Magic Records

Magic Records
Si Kuat dan Si Super Kuat



Kelakuan Levi membuat pengunjung lain kebingungan, namun terdengar satu suara wanita tertawa dengan lepas dari arah belakang tubuh Levi.


Suara wanita itu terdengar tidak asing, Levi kemudian menengok ke arah belakang. Wanita itu ternyata adalah Mira, salah satu petualang yang kalah pada semifinal tadi siang.


"pfft, hahaha. kejadian ini dan ekspresimu tadi sungguh.. haha." Mira tertawa dengan sangat lepas.


Wajah Levi yang pucat pun segera memerah karena malu, dan secara reflek menutup mulut Mira dengan tangannya.


"sstt, anggap saja kamu tidak pernah melihat apa - apa." bisik Levi.


Kali ini giliran wajah Mira yang memerah, dalam 18 tahun kehidupannya, hanya ayahnya dan kakeknya saja laki - laki yang pernah memegang area wajahnya.


Lantas Mira memundurkan langkahnya, namun ia terdorong oleh pengunjung yang lain, sehingga membuat ia terjatuh ke arah tubuh Levi.


Tubuh Mira pun secara reflek ditangkap oleh Levi. Membuat suasana romantis yang membuat orang lain disekitarnya menjadi iri.


"ehem uehemm!" banyak pengunjung sekitar yang mendehem dengan nada serius.


Segera Levi dan Mira membetulkan posisinya masing - masing. Mereka berdua menjadi canggung, beruntung, penjual toko bertanya kepada Levi tentang aksesoris yang dicari olehnya.


Levi segera mengambil dan membayar ikat rambut beserta jepit rambut yang dipegangnya tadi. 'Huh? Kenapa aku jadi membeli jepit rambut ini?!' pikir Levi.


Ia baru saja ingin mengembalikan jepit rambut yang terlihat feminim ini, karena dirinya sendiri akan sangat tidak cocok jika memakainya. Namun setelah melihat Mira, akhirnya ia memutuskan untuk memberikan jepit rambut itu kepada Mira.


"Ini, ambilah. Kita memang tidak saling mengenal, namun aku telah melihatmu saat pertandingan tadi siang. Kau kuat! Anggap saja ini sebagai benda penyemangat!" ucap Levi seraya meletakkan jepit rambut itu keatas telapak tangan Mira.


Levi juga secara reflek memegang tangan Mira, lalu mengarahkan Mira untuk mengepalkan jepit rambutnya.


"Baiklah, sekarang aku akan pergi dulu. Sampai jumpa lagi." ucap Levi sambil melambaikan tangannya.


Mira tetap terdiam sambil terus menatap Levi yang akhirnya menghilang di kejauhan. Kedua sisi wajahnya memerah seperti tomat matang. Kemudian ia melihat jepit rambut cantik berwarna hitam ini, terlihat cocok terpasang di rambutnya yang berwarna putih tersebut.


Tidak jauh dari toko aksesoris, terlihatlah sebuah arena dengan luas 10 meter persegi. Terdapat sebuah meja besi baja untuk beradu panco, dan sebuah relik berbentuk tong besar yang bagian tengahnya terdapat lingkaran besar dilapisi dengan kulit.


"Ayo, adu kekuatan kalian dengan sang juara bertahan. Hanya yang terkuat saja yang akan menang!" ucap seseorang yang sedang memanas - manasi pengunjung disekitarnya.


Levi kemudian bertanya kepada pengunjung yang lain, mereka mengatakan bahwa sang juara bertahan sudah menang lebih dari 30 kali hari ini, dan tidak terlihat tanda - tanda kecapekan padanya.


Lalu relik tong itu digunakan untuk beradu seberapa kuat pukulan tinju seseorang. Karena Levi melihat dari arah depan relik, ia tidak memerhatikan bahwa ada bola kristal sihir pada bagian samping tong tersebut. Bola itu akan menampilkan angka sesuai dengan kekuatan pukulan fisik seseorang.


Levi juga mengetahui, untuk menantang sang juara bertahan, seseorang harus membayar 10 koin perak, dan jika menang akan mendapatkan 200 koin perak serta menjadi sang juara selanjutnya.


Namun sampai Grand Arena Mencester dibuka enam hari yang lalu, belum ada seseorang yang mengalahkan sang juara bertahan dalam adu panco.


Dirinya tidak begitu peduli dengan hadiahnya, ia lebih peduli terhadap kekuatan dari sang juara bertahan itu.


Sudah dua orang yang mencoba untuk menantang sang juara, namun mereka semua langsung kalah dalam sekali hentakan.


Dengan antusias, ia mendaftarkan dirinya. Sang pembawa acara mengatakan bahwa nama sang juara bertahan adalah Heracles.


Heracles sendiri adalah seorang manusia laki - laki yang terlihat berusia 14 tahun dengan otot lengan yang jenjang dan kekar.


