MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
DELAPAN



Edi menatap tumpukan mayat ibu dan anak di salah satu rumah mewah, bahkan pelayannya pun menjadi korban. Rumah yang tadinya mewah dan megah, hangus terbakar bersamaan dengan mayat yang bertumpuk. Tidak ada yang bisa dikenali kecuali tubuh kecil yang sudah gosong dan melekat bersama tubuh besar.


Para polisi memasang line dan mendorong mundur Edi.


Edi menggigit bibir bawahnya dengan keras. Bagaimana bisa ini terjadi?


Setelah Adair menghancurkan barang-barang mewah untuk dijadikan pembayaran utang, Edi dan Haris memiliki ide untuk menekan selingkuhan ayah kandung Erina yang disembunyikan di salah satu kompleks mewah di ibukota. Mereka pasti memiliki harta yang tersisa dan juga bisa dimanfaatkan untuk menekan Erina, biar bagaimanapun anak-anak haram juga harus mempertahankan hak milik harta ayah kandung mereka.


Tapi sekarang, dia harus berdiri di depan rumah yang sudah hancur tidak bersisa dan juga mayat-mayat hangus yang sudah menumpuk dimasukan ke dalam kantong jenazah untuk dicari identitasnya.


"Kasihan sekali, mati mengenaskan di dalam."


"Saya juga sudah berusaha menelepon pemadam kebakaran, tapi katanya terhalang ban bocor. Pakai pemadam satunya, ternyata sudah berangkat dan harus menolong anjing yang tiba-tiba naik ke atas atap rumah tetangga."


"Tahu suaminya kemana?"


"Mereka tidak terlalu terbuka, tapi pernah ada mobil mewah keluar masuk rumah ini, sepertinya suami wanita itu. Apakah dia selingkuhan salah satu pejabat?"


"Astaga, mungkin saja. Lalu keluarga istrinya tahu dan suami membunuh mereka."


Edi menjauh dari kerumunan tetangga yang kepo itu. Dia masuk ke dalam mobil dengan kesal, Haris yang duduk di bagian sopir, menghubungi seseorang.


"BAGAIMANA BISA DIA MATI BEGITU SAJA? APAKAH TIDAK ADA YANG MEMBAYAR PENJAGA?!" teriak Haris dengan kesal.


Edi yang duduk di samping sopir, hanya menatap lurus jendela mobil depan.


"DIA ADALAH WANITA ADIKKU! ANAK DAN WANITANYA MATI DI DALAM KEBAKARAN! APAKAH KAMU TIDAK TAHU APAPUN?!" teriak Haris dengan frustasi. Dia jadi kehilangan bidak berharga.


Edi menoleh ke ayahnya.


Haris menutup sambungan telepon dengan kesal. "Mereka pasti dibunuh, tapi aku tidak tahu siapa pembunuhnya?"


"Bukankah sudah pasti?"


"Apa?"


"Ayah bisa menyalahkan Erina dalam kasus ini. Semua orang tahu betapa tidak bergunanya anak itu selama ini, kita tinggal membuat alibi palsu." Saran Edi.


Haris mulai memikirkannya. "Benar juga, demi mempertahankan harta keluarga. Dia melakukan segala cara, dengan begitu kita tidak perlu repot-repot mencari cara lain."


Dian yang duduk di belakang kursi kakaknya, bertanya. "Rumah sakit hampir bangkrut dan rumah juga sudah mulai kosong, pasti tidak akan ada yang percaya dengan ucapan Erina. Semua akan berpikiran kalau dia memanfaatkan kematian keluarga dengan bersenang-senang."


Kedua mata Haris berbinar cerah. "Benar, kamu cerdas. Kita bisa menjatuhkan Erina dengan cara ini saat rapat dewan direksi."


Dian melihat jam tangan di tangannya. "Ayah, sebaiknya kita harus cepat ke bandara sebelum ketinggalan pesawat dan rapat."


Haris menyalakan mobil dan segera kembali ke kota, dia tidak akan menyerahkan harta anaknya ke anak perempuan tidak berguna!


--------


Erina mengintip bagian pendaftaran rumah sakit. Salah satu staff yang tanpa sengaja melihatnya di balik pintu, terkejut.


"Nona."


Erina tersenyum. "Boleh lihat pekerjaan kalian?"


"Aku tidak akan mengganggu pekerjaan kalian." Erina menghampiri mereka dengan gembira. "Aku akan mentraktir kalian makan siang, berikan aku pekerjaan satu hari untuk melihat kinerja kalian."


