MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
DUA PULUH TUJUH



Armand mengangguk puas. "Memang seharusnya begitu, kalian tidak bisa membayar hutang- berarti kalian harus menuruti perintah kami."


Pasangan suami istri tidak berani membantah.


"Sekarang aku bertanya untuk hal lain, beberapa bulan lalu sebelum anak dari pemilik rumah sakit mengambil alih, apakah kalian bekerja sama dengan pihak akunting?"


Pasangan suami istri saling menatap lalu menggeleng bersamaan tanpa menatap Armand.


Armand yang melihat gelagat mereka, menyeringai. "Ah, kalian tidak tahu ya?"


Pasangan suami istri masih tidak menjawab.


Armand menjambak rambut istri pria itu. "Tidak tahu atau tidak mau menjawab?"


Istri pria itu ketakutan sambil menangis. "Tidak, saya tidak tahu apa pun."


Si suami hanya menunduk ketakutan.


Armand yang mengintimidasi semakin erat menjambak rambut wanita itu. "Tidak tahu apa pun?"


"Benar, saya-" istri pria itu terdiam ketakutan lalu mendengar suara tidak asing.


Armand dan istri pria itu menoleh.


Sang suami ketakutan sampai mengompol.


Armand mendorong wanita itu dengan keras lalu mengintimidasi si pria. "Jadi, hanya kamu yang tahu?"


Pria itu menggeleng ketakutan. "Saya berani bersumpah, saya tidak tahu apa pun. Saya hanya- hanya-"


"Berikan aku jawaban yang jujur sehingga aku bisa menilai sendiri."


Pria itu melirik istrinya yang sudah kembali berlutut lalu ke Armand.


"Tidak mau menjawab? Tidak apa."


Pria itu tahu, Armand bukan pria baik yang bisa mengatakan hal itu. Pria itu dengan nada gemetar, berkata. "Sa- saya benar-benar tidak tahu, tapi saya memang disuruh bertemu dengan akunting salah satu rumah sakit yang melakukan pengadaan obat besar-besaran."


Armand mengerutkan kening.


"Saya masukkan proposal dan mereka tertarik dengan proposal saya, dengan hadiah untuk orang-orang yang bisa masukkan saya."


"Apa yang sudah kamu berikan ke mereka?"


"Uang sesuai ketentuan."


"Berapa?"


"Saya lupa tapi dokumennya ada, saat ini dokumennya ada di bank."


"Terus?"


"Saya ingat akunting sempat minta harga paling rendah, saya sempat menolak karena harga yang saya berikan jauh lebih murah dari tempat manapun."


"Kenapa dia minta obat dengan harga paling murah?"


"Untuk di mark up dengan harga normal pembelian dan dia mendapat keuntungan banyak."


Armand mengangkat salah satu alisnya.


"Dia menyarankan saya untuk memberikan obat-obat reject sehingga saya tidak rugi banyak. Tapi, saya sempat menolaknya! Saya berani bersumpah!"


Sang istri menatap sedih suaminya yang tergoda hal buruk. "Suamiku, bagaimana jika pihak rumah sakit investigasi dan menuntut usaha kita? Bagaimana caranya kita mengembalikan semua hutang?"


Si suami hanya menggeleng tidak berdaya. "A- aku tidak punya pilihan karena jumlah uangnya sangat menggoda, akunting itu pintar bicara."


Armand menarik napas dan bicara dengan nada tidak sabar. "Lanjutkan dan jangan sampai ada yang tertinggal."


Sang istri menutup wajah dengan kedua tangan, kecewa dengan perilaku suaminya.


"Bawa semua surat perjanjian, aku menunggu." Perintah Armand sambil duduk bersandar di kursi dan menatap dingin mereka berdua. "Aku ingin melihatnya sekarang."


Pria itu mengangguk ketakutan.


--------


Malamnya, Erina membaca dokumen yang diberikan Adair, wajahnya berkerut marah dan tidak bisa berkata-kata.


Rei yang berdiri di belakang, menggeleng tidak percaya. Bahkan seorang pria yang mengaku paman dan keluarga dari anak yatim piatu, berani melakukan hal sekotor ini."


