
Setelah berjalan santai sekitar 10 menit, Kakek tersebut berhenti ditempat.
Pandangan Levi menjadi silau, beberapa saat kemudian ia melihat pemandangan yang menakjubkan
Deg Deg
'perasaan ini, apakah ini yang dinamakan.. keajaiban?' batin Levi terkagum- kagum sambil mengedip - ngedipkan kedua matanya.
Levi melihat sebuah desa yang lumayan luas dengan beberapa tempat yang terlihat seperti rumah, toko, dan gudang besar di beberapa lokasi.
Ada juga sawah, kebun, kolam. Tapi apa yang membuat Levi kagum adalah sosok kecil bersayap yang terlihat seperti peri-peri di buku bergambar yang dulu sering ia lukis, sekarang terlihat beberapa dari mereka membantu penduduk sekitar dalam menjalani kegiatannya.
Tak luput juga dengan peralatan yang bergerak - gerak dengan sendirinya. Levi menghirup nafasnya dengan cepat karena takjub akan apa yang ia lihat. Seketika itu juga ia merasakan ada sesuatu yang masuk, menghangatkan tubuhnya. Seperti luapan energi yang bersahabat.
Kakek tersebut melihat apa yang terpancar dari tubuh Levi, ketika Levi sedang menghirup nafas. Sontak saja ia kaget dan terbatuk-batuk dengan apa yang ia lihat barusan.
"Uhuk, uhuk.. Selamat datang di Mana Isla" Kata Kakek tersebut dengan bangga dan sedikit memperlihatkan senyumannya.
"Mana Isla? Bisa Kakek jelaskan ini dimana? Ah iya, boleh saya tau bagaimana saya harus memanggil Kakek?" Tanya Levi penasaran.
"Kau bisa memanggilku Kakek Jhon, dan untuk ini dimana, pertama - tama mari ikut ke tempat ku dulu.
Sambil berjalan, terlihat beberapa penduduk yang menghentikan sebentar kegiatannya demi menyapa Kakek Jhon dan Silvi, tak sedikit juga yang terheran dengan Levi yang melayang seperti ditarik mengikuti Kakek Jhon.
Kakek Jhon hanya mengatakan kepada penduduk, kalau ia akan menjelaskan kedatangan Levi pada saat acara pertemuan bulanan penduduk desa yang akan diadakan tiga hari mendatang.
'Mungkinkah ini benar - benar dunia keajaiban? Isekai? Pararel? atau sebuah tempat di Bumi yang dirahasiakan pemerintah?' batin Levi
Sebuah rumah yang letaknya di ujung desa, terlihat beberapa kali lebih besar dari rumah manapun yang ada di Mana Isla. Tidak terlihat mewah, akan tetapi rumah tersebut tetap menampilkan kesan sederhana yang nyaman di pandang mata"
ceklek
Suara kunci pintu yang terbuka dengan sendirinya tepat ketika Kakek Jhon melangkahkan kakinya di depan dua pintu besar di rumahnya tersebut.
Sekali melihat, Levi langsung paham bahwa rumah besar ini adalah tempat yang Kakek Jhon maksud, mungkin juga ini adalah rumah Kakek Jhon.
Kakek Jhon, Silvi, dan Levi memasuki rumah tersebut. Di dalam nya sangat luas, di ruangan depan terpajang berbagai koleksi benda - benda antik dan juga senjata - senjata yang lazim digunakan oleh ksatria perang abad pertengahan.
Saat sudah sampai di ruang tengah, mata Levi disambut oleh pernak pernik rumah yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi. Jika tidak diperhatikan baik-baik, mungkin kebanyakan orang akan menganggap pernak pernik tersebut sebagai sesuatu yang murahan.
Sambil menatap Levi, Silvi kemudian berlari menuju sebuah ruangan yang seperti terlihat kamar pribadinya Silvi sendiri.
Kakek Jhon tersenyum tipis melihat Silvi berlarian, kemudian ia dan Levi terus berjalan memasuki ruangan yang terlihat sebagai ruangan kerja.
Di ruangan berbentuk persegi panjang dengan lebar panjang dan tingginya itu bukan main, membuat Levi terheran.
