
Armand masuk ke ruang kerja dan merentangkan kedua tangan untuk mendekati keponakan tercintanya dengan tawa bahagia. "Bagaimana keadaan keponakanku? Kedua orang tuanya meninggal tapi malah tidak berkunjung ke pemakaman mereka."
Adair yang sudah duduk di kursi, menatap lurus adik ayahnya. "Apakah pendeta zaman sekarang tidak punya pekerjaan? Kenapa malah datang ke rumah dengan wajah bahagia? Sudah mendapatkan kekasih?"
Armand memegang dadanya dengan dua tangan seperti kena serangan jantung, sementara kepala pelayan menutup pintu ruang kerja dan menjaga di depan. "Ah, ternyata tidak hanya kakakku. Putranya sendiri juga mewarisi lidah tajam."
"Jika tidak ada hal penting, silahkan keluar."
"Tunggu, tunggu. Pendeta hebat ini hanya ingin menyampaikan berita untuk keponakan tercinta."
Adair menunggu.
Armand duduk di kursi, berhadapan dengan Adair. "Kamu terlihat tidak sedih dengan kematian orang tua."
"Itu pilihan mereka untuk mati, aku tidak mau ikut campur."
"Wah, dingin sekali."
"Mereka berdua sudah merencanakannya bersama paman."
Pendeta Armand hanya menunjukkan senyum terbaiknya.
"Aku terpaksa mengambil alih semua bisnis keluarga dan-"
"Bagaimana dengan tunangan kamu? Dia menangis atau marah?"
"Tidak keduanya."
Pendeta Armand tertawa bangga. "Benar, Erina mengikuti sifat ibunya. Tidak diragukan lagi, tapi aku ingin minta tolong kepadamu."
"Minta tolong?"
"Kamu tahukan, keluarga kita sangat setia pada keluarga nyonya kecil? Bahkan kami bersumpah setia untuk mati, sama seperti pamanmu ini."
Armand mengerutkan kening. "Apa yang paman lakukan di luar sana?"
"Hanya hal kecil, aku sudah menghilangkan semua jejak. Hanya saja, pasti ada yang curiga dengan keberadaanku, aku hanya ingin sedikit alibi untuk membantu."
"Paman membunuh siapa?"
Pendeta Armand menatap terkejut keponakannya. "Astaga, kenapa kamu peduli? Ah, keponakan tercintaku memang hebat, bahkan pamannya ini tidak bisa menyembunyikan rahasia."
Armand menatap kesal pamannya. "Beritahu aku, siapa yang paman bunuh?"
"Hanya orang-orang yang mengganggu mata."
"Apa?"
"Sebagian, aku tidak melakukannya sendirian. Mereka yang ketakutan juga menghabisi nyawanya sendiri."
"Paman, paman seorang pendeta. Bagaimana bisa melakukan hal seperti itu?" Adair menggebrak meja dengan keras.
Armand menatap lurus Adair. "Pezinah yang akan menghancurkan hidup seorang anak yatim piatu, tidak pantas hidup, Adair. Sebelum mereka merusak rencana kita, kita rusak dulu hidup mereka."
Armand mengucapkannya dengan ringan dan tanpa merasa bersalah, seolah tidak ada beban dan Tuhan selalu memaafkannya, Adair tidak tahu harus berkomentar apa.
Armand menghela napas ironis. "Manusia tetaplah manusia, mereka tidak bisa lepas dari dosa kecuali jika meninggalkan nafsu duniawi. Sayang sekali aku tidak bisa meninggalkan nafsu itu."
"Paman bisa dituntut karena mempermainkan pekerjaan pendeta."
Armand tertawa tanpa dosa. "Mereka menuntutku untuk apa? Aku hanya seorang pahlawan yang melindungi seorang gadis kecil. Jadi, jangan menilaiku jelek."
Adair mengangkat telepon dan menghubungi tangan kanannya untuk memberikan perintah.
-----------
Malam sebelumnya, seorang wanita cantik turun dari tangga setelah mendengar suara ribut. Dia berteriak kencang ketika melihat seluruh pelayannya bersimbah darah di lantai satu, dia segera mengambil putra satu-satunya ke kamar dengan panik.
Wanita itu terkejut ketika melihat pintu kamar terbuka, insting ibu mengatakan nyawa putranya sedang terancam.
"Wah, kamu memang anak yang tampan dan cerdas."
Wanita itu hampir terserang jantung ketika melihat baju dan tangan pria yang berdiri di samping tempat tidur putranya bersimbah darah. "Si... siapa?"
Armand menoleh dan menyingkir.
