
Mencester adalah salah satu kota besar di kerajaan Ink-Lis, terletak strategis dengan empat jalur utama menuju kota lainnya.
Rumah, toko, dan penginapan berkelas terpampang pada setiap sisi jalanan. Tapi yang membuat kota Mencester menjadi terkenal adalah Grand Arena Mencester.
Grand Arena Mencester sendiri dibuat oleh Tuan Kota Marco August pada saat ia baru memimpin kota Mencester sekitar 5 tahun yang lalu.
Banyak perubahan dan perbaikan guna memperindah tampilan arena itu. Grand Arena memiliki tempat penonton yang sangat luas, menyerupai tribun stadium lapangan bola di bumi.
Arena nya juga dibuat menggunakan bahan yang diperkuat oleh relik sihir. Tempat itu juga sering diperuntukkan sebagai arena perlombaan atau kompetisi tahunan, dimana pesertanya selalu dari kalangan petualang yang terkenal.
Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya Levi melihat sebuah restoran yang cukup besar.
Penampilan dan paras Levi menarik perhatian pengunjung restoran. Biarpun hari masih pagi, tetapi restoran sudah banyak dipenuhi oleh pengunjung.
Ini dikarenakan restoran tersebut bekerja sama dengan penginapan yang berada persis disampingnya.
Kemudian seorang pelayan menghampiri Levi dan memberikan katalog menu. Karena Levi sudah pernah melihat menu yang ada ada di katalog ini, jadi ia tidak kebingungan lagi dalam memilih makanan di restoran.
Ia hanya memesan menu yang ia rasa enak dilidahnya. Tak lama kemudian pesanan yang ia pesan sudah tersedia diatas mejanya.
Levi dengan lahap memakan semua pesanannya sampai tak bersisa. Ia tidak peduli dengan tatapan pengunjung lain yang terkejut dengan nafsu makannya.
Setelah membayar pesanannya, ia bergegas untuk mencari penginapan yang berada di dekat Grand Arena.
Saat ia keluar dari restoran, dirinya melihat kereta kuda yang ia kenali. 'ah, kereta Tuan Austin' pikir Levi.
Levi kemudian berjalan menuju ke pusat kota, dan dari kejauhan, sudah terlihat Grand Arena yang begitu besar dan megah.
Banyak pembicaraan mengenai puncak festival dan pertaruhan tentang final pertarungan petualang yang akan dilaksanakan pada 3 hari mendatang.
Berbagai penginapan di dekat Grand Arena yang ia datangi ternyata sudah penuh oleh para tamu pengunjung dari berbagai kota.
Levi kemudian mendatangi sebuah bangunan besar yang berbentuk seperti penginapan yang terkecil dan terletak paling ujung dari lokasi Grand Arena.
Penginapan itu sendiri terlihat sudah sangat tua, karena berbahan utama kayu dan sepertinya sudah lama tidak diperbaiki.
Juga memiliki halaman kosong yang luas yang sudah diberi pagar kayu pembatas, menjadikan penginapan ini akan terlihat menyeramkan pada malam hari.
Sebuah penginapan yang sudah ketinggalan jaman menurut Levi. Jika penginapan ini tidak sesuai ekspetasinya, maka ia akan mencari penginapan di dekat gerbang kota saja.
Levi memasuki penginapan tua itu dengan santai, nampak sesosok pria paruh baya yang sedang menyapu lantai aula.
Dengan tersenyum, pria itu menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Levi.
"Selamat siang Tuan Muda, apakah Tuan Muda sedang mencari penginapan?" tanya pria itu.
"Ya, apakah ada kamar terbaik yang masih tersedia disini?"
"Masih Tuan Muda, ta.."
Tepat sebelum pria tua itu melanjutkan, Levi langsung memotong ucapannya, ia bertanya kembali, "lalu berapa harga untuk kamar terbaik?"
Pria tua itu sedikit termenung, lalu ia menjawab "Untuk kamar terbaik dihargai dengan 30 koin perak per malam nya. Bagaimana Tuan?"
"Baik, aku setuju, aku akan menginap selama 3 hari terlebih dahulu."
Levi menyerahkan 90 koin perak ke meja salah satu penginapan, lalu pria paruh baya itu memandu Levi ke kamar terbaik yang ada disana.
Sejauh Levi menyusuri penginapan itu, ia melewati tempat makan dengan satu meja panjang dan belasan kursi yang mengelilinginya.
Tidak banyak pintu kamar di lantai dua, tidak terlihat pula pengunjung yang berlalu lalang. Juga tidak terdengar suara manusia sedikitpun.
Levi menjadi lebih curiga, tetapi saat ia sudah sampai ke kamarnya yang berada di lantai 3 ini, ia menjadi terheran.
Kamarnya lebih bagus dari yang ia duga, dengan fasilitas kamar yang seperti ini, seharusnya bisa dihargai dengan 50 - 60 koin perak untuk musim padat pengunjung seperti sekarang ini, dan seharusnya penginapan ini pasti sudah penuh pengunjung.
