Magic Records

Magic Records
Levi Diary



L.Levience, manusia laki laki berusia 24 tahun. Keluarga dan teman - teman nya biasa memanggil ia dengan sebutan Levi atau LL ( : el - el )


Rambut nya berwarna hitam pekat sepanjang bahu, tetapi tetap terlihat rapi, matanya berwarna hitam juga, kulitnya putih bersih, postur tubuhnya sedikit berotot, tidak terlalu kurus dengan tinggi sekitar 178cm.


Levi adalah pemuda yang terlihat cuek dengan keadaan sekitarnya, ia juga suka melakukan sesuatu kegiatan dengan setengah - setengah.


Terbukti dengan pencapaian nya sekarang yang tidak sebagus dengan teman seusia nya. Akan tetapi kesuksesan orang lain terhadap dirinya tersebut tidak diambil pusing oleh Levi.


Ia juga sering di cap sebagai pemuda yang pemikirannya abnormal dan random oleh teman - teman sekolah dan kampus nya. Di keluarga nya sendiri, Levi juga jarang menampakkan dirinya kecuali adanya undangan acara pernihakan saudara dekatnya.


Levi adalah anak tunggal dari ayah dan ibu nya. Ia tidak dimanja oleh keluarganya, sehingga semenjak Levi duduk di sekolah menengah, ia suka melakukan banyak hal tanpa bantuan orang tuanya.


Akan tetapi, bukan berarti kedua orang tuanya menjauhinya, justru mereka mendukung apa yang ia lakukan.


Awalnya Levi kecil adalah anak yang rajin belajar, berkeingin tahuan tinggi. Hobi nya juga normal dengan teman sebayanya seperti menonton film animasi, bermain game, melukis, olahraga, bermain musik.


Semua ia tekuni dengan serius, tetapi semakin ia mendalami kegiatan tersebut, semakin bosan ia dengan kegiatannya.


Levi pun melakukan segala aktivitas yang sebelumnya ia tekuni dengan setengah - setengah. Terkadang ia berpikir untuk mencari kegiatan baru.


Seiring bertambahnya usia, disaat ia mendalami kegiatan baru, seperti membaca buku komik, belajar trik sulap, jalan-jalan ke daerah terpencil, serta memperbanyak jumlah koleksi film yang ia tonton agar tidak kebosanan.


Levi pun sadar, kalau kadang ia di cap setengah - setengah oleh lingkungan sekitar, namun ia masih menganggap itu semua normal.


Setelah lulus sekolah dan kuliah, ia pun mulai berkerja di berbagai perusahaan. Alasan ia tidak menetap adalah karena ia melakukan semuanya dengan setengah - setengah.


Apa yang ia harapkan, tak kunjung datang. Yaitu kepuasan setelah melakukan suatu kegiatan. Akhirnya Levi mencari kegiatan baru seperti membaca novel online, pada awalnya ia berpikir akan sangat seru setelah membaca beberapa judul.


Tetapi lagi - lagi ia memberhentikan kegiatannya tersebut, kali ini bukan karena bosan. Sungguh bukan, kali ini ia memberhentikan aktivitasnya karena tidak tahan dengan penulis ceritanya yang memberikan cerita dan tanggapan tidak sesuai dengan keinginannya.


Akhirnya Levi pun memantapkan hatinya untuk mulai menulis novel sendiri, agar ia tidak terkecewakan lagi.


Ia pun membeli device keluaran terbaru suatu perusahaan untuk mendukung kinerjanya.


Agar ia fokus, ia memutuskan untuk meminta ijin kepada orangtuanya untuk meninggalkan rumahnya dengan tujuan pergi ke salah satu pegunungan di luar kota kediaman mereka sekarang.


Setelah sekali lagi ia membaca judul terakhir novel si penulis, akhirnya ia lebih yakin lagi dengan keputusannya.


Awal keputusan yang membuat Levience terjun ke dunia yang baru. Entah takdir atau suatu kebetulan, Levi pun berpetualang ke dunia baru, sungguh, dunia baru.


"inii... dimana ini???" Levi terkejut, tetapi ia tetap mengusahakan dirinya agar tetap tenang


'kenapa tubuhku terasa lebih ringan? tidak, tunggu dulu. kenapa tidak ada sinyal device disini?' batin Levi sambil tetap memeriksa sekitarnya.


Hembusan angin membawa dedaunan yang berguguran terbang disekitar Levi, burung - burung pun nampak hinggap di ranting - ranting pohon sekitar.


Sekilas tampak normal, tetapi lagi - lagi Levi menyipitkan matanya sambil beberapa kali menggosok daerah sekitar kelopak matanya.


"kenapa terlihat lambat? daun itu, gerakan burung itu juga" menambah kebingungan Levi


Tidak ada orang disekitar, hari memang masih siang, terlihat juga pada jam tangan Levi yang menunjukkan waktu pukul 2 siang. Tetapi karena lingkungan yang ditutupi banyaknya pohon membuat penerangan menjadi sedikit gelap seperti yang biasanya terlihat di sore hari.


Levi pun mengibaskan tangannya ke sembarang setelah menggaruk" tangannya, terjadi hembusan angin di arah levi mengibaskan tangannya tersebut, ia menduga hanya angin lewat seperti yang dirasakannya tadi.


Levi pun kembali berjalan untuk menepi, tetapi lagi-lagi jalanan yang ia injak retak. Mengesampingkan keterkejutannya, ia tetap berjalan pelan mengendap - endap sampai ke bawah pohon di samping kiri nya.


Selagi ia berjalan, retakan bekas pijakannya pun kembali terlihat, padahal ia merasa sudah cukup pelan. Levi pun duduk bersandar pada pohon, ia merogoh isi ransel nya dan mengeluarkan kompas, tetapi yang diperlihatkan oleh benda tersebut adalah jarum nya berputar - putar secara terbalik dengan arah jarum jam terus menerus.


"gila, gila.. kekacauan apa ini? apa tadi aku diculik? tapi tadi aku berjalan, atau aku salah masuk gang? apa aku. aku.."


Dengan segala pemikiran di otaknya, Levi terus bergumam, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menutup kedua matanya untuk bermeditasi sebentar.


Posisi duduk bersila, kedua tangan ia dekatkan di masing-masing lutut, ibu jari tangannya ia rekatkan bergantian ke jari yang lain, mirip pergerakan hitung-hitungan.


Perlahan-lahan tubuhnya terangkat melayang sekitar 2cm dari tanah sambil tetap bersila, lalu kembali jatuh menempel tanpa ia sadari, Levi pun membuka matanya.


Akhirnya dengan segala pemikirannya, ia memutuskan,


"sebelum aku menjadi lebih bingung, kurasa aku harus mencari penduduk sekitar untuk bertanya.- tanya"


Ya, kesimpulan yang sebenarnya mudah, tapi sengaja dibuat bertele-tele oleh Levi agar terlihat seperti di dalam adegan film.


Tap Tap Tap


'hmm?'


*


*


*