
Setelah memutuskan untuk mencari penduduk dan pemukiman untuk mendapatkan informasi, Levi memasukan kembali semua peralatan ke dalam tas ransel serta kedalam kantong celananya.
Ia melepaskan jaketnya lalu mengikatkan lengan jaket tersebut di pinggangnya. Saat akan berjalan, Levi mendengar ada suara langkah kaki, terasa dekat sekali.
Tap Tap Tap
Kembali ia menggosokan mata, lalu telinganya, karena ia tidak melihat apapun padahal terdengar suara langkah kaki. Seketika ia sedikit merinding dan tidak sengaja menghempaskan lengan tangannya ke bagian batang pohon disampingnya.
BOOMM
'hmm?' batin Levi terkejut melihat efek pukulan yang tidak sengaja ia hempaskan.
Segera ia mendengar langkah kaki yang semakin cepat ke arahnya, mulai terlihat juga sosok siluet hitam kecil dari kejauhan.
"hoshh hoshh hoshh" suara anak perempuan terdengar dari kejauhan
tak berapa lama, sosok siluet tersebut semakin dekat sampai akhirnya tepat berhenti di jarak 5 meter saling berhadap- hadapan an dengan Levi.
"siapa kamu?!" tanya anak perempuan yang ternyata setelah diperhatikan berumur sekitar 13-14 tahun
'penampilannya, orang asing keturunan wilayah barat? eropa? tapi bahasanya sama dengan bahasa wilayahku?' terpikir oleh Levi setelah mendengar pertanyaan dari perempuan tersebut
"english? my name is levi" jawab levi dengan keragu-raguan
"eng? apa? nama mu panjang sekali, sudahlah.. eng, tidak penting. sekarang, dari mana asalmu? bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya perempuan itu kembali
'hah, kenapa dia tidak mengerti apa yang aku ucapkan, apa aku salah berbahasa' pikir Levi. Tanpa disadari Levi berbicara bahasa asing, padahal perempuan tersebut berbicara dengan bahasanya.
"Maafkan aku, namaku Levi, aku tidak tau kenapa aku ada disini, jelas tadi aku sedang ada di dekat rumahku untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, tapi tiba-tiba aku ada disini" jawab Levi sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda seperti menyerah
"huh? tidak mungkin! aku tidak pernah melihatmu di dalam desa! lagi pula hanya ada satu jalan akses menuju desa ini, kamu penyusup kan?! aku tadi baru saja dari gerbang desa"
bentak perempuan itu sambil memerhatikan seluruh penampilan Levi.
"pakaian dan... apa itu yang menempel di punggungmu? kau pasti mata-mata orang asing?!" sambil menunjuk-nunjuk Levi dengan jari tangannya yang kecil.
"tidak-tidak, aku bersungguh-sungguh"
krashh krashh
BOOM
Tanpa sengaja Levi mundur dua langkah menyamping ke pohon tersebut dan mengibaskan tangan kirinya ke batang pohonnya. Seketika juga tanah coklat yang ia injak bolong, serta batang pohon yang terkena tangannya menjadi retak, hampir roboh.
"KAKEKKKKKKK !!! Huaaaa ..."
Perempuan tersebut berteriak memanggil manggil kakeknya lalu menangis terkejut karena seperti melihat sesuatu yang tidak normal mengancam terjadi di depan matanya.
'ugh, gawat' gumam Levi
"tenanglah em.. maaf siapa namamu? aku juga tidak mengerti kenapa seperti ini" Levi berusaha menenangkan gadis tersebut dari tempatnya berada karena ia khawatir kalau berjalan akan menimbulkan kerusakan lagi
zingg! zinggg! zingg!
Tampak sosok bayangan yang gerakannya seperti menghilang dan muncul dengan cepat secara terus menerus ke arah Levi dari arah kedatangan anak perempuan tadi.
'ada suara lagi, tapi tidak terlihat apapun, lagipula apa desa ini semua pijakannya lembek ya?' 'tunggu, ada seseorang yang berlari dengan cepat, apa itu?! seperti blink step!' batin Levi bergejolak tak menentu karena harus memproses apa yang sedang terjadi
wushhh
suara angin berhembus tepat setelah sosok tersebut berhenti di samping anak perempuan tersebut.
Sosok tersebut terlihat tinggi dimata Levi, sekitar 180cm, rambutnya pendek kecoklatan dengan sedikit helaian putih, wajahnya garang, sedikit keriput, yang menandakan ia sudah berumur. Mata coklatnya mencerminkan bahwa Ia adalah sosok yang ramah sekaligus tegas.
Berkumis dan berjenggot tebal, pakaian nya terlihat sederhana, terlihat seperti mengenakan pakaian bertani orang asing wilayah barat di film - film pertengahan jaman dulu yang pernah Levi tonton.
'wah tingginya, memang orang barat' gumam Levi.
'Tunggu dulu, kenapa aku harus mendongakkan kepala ku ke atas hanya untuk melihat wajahnya?'
Levi terkejut karena tinggi kakek didepannya seharusnya hanya berbeda beberapa centi-meter dengannya, tetapi sekarang ia malah harus mendongakkan kepalanya.
"Tenanglah Silvi, Kakek sudah datang" kata kakek tersebut sambil memeluk dan membelai rambut anak perempuan yang sedang menangis
"hik hikk" ..