"Darimana kamu mendapatkannya?" Tekan Erina ke Adair.


Adair yang duduk bersandar di sofa dan berhadapan dengan Erina, menjawab santai. "Tidak penting aku mendapatkannya darimana, yang penting menyelesaikan masalah sekarang."


Erina menipiskan bibir lalu menyerahkan ke Rei. "Apakah surat ini asli?"


Rei mengangguk tanpa ragu. "Kertas yang digunakan adalah kertas khusus yang dipesan rumah sakit, lalu ada cap dan tanda tangan asli. Sepertinya kita harus menyerah."


Erina memijat keningnya. "Menyerah? Aku harus menyerah di situasi seperti ini?"


Rei menatap tidak berdaya Erina. "Nona, masalahnya kasus muncul pertama kali di rumah sakit kita. Hal ini dibuktikan dengan beberapa obat reject yang dibeli para korban, untungnya pihak bpom cek semua obat secara menyeluruh jadi kita tidak terlalu disalahkan.


"Tapi jika kita mengangkat kasus ini di publik, maka akan ketahuan kita membeli obat reject. Publik akan tidak percaya pada rumah sakit, bukan manajemen. Sementara kita masih harus membayar gaji dan juga sebagian hutang."


Erina menghela napas.


Adair mengangguk setuju. "Tidak perlu diungkapkan di publik, yang penting kita tahu dan bisa mengambil satu langkah ke depan."


Erika masih tidak setuju dengan argumen Rei. "Yang menandatangani adalah akunting, paman. Pasti paman yang akan disalahkan jika publik tahu."


Adair menggeleng pelan. "Jangan berpikiran naif, Erina. Jika pihak rumah sakit menyalahkan hanya satu pihak saja, maka akan ada pihak lain yang mencoba sembunyi untuk mencari aman atau justru menekan kamu."


"Menekan aku?" Tanya Erina tidak mengerti di awal lalu terbelalak ketika mengerti apa yang dimaksud Adair. "Mereka akan menuntut aku dan menganggap aku tidak bisa mengelola manajemen hanya karena menyalahkan satu pihak yang jelas-jelas bersalah?"


Rei mengangguk tanpa suara sementara Adair menjawab dengan senyum sedih.


Erina tidak bisa berkat-kata, pamannya terlalu licik untuk merampok uang rumah sakit dan dirinya masuk ke dalam perangkap dengan mudah.


Adair menatap Erina. "Aku bisa membantu kamu."


Erina mengangkat kepala lalu menggeleng tidak berdaya. "Terima kasih tapi- aku rasa mendapatkan ini sudah cukup."


Adair mengangkat kedua alis. "Apa maksud kamu cukup? Apakah kamu tidak ingin melawan mereka?"


Kepala Erina menunduk. "Aku-"


Rei paham dengan maksud Adair dan memberikan saran. "Nona, bagaimana jika kita terima saja bantuan dari tuan?"


"Tapi aku tidak ingin merepotkan, Adair."


"Kamu tidak merepotkan aku. Aku malah suka jika kamu mau menerima niat baik aku, biar bagaimana pun kamu calon istriku dan aku tidak bisa menutup mata begitu saja."


Erina tahu Adair tidak akan pernah mempermasalahkannya, tapi yang jadi masalah adalah- ketergantungan. Erina memiliki sifat jelek itu.


Adair memberi masukan. "Semua orang lebih tahu kamu anak manja dan menghamburkan banyak uang orang tua, tidak ada yang tahu prestasi kamu karena tertutup dengan kehebatan kakak laki-laki yang merupakan pewaris. Erina, saat ini kamu hanya punya aku."


Erina menatap tegas Adair. "Lalu apa yang kamu dapatkan dengan membantu aku? Aku tidak punya apa pun yang bisa aku berikan."


"Tubuhmu."


"Ya?" Tanya Erina yang terkejut, Rei juga terkejut dengan jawaban Adair.


Adair tersenyum licik. "Aku ingin tubuhmu, Erina."