
Waktu berlalu dengan cepat, setelah berbincang dengan keluarga Mondo, hari pun sudah semakin siang.
Levi akhirnya bisa sedikit bersantai, kakek Razor pun mempersilahkan Levi untuk bebas menginap dan menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri.
Kakek Razor pergi dari aula, meninggalkan Levi dengan kedua cucunya.
Suasana sempat menjadi canggung, sampai akhirnya Key membuka pembicaraan, "Kakak Levi, berapakah usiamu?"
"Usiaku baru 14 tahun, bagaimana denganmu?"
"Benarkah? Aku juga berusia 14 tahun. Tetapi fisikmu terlihat seperti kakak ku, jadi kupikir kak Levi lebih tua dari ku."
Levi hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa pertumbuhannya memang sedikit lebih cepat daripada orang seusianya.
Mereka berbincang sampai pada sebuah topik yang berhubungan tentang turnamen petualang dan puncak festival.
Untuk dapat masuk ke Grand Arena, mereka harus membayar 10 koin perak, dan untuk menonton turnamen harus membayar sekitar 50 koin perak per orangnya.
Festival tahun baru sendiri menyediakan berbagai makanan dan pernak pernik dari kota Mencester, juga ada perayaan dengan pertunjukan sihir di udara.
Karena sudah merasa senggang, Levi kemudian mengajak kedua bersaudara itu pergi ke Grand Arena Mencester.
Meski kedua bersaudara itu adalah penduduk asli kota Mencester, namun tidak setiap tahun, mereka mengunjungi Grand Arena.
"Terakhir kali kami menonton festival sekitar 2 tahun yang lalu, jadi mungkin ada suatu perubahan lagi yang tidak kami ketahui." ujar Sebas.
"Baiklah, kita akan menonton turnamen selama 2 hari, Aku yang akan membayar uang masuknya." balas Levi.
Gemuruh sorak sorai penonton sudah terdengar dari luar Grand Arena. Mereka bertiga pun semakin antusias untuk menyaksikannya.
Ada 4 penjaga gerbang Grand Arena Mencester memberhentikan rombongan Levi. Ia pun segera memberikan 30 koin perak kepada mereka.
"Terimakasih Tuan, untuk mendapatkan kursi penonton silahkan Tuan membayar ke meja yang ada disebelah sana." jelas salah satu prajurit.
Setelah membeli kertas yang seperti tiket penonton, Levi dan 2 kakak beradik itu diarahkan pada sebuah lorong yang menghubungkan ke dalam kursi - kursi penonton pertunjukkan.
Cahaya terang terlihat pada ujung lorong, banyak teriakan pendukung para peserta turnamen. Mereka bertiga mulai mencari tempat duduk sesuai nomor tiket masing - masing.
Kursi penonton pun dibuat menyatu, dan hanya dibatasi oleh sekat balok kayu yang dilapisi kulit tebal. Dan kursi mereka juga memanjang ke atas, seperti tempat menonton pada tribun stadium olahraga di Bumi.
Levi duduk diantara seorang pria dewasa berusia 40 tahun dan wanita dewasa 30 tahunan. Nampak suasana riuh diantara mereka berdua, sampai akhirnya Levi duduk di tengah - tengah mereka.
Ia memperhatikan area disekitarnya, ada sebuah ruangan khusus yang sepertinya hanya bisa di tempati oleh penonton VIP. Ada pula sebuah meja loket tempat bertaruh.
Kedua bersaudara itu duduk tepat dibelakang kursi Levi, sekarang Levi mulai memfokuskan pandangan ke arena besar yang ada dihadapannya.
Terlihat pertandingan duel gladiator individu antara seorang pria dewasa yang menggunakan tombak, dan perempuan remaja yang menggunakan belati, serta membawa panahan di punggungnya.
"Ayo berjuang dewi Miraaaa!!" sorak pria dewasa di samping kanan Levi.
"Jangan mengalah, Tuan Edwin!!!" sorak wanita disebelah kiri Levi.
Mereka berdua terus bersahut - sahutan, hingga kadang bersitegang. Levi hanya tercengang, baginya menonton di keramaian seperti ini adalah sebuah pengalaman baru.
Di bumi dulu, ia tidak pernah menonton pertandingan ataupun konser secara langsung. Meski pernah mengunjungi tempat ramai, namun tidak pernah yang seramai sekarang.
'Anggaplah angin berlalu' batin Levi. Ia kemudian mengeluarkan device nya untuk merekam pertandingan antara petualang yang bernama Edwin dan Mira tersebut.
"Benda apa itu, Levi? Ada sebuah gambaran kecil yang terlihat sama dengan yang ada di arena." tanya Sebas.
Sebas yang jarang bertanya pun menjadi sedikit penasaran dengan benda yang berada pada tangan Levi, pasalnya benda itu tidak seperti bola kristal yang dapat memancarkan siaran, dan tidak terdapat pula batu mana sebagai sumber dayanya.
