Magic Records

Magic Records
Pasukan Alien



Perjalanan menuju kota Mencester dari desa Wincester memakan waktu tempuh sekitar 2 hari jika menggunakan kendaraan berkuda dan 4 hari jika berjalan kaki.


Ada satu rombongan berkuda yang juga menuju ke kota Mencester selain Levi pada hari yang sama.


Terdapat tiga kereta barang, satu kereta penumpang, dan 12 petualang berkuda.


"Tuan Austin, mari berangkat." ucap salah satu petualang yang mempunyai tubuh terbesar diantara petualang lainnya.


"Baik Naval, Aku percayakan keselamatan ku dan bawaan ku kepada mu." balas Austin.


Naval adalah pemimpin petualang pada rombongan tersebut.


Ia memiliki rambut tipis yang nyaris botak, dengan bekas luka sayatan di atas dahi kirinya.


Naval memakai armor besi tebal serta bersenjatakan Pedang Besar menggantung di punggungnya.


Kuda yang ia tunggangi juga berbeda dari kuda pada umumnya, terlihat lebih besar dan lebih kuat.


Saat rombongan itu baru saja akan bergerak, terlihatlah seorang pemuda yang memakai pakaian yang nampak asing keluar dari gerbang desa Wincester.


Fisik pemuda itu terlihat berumur 17 tahun-an dengan tinggi sekitar 170 cm, tetapi sebenarnya ia masih terkategori sebagai anak kecil berumur 14 tahun.


Naval melihat pemuda itu melakukan gerakan pemanasan, lalu mengambil bongkahan kayu bekas yang sudah rapuh di samping gerbang desa.


Rombongan itu terkejut saat pemuda tersebut menggunakan kayu tersebut sebagai kendaraan sihirnya.


Jangankan memanipulasi kayu bekas yang rapuh sebagai kendaraan, saat penyihir menyalurkan sedikit mananya saja sudah pasti kayu tersebut akan langsung hancur.


'Kecuali penyihir tersebut sangat berbakat dalam pengendalian mana, atau mana nya sangat murni, atau jangan - jangan kayu tersebut sebenarnya adalah relic sihir?' batin Naval menerka - nerka.


Setelah pemuda itu melesat, Naval dan rombongannya pun ikut bergerak menuju kota Mencester.


 


-Hutan barat perbatasan desa Wincester dengan kota Mencester-


"Kapten Rando, menurut informan kita, rombongan Austin beserta para petualang baru saja berangkat. Kami menunggu perintah anda."


"Apakah Naval masih menemani rombongan Austin?"


"Ya, Kapten Rando"


Nampak sosok siluet seseorang berjubah hitam bernama Kapten Rando ini, sedang berdiri membelakangi satu pasukan yang sedang berlutut satu kaki menunggu keputusan dari dirinya.


"Jalankan sesuai dengan keputusan Tuan Agung Alien." ujar Rando.


"Siap Kapten!"


Sesaat kemudian pasukan tersebut menghilang dari tempat itu.


 


Perjalanan Levi pada hari pertama terkesan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.


Seharian penuh ia melesat, jalanan utama sudah mulai dipenuhi oleh salju yang menumpuk.


Saat hari mulai gelap, ia pun berteduh di bawah pohon besar sambil mengeluarkan kantong tidur dan beberapa bongkahan batu mana.


Lalu Levi mulai menyalurkan sedikit sihir api pada batu mana tersebut, sehingga batu mana itu mengeluarkan hawa panas yang membuat udara sekitar terasa hangat.


Levi pernah melakukan hal serupa di Mana Isla, bukan hal mustahil memakai batu mana sebagai pengganti api unggun atau pengganti barang umum lainnya.


Hanya saja sangat disayangkan rasanya melihat batu mana yang berharga dijadikan sebagai pengganti api unggun.


Levi kemudian memakan roti perbekalan dan mengaktifkan relic pelindung. Tak lama kemudian ia pun tertidur pulas.


Hari telah berganti, cuaca dingin dan sinar matahari yang sedikit tertutup membuat suasana yang nyaman untuk tetap melanjutkan tidur malam bagi siapapun.


Levi pun bangun lebih siang dari biasanya.


