
Erina melambaikan tangan ketika puas bermain dengan Pino dan Nuna, menghapus sudut air mata ketika melihat mereka berdua bersikeras mengejar mobil sampai ke gerbang gereja.
Tidak ada keluarga, hanya ada anjing dan kucing yang tidak bisa dirawat.
"Aku memang terlalu lemah." Tawa Erina yang membenci dirinya sendiri.
Rei tidak membalas, hanya konsentrasi menyetir. Dia paham sakit hati yang dialami Erina.
"Suatu hari nanti, aku harus membawa mereka berdua ke dalam pelukan aku. Bagaimanapun caranya."
"Ya."
Erina menatap keluar jendela mobil dengan sedih, meskipun kedua orang tua dan kakaknya memiliki sifat kompleks, tapi dulu mereka sangat bahagia dan selalu main bersama.
Erina tidak masalah jika harus mengalah keluar dari rumah tempat dia dibesarkan atau tidak memakai nama keluarga seumur hidup, yang terpenting mereka bertiga harus hidup sehat dan tertawa seperti dulu.
Tapi sayangnya Tuhan tidak mengabulkan keinginan kecil itu.
Tuhan tidak membenci kamu, dia menyayangi kamu dengan caranya sendiri.
Kalimat pendeta Armand masih terngiang di pikirannya, dia menggenggam erat kalung salib yang dibelikan kedua orang tuanya.
Di tempat Adair, sedang berlatih kuda sambil memanah. Bulir keringat menetes tanpa menutupi wajah tampannya.
Dia suka olah raga ini untuk memacu adrenalin sekaligus melatih kecepatannya dalam bergerak melawan musuh.
Anak panah Adair mengenai semua target yang diinginkan, dia tersenyum puas.
Ajeng yang menemani Adair untuk melapor setelah dari rumah sakit, menatap kagum pria itu.
"Hati-hati ada air liur menetes, dia sudah punya orang."
Ajeng menoleh lalu melihat seorang pendeta yang waktu itu pernah bertemu dengannya.
Armand menyipitkan kedua matanya ketika melihat Adair asyik dengan hobinya sendiri. "Sepertinya aku salah waktu datang."
"Jika anda ingin menyampaikan pesan, bisa melalui saya." Tawar Ajeng.
Armand menolak tegas. "Kamu hanya penasaran dengan isi pesanku, lebih baik aku bertemu langsung besok."
Ajeng mengawasi Armand yang sudah berjalan menjauh.
Tidak lama, kuda Adair menghampiri Ajeng.
Ajeng segera menyerahkan botol minum ke Adair. "Tuan."
Adair menoleh sekilas lalu melarikan kudanya menjauh dari Ajeng.
Ajeng menghela napas panjang.
Tidak lama terdengar ringkikan kuda, Ajeng melihat kuda berwarna putih menyusul Adair dan mereka balapan dengan mengitari lapangan rumput yang luas.
Ajeng ingin berlatih kuda juga tapi dia terlalu takut menyentuh hewan, dia hanya bisa cemburu melihat seorang wanita cantik mampu mengimbangi Adair.
Dia adalah kekasih baru Adair, begitulah yang didengarnya tadi.
Sementara Adair sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya, Erina belajar keras di perpustakaan keluarga sampai larut malam.
Rei dan Dewi yang khawatir, ikut menemani lalu tertidur di lantai.
Erina merasa belum cukup untuk bisa melebihi kedua orang tua dan kakaknya. Yang bisa dia lakukan selama ini hanya bersenang-senang lalu melukis.
Tidak lama handphonenya bergetar, pendeta Armand mengirimkan bukti perselingkuhan Adair dengan wanita lain, mereka berdua asyik balapan kuda hingga lupa waktu.
Tidak lupa sang pendeta menambahkan bumbu tulisan. 'Pria tidak akan pernah bisa lepas dari wanita.'
Erina meletakkan handphone di atas meja dan setuju dengan kalimat pendeta. Mau seberusaha apapun pria jika sudah mendapatkan target, mereka tetap akan memacu adrenalin untuk mendapatkan target selanjutnya.
Erina tidak punya waktu untuk bersedih dan melanjutkan belajar, tidak lupa mengirimkan pesan iseng ke Adair.
