
Dewi dan Rei melihat Erina sibuk mengalihkan perhatian dengan bekerja, sesekali bertanya kepada Rei yang lebih paham.
Dewi sesekali membawa camilan dari dapur atau membersihkan kamar, mengambil kertas yang jatuh.
Mereka berdua paham kegelisahan Erina.
Erina bertanya kepada Rei. "Aku sempat melihat sistem rumah sakit dan sedikit belajar, hanya saja aku belum paham mengenai alat-alat rumah sakit yang benar-benar berguna dan tidak."
Itulah yang dikhawatirkan Rei ketika Haris menjadi kepala akunting rumah sakit.
"Nona, ada satu hal yang saya harus ceritakan kepada anda."
Erina menatap serius Rei.
"Tuan Haris kadangkala bertemu dengan orang-orang sales, dan jika rumah sakit mau mengeluarkan uang untuk membayar alat-alat itu, tuan akan mendapatkan bagian fee. Itulah sebabnya kadang kala kita mendapatkan alat-alat jelek atau tidak berguna. Biasanya yang harus disalahkan adalah bagian pengiriman yang tidak becus menjaga barang atau pegawai rumah sakit yang sering memakai barang. Jatuhnya lebih mahal ke bagian maintenance barang."
Erina mengerutkan kening dengan bingung. "Jadi, kita juga harus mengganti ala-alat rumah sakit?"
Rei tersenyum canggung. "Bisa jadi, nona. Jika diabaikan, nyawa pasien yang dipertaruhkan dan nama rumah sakit bisa-bisa-"
Kepala Erina bersandar di meja. "Harga alat-alatnya saja ada yang mencapai milyaran, aku harus mendapatkan uang dari mana? Ternyata benar ya, sehat itu mahal. Aku jadi kasihan sama orang-orang yang tidak mampu membayar kesehatannya sendiri."
"Mereka tidak paham maintenance rumah sakit. Membeli alatnya saja sudah mahal apalagi menggunakan listrik, mereka maunya biaya gratis atau di bawah harga pasar, mengeluh rumah sakit adalah tempat orang-orang jahat yang menghisap uang mereka." Rei menjelaskan kepada Erina.
Erina melihat brosur harga alat-alat rumah sakit. "Tapi kita juga melakukan bisnis."
"Kita tidak bisa sembarangan bertindak untuk menjaga nama baik rumah sakit, nona. Saya sarankan, anda tidak melawan tuan Haris. Saya tahu kesabaran anda terbatas, tapi cobalah bertahan sedikit lagi sampai mendapatkan rumah sakit milik keluarga anda." Saran Rei.
"Aku sudah mencoba bersabar, tapi mereka terus-terusan menyerangku. Kalian lihat sendiri kan, bagaimana kelakuan mereka yang meremehkanku. Padahal jika mereka baik dan jujur, aku tidak masalah harta keluarga jatuh di tangan mereka." Cemberut Erina.
Dewi menjadi panik dan menegur Erina. "Nona, jangan berkata seperti itu!"
Rei menatap tajam Erina. "Jangan menyerah dan malas."
"Iya, ya." Erang Erina lalu berdiri. "Aku mau ambil sesuatu di dapur, kalian titip?"
Dewi buru-buru bangkit. "Nona, biar saya yang mengambilnya."
Erina menggeleng. "Aku butuh udara segar, beritahu aku kalian mau titip apa."
Dewi dan Rei menggeleng bersamaan, mereka tidak ingin merepotkan Erina.
"Oke, kalau tidak ada yang mau." Erina keluar dari kamar.
"Anda mau kemana?"
Erina balik badan dan melihat kepala pelayan sudah berdiri di belakangnya. "Astaga, kamu mengejutkanku."
"Maafkan saya, apakah ada yang anda perlukan?"
"Aku mau ke dapur dan mencari udara segar."
"Kalau begitu, saya yang akan mengantar anda."
"Aku bisa sendiri, tidak apa."
Kepala pelayan tersenyum tulus. "Saya sarankan, anda menurut."
Erina menatap lurus kepala pelayan. "Adair sedang bekerja?"
"Ya."
