MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
SEMBILAN BELAS



Armand, terima kasih sudah menemani aku selama ini. Aku berdoa semoga kamu bisa bahagia bersama wanita lain.


Armand selalu mengingat kalimat itu, doa paling menyebalkan baginya.


Bagaimana bisa aku mencintai wanita lain sementara yang aku sukai ada di depan mata?


Armand tidak pernah berani menyatakan atau mengatakan cinta, dia juga tidak berani melewati batas meskipun banyak yang mendorong. Satu-satunya cara yang dia bisa adalah menghindar dan menjadi pendeta.


Dosaku sangat besar sehingga aku tidak pantas menjadi pendamping kamu, tapi aku ingin mendoakan kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai.


Tidak cukup hanya mendukung dan mendoakan, Armand pun menjadi pendeta yang menikahkan mereka berdua bahkan memberikan berkat untuk kedua anaknya.


Cintaku sudah terkubur dalam dan tidak akan ada yang bisa membukanya.


Abby yang memahami sifat Armand menyayangkan hal itu. "Padahal aku menghancurkan keluarga supaya kalian berdua bisa menikah."


"Pelayan tetaplah pelayan, tidak akan bisa bersanding dengan majikannya." Tawa Armand.


Abby menolak pendapat Armand. "Indonesia adalah negara demokrasi, tidak ada namanya majikan dan pelayan kecuali kamu adalah seekor hewan."


Armand tertawa terbahak-bahak. "Astaga! Anda bisa membuat lelucon tidak lucu."


Abby menggelengkan kepala dengan anggun, sadar tidak bisa mengubah pemikiran lawan bicaranya.


---------


Adair pergi diam-diam ke rumah Erina dan masuk ke dalam kamarnya dengan santai.


Erina yang sedari tadi tidur, terbangun dan terkejut melihat Adair sudah duduk di samping tempat tidurnya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Masuk lewat mana?"


"Nyenyak?"


Erina bangun lalu duduk berhadapan dengan Adair. "Kamu sendiri sudah puas bersama wanita itu?"


"Aku hanya bermain-main, tidak ada yang spesial dengan mereka. Hanya kamu saja di hatiku."


Jika Erina naif, dia akan memakan semua rayuan tunangannya. Sayang sekali dia sudah kenyang dengan hal ini. "Apa yang kamu inginkan?"


"Aku hanya ingin berkunjung."


"Terima kasih."


Hening. Adair mengamati Erina sementara Erina berusaha menghindari tatapannya.


"Apakah kamu takut denganku?" tanya Adair.


"Tidak."


"Kenapa kamu tidak menatapku?"


Erina menatap Adair. "Sudah, nih."


Erina dan Adair saling menatap.


Adair angkat bicara. "Pria membutuhkan wanita, bahkan ingin menghilangkan nafsunya. Kamu tahu hal itu."


"Kamu ingin mengancamku?"


"Erina, kamu harus tahu bahwa kamu adalah milikku. Jangan bermain di belakangku apalagi selingkuh dengan pria lain."


"Aku tahu, kamu bisa membunuh mereka jika aku melakukan itu."


"Anak pintar."


"Lalu kamu bisa melakukannya dengan wanita lain."


Adair terdiam.


Erina menarik kerah kemeja tunangannya, lalu menatap tajam. "Apakah kamu tidak merasa bahwa semua yang kamu lakukan itu sangat menjijikan?"


"Pria tampan yang memiliki banyak uang, tidak bisa disebut menjijikan. Lain halnya dengan pria miskin yang tidak punya apapun."


Kedua mata Erina menyipit lalu paham dengan maksud Adair. "Kamu cemburu pada Rei?"


"Apakah tidak boleh?"


Erina tidak tahu harus menjawab apa.


Adair menyelipkan rambut ke belakang telinga Erina. "Normalnya pasangan pasti saling cemburu, hanya kamu saja yang tidak pernah cemburu."


Kedua mata Erina mengerjap. "Bukankah kamu punya kekasih lain dan teman tidur?"


"Apakah kamu tidak cemburu sedikit pun?"


Erina menjawab jujur. "Tidak."


Adair mendorong Erina hingga punggungnya menyentuh tempat tidur. "Tidurlah."


"Kamu tidak pulang?"


"Aku akan menunggu sampai kamu tertidur."


Erina menutup mata sampai tidur lelap.


Adair menggendong dan membawanya keluar dari rumah.