Adair yang sudah turun dari kuda, mengambil handphone dan membaca pesan Erina yang baru masuk.
'Jangan lupa memakai pengaman, aku tidak mau kena penyakit.'
Adair melihat sekeliling ruangan dengan bingung. Apakah di sini ada mata-mata Erina?
Erina dan Adair memang sudah bertunangan sejak kecil, tapi semua orang tahu bahwa Adair selalu melakukan kenakalan di depan Erina meskipun pernah mati-matian disembunyikan Adair. Tugas Erina hanya menutup mata dan hati.
Apa yang bisa dilakukan Erina sebagai seorang wanita?
Ketika ada wanita yang memilih tidak menikah lalu menghujat karena tidak sesuai dengan ketentuan aturan Tuhan, mereka yang menghujat lupa untuk mendidik seorang kepala keluarga dalam mengayomi keluarganya.
Erina hanya bisa pasrah dan menuruti perintah, dia juga tidak mau melepas Adair karena tidak semua orang mampu mendapatkan pria seperti ini.
Erina sendiri tidak sadar, pesan singkat yang dikirimnya menghancurkan mood Adair.
Adair pulang ke rumah setelah mengantar kekasihnya pulang.
Armand yang mengetahui berita itu dari salah satu mata-matanya, tertawa puas.
Abby yang duduk berhadapan dengan Armand, menggerakkan bidak catur perlahan. "Seorang gentleman harus menjaga wibawa di depan wanita, terutama jika wanita itu sudah menua." Tegurnya.
Armand menutup mulut lalu berpikir keras untuk menggerakkan bidak. "Hm? Maaf. Aku orangnya tidak sabaran."
"Anak muda memang seperti itu."
"Sayangnya aku tidak muda lagi." Armand menggerakkan bidak catur dengan sembarangan.
"Skakmat."
Armand cemberut dan bosan bermain catur. "Ah, aku memang tidak bisa main ini."
"Kamu bisa menjadi ahli strategi dengan baik jika mau berpikir lagi, semua gerakan kamu terlihat sembarangan tapi jika diteliti lagi- orang bisa terjebak masuk ke dalam permainan kamu."
"Tapi anda lebih hebat dari saya karena tidak terjebak," cengir Armand.
"Jadi, apa yang kamu lakukan tadi sebelum datang ke rumahku? Apakah ada berita yang menarik."
"Tidak perlu tahu, hanya kenakalan anak muda seperti biasa."
"Adair selingkuh lagi?"
"Anda tahu itu?"
"Dia suka main kuda di tempatku, tentu saja aku tahu. Jika Erina bisa memantapkan posisinya, aku ingin dia membuang Adair."
"Anda sungguh-sungguh mengatakan itu? Aku paman kandung Adair."
"Kamu juga sayang dengan Erina."
Armand tertawa.
Abby menatap tegas Armand. "Seandainya saja putriku menikah dengan kamu, mungkin saja tidak akan ada kejadian seperti ini."
"Bagaimana bisa anak seorang pelayan menikah dengan majikannya?" cengir Armand.
"Jangan berkata seperti itu lagi, sekarang kedudukan kita setara."
"Tapi di hati aku tidak. Nyonya besar tetap nyonya besar, begitu juga dengan nona muda."
Abby menghela napas panjang. "Bahkan meskipun kamu pelayan, aku tidak keberatan kamu menikah degan cucuku. Dia berhak bahagia."
"Jika nona menikah denganku, tidak akan ada nona muda Erina."
Abby menghela napas ironis. "Anak itu tidak tahu apa pun."
"Nyonya, jika anda ingin membatalkan pertunangan Adair bersama nona muda Erina, saya tidak keberatan. Saya bisa memisahkan mereka."
"Tidak perlu, biar Erina yang memutuskan. Kita yang lebih tua cukup mengawasi mereka."
Armand tersenyum. "Ya."
"Ah, ngomong-ngomong apakah ada pergerakan dari anak itu?"
"Belum, beliau masih sembunyi mengamati. Saya juga belum bisa menemukannya, beliau sangat licin."
"Anak itu tidak berubah." Decak Abby. "Jika ketemu, pertemukan aku dengannya. Biarkan aku yang menghabisi langsung anak itu."
Armand bisa melihat tekad kuat dari wanita tua ini.