
Erina membuka mata perlahan lalu melihat Adair sedang memakai pakaian. Jam berapa sekarang?
Adair yang mendengar gerakan kecil di atas tempat tidur, menoleh lalu tersenyum. "Sudah bangun?"
Erina menggosok mata lalu mengangguk kecil.
Adair mencium puncak kepala Erina. "Aku harus pergi jika kamu masih ingin mengejar mereka."
Mereka yang dimaksud Adair adalah paman, bibi dan kedua sepupunya.
"Apakah kamu tidak akan pulang?" Tanya Erina dengan nada curiga.
Adair menaikkan salah satu alis lalu duduk di samping Erina, tangannya menelusuri jejak cinta di tubuh Erina.
Erina pun tidak menutupi tubuh telanjang dengan selimut karena merasa percuma, tadi dan selanjutnya pasti Adair melihat semua.
Tatapan Adair semakin dalam. "Bagaimana bisa aku pergi meninggalkan seorang dewi?"
Erina menelan saliva dan berusaha menahan erangan ketika Adair mencubit ****** kanannya.
"Atau- kamu ingin menemani aku?"
Erina menggeleng. "Tidak, aku percaya padamu."
"Sayang sekali."
Cubitan itu semakin keras, Adair sudah mempelajari bagian sensitif Erina.
"Jika, aku tidak pergi. Pasti akan ada yang cemburu, bukan?"
Cubitan itu semakin keras, Erina tidak merasakan geli atau nikmat tapi sakit. "Aku- Adair, sakiit."
"Hm? Aku tidak mendengarnya."
Erina menepuk-nepuk tangan Adair yang semakin mencubitnya dengan keras hingga timbul warna merah keunguan di sekitar ****** yang dicubit Adair. "AKU IKUT! AKU IKUT! AKU AKAN IKUT!"
Adair tersenyum lalu menundukkan kepala dan menjilat bagian yang dicubitnya, sesekali dihisap dengan lembut untuk mengurangi rasa sakit.
Setelah Erina tidak menangis kesakitan dan digantikan nikmat, Adair menjauh. "Ambil pakaian di lemari sana."
Erina yang baru sadar dari godaan Adair, cemberut dan segera bangun dari tempat tidur. "Dasar jahat!"
Saat Erina hendak menutupi tubuhnya dengan selimut, tiba-tiba merasakan sengatan dan kakinya menjadi goyah. "Eh?"
Adair tersenyum dan membantu Erina. "Sepertinya ada anak kecil yang tidak bisa memakai pakaian sendiri. Perlu bantuan?"
Erina semakin cemberut.
"Ayah yakin dia akan datang ke pesta?"
"Ayah yakin sekali." Jawab Haris sambil berusaha menghubungi seseorang dengan perasaan cemas.
"Ayah telepon siapa?"
"Ajeng. Harusnya dia datang juga."
"Mungkin dia sibuk."
Dian mencibir begitu mengingat wajah sok Ajeng. "Memang apa hebatnya dia diundang juga? Dia memang cantik dan terlihat cerdas, tapi kita semua tahu kalau dia mainan para bos besar. Jika kita mengundang dia, bukankah akan mempermalukan nama keluarga kita?"
Haris terlihat berpikir rumit dan tidak setuju dengan pendapat putrinya. "Tetap saja dia dekat dengan tuan Danel. Kita harus bisa mengambil hati beliau supaya kita tidak perlu membayar hutang."
Dian cemberut begitu mendengar perkataan ayahnya. "Ayah, aku tidak ingin bersaing dengan wanita itu di depan tuan. Bukankah Ayah ingin mendekatkan aku dengannya? Kenapa Ayah malah mengundang wanita yang tidur dengan tuan Danel?"
Haris mengerutkan kening lalu mematikan telepon. "Kamu benar, seharusnya kamu yang menjadi tokoh utama. Bukan dia, maafkan ayah."
Dian memeluk pinggang ayahnya dengan sayang. "Tidak perlu minta maaf, aku mengerti maksud ayah."
Haris menepuk pundak Dian dengan sayang. Malam ini dia sudah menghabiskan banyak uang supaya putrinya bisa menarik perhatian Adair Danel. Tidak mungkin pria mata keranjang itu akan melewatkan kesempatan bersama Dian. "Kamu harus bisa menggaet pria itu."