"Mas mau kemana?"


"Minggir, jangan halangi aku!"


"Tapi mas mau kemana bawa koper sebesar itu?"


"Kalau ada orang yang cari aku, bilang aku tidak ada!"


"Tidak ada apanya? Mas, jangan nakut-nakutin. Aku lagi hamil!"


Pria itu masuk ke dalam mobil lalu keluar kompleks perumahan, mengabaikan istrinya yang memanggil.


Dari kejauhan, sebuah mobil mewah berwarna hitam parkir tidak jauh dari rumah.


"Tuan, target sudah keluar rumah."


"Ikuti, sebagian lagi awasi rumah ini."


"Baik."


Mobil Adair mengikuti mobil itu.


Pria itu menyadari sedang dikejar lalu menaikan kecepatan mobil. "Sial!"


"Dia menyadari kita," lapor sopir Adair.


"Ikuti saja, jangan bloking jalan. Aku suka melihat kepanikannya. Jangan mengebut tapi juga jangan sampai kehilangan dia." Adair menjawab sambil menutup mata sementara tangannya mengusap kepala Erina yang tertidur nyenyak, menjadikan paha Adair sebagai bantalan kepala.


Sopir menambah sedikit kecepatan dan mengejar mobil itu.


Hingga akhirnya mobil pria itu tidak bisa dikendalikan dan menabrak pohon.


Di lokasi sekitar tidak ada orang lewat, salah satu anak buah Adair dari mobil belakang, turun dan melihat kondisi mobil serta orang di dalam lalu melapor padanya.


"Dia masih bernapas tapi dalam keadaan pingsan, kami juga sudah menemukan dokumen bukti penggelapan dan pencucian uang. Sepertinya orang ini mau menghilangkan bukti."


Adair membuka mata. "Tukar isinya. Koper itu mudah terbakar bukan?"


"Ya."


"Berikan minuman alkohol kepadanya sehingga polisi bisa menduga dia sedang mabuk saat menyetir, banyak saksi mata melihat mobilnya mengebut."


"Tapi bagaimana dengan mobil tuan?"


Adair menatap lurus sopirnya. "Kamu tidak mengebut kan?"


"Saya hanya melakukan apa yang tuan perintah," jawab sopir.


"Kamu sudah dengar sendiri."


"Baik, tuan."


Adair memberikan perintah. "Jalan."


Mobil Adair melewati mobil pria itu. Orang yang terlalu dibutakan uang dengan cara instan tidak akan bisa hidup dan mati dengan tenang.


Pagi hari, berita kematian seorang pengacara yang hendak melaporkan bukti korupsi ke polisi telah muncul.


Erina yang cemberut karena tiba-tiba sudah di rumah Adair menjadi terkejut.


"Ada apa?" tanya Adair yang masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan.


Erina menunjuk tv. "Itu- bukankah itu-"


Adair membuka kaki nampan dan meletakan nampan di atas paha Erina. "Aku tidak mengerti kalau kamu tidak menjelaskannya dengan baik."


"Pria itu- bukankah dia adalah kakak dari pasien rumah sakit yang bunuh diri?"


"Kenapa kamu bertanya kepadaku? Aku tidak mengenalnya."


Erina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Benar juga."


"Adanya sosis dan telor rebus, orang rumah belum beli bulanan, aku juga sudah telepon rumah dan bilang kamu di rumahku."


Erina melihat sosis yang gemuk dan bergizi, ah dia merindukannya dan langsung makan. "Terima kasih."


"Hari ini kamu kerja?"


Erina mengangguk.


"Sebaiknya kamu di rumah, suruh sekretaris itu ke rumah ini dan bawa semua dokumen."


"Kenapa?"


"Di luar sedang berbahaya, kamu tidak dengar penjelasan di tv? Pria yang akan mengirim bukti korupsi sudah dibunuh, dia menyetir sendirian sementara kamu di rumah besar itu hanya ada satu pelayan dan satu sekretaris. Bagaimana jika ada apa-apa?"


Erina juga khawatir tapi dia tidak bisa meninggalkan rumah itu dalam keadaan kosong.


"Bagaimana jika kamu menyewakan tempat itu kepadaku? Sementara kamu tinggal di rumahku, toh sebentar lagi kita akan menikah. Pikirkan itu dulu."


Erina memikirkan permintaan Adair.


Adair mencium pipi Erina lalu pergi keluar kamar.