Levi mengatakan, bahwa benda ditangannya adalah sebuah benda yang akan dikembangkan di masa depan.
"Benda ini hanya untuk uji coba, mungkin suatu hari nanti akan banyak di toko sihir." ucap Levi.
Levi berfokus pada pengambilan rekaman pertandingan yang ada di hadapannya, meski suara penonton lebih banyak terdengar, setidaknya gambar yang dihasilkan tidak akan mengecewakannya.
"Hosh hosh, masih tidak mau menyerah juga Mira?" tanya Edwin sambil membenarkan posisi kuda - kudanya.
"Tentu kamu sudah tau apa jawabannya, Tuan Edwin." balas Mira.
Mira melompat mundur, kemudian mengambil panahan dipunggungnya. Secara cepat ia menarik senar panahan tersebut, muncul sinar kehijauan yang terang mengalir pada senar itu.
"Wind Magic : Super Arrow !"
Woshh..
Belasan anak panah yang terbuat dari gumpalan mana hijau melesat menuju ke arah Edwin.
Edwin sendiri menggoyangkan tombaknya, membuat bentuk lingkaran di udara, dan seketika pusaran angin tercipta dari ujung tombaknya.
"Fire Magic : Fire Tornado !" ucap Edwin.
Lidah api merah muncul dan mengitari pusaran angin yang berasal dari ujung tombaknya, dengan cepat membentuk tornado yang dikelilingi oleh panasnya api.
Fire tornado bertabrakan dengan super arrow, melahapnya sampai tidak tersisa, dan langsung melesat ke arah Mira berdiri.
Mira berlari menghindari Fire tornado itu, namun serangan itu tetap mengejarnya. Tak sampai disitu, Edwin dengan sigap menyiapkan skill tombaknya.
"Tusukan ilusi 100 tombak!" ucap Edwin.
Mira yang sedang menghindari Fire tornado, langsung dihujani oleh tusukan 100 tombak. Terlihat dengan susah payah ia menangkis tusukan tombak dengan belatinya.
Pikiran Mira sedang difokuskan dengan tombak yang menghujaninya, disaat yang terdesak, muncul ide kecil dipikirannya.
Ia mendekati tombak Edwin, lalu dalam sekejap melompat tinggi menggunakan sihir anginnya. Dan fire tornado yang mengejarnya bertabrakan dengan tombak Edwin.
Serangan itu langsung berhenti, namun tidak menimbulkan efek apapun terhadap Edwin. Ia memuji pengambilan keputusan cepat dari Mira.
Tak lama, ia melesat maju dan mengayunkan tombaknya terus menerus secara cepat ke arah Mira. Sedangkan Mira hanya dapat menangkis dengan kedua belatinya.
Terdapat luka tusukan halus ditubuhnya dan sobekan pada pakaiannya. Harus ia akui, pakaian sihirnya pun tidak dapat menahan serangan dari tombak Edwin.
Mira kembali mundur mengambil jarak sejauh mungkin, dan melantunkan formula sihir secara cepat. Edwin yang melihat itu, langsung mengeluarkan skill untuk mengganggu lawannya.
Mira hanya terus menghindar, muncul lingkaran sihir berwarna hijau dibelakangnya yang semakin lama semakin membesar.
Edwin hanya bisa mendecak, dan mulai menggunakan salah satu skill terbaiknya. Ia merasa Mira akan mengeluarkan sebuah skill yang membuat ancaman besar.
"Wind Magic : Rain of Magical Arrow!"
Lingkaran sihir besar di belakang tubuh Mira mulai mengeluarkan ratusan anak panah yang terselubungi mana angin dan dalam sekejap melesat ke arah Edwin.
Edwin mengeluarkan pelindung api ditubuhnya dan melempar tombaknya ke arah hujan ratusan panah tersebut.
"Phoenix Spear!" woshhh..
Tombak Edwin mulai terselimuti lidah api yang besar, membentuk gambaran Phoenix api yang sedang menerjang hujan panah di hadapannya.
Para penonton mulai menunjukkan ekspresi yang serius sambil menanti hasil dari serangan kedua peserta.
Levi juga berdecak kagum atas serangan yang diperlihatkan oleh keduanya, sedangkan petugas arena mulai menambahkan relik pelindung cadangan disekitar pembatas arena.
Phoenix Api terus melesat ke arah Mira, meski apinya sudah mengecil akibat benturan dari hujan panah, namun itu tetap terlihat berbahaya. Mira pun hanya dapat menahannya dengan kedua belatinya serta enchanment semaksimal mungkin.
Begitu juga dengan Edwin, ia menahan hujan panah yang berhasil lolos dari tabrakan tombaknya. Ia hanya dapat mengandalkan perisai api dan enchanmentnya.
BOOMM !
Ledakan besar terjadi, membuat kedua peserta terpental dan menabrak dinding pelindung.
Para penonton terdiam sambil terkagum - kagum, mereka dapat menyaksikan pertarungan sehebat ini, hanya pada saat acara turnamen petualang saja.