
Erina melihat handphone, dia sudah tahu Adair tidak akan membalas pesannya lagi setelah membaca pesan tadi. Padahal dia tidak bermaksud menyindir pria itu.
Ada banyak pria brengsek di sekitarnya, salah satu adalah ayah kandung sendiri yang menganggap anak perempuannya tidak berguna. Mungkin bagi orang lain, mencekoki anak perempuan dengan uang dan barang-barang mahal merupakan keberuntungan tapi bagi Erina, itu merupakan penyiksaan.
Yang dia inginkan selama ini hanya ingin belajar seperti kakaknya.
Masih segar di ingatannya bagaimana sang ibu memohon sambil menangis.
"Ibu mohon, jangan tunjukkan kepada siapapun jika kamu pintar. Kamu cukup bermain seperti anak-anak seusia kamu."
Erina kecil tidak paham maksud ibunya. "Kenapa? Apakah ayah akan menghukum aku? Kakak akan memukul aku lagi?"
"Apakah kakakmu memukul kamu?"
Erina kecil menutup mulut dengan kedua tangan.
"Dengar Erina, tidak semua orang suka melihat seorang perempuan bisa memimpin. Jadilah dewasa dan lepas dari keluarga ini, carilah jati diri kamu lalu kumpulkan sebanyak mungkin barang-barang supaya bisa dijual."
"Ibu- apakah ibu ingin mengusir aku?"
"Ibu tidak ingin masa lalu terulang kembali, ibu mohon jadilah anak biasa."
Erina tidak ingin ibunya menangis, jadi dia hanya bisa patuh mengikuti aturan. Seiring berjalannya waktu, ayah dan kakaknya semakin tenang dan menganggap Erina hanya anak bodoh dan tidak mengerti apapun, mereka juga mulai menyayanginya.
Erina merasa sedih, Adair selalu menghiburnya tapi dia tahu, tidak bisa hanya menggantungkan hidup ke tunangan sendiri.
"Apa Erina sudah tahu kisah putri Diana?"
Erina kecil mengangguk, dia tumbuh dengan membaca kisah hidup putri Diana yang cantik tapi berakhir menyedihkan.
"Dia cantik dan dicintai banyak orang, tapi satu-satunya cinta yang dia harapkan yaitu sang suami, tidak akan pernah bisa muncul."
Erina melihat wajah sedih sang ibu saat duduk di pangkuannya.
"Jika kita mencintai seseorang terlalu berlebihan maka kita akan hancur dengan sendirinya."
"Apakah ibu pernah mengalaminya?"
"Ya."
"Siapa? Pacar ibu?"
"Bukan, tapi ayah kandung ibu."
"Kakek?"
"Ya."
"Apakah kakek jahat?"
"Ya."
Erina bisa melihat kesedihan di mata ibunya, untuk menjawab 'ya' terdengar sangat berat.
"Karena itu Erina, jangan terlalu mencintai siapapun agar hidup tidak hancur."
Erina tidak mengerti pesan ibunya, tapi suatu ketika Tuhan mengingatkan kembali dan segera menunjukannya langsung.
Nenek dari pihak ibu marah dan menyumpahi kakeknya karena telah selingkuh dan memiliki anak di luar nikah.
Kakek yang manipulatif, ayah yang sok dewasa tapi pada akhirnya menurut pada sang ibu, kakak yang hanya ingin menjadi nomor satu.
Bagi Erina, mereka semua brengsek. Begitu juga dengan dirinya, yang hanya duduk diam dan menunggu keluar dari hubungan ini. Dia hanya ingin hubungan keluarganya tidak kacau.
Hingga pada akhirnya ayah, ibu, kakak dan kedua orang tua Adair meninggal dalam kecelakaan.
Erina menatap langit malam dan bersumpah pada dirinya sendiri. Aku akan mempertahankan semua kerja keras kalian.
--------
Pagi hari, salah satu anak buah Adair datang dan melihat kondisi mobil lalu menghubungi atasannya.
Erina menunggu dengan sabar.
Dewi bertanya pada Erina. "Nona akan menjual semuanya? Lalu bagaimana dengan berangkat kerja?"
"Tidak, jangan. Lebih baik anda beli mobil bekas tapi masih bagus, Rei bisa membantu nyetir." Saran Dewi.
Rei mengangguk setuju. "Mulai hari ini saya tinggal di rumah ini, anda tidak perlu khawatir."
Erina mengangguk lalu mulai mendapatkan ide. "Rei, kamu sudah lama ikut ibuku. Bagaimana jika kamu membantu aku belajar manajemen rumah sakit yang kamu ketahui? Aku tidak terlalu percaya dengan orang-orang di rumah sakit."