"Ayah tidak perlu khawatir tentang aku, khawatirkan diri ayah sendiri."
Haris tertawa lalu melihat mobil hitam yang dikenalnya. "Lihat, dia datang."
Mobil hitam yang baru masuk ke halaman, melaju pelan hingga berhenti di depan Dian dan Haris.
Adair keluar dari mobil.
Dian hendak menyapa lalu diam membeku ketika melihat sesuatu di leher Adair.
Haris menyenggol tangan Dian.
Dian pulih dari shock lalu tersenyum canggung. "Tuan."
Adair mengangguk singkat lalu masuk ke dalam.
Haris dan Dian mengikuti Adair dari belakang, tanpa memperhatikan sosok Erina di dalam mobil.
Erina sedang menonton di laptop Adair dengan bosan dan mengutuknya di dalam hati.
Sementara di dalam ruangan, Haris dan Dian mengikuti Adair lalu memperkenalkannya dengan tamu Haris.
Tentu saja para tamu terkejut melihat sosok tampan Adair. Pengusaha asing terkenal dan juga kaya di Indonesia.
Satu persatu yang mengenal Adair mengucapkan bela sungkawa.
Adair hanya mengucapkan terima kasih dengan wajah datar. Para tamu yang mengucapkan jadi sulit menebak apakah dia masih dalam masa berkabung atau tidak. Mereka tidak mau menyinggungnya.
Dian menemani di samping Adair dan ditugaskan menjadi pemandu.
Salah satu teman ibu Dian yang tidak mengenal Adair, bertanya. "Dian, apakah dia kekasih kamu? Kenapa tidak dikenalkan ke kami?"
Dalam hati Dian mengutuk teman ibunya yang suka ikut campur.
"Kenapa kamu diam saja, Dian? Apa tante salah bicara?"
Dian menggeleng. "Tidak, tante. Dian cuma terkejut tiba-tiba tante bilang begitu. Perkenalkan, ini tuan Adair Danel lalu tuan, ini teman ibu saya."
Danel tidak bereaksi lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Teman ibu Dian mulai mengomel. "Apakah dia tidak diajarkan sopan santun? Bagaimana bisa pergi tanpa mengucapkan salam ke orang yang lebih tua? Dian, jangan pertahankan hubungan dengan pria tidak sopan itu, masih lebih baik anak tante."
Di dalam hati Dian memaki wanita tua ini, bagaimana bisa membandingkan tuan Danel dengan anaknya yang hanya pemilik usaha laundry?
Dian tersenyum sopan. "Terima kasih atas niat baik tante, saya temani tuan Danel dulu. Kasihan tidak kenal sekitarnya."
"Pergilah, anak-anak zaman sekarang mulai sombong!" Keluhnya dengan sinis.
Diam-diam Dian merasa bersyukur dan mengejar Adair. "Tuan."
Adair berhenti melangkah lalu balik badan dan menatap Dian. "Apa?"
Wajah Dian tersipu malu ketika Adair membalas sapaannya. "Itu-"
Adair menjadi tidak sabar, dia harus mencari brankas yang dimaksud Erina. Berkeliling tidak menghasilkan apa pun, hanya dikenalkan dengan orang bodoh dan penjilat. Tapi dirinya tidak bisa terang-terangan mencari brankas.
"Apakah tuan haus atau lapar?" Tanya Dian yang bingung mencari bahan untuk bicara.
"Bukankah hari ini ulang tahun kamu?"
Dian lupa karena terlalu bersemangat.
"Jika hari ini ulang tahun kamu, bukankah harus berkumpul dengan teman-teman?"
Dian menggeleng, untuk melancarkan semua rencananya, dia tidak mengundang teman sebaya. Hanya mengundang rekan bisnis keluarga, untuk menunjukkan pada Adair bahwa dirinya akan berguna.
Adair bisa melihat tindakan bodoh Dian yang ingin merayunya secara terang-terangan. "Aku haus."
Wajah Dian berseri. "Akan saya ambilkan minuman, tunggu disini sebentar."
Dian pergi tanpa menunggu jawaban dari Adair.
Adair tersenyum sinis dan mulai menganalisa, tidak ada salahnya juga menggunakan Dian tapi dia tidak mau tidur dengan bocah nakal itu- lalu-
Adair melihat salah satu pelayan yang membawa minuman, memiliki tinggi yang sama dengan dirinya.