Magic Records

Magic Records
Keluarga Mondo



Kota Mencester menjadi lebih padat pengunjung daripada hari sebelumnya. 2 hari lagi akan dilaksanakan festival puncak tahun baru yang bertepatan dengan acara final pertarungan antar petualang.


Berbagai rombongan kereta bangsawan pun sudah mengisi jalanan utama di dalam kota. Levi yang baru terbangun dari tidurnya semalaman, terlihat sedang merenungi sesuatu.


Ia sudah seperti dikerjai oleh permintaan kakek Jhon, dirinya mulai meyakinkan kembali bahwa mungkin saja isi kertasnya itu berbeda dengan apa yang ia artikan.


Tapi kepada siapa ia harus berdiskusi tentang tulisan si kakek tua ini, ia tidak mau untuk menghubungi kakek Jhon karena merasa ini juga sebagai ujian darinya.


Akhirnya ia kembali menyimpan kertas itu, lalu membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Pria tua yang berada di lantai dasar penginapan terlihat sedang membersihkan meja yang ada di ruang aula.


Dirinya dibantu oleh kedua pemuda yang kemarin membawa keranjang dan kapak besar.


Mereka semua terheran karena melihat Levi berjalan sambil menatap intens secarik kertas.


"Tuan Muda, sarapan sudah tersedia jika anda sudah ingin sarapan sekarang." ucap Pria tua itu.


Levi yang tersadar dari perbuatannya itu kemudian membalas, "Ah, iya, baiklah Paman."


Merasa raut wajah Levi yang kebingungan, seorang pemuda yang berumur 14 tahun memberanikan diri untuk bertanya kepada Levi.


"Maaf sebelumnya Tuan, sepertinya Tuan sedang kebingungan?" ucap sang adik.


"Adik, kamu tidak boleh bertanya sembarangan. Siapa tau saja itu persoalan yang personal." timpal sang kakak.


Levi kemudian menjawab tidak apa - apa, dengan perhitungan matang, akhirnya ia menunjukkan raut wajah yang serius.


"Kalian berdua kemari lah, aku mempunyai permintaan yang sangat sulit. Namun aku pastikan kalian bisa mendapatkan banyak imbalan dari ku. Hanya saja hasil dari permintaan ku ini, tidak boleh dibocorkan kepada siapapun." ucap Levi sungguh - sungguh.


Kedua pemuda itu saling berpandangan satu sama lain, sedangkan pria tua itu juga menjadi penasaran dengan permintaan Levi yang terlihat sangat rahasia itu.


"Apakah permintaan Tuan akan sangat sulit?" tanya sang kakak.


"Jika bertempur, atau melakukan tindakan ilegal, lebih baik Tuan mencari orang lain saja." imbuh sang adik.


"Tidak - tidak, ini hanya membutuhkan keterampilan membaca tulisan berbahasa asing yang tidak kumengerti." jawab Levi.


Kakak beradik itu memperlihatkan senyumannya kepada Levi. Pria tua itu juga sama, membuat Levi terlihat keheranan sekarang.


"Tuan tenang saja, keluarga kami memang bukan keluarga yang terpintar. Tetapi sejak kecil, kami semua sudah diajari banyak sekali bahasa asing!" ucap sang adik dengan bangga.


Levi akhirnya mengerti darimana asal senyuman kemenangan mereka, sepertinya kedua pemuda itu juga berhubungan dengan pria tua itu.


"Baiklah, kalau begitu, coba terjemahkan tulisan ini untukku. Kalau berhasil akan aku berikan 1 koin emas." ucap Levi.


Hanya menterjemahkan tulisan saja dibayar 1 koin emas? Siapa yang akan menolak permintaan itu, terlebih kedua pemuda ini sangat yakin dengan kemampuan bahasanya.


Namun setelah membaca tulisan pada kertas surat pemberian Levi, kedua bersaudara itu mengerutkan keningnya.


Mereka sungguh bingung dengan goresan tangan tidak beraturan itu, bahkan mereka sempat berpikir isi dari kertas itu adalah tulisan anak kecil yang baru belajar menulis atau kode rahasia yang benar - benar penting.


Levi yang melihat perubahan ekspresi pada wajah keduanya, hanya bisa tersenyum tipis. Di sisi lain ia merasa mengecewakan kakek Jhon, karena tidak dapat memenuhi salah satu permintaannya.


Namun disisi satunya ia merasa senang, karena bukan berarti kemampuan bahasanya yang buruk, melainkan tulisan kakek Jhon yang terlampau mengerikan.


"Tuan Muda, bolehkah aku membawa surat ini untuk diperlihatkan kepada kakek ku?" tanya sang kakak sambil menunjuk pria tua penginapan.


"Hoo, jadi kalian semua satu keluarga?"  tanya Levi memastikan.


"Ya, Tuan. Aku yakin kakek lebih mengerti dari kami, dan aku juga melihat ada kata - kata mengenai nama keluarga kami dan keluarga Aprilia, meskipun aku ragu akan kebenarannya." balas sang kakak.


