MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
DUA PULUH SATU



Di dalam ruang kerja, Adair menutup mulut Ajeng yang hendak menciumnya dan menyipitkan mata tidak suka.


"Kamu tahu dia di luar?"


Ajeng tahu maksud Adair lalu menggeleng polos.


"Turun!" Perintah Adair.


Ajeng turun dari pangkuan Adair.


Adair berdiri dan berjalan menjauh dari Ajeng.  "Aku tidak mau terulang lagi."


Ajeng menggigit bibir bawahnya dengan tatapan sedih. Aku yang selalu di samping kamu dan menerima semuanya, tapi kenapa kamu tidak mau melihat aku?


Kamu bisa memiliki tubuh Adair sementara aku memiliki hartanya.


Ajeng yang mengingat itu, bertanya ke Adair. "Tuan dengar sendiri apa yang dikatakan nona, dia merasa memiliki harta anda, apakah anda tidak marah?"


"Ajeng, aku tidak suka ada perasaan pribadi di sini."


Ajeng terdiam lalu menundukkan kepala. "Maaf."


Adair keluar dari ruang kantor dan pergi ke kamar Erina.


Terkunci.


Adair mengetuk pintu dengan keras. "ERINA!"


Erina yang menonton tv, tidak menjawab.


"ERINA, BUKA PINTUNYA!"


Erina mengabaikan perintah Adair dan sibuk membaca berita di handphonenya.


"ERINA!"


Erina memakai headphone dengan santai. Dia malas melihat wajah Adair, mengingatkannya pada Ajeng.


"Apakah kamu melakukan ini karena cemburu?"


Harga diri Erina yang tinggi, sontak membuat dia turun dari tempat tidur dan membuka kunci pintu kamar. "Aku cemburu?"


"Kamu tahu apa yang dilakukan Ajeng padaku di kantor."


Kepala Erina mendongak untuk menatap Adair yang tinggi. "Apakah yang kamu lakukan padanya merupakan kesalahan?"


Adair bingung begitu mendengar kalimat Erina. "Erina-"


Erina menutup pintu dengan malas.


"Aku hanya memberikan hadiah untuk Ajeng, tidak lebih."


Erina mengunci pintu dan menjatuhkan badannya di tempat tidur, teringat dengan nasehat ibunya. 


Pria selalu mengatakan wanita selalu benar, tapi mereka lupa untuk bercermin dan menilai diri mereka sendiri. 


Adair menatap bingung pintu yang sudah ditutup. Jika dia cemburu, kenapa tidak mengatakannya langsung? Mungkin saja aku bisa menghentikan semuanya.


Dari sudut pandang sebagian wanita, pria adalah makhluk suci yang harus dijaga ketika sudah menikah. Jika pria berselingkuh, maka yang akan disalahkan hanyalah pelakor. Jika pria melakukan kekerasan rumah tangga, maka para wanita akan tutup mulut dengan dalih menjaga aib. Jika wanita diperkosa atau dilecehkan oleh pria, maka yang disalahkan adalah wanita.


Kenapa tidak bisa menjaga pakaian?


Kenapa tidak bisa menjaga mata pria?


Kenapa keluyuran sendiri?


Erina merasa dirugikan terlahir sebagai perempuan. Tidak ada kebebasan di mata masyarakat.


Erina tertawa muram dan tanpa terasa menjatuhkan air matanya. "Ibuku pulang setiap malam dimarahi oleh keluarga ayah dan dicaci para tetangga, dikatakan wanita tidak benar, padahal hanya bekerja tapi ayah yang pulang malam setelah keluar bersama kekasihnya dikatakan pria rajin bekerja. Bukankah itu tidak adil?"


Adair bisa mendengar keluhan Erina di balik pintu lalu berjalan mundur dan menjauh dari kamar Erina, tanpa mengatakan apa pun.


Dewi dan Rei yang melihat itu hanya bisa diam menunggu sampai Adair pergi dan Erina kembali tenang.


-----------------


Adair duduk di ruang kerjanya, mendengar omelan kepala pelayan.


"Sampai kapan anda akan bersikap seperti ini? Anda sudah menjadi kepala keluarga."


"Aku hanya mencari penghiburan."


"Dengan main bersama wanita?"


"Tuan, boleh saya beritahukan satu hal?"


"Apa?"


"Apakah anda ingat dengan paman kandung tuan?"


"Pamanku? Yang pendeta itu?"


"Apakah anda tahu alasan beliau lebih memilih menjadi pendeta?"


Adair mulai memikirkannya. "Dia ingin bertobat?"


Kepala pelayan menghela napas ironis. "Pendeta jatuh cinta dengan ibu kandung nona muda."


Adair terkejut. "Pamanku jatuh cinta?"


"Kecantikan nona Erina sama seperti ibu kandungnya, menurut anda- jika anda melakukan kesalahan pada nona muda, apa yang akan dilakukan pendeta?"


