
"Earth Magic : Earthquake!"
brrr rumble rumble..
".. Gravity Magic : Absolute Control ! "
rumble rumbleee
Kekuatan sihir tanah Levi sedang ber adu dengan kekuatan sihir gravitasi milik Silvi yang mengakibatkan goncangan dan kehancuran area ber skala besar pada lahan kosong yang sudah dilapisi relic segel pelindung tingkat tinggi.
Silvi sendiri dengan sihir elemen utama anginnya berhasil mempelajari sihir khusus gravitasi seperti dengan sihir kakek Jhon.
Pertandingan duel sihir gladiator adalah pertandingan beradu sihir satu lawan satu maupun pertandingan langsung antar tim.
Jenis pertandingan ini sering di lombakan pada turnamen sihir serta bermanfaat sebagai ajang latih tanding yang cukup efisien.
"Baik, kalian ber dua sudah cukup!" teriak Paman Edgard menyudahi latihan pertandingan
"Kemampuan sihir khusus gravitasi mu sudah hampir menyerupai Kakek Jhon, Sil !" ucap Levi tersenyum memuji
".. hmm, benarkah kau akan pergi besok?" tanya Silvi mengalihkan pujian dengan pertanyaan, terlihat ekspresi wajah yang menunjukkan ketidak relaan
"Betul Silvi, bukankah sudah sering kita bahas? Aku pun sebenarnya ingin sekali untuk tidak pergi dari sini" balas Levi sambil menepuk pelan pundak Silvi
" Ayo kembali Sil.. terimakasih Paman Ed atas bantuannya hari ini.."
Setelah berpamitan, Silvi dan Levi bergegas menuju rumah Kakek Jhon.
Sudah hampir setahun sejak kedatangan Levi ke Mana isla. Berbagai macam latihan penting telah ia jalani bersama dengan Paman Edgard dan Kakek Jhon.
Apalagi sejak menemukan banyak fakta tentang kekuatannya yang sudah kelewat ambang batas normal, latihan demi latihan seakan terus menerpa Levi tanpa henti.
Levi pun pernah diajak untuk berburu hewan liar, monster tingkat rendah sampai tingkat tinggi.
Monster tersebut ada di luar segel batas hutan Mana Isla dan Levi pun terkejut saat pertama kali mengetahui kalau sebagian hutan di Mana Isla dikelilingi oleh banyak monster tingkat tinggi.
Awalnya Levi tidak tega untuk membunuh makhluk hidup, seringkali awalnya ia mual. Tetapi karena sering meditasi dan memakai metode mendengarkan lagu saat berburu, membuat Levi merasa lebih baik.
Akhir - akhir ini pun ia sudah tidak merasa apa - apa lagi saat menghabisi nyawa para monster.
Kekuatan tempur Levi, baik itu secara fisik, mental, sihir, dan strategi sudah berada di level yang lain dari teman - teman sebaya nya.
Levi pun sering menghabiskan waktu luangnya untuk bercengkeramah dengan penduduk sekitar.
Bertanya soal masukan mengenai sihir, bercocok tanam, serta kegiatan pedesaan lainnya.
Alhasil, ia pun memperoleh ilmu yang sebanding atas usahanya.
Memperhitungkan kehebatan dari penduduk desa yang keseluruhannya sudah hampir menguasai sihir tingkat menengah keatas, Levi sempat berpikir kalau pun desa ini ter ekspose, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dengan penduduk yang super kuat, cerdas, serta adanya kesepuluh tetua desa dan monster - monster tingkat tinggi yang menjaga desa. Levi merasa akan sia - sia bagi pihak yang ingin mengambil alih desa ini.
Saat senggang di rumahnya pun, Levi juga sering memainkan lagu dari device nya dengan tambahan sihir suara yang membuat suara setiap lagu bertambah besar dan nyaman di dengar.
Kakek Jhon dan Silvi pun menyadari bahwa jenis lagu yang sering Levi mainkan terdengar asing di telinga mereka. Biar begitu, irama dan melodi nya cukup nyaman di dengar oleh mereka.
Levi pun sebenarnya tidak ambil pusing, asalkan ada uang yang cukup, itu sudah menjadi solusi yang menjanjikan.
