Magic Records

Magic Records
Kencan buta II



Levi bertanya lagi dengan cepat, "Lalu apa yang bisa ditawarkan olehmu sebagai bayarannya?"


"Apapun selama masih dalam batas toleransi dari pihak kami, Tuan."


Setelah memikirkan sejenak, lalu ia meminta Erin untuk mengikuti gerakan dan kata - kata Levi.


Sambil mengangkat tangan kanannya keatas dan membentuk segel dua jari berbentuk gunting, ia mulai mengucapkan sebuah kalimat.


"Saya, Erin ..." "ah, siapa nama lengkapmu tadi?" tanya Levi yang terlihat malu sendiri.


"Erin Miramar, Tuan." ucap Erin kebingungan.


"Baik, sekarang kita mulai dari awal. Ingat dan ikuti gerakan serta kata - kata ku. Ini mengandung perjanjian sihir." ucap Levi dengan wajah serius.


"Saya, Erin Miramar, dengan ini menerima perjanjian..." ucap Levi yang kemudian diikuti oleh Erin.


Lantunan perjanjian itu panjang sekali, sampai Erin terlihat kebingungan tanpa henti.


Setelah kurang lebih mengucapkan kalimat perjanjian selama 20 menit, Erin mulai terengah - engah.


'hahaha, aku hampir tidak sanggup lagi menahan tawa' batin Levi.


Ia merasa lucu karena sejak awal Levi tidak melantunkan kalimat perjanjian sihir, hanya kalimat sembarang disertai dengan tempo yang kadang cepat dan kadang melambat. Hanya untuk mengerjai Erin.


Setelah peredam transparan menghilang, ia mengajak Erin terlebih dahulu menuju ke penginapan Nenek Carla untuk mengambil tas sekaligus berpamitan.


'Guild petualang bisa menyusul lain kali. Dan sepertinya perjalanan ke Mencester akan tertunda lagi' pikir Levi.


Setelah sampai di penginapan, Levi langsung mengambil tas dan berbicara pribadi dengan Nenek Carla dan Irene.


Dirinya menyerahkan kertas sihir perjanjian kepada mereka, dan mengatakan semua permasahan dengan pihak Solkanstant sudah diatasi.


Levi juga akan segera berangkat ke kota Mencester setelah berkunjung ke tempat Erin untuk melakukan kerjasama bisnis.


Sebelum pergi, Irene memeluk hangat Levi sebagai bentuk terimakasihnya. Setelah itu Levi memberikan suatu tablet sihir kepada Nenek Carla.


Ia meminta bantuan Nenek Carla untuk melaporkan informasi yang mungkin berguna untuk dirinya suatu saat nanti.


"Baiklah, jaga dirimu Nak Levi"


"Selamat tinggal Levi, semoga perjalananmu lancar."


Semua pelayan pun menundukkan kepalanya, tanda menghormati kepergian Levi.


Levi hanya melambaikan tangannya, lalu segera beranjak pergi bersama Erin.


Rumah Erin ternyata lebih besar dari dugaan Levi. Hampir sebesar dan seluas Mansion Solkanstant.


Rumah tersebut dilindungi oleh relic sihir pengamanan, itu adalah fasilitas toko pusat yang diberikan kepada setiap manajer cabang.


Erin mengetuk pintu kamar Ayahnya,


Tok tok tok


"Erin? Kau kah itu nak?" terdengar suara halus perempuan dewasa dari dalam kamar.


"Ya Bu, Aku membawa tamu yang mungkin bisa membantu Ayah" balas Erin.


Pintu pun terbuka, nampak sesosok perempuan dewasa cantik sedang membuka pintu.


Wajahnya mirip sekali dengan Erin, seperti kembaran yang berbeda usia.


"Salam nyonya, namaku Levi. Aku datang untuk melihat kondisi Ayah Erin" ujar Levi memperkenalkan dirinya.


Perempuan itu mengenalkan dirinya sebagai Ibunya Erin, ia bernama Sella Maylia. Lalu suaminya yang sedang terbaring lemas bernama Larry Miramar.


'Maylia, salah satu dari bangsawan utama 12 bulan seperti keluarga Aprilia' pikir Levi.


Larry Miramar berbaring tidak sadarkan diri selama 6 bulan lamanya. Tubuhnya sudah mulai terlihat kurus, selama ini asupan gizinya tetap terjaga hanya dengan mengandalkan aliran mana dari sihir penyembuh milik Erin dan Istrinya.


Levi meminta ijin untuk memeriksa keadaan Larry, ia juga meminta Erin dan Nyonya Sella untuk menunggu diluar.