Sekarang Adair mulai berpikir jernih. "Paman akan membunuhku dan mengambil harta keluarga?"


Kepala pelayan menghela napas panjang lagi. "Tuan, Jika beliau tidak memikirkan hubungan darah- bisa saja melakukan hal itu, tapi pendeta sangat menyayangi anda seperti anak kandung sendiri. Jika perkiraan saya tidak meleset, mungkin saja pendeta akan berusaha menjauhkan nona muda dari anda."


"Menjauhkan Erina dari aku? Tidak, paman tidak bisa melakukan itu."


"Beliau bisa."


Adair tidak bisa menerima pendapat mengenai Erina yang dijauhkan dari dirinya. "Aku sudah menganggap Erina seperti adik kandungku sendiri, jika dia jauh- bagaimana bisa paman mengurus anak kecil seperti Erina?"


"Tuan, nona muda tidak bisa dibilang seperti anak kecil lagi. Segala sesuatu bisa ditutupi dengan mudah karena dia anak kecil tapi tuan harus ingat bagaimana masa lalu yang harus dihadapi nona muda. Anda sendiri pun tahu dengan jelas bagaimana perlakuan kedua orang tua nona."


Bibir Adair menipis. Apa yang dikatakan kepala pelayan benar, pamannya mampu menjauhkan Erina dari dirinya dan bahkan kemungkinan besar tunangannya akan menjauh dengan sukarela.


"Selama nona muda di sini, tolong menjauh dari wanita. Nona Erina, tunangan anda. Meskipun lebih banyak diam, beliau pasti juga menyimpan banyak luka."


Adair menghela napas panjang. "Aku mengerti, terima kasih sudah memberikan masukan."


"Tidak masalah."


"Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meminta maaf kepadanya secara tidak langsung."


"Ya?"


Adair menyerahkan dokumen persetujuan kepada kepala pelayan. "Selama dia ada di rumah ini, hormati dia. Meskipun kami belum menikah, dia tetap calon istriku. Seluruh aktifitas dan pengeluaran rumah, dia tangani. Kamu harus bisa mengajarinya dengan baik."


Kepala pelayan terlihat tidak setuju. "Tuan, tolong dipikirkan kembali. Orang tua nona baru saja meninggal dan harus menjalankan perusahaan sendiri. Jadi-"


"Kondisi dia tidak jauh berbeda denganku. Orang tua meninggal  dan bahkan aku sekarang menjadi kepala keluarga, jika dia ingin komplain mengenai kelakuan aku- dia pasti juga bisa mengimbangi apa yang aku inginkan."


"Dan bagaimana jika nona muda tidak bisa melakukannya?"


"Kita belum mencoba, beritahu dia sekarang."


Kepala pelayan membungkuk lalu pergi bersama dengan dokumen ke tempat Erina.


--------------


Haris menutup mata dan berbaring di sofa rumah sementara Endang duduk dengan memegang kepalanya yang sakit, mereka berdua baru saja menerima kabar tidak menyenangkan. Pihak komisaris sudah mendengar Erina mulai membayar hutang satu persatu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Rumah sakit akan jatuh ke tangan anak kecil," tanya Endang.


Haris menggeram marah. "Apakah kamu tidak punya ide untuk membantu aku? Kenapa hanya bertanya tanpa membantu suami kamu ini."


"Aku bertanya karena kamu yang memulai semua rencananya, kalau saja kamu bisa bersabar menunggu sedikit lagi. Erina tidak mungkin punya ide membayar seluruh hutangnya."


Haris bangkit dari sofa lalu duduk dan menatap Endang. "Kamu menyalahkan aku? Setelah mengosongkan koleksi kakak ipar dan menyimpannya sendiri, kamu malah menyalahkan aku?"


"Itu karena kamu tidak becus memberikan aku hadiah."


Haris tertawa muram. "Tidak kusangka, aku menikahi wanita gila harta."


"Apa kamu bilang?!" Endang berdiri dan hendak menyerang Haris.


Dian yang duduk tidak jauh dari orang tuanya, bergegas melindungi Haris. "Ibu, tenanglah. Ayah sedang berpikir keras untuk kebahagiaan keluarga kita."


"Kebahagiaan? Dia bahkan membuat aku berlutut di lantai dingin untuk menjilat orang lain, sekarang apa yang akan kalian lakukan? Dewan komisaris sudah mendengar Erina membayar hutang dan mulai merubah pendapat!"


Edi menegur ibunya. "Ibu, kami sedang berpikir. Jangan perkeruh suasana."


Endang kembali tenang setelah putra kesayangan menegur dirinya. "Kamu benar, ibu salah."


Edi dan Haris saling bertukar tatapan, mereka harus membuat rencana supaya Erina jatuh dan dinilai buruk oleh dewan komisaris. Tapi bagaimana caranya?