Beberapa petualang dewasa pun kewalahan menangani nya, ia tidak pernah kalah. Diberitakan juga, dimana Heracles kecil berpijak, maka disitulah juga kerusakan akan terjadi.


Terkesan agak dilebihkan, tetapi tidak dengan pemikiran Levi. Ia sendiri sempat merasa seperti itu saat dirinya pertama kali datang ke dunia ini.


Setelah melihat Heracles berhasil mengalahkan satu orang peserta lagi, kini tibalah gilirannya.


Pembawa acara kemudian mengenalkan Levi kepada para penonton. Levi kemudian memasukan God's eye kedalam tas dan melepaskan jubahnya, nampak tercetak otot yang bagus pada tubuhnya.


Berbagai macam spekulasi terdengar dari banyaknya penonton, hampir semua orang beranggapan bahwa Levi akan kalah dalam satu hentakan juga.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Heracles adalah anak kecil dengan fisik terkuat yang pernah mereka lawan. Jack yang di kelompoknya pun terkenal akan kekuatan fisiknya pun, kalah dengan sedikit usaha dari Heracles.


Tangan kanan Levi dan Heracles saling menggenggam satu sama lain, saat menggenggam Levi dapat merasakan kekuatan yang sangat kuat dari Heracles yang mirip seperti fisik dari Paman Edgard.


Segera ia menekan kalungnya, dan mengembalikan kekuatannya sampai 50 persen. Kali ini Heracles yang merasakan kekuatan serupa dari dalam tubuh Levi.


"Bersungguh - sungguh lah Nak." ucap Levi.


Tangan kiri Heracles dan Levi memegang sebuah alat bantu genggam yang terbuat dari besi baja.


Semua penonton terkejut, karena selama ini Heracles tidak pernah memegang alat bantu genggam. Mereka semua kemudian menahan nafas saat pertandingan dinyatakan dimulai.


Rumble..


Terjadi goncangan hebat saat keduanya saling beradu kekuatan, tidak ada yang bergerak sedikitpun. Para penonton sampai menelan ludah sendiri saat menyaksikannya.


Beberapa detik kemudian, tangan Heracles terdorong, namun tak lama, berganti dengan tangan Levi yang terdorong.


Jack yang pernah berhadapan dengan Heracles pun menatap Levi dengan berbinar, 'Seberapa kuat Tuan Muda Levi ini.' pikirnya.


Sang pembawa acara yang tadinya terdiam, mulai memanasi penonton. Terdengar teriakan yang memancing perhatian pengunjung diluar arena.


"LEVI ..! LEVI ..!"


"HERA CLES! HERA CLES !"


Penonton mulai meneriakkan kedua nama pemuda itu secara bergantian.


Atmosfer di atas meja pun menjadi lebih berat, Heracles merasa tertekan. Sudah lama ia tidak mendapatkan perlawanan seperti ini, akhirnya ia menggunakan 90 persen kekuatannya, "HEYAA!"


Tangan Levi terdorong, dan hampir menyentuh meja. Giliran Levi yang memakai kekuatannya sampai dengan 60 persen, "HAAA!!"


Bamm!


Dengan cepat punggung telapak tangan Heracles terbanting ke arah meja dengan keras. Kedua alat bantu genggam mereka penyok menjadi tak karuan.


Terlihat cetakan punggung tangan Heracles pada papan meja, semua pandangan tertuju kepada Levi.


Efek yang ditimbulkan dari dentuman tadi benar - benar berbahaya. Padahal mereka berdua hanyalah beradu panco, tetapi pertandingan barusan layak disebut sebagai adu panco profesional kelas atas.


Beberapa penonton mulai meraba punggung tangan mereka sendiri, tidak terbayang rasa sakit yang dirasakan oleh Heracles.


"Kau kuat." ucap Levi.


"Kalau aku yang seperti ini disebut kuat, maka kau adalah si super kuat!" balas Heracles.


Terdengar suara tepuk tangan yang meriah atas kemenangan Levi, pembawa acara yang tidak menduga bahwa orang terkuatnya akan kalah, mau tidak mau memberikan imbalan hadiah kepada sang pemenang.


Levi kemudian menerima hadiah pemenang, tetapi ia menolak menjadi juara bertahan. Ia cukup puas dengan menantang Heracles tadi.


Tangan Heracles nampak baik - baik saja, tetapi karena sudah terlanjur melepaskan kekuatannya, tubuhnya pun menjadi tidak terkendali.


Saat ia bangkit berdiri dan mulai berjalan, muncul retakan pada lantainya. 'Pemandangan ini terasa sangat familiar' gumam Levi.


Segera Levi membantu Heracles, ia membuat tubuh heracles melayang menggunakan sihir anginnya menuju ke sebuah tenda petugas yang berada di samping arena.


Sang pembawa acara kemudian membubarkan penonton, dan menutup arena tersebut dengan alasan kekalahan sang juara bertahan. Sehingga tidak ada lagi yang bisa dijadikan ajang beradu panco.