Erina menghela napas panjang. "Tunjukkan jalannya."
-------------
"Kamu bilang tidak tahu apa pun? Salah satu anak buahku menemukan semua dokumen ini, kamu berencana kabur ke luar negeri rupanya." Adair menatap jijik pria itu.
"Sa- saya hanya ingin mengajak keluarga jalan-jalan," kata pria itu sambil menahan sakit. "Tolong jangan bunuh saya, saya masih memiliki bayi."
"Aku memang tidak bisa membunuh kamu, tapi setidaknya aku bisa menyiksa kamu."
Pria itu menggeleng ketakutan. "Sa- saya tidak akan membocorkan rahasia satu pun, masalah penggelapan dana atau argh!"
Salah satu anak buah Adair menendang punggung pria itu.
"Kamu sendiri yang ingin melibatkan diri, kenapa malah melibatkan orang lain?" tanya Adair dengan santai.
"Sa- saya hanya dipaksa."
"Dipaksa?"
"Mereka bilang, kalau saya tidak bicara sejujurnya- anak dan istri saya akan mereka bunuh. Tolong saya, berikan saya perlindungan."
Adair tertawa sinis dan mulai menghisap cerutunya. "Kamu pikir, aku akan percaya dengan cerita bodoh itu? Sudah menjadi rahasia umum, polisi akan naik pangkat jika berhasil menangkap jalur perdagangan narkoba."
Pria itu menggigil ketakutan, tidak berani menatap Adair.
"Kamu menjual informasi klien kepada mereka? Berapa mereka bayar kamu? Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau seratus juta?"
Pria itu menggeleng panik. "Tidak, tuan! Saya hanya memberikan informasi untuk pemakai-pemakai kecil, saya tidak berani memberikan informasi untuk klien besar!"
Adair tersenyum licik. "Pembuat masalah."
Pria itu bergidik ketakutan. "Sa- saya hanya ingin mendapatkan sedikit uang, tolong jangan bunuh saya!"
Adair menggerakkan sedikit dagu untuk mengusir pria itu.
Dua anak buah Adair yang berbadan besar, menyeret pria itu pergi keluar.
"Tuan?"
"Lempar orang itu ke dalam rumah bersama anak dan istrinya, jangan sampai mereka keluar rumah lalu bakar di malam hari." Perintah Adair.
Tangan kanan Adair mengangguk kecil. "Baik."
"Pastikan jangan sampai ada dokumen yang keluar sedikitpun dari rumah itu, sadap juga jaringan telepon rumah mereka selagi hidup. Buat seolah-olah ada masalah dengan kabel listrik mereka supaya terbakar."
Sudah menjadi peraturan tidak tertulis, para penghianat yang sudah datang ke rumahnya harus mati. Itu sebabnya jarang ada yang mau datang ke rumah besarnya, hanya para anak buah setia yang mau datang.
"Aku tidak akan menolerir penghianat, dia harus menerima hukuman." Kata Adair sambil menjatuhkan cerutu mahal ke lantai marmer dan menginjaknya sampai mati.
"Baik."
Adair pergi meninggalkan anak buahnya dan berjalan menuju dapur untuk cuci tangan. Dia jijik sempat menyentuh pria itu.
Begitu tiba di dapur, dia melihat pemandangan tidak terduga. Erina sedang memasak dengan diawasi kepala pelayan.
Adair bersandar di pintu yang terbuka dan melihat senyum cantik Erina. Dunia hitam tidak bisa sembarangan di masuki orang, kedua orang tua Adair masuk dunia ini demi melindungi ibu Erina sebagai kesetiaan mereka yang sudah mendarah daging sampai ke tulang.
Jika diperhatikan lebih cermat, wajah Erina mirip dengan ibunya yang cantik, para pria pasti akan jatuh cinta dengan hanya sekali melihat.
Adair jadi membandingkan para pria dengan dirinya yang lebih tampan, kaya dan pintar tapi jika dibandingkan dengan bisnis yang dijalaninya, mungkin dia kalah dari para pria yang masih murni dan polos.
Adair memutuskan masuk ke dapur dan memeluk tunangannya dari belakang.
Erina terkejut.