Pria paruh baya itu pergi setelah meninggalkan kunci kamar kepada Levi, ia berkata untuk memanggilnya jika ada sesuatu yang diperlukan.
"Satu lagi Tuan Muda, untuk sarapan dan makan malam akan disediakan dua kali pada jam makan seperti biasanya." ucap pria itu.
"Baiklah, aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu." balas Levi.
Levi kemudian bergegas membersihkan tubuhnya dan bersiap pergi keluar untuk mencari kediaman teman kakek Jhon di kota ini.
Kini ia memakai baju lengan pendek, serta celana panjang dan jubah panjang berwarna putih dengan garis merah di kedua sisinya.
Tidak lupa juga dengan memakai ikat pinggang kulit, dan sepatu boot, serta menyimpan tas nya ke dalam cincin penyimpanan.
Penampilannya kini persis dengan penampilan bangsawan kelas atas.
Lalu ia mengeluarkan secarik kertas dan membaca keterangan yang ada di kertas tersebut.
'carilah sebua...***' hah!'
Levi menyipitkan mata dan mendecak kesal saat mencoba membaca tulisan tangan pada surat ini.
Setelah berulang kali membaca surat tersebut, akhirnya ia bisa mengerti sedikit banyak isi dari surat itu.
'carilah sebuah rumah kayu mewah dengan halaman yang luas di dalam kota dan temuilah temanku yang bernama Rajon Mondo, antarlah barang yang ku titipkan kepadamu - Jhonson Aprilia'
Kurang lebih, itulah yang terbaca oleh kedua mata Levi sekarang ini.
Jika ada sinyal internet di Unknown World, tentu ia 100 persen sudah memakai aplikasi penerjemah untuk membaca surat tersebut.
"Pantas saja selama di rumah belajar, Silvi dan Elis yang membantu kakek Jhon dalam menulis sebuah pembahasan!" ucap Levi.
Levi menarik nafas nya dalam - dalam, ia merasa perlu melakukan meditasi. Akhir - akhir ini kesabarannya selalu terus menerus di uji.
'Sebaiknya aku segera mencarinya' gumam Levi.
Ia pun turun ke lantai dasar dan menemukan dua pemuda yang suaranya tidak asing baginya.
Pemuda itu membawa kapak besar dan keranjang berisikan potongan kayu yang cukup banyak.
Mereka saling bertatap muka selama beberapa detik, lalu kemudian Levi segera menghampiri Pria tua penginapan itu.
Pria itu dengan sigap menanyakan keperluan Levi, "Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak, aku hanya akan berkeliling kota sebentar. Apakah Paman mengetahui tentang rumah kayu mewah yang ada di kota ini?" tanya Levi.
"Ada banyak rumah kayu mewah di kota ini Tuan, apakah ada ciri - ciri yang lain?"
"Ah, bagaimana dengan seseorang yang bernama rajon?"
Pria tua itu lagi - lagi mengatakan tidak tau dengan seseorang yang bernama rajon di kota ini.
Pria itu lalu menoleh kepada dua pemuda yang ada di sampingnya, tetapi dua pemuda itu kemudian menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa mereka juga tidak mengetahui orang yang dimaksud oleh Levi.
Levi pun berpamitan lalu segera pergi menyusuri kota Mencester.
"Kak, sepertinya wajah orang itu tidak asing?" tanya sang adik.
"Sepertinya dia... dia orang yang kita coba bangunkan tadi pagi di dekat gerbang!" jawab sang kakak.
Hari semakin siang, Levi terus menyusuri kota yang sedang ramai pengunjung itu. Hampir tidak ada ruang kosong di pinggir jalan untuk berhenti bergerak.
Setelah hampir seharian mencari rumah kayu, sampai lah ia ke sebuah gerbang perumahan yang di dalamnya terdapat banyak rumah yang terbuat dari kayu.
Dirinya telah mencari sendiri, dan banyak bertanya kepada penduduk setempat mengenai rumah kayu dan orang yang bernama rajon.
Levi tidak menyebutkan nama mondo dibelakangnya, ia khawatir kalau teman kakek Jhon ini harus dicari secara rahasia. Ditambah lagi dirinya tidak mau menarik perhatian, jika harus mencari lewat udara.
'Banyak sekali rumah kayu mewah yang harus aku datangi.' gumam Levi.
Ia sedikit menggeruti kakek Jhon dalam hatinya, dirinya merasa seperti sedang dikerjai oleh kakek tua tersebut.
Levi berjalan dan mengetuk pintu semua rumah tersebut satu - persatu. Benar saja, ia tetap tidak bisa menemukan seseorang yang bernama rajon.
Pada akhirnya, Levi hanya bisa pasrah. Langit sudah menggelap, dan ia pun kembali menuju penginapan.