwa telah terjadi serangan berskala rendah.


Levi yang setengah mata terbuka menemukan sosok siluet dua orang pemuda yang sedang mencoba menembus relik perlindungannya.


Relik sihir perlindungan Levi mengeluarkan kubah mana transparan yang jika diserang, maka akan membalikkan seratus persen serangan tersebut.


Levi kemudian dengan cepat menutup matanya lagi sambil mendengar percakapan antara dua pemuda itu, tak berapa lama, kedua pemuda itupun melangkah pergi ke dalam hutan.


Levi melihat jam tangannya, baru sekitar 5 jam ia tidur. Dan cuaca masih sedingin ini, untuk apa dua pemuda tadi membawa kapak besar dan keranjang di punggungnya.


'Mungkinkah mereka menebang kayu pada jam seperti ini?' gumam Levi, lalu tak sadar dirinya kembali memejamkan mata dan tertidur pulas.


drap drap drap


Para prajurit kota sedang berlari kecil untuk patroli disekitar gerbang kota Mencester.


Mendengar prajurit yang berisik membuat Levi segera terbangun dan membereskan semua perlengkapannya dengan terburu - buru.


Saat Levi sudah memasukan semuanya ke dalam cincin, ia kemudian termenung, lalu membanting tas nya ke tanah, 'Aku kan bukan gelandangan yang tidur sembarangan, kenapa aku harus terburu - buru!'


Levi berjalan menuju gerbang kota, terlihat dinding lebar yang membentang setinggi 20 meter, gerbangnya yang terlihat megah dijaga oleh banyak prajurit.


Tidak banyak pengunjung yang datang dari arah Gerbang ini, jadi Levi tidak harus mengantri panjang.


Ada juga beberapa pengunjung yang terlihat membayar sejumlah koin perak. Itu tidaklah asing di dunia ini, karena belum adanya pengetahuan tentang sejenis visa untuk pengunjung dari luar kota.


Prajurit gerbang kota Mencester terlihat sangat tegas, tetapi ramah terhadap pengunjung.


Levi tidak sabar memasuki kota baru, karena sejak kedatangannya, ia hanya berada di desa dan alam bebas.


Tiba giliran Levi untuk masuk, para prajurit meminta Levi menunjukkan tanda identitasnya.


Ia pun segera memperlihatkan plakat platinumnya, yang membuat para prajurit membesarkan kedua matanya.


Terlihat informasi yang menunjukkan status duke dari keluarga utama Aprilia pada plakat itu. Membuat mereka tidak memungut sepeserpun koin dari Levi.


"Tuan Muda, apakah anda tidak membawa kereta dan pengawalan?" tanya seorang prajurit.


"Tidak, Aku lebih suka menyendiri. Apakah aku sudah boleh masuk?" balas Levi.


"Silahkan lewat sini, Tuan Muda."


Terlihat pemandangan kota yang sangat padat penduduk dan bangunan besar dimana - mana.


'whoaa, kota kerajaan dengan bangunan khas jaman dahulu.' batin Levi terkagum.


Arsitek bangunan pada dunia ini belum memiliki pemikiran se modern arsitek di bumi, meski begitu bangunan disini memiliki nilai jualnya tersendiri.


'Penginapan dan restoran terlebih dahulu' gumam Levi sambil meneruskan perjalanannya.