"Apakah anda sedang menguji kami? Salah satu dari kami akan dipecat?"


"Nona muda, kami masih memiliki tanggungan. Jangan pecat kami."


"Nona-"


Erina menenangkan mereka semua. "Ah, aku hanya ingin mengenal kalian semua. Jadi mohon bantuannya."


Para staff saling bertukar tatapan.


"Tapi, bukankah sebentar lagi akan ada rapat dewan direksi? Kalau seperti ini-"


"Ah, aku hanya ingin mengintip sedikit. Tidak apa 'kan?" tanya Erina. Sebenarnya dia ingin bersikeras belajar secara tidak langsung dengan mereka, tapi dia juga tidak bisa memaksa.


"Erina, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dian ketika melihat Erina berdiri di balik meja pendaftaran. "Apakah kamu ingin bekerja di bagian itu? Yah, aku mengerti sih- karena kamu masih pemula dan tidak tahu apa-apa, kamu 'kan hanya bisa menghamburkan uang keluarga." Sindirnya.


Para staff yang ada di lobby, melirik sedikit Erina. Mereka mendengar berita bahwa Erinalah penyebab rumah sakit akan bangkrut sampai mengosongkan barang-barang berharga di rumah setelah kematian keluarganya.


Edi menyipitkan matanya, menatap jijik Erina. "Orang tua dan kakak kamu sudah bekerja keras, tapi ternyata kamu malah bermain-main di tempat ini? Merepotkan!"


Erina menghela napas panjang, untuk membuang amarahnya. "Terima kasih sudah perhatian dengan aku, kakak sepupu. Aku tidak menyangka kalian bisa perhatian seperti ini, kalau begitu- apakah kakak sepupu mau mengembalikan hutang?"


Dian bentak Erina lalu menunjuknya. "HUTANG APA? JUSTRU ORANG TUA KAMU YANG MEMERAS KERINGAT AYAHKU! AYAHKU RELA BEGADANG DEMI RUMAH SAKIT INI DAN SEKARANG MALAH JATUH KE TANGAN ANAK TIDAK BERGUNA SEPERTI KAMU!"


Erina tahu tidak bisa melakukan pembelaan, semua alasan dikeluarkan pasti tidak akan ada yang percaya karena dia jarang ke rumah sakit dan berinteraksi dengan para staff. Dia bisa menerima semua perkataan para sepupunya, tapi tidak dengan hinaan kasar.


Jadi, sekalian saja dia bersikap jahat seperti citra yang dibuat orang-orang terdekatnya selama ini.


Erina tertawa licik. "Astaga. Seingat aku, ayah kalian menangis minta pekerjaan karena anak haram tidak pernah bisa menyentuh harta keluarga ayah, lagipula aku melihat paman klaim biaya lembur yang cukup banyak. Jadi, apa yang kalian keluhkan sekarang?"


Diam-diam Erina merasa bersyukur karena sempat melihat laporan keuangan, meskipun hanya sekilas.


"ERINA!" bentak Endang yang baru masuk ke dalam lobby.


Erina tersenyum polos ke bibinya. "Aduh, bibi. Apakah perkataan Erin salah? Padahal itu adalah fakta, kenapa jadinya kami memeras keringat paman?"


"CUKUP!" bentak Haris yang berdiri di belakang istrinya. "Tidak ada yang perlu dibahas di sini. Erina, pergi ke ruang rapat sekarang. Tempat ini bukan tempat kamu."


Erina bergeming. "Bukan tempatku? Lalu tempatku di mana?"


Dian tidak tahan lagi. "Kamu berani melawan ayahku? Pantas saja kedua orang tua kamu mati cepat, mereka tidak tahan punya anak seperti kamu!"


Erina menatap lurus Dian, apa yang dikatakannya telah menggoreskan luka di hati. "Orang tua aku meninggal karena kecelakaan dan bukan bunuh diri, atau jangan-jangan kalian membunuhnya?"


"YANG SOPAN KALAU BICARA, ERINA!" bentak Endang.


"Bibi menyuruh aku sopan, tapi pada kenyataannya anak-anak bibi telah menghina aku dan keluargaku!" balas Erina. "Jadi, siapa yang lebih dulu tidak sopan?"


Endang terdiam lalu menarik kedua anaknya, masuk melewati lobby dengan diikuti Haris.


Erina menatap kesal punggung mereka.