"Tentu saja, nona. Saya akan membantu anda belajar, jangan terlalu khawatir."
Erina menghela napas lega. "Terima kasih."
Anak buah Adair sudah selesai cek mobil dan memberikan sebuah cek ke Erina. "Nona, ini ceknya. Dipastikan dulu apakah jumlahnya sesuai, kami akan membawa mobil setelah anda mengambil uangnya."
Erina terpana melihat cek di tangannya, begitu juga dengan Dewi dan Rei.
Dewi berkomentar kagum. "Nona, anda mendapatkan teman yang baik."
Rei bertanya ke pria di hadapan Erina. "Apakah kalian yakin memberikan harga seperti ini? Kalian tidak akan menjualnya kembali?"
Anak buah Adair mengalihkan tatapannya ke Rei. "Tuan besar hanya ingin menambah koleksi mobil sekaligus membantu keluarga nona muda Tjokro, kebaikan masa lalu tidak akan pernah dilupakan beliau."
Erina menggenggam erat cek itu. Tidak disangka akan mendapatkan uang sebanyak ini dalam sekejap meskipun memakai cara curang. "Bolehkah saya cairkan dulu uangnya? Anda bisa menunggu di dalam rumah."
"Tentu saja." Angguk anak buah Adair.
BANG! BANG!
"BUKA!"
Semua orang terkejut lalu menoleh ke sumber suara. Edi dan Dian menggedor gerbang rumah dengan kasar.
"BUKA!"
"INI KENAPA PAKAI ACARA DIKUNCI SIH?!" teriak Dian dengan kesal.
Erina memijat keningnya lalu berjalan santai hingga berdiri cukup jauh dari gerbang. "Mau apa kalian ke rumahku pagi-pagi sekali?"
Dian menendang gerbang rumah dengan keras. "Kamu sendiri kenapa tidak tahu malu? Mengunci gerbang rumah, memangnya kami maling?"
"Kalian memang pernah tinggal di sini tapi ini rumah orang tuaku bukan rumah kalian." Tegur Erina.
Dian membalas Erina. "Ayahku adalah adik kandung ayah kamu, dia juga berhak atas rumah ini semenjak membantu usahanya selama ini. Ibumu dan kamu hanya duduk mengganggu."
"JANGAN MENGHINA IBUKU!" bentak Erina.
"Faktanya memang begitu, ibumu bisa duduk di jabatan penting berkat ayah kamu. Jadi jangan merasa senang dulu hanya karena kamu putri kandungnya."
Ini sebabnya kenapa Erina tidak suka melihat ayahnya terlalu baik menerima anak haram tidak tahu malu!
"Pergi kalian! Aku tidak sudi melihat kalian semua!" usir Erina.
"Ayahku ingin mengambil koleksi mobil kakaknya, awas kamu jual hanya untuk membayar hutang rumah sakit!" ancam Dian.
Seberapa tidak tahu malunya adik tiri ayahku?
"Aku menjualnya lantas kenapa? Semuanya adalah barang-barang ayahku bukan milik kamu!"
Dian menggenggam erat pagar gerbang dengan marah. "Salah satu mobil itu mau dipakai ayahku untuk bisnis, kamu ingin menghancurkan bisnis keluargaku?!"
BRAK!
Dian mundur ke belakang hingga mengenai dada kakaknya karena terkejut tiba-tiba seseorang menendang pintu pagar denganĀ keras.
"Anak kecil, berani sekali kamu bicara kasar di depanku! Aku sudah membeli mobil-mobil ini lunas! Lantas kenapa?"
Dian menatap kesal pria itu lalu melirik Erina dan menuduhnya yang tidak-tidak. "Kalian pasti memiliki hubungan khusus, tidak mungkin dalam satu hari bisa mendapatkan pembeli mobil. Erina, kamu sudah tidur dengan berapa pria?!"
Edi menggeleng kesal. Dia sudah meremehkan kecepatan Erina, tadinya dia mengira mobil tidak akan terjual cepat tapi nyatanya Erina bisa mendapat pembeli.
"Erina, mobil-mobil ini adalah kesayangan ayah kamu. Bagaimana bisa kamu menjualnya? Lebih baik serahkan kepada ayah kami dan akan dijaga dengan baik."
Erina tertawa mengejek. "Menjaga? Kalian memiliki hutang besar, bagaimana bisa menjaga mobil koleksi ayah? Jangan-jangan kalian ingin menjualnya lalu memakan sendiri hasil penjualan. Hal yang sudah kalian lakukan dengan barang-barang di rumahku!"