'Perasaanku, ruangan ini terlihat sebesar tampilan rumah ini, tapi apa mungkin ini adalah ruangan yang tidak terlihat atau tersembunyi?' Pikir Levi
Ctik
Bunyi jentikan jari Kakek Jhon serasa menghilangkan keberadaan menghangatkan dari tubuh Levi dan daerah seisi ruangan kerja tersebut.
Levi pun langsung mendarat di lantai tersebut, tapi tidak terjadi retakan lagi di pijakannya.
Melihat tidak adanya retakan, Levi pun perlahan berjalan pelan ke sekitarnya sambil menggerakkan lengannya ke kiri dan ke kanan.
'Tidak terjadi apa-apa? Apakah yang tadi itu hanya kebetulan?' gumam Levi
"Nak Levi, sebenarnya apa yang telah terjadi pada tubuhmu? Ruangan ini telah ku atur sesuai dengan gravitasi yang cocok dengan tubuhmu. Sekitar tiga kali lipat dari gravitasi alami di Mana Isla, yang berarti empat kali lipat di luar Mana Isla ini"
Perkataan Kakek Jhon membuat sebuah kesimpulan pada otak Levi, seperti tali kusut yang hampir diluruskan kembali.
"Kakek Jhon, mungkinkah Kakek percaya bahwa tempat ku berasal mempunyai kondisi gravitasi yang seperti ini?" Jawab Levi
Ctik
Jentikan Kakek Jhon membuat suatu gulungan raksasa melayang dari rak buku yang ada di ruangan kerja itu.
Gulungan tersebut mendarat di lantai antara Kakek Jhon dan Levi berada, kemudian terbuka lebar, terlihat seperti Peta Dunia
"Nak Levi, silahkan tunjukkan bagian mana teritori rumahmu berada, siapa tau mungkin kepalamu terbentur sesuatu lalu melupakan nama tempat tinggalmu sendiri"
Kakek Jhon tersenyum tipis terkekeh kekeh
Levi pun bergerutu sambil melirik - lirik isi peta tersebut, yang akhirnya, dirinya mencapai sebuah kesimpulan final.
"Kakek Jhon, maaf, rumahku tinggal tidak terletak di satupun benua yang terlihat di peta ini" Jawab Levi sambil menggelengkan kepalanya
Mendengar jawaban Levi, Kakek Jhon mengelus janggut tebalnya sambil memikirkan sesuatu.
"Nak Levi, kau sungguh yakin tidak berbohong? Jika yang kau katakan tadi benar, berarti Nak Levi bukan berasal dari dunia ini" Jawab Kakek Jhon yang terlihat sedikit merenung
"Ya Kakek, itu juga jawaban yang terpikirkan olehku disaat melihat keanehan yang terjadi disekitarku. Terlebih lagi Peta ini, sama sekali tidak ada yang aku kenali baik nama maupun bentuk teritori nya"
Ucap Levi dengan yakin
"huff.. kalau begitu"
Sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, Kakek Jhon mengucapkan suatu kalimat yang disertai dengan munculnya lingkaran sihir diatas langit-langit ruangannya yang lebar menembus keluar ruangan tersebut.
"Gravity Magic : Selection Palace"
Lingkaran tersebut bercahaya putih terang selama 1 detik, kemudian redup dan menghilang. Levi yang melihat kejadian ini menjadi menggebu-gebu.
"Nak Levi, sekarang kau boleh keluar dan gunakanlah kamar disebelah kiri dari arah pintu masuk utama tadi"
"Bagaimana dengan lantai diluar ruangan ini Kek?" Tanya Levi khawatir
"Sudah aman, kau tenang saja. Nanti malam, akan kupanggil jika sudah waktunya makan" Ucap Kakek Jhon dengan santainya.
Levi pun keluar dari ruangan kerja itu setelah mengucapkan terimakasih pada Kakek Jhon. Ia pun segera menuju kamar yang dimaksud.