Tetapi ia diingatkan kembali oleh Kakek Jhon, bahwa dunia di luar Mana Isla tak sedamai yang Levi kira. Walaupun hukum masih ada, tetapi sering dipersalah gunakan oleh pihak yang berwenang.
Mendengar itu pun, Levi kembali mengingat akan kehidupan di bumi.
'yahh, dimanapun aku berada, kurasa situasinya akan tetap sama' gumam Levi sejenak
Kemudian ia meminta ijin kepada kakek Jhon untuk meminta Silvi ikut ke ruangan rahasia yang ternyata ada di bawah tanah rumah kakek Jhon. Tentu ada segel super rumit yang melindungi keberadaan ruangan tersebut.
Setelah mendapat ijin, mereka ber tiga pun segera menuju ke ruangan tersebut. Ketika sampai, Levi pun tersenyum saat melihat ekspresi wajah Silvi yang sedang terkagum kagum.
Levi pun mengambil beberapa relic, senjata, koin emas serta beberapa aksesoris sihir lainnya.
Levi bertanya kepada kakek Jhon tentang kelayakan nilai tukar koin emas yang bertumpuk tersebut. Apakah masih dapat dipergunakan atau tidak.
Kakek Jhon mengiyakan bahwa pencetakan koin emas tidak pernah berubah sejak dari jaman dulu sampai dengan sekarang.
Nyatanya ada aksesoris berupa cincin sihir yang berfungsi sebagai penyimpanan barang dengan luas dimensi tak terhingga.
"setidaknya bentuk dan hiasan cincin ini tidak terlihat berlebihan" ucap Levi sambil memakaikan cincin tersebut
Kakek Jhon tidak pernah mengambil barang dari ruangan tersebut karena ia merasa tempat tersebut ada untuk menunggu Tuannya kembali ke singgasana nya.
Kakek Jhon memberikan beberapa misi kepada Levi dengan tujuan utamanya untuk pergi ke arah barat dari benua Yuropa menuju tempat tertentu untuk bertemu dengan kenalan kakek Jhon yang mendalami sihir dimensi satu - satunya di dunia ini.
Lalu Levi pun dibuatkan plakat tanda pengenal oleh salah satu tetua desa yang bentuknya persegi panjang kecil dengan bahan utamanya besi platinum.
Terkesan berlebihan hanya untuk sebuah tanda pengenal, biasanya tanda pengenal berbahan platinum diperuntukan untuk bangsawan kelas atas.
Tetua desa itu bernama Pak Tua Alfred, ia adalah tetua yang mengurusi pembuatan identitas dan pengumpul informasi dari luar Mana Isla.
Semakin mendekati waktu keberangkatan, membuat perasaan Levi menjadi berat. Padahal di dunia asalnya, ia tidak pernah merasakan hal yang seperti ini.
Malam pun tiba, acara perpisahan sederhana dibuat untuk Levi. Raut wajah sedih dan bahagia bersamaan ditunjukkan oleh penduduk desa atas kepergian Levi.
Keesokan harinya, Levi pun berpamitan dengan penduduk desa. Lalu ia memeluk Paman Edgard, Kakek Jhon serta teman belajar nya bergantian.
"Ambilah ini Nak, gunakan relic ini hanya pada saat terdesak" ujar kakek Jhon sambil memberikan dua buah relic berbentuk kunci emas kepada Levi.
"Kakek juga terimalah ini" balas Levi sambil memberikan sebuah relic berbentuk batu persegi panjang seukuran genggaman tangan kakek Jhon
Levi menjelaskan bahwa relic itu ia ciptakan dengan menggabungkan sihir suara dan sihir penciptaan yang berguna untuk berkomunikasi jarak jauh.
Terakhir, ia memeluk Silvi dengan hangat, anak perempuan yang pada pertemuan pertamanya di dunia ini, yang dikiranya cengeng. Tidak disangka akan membuat hari hari Levi menjadi lebih berwarna.
"Sampai jumpa lagi semuanya, Aku pergi untuk kembali"
Kakek Jhon pun mulai menghidupkan relic transportasi jarak jauh, seketika muncul lingkaran sihir dibawah kaki Levi. Perlahan, tubuh Levi berubah menjadi butiran cahaya terang dan menghilang dalam hitungan detik.
*
*