Pria tua itu terheran dengan perkataan cucu tertuanya, ia segera membaca isi dari kertas tersebut.


Ia menyipitkan matanya, lalu tertawa geli sambil mengeluarkan air matanya. Pria tua itu akhirnya mengerti kenapa Levi dan kedua cucunya tidak bisa membaca tulisan di kertas itu.


Levi dan kedua kakak beradik itu menatap Pria tua penginapan dengan keheranan.


"Apa yang tertulis disana kakek?" tanya sang adik?


"Ya, paman? Apakah anda sudah mengetahui isi dari surat tersebut?" timpal Levi.


"Haha, maaf - maaf. Sebelumnya perkenalkan Tuan Muda Levi, namaku adalah Razor Mondo. Dan mereka kedua cucuku, yang tertua Sebas Mondo, dan adiknya Key Mondo. Kami adalah keluarga Mondo yang tertulis dalam isi surat ini." ujar Razor sambil menghapus air mata kegeliannya.


"Apa?! Tapi bukankah ini adalah penginapan? Sedangkan yang aku baca sepertinya tulisan rumah mewah? Dan nama Paman adalah Razor? Bukan.."


"Maaf Tuan Muda Levi. Saat diriku kemarin ingin menjelaskan bahwa ini bukanlah sebuah penginapan, namun Tuan Muda sudah memotong perkataanku, jadi Aku biarkan saja."


"Tapi, bagaimana Paman bisa membaca tulisan itu, dan kedua cucumu tidak memprotes akan kehadiranku?"


Razor menjelaskan bahwa pada awalnya, kedua cucunya sedikit heran atas kedatangan Levi. Namun dirinya meyakinkan keduanya, bahwa ia bisa merasakan kalau Levi itu bukanlah seseorang yang jahat.


Levi kembali memproses kejadian yang dialaminya 2 hari belakangan ini, ia merasa otaknya akan mengalami gangguan tingkat menengah.


Bagaimana tidak! Orang yang dicarinya seharian kemarin dengan susah payah, ternyata malah ada dihadapannya sejak awal.


Jika bisa, dirinya sekarang ingin meneriakkan kata 'apa' secara berlebihan, seperti pada acara televisi yang ia tonton dulu di Bumi.


Dirinya kemudian tersadar, dan memperkenalkan diri dari awal lagi, meskipun ia sudah menduga bahwa Razor sudah mengetahuinya, namun perkenalan diri sudah menjadi kebiasaan yang sopan baginya.


Tentu ia berkenalan hanya kepada calon temannya, jika itu musuhnya, ia tidak akan bersikap seperti itu.


Lalu Levi bertanya apakah ia harus memanggil Razor dengan sebutan paman atau kakek? Karena ia merasa Razor berteman akrab dengan kakek Jhon, dan kedua pemuda di sampingnya juga memanggilnya kakek.


"Umurku 63 tahun, Tuan Muda. Terserah Tuan Muda ingin memanggilku Paman ataupun Kakek."


'Hanya 2 tahun lebih muda dari kakek Jhon' pikir Levi.


Ia lalu memutuskan untuk memanggil dengan sebutan kakek Razor, dan ia kembali teringat dengan sesuatu.


"Kakek Razor, apakah kakek berhubungan dengan Edgard Mondo?" tanya Levi sedikit ragu.


"Hoo, Edgard kecil? Ya, dia adalah anak dari kakak kandungku. Apakah kau akrab dengannya?"


Setelah mengetahui isi dari surat tersebut, mereka berdua kemudian berbincang tentang kehidupan paman Edgard dan kakek Jhon di Mana Isla.


Setelah cukup lama berbincang, Levi meminta kakek Razor untuk menunggunya sebentar.


Levi memasukkan tangannya ke dalam tas, lalu mengeluarkan barang titipan dari kakek Jhon dari dalam cincin penyimpanan.


Barang itu disimpan dalam bungkusan kain hijau, Levi sendiri tidak mengetahui apa isi dari bungkusan tersebut.


Kemudian ia juga memberi kedua bersaudara itu 2 koin emas, walaupun mereka tidak berhasil membaca isi surat kakek Jhon.


Kedua kakak beradik itu sempat menolak koin emas dari Levi, namun Levi tetap memaksa, dan akhirnya mereka mengambil koin tersebut serta berterimakasih kepada Levi.


Kakek Razor juga mengucapkan terimakasih kepada Levi, ia berniat mengembalikan koin perak Levi, tetapi Levi menolak.


"Anggap saja sebagai imbalan aku menginap disini kakek, dan kalau bisa kalian jangan memanggilku Tuan Muda, status duke dan keluarga aprilia ku ini hanyalah buatan sementara."


Kakek Razor akhirnya setuju, dan mengatakan untuk membuka bungkusan itu sendirian saja, karena bersifat pribadi.