Wanita itu berteriak dan hampir pingsan ketika melihat putranya sudah meninggal ditembak di bagian kepala, dia lari dan memeluk tubuh putranya yang sudah tidak bernyawa. "Putraku... putraku..." gumamnya lirih.
Armand duduk di kursi dan melihat pemandangan yang menarik. "Apakah kamu sudah melihat lantai satu?"
Wanita itu tidak menjawab dan hanya memeluk tubuh putranya dengan tangan gemetar. "Kamu akan membunuhku?"
Armand yang tampan, menunjukkan senyum kejinya. "Jika kamu tidak serakah, mungkin sekarang hidup bahagia bersama suami dan anak-anak. Bagaimana rasanya menjadi selingkuhan?"
"Kamu... suruhan istrinya?"
"Kalau begitu, anak keduanya?"
Armand tertawa. "Apa yang diberitahu pasangan kamu mengenai putrinya?"
Wanita itu menatap takut Armand. "Jika aku bicara. Apakah kamu akan melepaskan aku? Aku berjanji tidak akan bicara kepada siapa pun, aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi."
"Kamu akan meninggalkan tubuh anak itu?"
Wanita itu menatap sedih putranya. "Aku memang melahirkan anak ini, tapi aku juga tidak bisa kehilangan nyawaku. Jadi tolong lepaskan aku, aku tidak akan terlibat apapun, anak ini sudah meninggal dan tidak berguna lagi."
"Jangan membuat aku kesal, jawab pertanyaanku."
Wanita itu melepas tubuh putranya yang tidak bernyawa di tempat tidur lalu memberanikan diri untuk menatap Armand. "Dia tidak pernah bicara banyak mengenai putrinya, hanya saja kadang kala dia mengeluh betapa tidak bergunanya memiliki anak perempuan. Untung saja anakku laki-laki, jadi dia menyanyangi anakku juga."
"Dia memberikan uang juga ke kamu?"
Wanita itu mengangguk ketakutan.
"Rumah ini juga diberikan dia?"
Wanita itu mengangguk lagi.
Armand menatap jijik wanita yang sudah menjual tubuh dan harga dirinya ke pria beristri. "Kamu suka?"
"Ya?"
"Kamu suka melakukan hubungan **** dengan pria itu?"
Wanita itu bingung harus menjawab apa.
"Jawab jujur saja."
"Dia memuaskan aku."
Armand tersenyum licik. "Buka pakaian kamu."
"Apa?"
"Kamu tidak ingin mati bukan?"
Wanita itu bergegas membuka semua bajunya.
"Berlutut." Armand mengarahkan pistol ke bawah.
Wanita itu mengira akan melayani Armand, tidak masalah jika nyawanya bisa selamat.
Ketika Armand membuka kakinya dan wanita itu duduk di antara kedua kaki, dia menjepit dagu wanita itu dengan keras lalu berbisik. "Rupanya kamu suka melayani banyak pria? Apakah kamu berselingkuh dari suami kamu?"
Wanita itu tidak bisa menjawab. "Aku-"
Ujung pistol dimasukan ke dalam mulut wanita itu dan tangan kiri Armand menjambak rambut wanita itu, sehingga tidak bisa melarikan diri.
"Kamu suka ketika dia memasukan kejantanannya di mulut mungil ini?"
Wanita itu hanya menangis dan mengerang ketakutan.
DOR! DOR! DOR!
Armand berdiri lalu melirik wanita yang sudah tidak bernyawa dan tergeletak di atas karpet mahal. Semahal apapun karpet yang kamu beli, pada akhirnya akan menjadi sampah jika memiliki sejarah mengerikan.
Armand menyalakan kompor rumah serta lilin kecil di tempat yang mudah terbakar, lalu menyiram bensin di sekitarnya.
Begitu semua selesai, dia keluar lewat jalan belakang dengan santai. Tidak lupa menghancurkan cctv di sekitar rumah dengan pistol yang sudah diredam suara.
Jarak beberapa rumah, dia masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam legam dengan plat palsu. "Ke rumah Adair!" perintahnya lalu bersenandung kecil dengan nada ciptaannya dan lirik ngawur..
Hei, kawan...
Apakah kamu sudah melihatnya?
Berapa kali kamu menyembunyikan kejahatan, pasti akan ketahuan.
Tidak perlu menunggu Tuhan menghukum jika ada yang bisa menghukum.
Aku akan membalas semuanya, tidak peduli dengan dosa.
Setelah itu aku akan berlutut dan meminta ampun kepada Tuhan karena tidak sabar.
Benar, aku menyesal karena tidak sabar.
Bukan karena telah menghukum kamu.
Tuhan tahu, aku hanya manusia biasa, bukan malaikat atau nabi yang mudah memaafkan.