'Tidak seperti di bumi, di alam bebas seperti ini bisa tidur dengan pulas dengan adanya relic pelindung' gumam Levi sambil mengingat kenangan saat ia berkemah di alam bebas di bumi dahulu.


Mereka pun berpapasan sejenak. Naval dan Levi hanya saling mengangguk tanda memberikan salam pertemuan.


Naval merasa segan dengan Levi karena identitasnya yang masih belum jelas, serta merasa takjub dengan kemampuan Levi yang ditunjukkannya kemarin.


Sebelum melanjutkan perjalanan, Levi memakan roti lagi sebagai sarapan. Ia lupa membeli makanan hangat siap saji untuk disimpan.


Di cincin penyimpanannya hanya ada bahan masakan dan racikan bumbu dari Mana Isla yang sebenarnya tidak dapat Levi gunakan dengan maksimal.


Bukan sifat bahannya yang tidak bagus, tetapi Levi hanya bisa memasak jenis masakan tertentu yang tergolong masakan modern di bumi.


Setelah selesai berberes, Levi melanjutkan perjalanannya dengan berjalan cepat.


Kayu yang ia gunakan kemarin tidak sengaja patah terinjak oleh kaki Levi sendiri di saat ia sedang merapihkan perlengkapannya tadi.


Baru beberapa langkah berjalan, Levi memikirkan untuk terbang pada ketinggian rendah karena tidak merasakan adanya salju yang turun pada saat ini.


"Wind Magic : Fly"


Ia pun melayang dan terbang dengan jarak 2 meter dari atas puncak pepohonan sambil mengikuti arah dari jalur utama.


Setelah melewati beberapa belokan, Levi mulai terbang lebih tinggi lagi untuk melihat jalur jalan utama agar dapat terbang lurus.


Levi sudah terbang hampir sekitar satu jam, ia pun sudah melewati rombongan berkuda tadi tanpa disadari oleh mereka.


Ada tanda jalan yang menunjukkan pembatas wilayah antara desa Wincester dengan Kota Mencester.


Saat Levi akan melanjutkan perjalanannya, ia tidak sengaja melihat beberapa orang berjubah hitam sedang mengintai sesuatu dari atas pohon.


Pandangan Levi mengarah pada pergerakan kepala para pasukan berjubah hitam itu, menuntun ia melihat rombongan berkuda yang sedang bergerak menuju lokasi paaukan tersebut.


"1,2,3,..., 13 orang. 12 penyerang dan 1 lagi sosok yang lebih kuat dari mereka sedang mengintai tindakan pasukannya." ujar Levi yang sedang melayang.


'Perampokan? Atau permasalahan pribadi? Lagi - lagi kejadian klasik' pikir Levi.


"Semuanya berhenti!" ucap Naval.


Seketika semua kereta rombongan itu pun berhenti di belakang Naval.


Naval menyadari ada ancaman dari balik perbatasan hutan. Dengan sihir pelacaknya, ia pun mengedarkan sejumlah gelombang mana.


"Wind Magic : Radar"


ngingg nginggg ngingggg


Tiga gelombang angin tipis secara berurutan menyebar ke seluruh area pembatas hutan.


"Rekan - rekan ku sekalian, persiapkanlah diri kalian. Ada yang sedang menunggu kita di balik pembatas ini" teriak Naval kepada rekan petualangnya.


shutt shuutt shuttt


Tiba - tiba belasan anak panah menghujani kelompok petualang penjaga kereta tersebut.


klang klang


Semua anak panah berhasil ditangkis oleh masing - masih petualang.


Sesaat kemudian muncul sejumlah orang berjubah hitam dari balik pepohonan, terlihat mereka semua sudah memakai sihir enchanment.


"Ada 12 musuh yang terlihat di depan, waspada! Tuan Austin, sebaiknya Tuan tetap di dalam kereta, gunakanlah relic perlindungan." ucap Naval.


Naval kemudian turun dari kudanya, lalu melangkah maju dan menanyakan tujuan atas penyergapan mereka dengan lantang.


Namun yang datang bukanlah jawaban tetapi serangan mendadak para pasukan berjubah tersebut.


Terlihat tiga orang berjubah melompat dan menerjang Naval dengan senjata pedang panjang.


Naval mengangkat dan mengayunkan pedang besar nya untuk menangkis serangan dari pasukan tersebut.