Relic THE ONE sejatinya berbentuk dua bola mata besi yang fungsinya dapat melihat menembus pandang serta melihat aliran mana secara detail.


Tetapi cara menggunakannya agak sedikit ekstrim, karena harus menggunakan pengorbanan mata milik penggunanya.


Entah apa yang dipikirkan oleh THE ONE saat membuat relic yang seperti ini.


Levi memodifikasi kacamata hitamnya dengan relic bola mata sihir. Ia melebur dan memisahkan antara besi dan inti mana dari relic tersebut.


Lalu menyatukannya kembali dengan kacamata hitamnya. Ia menamakan relic barunya dengan nama God's Eye.


Ia belum bisa menciptakan sihir deteksi tingkat tinggi miliknya sendiri, makanya ia masih membutuhkan relic sebagai bantuan.


Setelah memakai God's Eye, terlihat sejenis aura abu - abu pekat di bagian bawah jantung Larry.


"Sepertinya sihir kutukan kegelapan tingkat atas" ucap Levi.


Sinnggg


Muncul lingkaran sihir gelap dari mata Levi, lalu menyelebungi bagian jantung Larry.


"Hilanglah" ucap Levy.


Seketika aura abu - abu itu terangkat keluar dari tubuh Larry, lalu membentuk lingkaran sihir yang kemudian pecah berkeping - keping.


'Seharusnya jika menggunakan sihir elemen cahaya tingkat atas yang sebanding, mungkin bisa melenyapkan kutukan itu dengan sedikit usaha' gumam Levi.


Perlahan raut wajah Larry membaik, tak lama kedua matanya terbuka. Larry memerhatikan keadaan sekitar dan melihat sesosok pemuda di sampingnya.


"Tuan, siapakah dirimu?" tanya Larry menerka - nerka.


Segera Levi menjawab dengan ekspresi serius, "Aku lah malaikat kematian mu, bersiaplah ikut denganku"


"Apaa" teriak Larry, lalu terbatuk - batuk karena sudah lama tidak meminum air.


Mendengar suara teriakan dari dalam kamar, sontak pintu kamar terbuka paksa. Nyonya Sella dan Erin langsung menghampiri Larry lalu memeluknya dengan erat.


"Istriku, anakku. Setidaknya Aku masih dapat merasakan kehadiran kalian sebelum ajalku" ujar Larry menangis bahagia.


Kedua perempuan itu curiga dengan perkataan Larry, dan mulai menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.


Levi pun bersiul - siul sebentar, lalu mengatakan bahwa benar Tuan Larry sudah diberi kutukan sihir kegelapan tingkat atas. Dan kutukan tersebut sudah dihilangkan sampai ke akarnya oleh Levi.


Sayangnya, ia tidak dapat melacak siapa dalang atas peristiwa ini. Setidaknya Levi masih dapat mengingat karakteristik mana tersebut dan jika suatu hari ia menemukan ciri yang sama, ia akan segera menginfokan kepada Erin.


Keluarga itu mengucapkan terimakasih sebesar besarnya kepada Levi.


Levi hanya membalas mereka dengan senyuman hangat, lalu mengedipkan satu matanya kepada Erin.


Levi mengingatkan akan perjanjian mereka, tetapi Erin yang terbawa situasi bahagia malah salah mengartikan tindakan Levi tersebut. Kedua pipi Erin pun langsung memerah semu.


Levi mengatakan akan menunggu mereka di luar kamar saja, lalu nyonya Sella menemani Levi untuk duduk di ruang tamu mereka.


Sebelum kembali ke kamar suaminya, Ia tak lupa menyeduhkan minuman teh hangat dan sedikit membicarakan tentang sifat Erin yang berubah sejak ayahnya jatuh sakit.


Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi, dirinya permisi untuk bertemu dengan suaminya kembali.


Levi pun canggung karena ditinggal sendirian di ruang tamu kediaman Erin.


Levi menghabiskan waktunya sambil mengamati keadaan ruang tamu kediaman Erin.


Ia berjalan mendekati jendela, dan membuka tirai dihadapannya. Jendela tersebut menghadap ke arah lahan tempat kebun keluarga Miramar.


Terdapat berbagai jenis bunga cantik dan tumbuhan herbal di lahan kebun tersebut.


Saat akan membuka jendela, Erin pun sudah datang dan menawari untuk berjalan mengitari kebun bunga tersebut sambil membicarakan perjanjian yang dimaksud.


"Oh, jadi kali ini kamu yang mengajakku kencan?" tanya Levi tersenyum.