Klik
Terdengar bunyi kunci pintu kecil yang terbuka dengan sendirinya tepat ketika Levi berada di depan pintu tersebut
"hebat!" Levi langsung memasuki kamar tersebut
Terlihat ruangan yang lebih kecil dari ruangan kerja Kakek Jhon. Ruangan itu berisi kan ranjang tidur, sofa kayu, lemari, lukisan, kamar mandi serta ada jendela besar yang menghubungkan kamar itu dengan halaman kecil.
Levi mengamati setiap sisi kamar itu, setelah selesai, ia pun segera duduk di sofa yang letaknya persis di samping kiri ranjang tidur.
Levi menghela nafas, lalu membongkar isi tas ranselnya untuk memeriksa kelengkapan barang yang ada di dalamnya.
"pembersih gigi ada, pembersih tubuh dan wajah ada, huh? mi instan dan makanan ringan, lengkap. powerbank, pengisi daya device, penerang jalan portable, device lamaku, beberapa pakaian ganti serta beberapa pernak pernik lainnya juga lengkap"
Sungguh, ia sempat merasakan akan ketidakberdayaan nya ia tanpa device. Tapi setelah dipikirkan lagi, mungkin tidak akan sebosan itu karena adanya sihir dan pengetahuan lain di dunia yang baru ini.
"yahh, aku lupa menanyakan informasi tentang kehidupan di dunia ini kepada Kakek. Aku juga tidak dapat menemukan lokasi Mana Isla di peta tadi. Ini sungguh mendebarkan"
Setelah merapihkan diri dan sedikit berkeliling ruangan, ternyata langit sudah menunjukkan sisi gelapnya.
"kurasa perbandingan waktunya sama dengan di kota ku" Levi mencocokan keadaan langit dengan waktu pada device nya.
Tok Tok Tok
"Levi?.."
Suara halus khas anak perempuan yang tadi siang menghampirinya kembali terdengar dari balik pintu
Levi pun membuka pintu kamarnya, ia pun mengamati anak perempuan itu. Terlihat anak perempuan itu sudah mengganti pakaian dan sedikit lebih cerah dari tadi siang.
"Silvi bukan namamu? Maafkan aku atas kejadian tadi siang" ucap Levi sambil menundukkan kepalanya sedikit
"Tidak apa-apa, aku sudah diyakinkan oleh kakek kalau Levi bukanlah penyusup. Mari ikut aku ke ruang makan, Kakek sudah menunggu." ucap Silvi sambil menatap intens penampilan Levi yang terlihat berbeda dari penampilan penduduk Mana Isla pada umumnya.
"Emmh, baiklah" balas Levi
Mereka pun berjalan pelan tanpa berbicara sepatah kata pun, kecanggungan menerpa mereka ber dua. Tanpa terasa mereka pun sudah tiba di ruang makan.
Di ruangan itu tersusun meja kayu coklat dengan taplak meja berwarna biru. Meja itu berbentuk oval panjang yang disisinya sudah dipenuhi oleh empat kursi di samping kiri dan kanan serta masing- masing satu meja di kedua sisi yang lain.
Penerangan di ruangan itu juga tidak berbeda dari ruangan lainnya, yaitu beberapa batu dengan bentuk yang beragam, yang menghasilkan cahaya yang indah. Seperti lampu bohlam di bumi yang biasanya dipakai untuk acara perayaan.
Kakek Jhon membawa makanan yang ada di tangannya ke meja makan itu, segera terlihat beberapa makanan seperti sup ikan, ayam potong serta potongan sayuran yang menyerupai menu salad.
Mereka ber tiga pun duduk di kursi. Sebelum menyantap makanan, Kakek Jhon dan Silvi mulai menyatukan kedua telapak tangan mereka seperti posisi orang yang sedang berdoa.
'hmm, disini juga ada kepercayaannya tersendiri ternyata' batin Levi
Tak berapa lama, mereka ber tiga pun mulai makan tanpa berbicara. Memang Kakek Jhon membiasakan Silvi untuk tidak berbicara saat sedang makan, karena untuk menjaga etika. Sendok dan garpu juga ada sebagai alat bantu makan, tidak berbeda dari etika Levi dulu, yang berbeda hanya bahan nya terbuat dari Kayu semua.