"Nah, sekarang anak kecil, siapa namamu? Dan apa yang telah terjadi disini?" tanya Kakek tersebut sambil melirik keadaan sekitar.
Seketika Levi merasakan seluruh tubuhnya seperti tertekan angin transparan, ia pun tertekan kebawah seperti terlihat sedang dalam posisi squat.
'inii.. rasanya seperti film animasi yang itu, iya pasti itu' batin Levi terkejut antara merinding takut sekaligus terkagum atas pemikirannya.
Sambil berpikir, Levi menemukan hal yang membuat ia lebih terkejut lagi, ternyata karena terlalu sibuk berpikir, ia tidak menyadari kalau tubuhnya menyusut menjadi se ukuran anak berusia 14-15 tahun.
'baiklah, ini bisa ku cari tau lain kali, tetapi harusnya kalau aku menyusut, kenapa langkahku bisa menghancurkan jalan dengan mudah?' sambil berpikir ia melihat wajah sang kakek yang sudah menunggunya hampir sekitar 2 menit.
Nampak mata sang Kakek kali ini mulai terlihat sedikit berkedut, seperti menekan sambil menahan sesuatu.
'hmm, baiklah'
"Maaf sebelumnya, nama saya Levi, jadi sebenarnya .."
Levi kembali menceritakan apa yang terjadi padanya seperti yang ia ceritakan kepada anak perempuan tadi.
Kali ini ia menambahkan tentang penyebab timbulnya retakan dan kerusakan pada pohon disamping ia bersandar, walaupun ia belum mengerti kenapa bisa terjadi.
Tetapi ia tidak menceritakan bahwa ia sebenarnya bukan anak kecil, ia memilih diam soal tersebut.
"Begitukah?.."
"Lalu dimana rumah mu itu nak? Sejujurnya aku belum begitu mempercayaimu, karena desa ini tidak bisa dimasuki sembarangan orang" kata kakek tersebut sambil tetap mengelus rambut anak perempuan yang bernama Silvi itu.
"Aku berasal dari kota Jagarda, boleh aku bertanya ini dimana? Dan apakah Kakek mempunyai Wifi? Aku ingin menghubungi keluargaku" tanya Levi sambil terus melirik sang Kakek
"Jagarda? Aku tidak pernah dengar, di benua apa itu? Termasuk daerah teritori kerajaan mana? Lalu waivai? Apa itu?" Tanya sang Kakek dengan ekspresi kebingungan.
Levi kembali berpikir, jika ia beberapa saat lalu ada di kotanya, lantas kenapa kakek tersebut mengatakan ini desa, kenapa kakek itu bertanya benua dan kerajaan, apa ia sedang dijebak acara reality show, tapi kekuatan yang sekarang ia rasakan terlalu nyata baginya.
Seketika Levi menggelengkan kepalanya dua kali, tanda bahwa ia harus tetap fokus dan menjawab pertanyaan si Kakek dengan tepat.
"Jagarda berada di Benua Asia, terletak dalam teritori IDN Republic, sejujurnya aku sendiri juga tidak paham kenapa aku bisa berada disini. Dan untuk waivai, lupakan saja kek" jawab Levi yang akhirnya memutuskan untuk jujur.
"Republic? Benua Asia?" Kakek tersebut kemudian mengangguk - angguk, terlihat seperti bertanya sendiri lalu paham sendiri tanpa dijawab oleh orang lain.
"Baiklah, keliatannya kau jujur nak. Mari, ikuti aku" "Ayo Silvi, pegang tangan Kakek"
Kata Kakek tersebut sambil berjalan berdua dengan Silvi melewati Levi yang sedang dalam posisi squat.
"Maaf sebelumnya Kek, bisa Kakek bantu jelaskan kenapa tadi tubuhku terasa normal, tetapi semenjak Kakek datang, Aku jadi tidak bisa bergerak?" Tanya Levi dengan suara pelan
Kakek tersebut kemudian berhenti berjalan, lalu menepuk keningnya sendiri.
'Duh, Aku lupa' batin Kakek
Sementara Silvi tampak kebingungan mengamati Kakeknya dan Levi
"Ah, kali ini Aku yang harus meminta maaf haha. Sudah lama sekali"
Perlahan tubuh Levi kembali menjadi ringan, lalu sang Kakek terlihat sedang bergumam, kemudian tiba-tiba Levi sudah melayang sekitar 2 cm dari atas tanah, tempat ia berpijak sekarang.
"Nak Levi, jika apa yang kau ceritakan tadi benar, terpaksa Aku harus membawa mu dengan seperti ini" Kata Kakek tersebut sambil kembali berjalan ke arah dalam desa.
'ahaha, ini akan menjadi menarik' pikir Levi yang pikirannya terlihat seperti anak kecil kembali karena sedang merasakan melayang di udara.
"Jadi keliatannya Kakek tau Benua dan teritori apa yang Aku sebutkan tadi?" Tanya Levi berharap
Tap Tap Tap Tap
Kakek tersebut berhenti kembali, lalu menengok ke arah Levi dengan ekspresi wajah yang serius.
Kali ini Levi yakin, semua pertanyaan yang bergumul di dalam pikirannya akan segera terjawab oleh Kakek yang terlihat hebat itu.
"Tidak ..." Jawab Kakek tersebut dengan bangga
"-.- "
"Hehe. he.."
*
*
*