'rasanya lumayan juga' gumam Levi sambil terus menyantap makanan yang ada di meja
Setelah mereka selesai bersantap, Levi pun membantu Silvi untuk merapihkan meja makan itu.
"Silvi, berapakah umur Kakek Jhon?" Levi mulai membuka suaranya terlebih dahulu
"Penampilan Kakek Jhon sudah seperti itu dari dulu, untuk umurnya, kamu tanyakan sendiri saja. Aku tidak punya hak untuk menjawab itu" balas Silvi dengan ekspresi datar
"sepertinya kamu bisa sedikit membaca pikiranku, Silvi. Baiklah, lalu apa kegiatan mu sehari-hari?"
Awalnya Silvi enggan menjawab, tapi karena Levi terlihat sangat penasaran dan menanyakan pertanyaan yang berputar- putar, akhirnya Silvi pun sedikit menceritakan kehidupan sehari - hari nya.
Silvi adalah cucu dari Kakek Jhon, nama lengkapnya adalah Silvi Aprilia, diketahui bahwa nama lengkap kakek Jhon adalah Jhonson Aprilia.
Levi pun sedikit tersenyum geli karena nama Kakek Jhon sedikit tidak sesuai dengan wajah garangnya.
Orangtua Silvi tidak pernah terlihat, dikabarkan sudah meninggal saat Silvi berumur 1 tahun. Kakek Jhon mengatakan bahwa mereka terlibat perselisihan di luar Mana Isla.
Silvi adalah anak perempuan berparas wajah manis, rambutnya pirang kecoklatan yang panjangnya tepat di tengah punggungnya. Matanya lebar, bola matanya berwarna coklat.
Di Mana Isla, Silvi tinggal ber dua dengan Kakek Jhon. Kegiatan sehari-harinya layaknya anak perempuan pada umumnya.
Bermain dengan teman se desa nya, membawakan bekal untuk Kakeknya kalau sedang berada di gerbang desa.
"Apakah tidak ada sekolah di Mana Isla?" tanya Levi
Silvi mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya sekolah, untuk kegiatan belajar mengajar dinamakan Akademi. Di Mana Isla sendiri tidak ada Akademi, hanya rumah belajar yang didirikan oleh Kakek Jhon untuk anak di desa ini.
Alasannya sederhana, karena tidak pernah adanya pengajar selain Kakek Jhon di sini. Sedangkan Kakek sendiri terkadang tidak sempat untuk mengajarkan sesuatu kepada mereka semua.
Terkecuali Silvi yang satu rumah dengan Kakek Jhon, ia mendapatkan pendidikan lebih dari sang kakek.
"Lalu apakah semua penduduk desa, bisa menggunakan sihir?" tanya Levi berharap
"itu.." "kamu tanyakan sendiri saja kepada Kakek" jawab Silvi ragu - ragu
"oh iya Levi, bagaimana denganmu? apa kegiatanmu?" tanya Silvi
"kau yakin ingin mengetahuinya?" balas Levi dengan ekspresi wajah yang serius seolah - olah membuat penasaran siapapun yang berbicara dengannya
Setelah hampir 5 menit, merapihkan piring, mereka ber dua pun duduk di ruang tengah, nampak kakek Jhon juga sedang duduk di sana. Kakek Jhon tampak kebingungan melihat tingkah Silvi.
Ekspresinya sedikit kesal sekaligus sedih. Kakek Jhon kemudian memindahkan posisi duduknya menuju kursi disamping Silvi.
"apa yang terjadi Silvi?" tanya Kakek Jhon
"tidak apa - apa Kek" jawab Silvi yang kemudian mengembungkan pipinya lalu beranjak kembali ke kamarnya
Kakek Jhon pun bertanya kepada Levi, tetapi Levi hanya mengangkat kedua bahu nya keatas, menunjukkan ekspresi ketidak tahuan.
"bangun tidur"
"ya?"
"ku terus mandi"
"lalu?"
"tidak lupa menggosok gigi"
"iya, lalu?"
"habis mandi, ku tolong ibu"
"kenapa ibumu, Levi?"
"merapihkan tempat tidurku" ..
*
*
*