MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
SEBELAS



Adair masuk ke dalam rumah mewah dan melihat seorang wanita tua berwajah khas Inggris sedang duduk menikmati teh dan kue lembut dengan ditemani alunan biola Paganini.


Abby yang sedari tadi menikmati semua itu, mendongak lalu tersenyum. "Seperti biasa, tidak ada langkah kaki."


Adair tersenyum lembut lalu mencium tangan Abby. "Bagaimana kabar nenek buyut?"


"Ah, wanita tua yang hanya menunggu waktu. Terima kasih sudah menghibur wanita tua ini dan membawakan banyak hadiah."


"Hanya buah." Adair menjentikkan jari lalu lima pelayan muncul membawa buah yang sudah dibungkus dan masuk ke dalam dapur. "Supaya nenek buyut sehat."


"Terima kasih, Adair."


Adair melihat sekeliling ruang tamu yang besar dan ditata mewah. "Ayah dan ibu selalu cerita mengenai kastil bersejarah, dan bangga telah melayani keluarga."


Abby tersenyum lembut. "Begitulah kedua orang tua kamu, sangat setia dan tidak diragukan lagi. Ngomong-ngomong kenapa kamu datang ke sini? Apakah ada urusan?"


"Erina mendapat masalah karena keluarga dari pihak ayahnya, apakah anda tidak ingin turun tangan?"


Abby meletakkan cangkir teh ke alas lalu menatap bingung Adair. "Tidak perlu aku yang turun tangan, aku cukup melihat dari jauh. Kenapa? Apakah kalian bertengkar?"


"Aku- tidak bisa membantunya."


"Kamu sendiri yang memutuskan masuk dunia hitam, nenek tua ini tidak bisa membantu banyak. Atau- kamu ingin mengurangi umurku?"


"Setidaknya jika anda bertemu dengan Erina, dia merasa aman dan-"


"Terakhir kali aku ikut campur masalah anak-anak muda, jadi menghancurkan keluarga. Aku tidak mau turun lagi dan menghancurkan yang lain."


"Tapi waktu itu nenek tidak punya pilihan lain."


"Aku tidak punya pilihan karena terdesak dan tidak ingin kehilangan cucuku. Lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilangan satu-satunya keturunanku." Abby menepuk punggung tangan Adair. "Aku mendukung kamu."


Adair tersenyum kecil. "Terima kasih nenek buyut."


"Adair, jangan takut melangkah."


"Nenek buyut selalu menganggap aku seperti anak kecil."


Yang membuat Adair merasa bersalah terhadap Erina adalah karena dirinya bisa mengenal Abby sementara Erina tidak. Abby adalah nenek buyut Erina dari pihak ibu kandung.


"Aku akan muncul setelah kalian berdua menikah, untuk sekarang tidak bisa muncul karena Erina harusĀ  bisa bersama kamu. Tinggal dia keturunanku sekarang."


"Aku mengerti." Janji Adair.


"Nah, karena kamu sudah ada di sini. Bagaimana jika kita makan malam?"


"Ya."


-------


Entah Erina harus merasa bersyukur atau khawatir dengan kehadiran Ajeng, setidaknya dia diberikan waktu oleh dewan direksi untuk membayar hutang-hutang rumah sakit.


Seluruh isi rumah yang terlihat mahal dan berharga di ambil keluarga paman tanpa mereka malu, tapi mereka tidak bisa mengambil mobil-mobil keluarganya karena kunci garasi dikunci dan yang membawa kunci adalah dirinya.


Sepulangnya dari rumah sakit, Erina segera mengunci pintu pagar rumah dan membuka pintu garasi. Lima mobil mewah berjejer rapi.


Dewi yang berdiri di samping Erina bersama dengan tangan kanan ibu Erina, sudah terbiasa melihat mobil mewah ini.


"Apakah anda akan menjualnya?" tanya tangan kanan ibu Erina.


"Ya." Erina sudah memutuskan dari awal.


Dewi menjadi cemas. "Tapi untuk bisa menjualnya dengan harga yang tidak jatuh, butuh waktu."


"Benar, nona."


"Lalu aku harus bagaimana? Mempertahankan mobil dan diam saja mereka semua akan mengambil harta keluargaku?" tanya Erina. "Dengan menjual mobil-mobil ini, cukup untuk membayar hutang."


Erina menatap tangan kanan ibunya. "Ibu sudah meninggal, sekarang kamu bisa bebas bekerja dimanapun. Ikut bersamaku bisa saja menjatuhkan reputasi kamu, Rei."


Rei tersenyum. "Nona muda, apakah saya terlihat orang yang haus kekuasaan seperti keluarga anda? Saya pasti akan menemani anda sampai akhir."


Erina menatap bingung Rei. "Tidak perlu berlebihan, nona. Semuanya pasti akan baik-baik saja, kami tetap akan bersama anda."


Erina tersenyum canggung. "Terima kasih."


Rei segera foto semua mobil dengan handphonenya. "Saya akan mencari pembeli tercepat dan mau mengeluarkan banyak uang, teman-teman tuan dan nyonya besar pasti ada yang mau bantu."


Erina menghela napas panjang. "Sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan hubungan relasi tapi- mhm- aku akan coba jual ke teman aku."


"Ah, iya. Pasti ada teman yang akan membantu nona." Rei mengangguk semangat.


Dewi sangsi akan hal itu karena paham bagaimana karakter Erina yang lebih suka menyendiri. "Nona."


Erina menepuk pundak Dewi. "Tidak apa, doakan saja mereka mau."


"Nona, apa perlu saya merayu calon pembeli?" tanya Dewi.


"Tidak! Tidak perlu!" Erina menggeleng ngeri.


Rei juga melakukan hal yang sama. "Jangan melakukan hal aneh."


Dewi cemberut karena merasa tidak berguna.


Erina dan Rei tertawa begitu melihat reaksi Dewi.


-------


Adair yang sudah makan malam bersama Abby, duduk di ruang tengah sementara Abby istirahat lebih cepat.


Adair melihat pesan dari Erina. "Hm? Dia menjual mobil-mobil itu?"


Erina mengirimkan pesan sekaligus foto. 'Aku tidak terlalu paham harga mobil, aku percaya padamu. Jadi bisa bantu aku menjual mobil-mobil ini secepatnya? Sebelum paman dan keluarganya datang dengan alasan lain.'


Adair membalas cepat kiriman Erina. Aku akan menyuruh orang untuk ke rumah kamu besok pagi, bersiaplah. Jika ada yang bertanya kamu jual dimana, apa yang akan kamu jawab?


Tidak butuh waktu lama, Erina mengirimkan pesan. 'Kenalan ibu aku, tidak perlu khawatir karena sulit memiliki dua wajah di depan umum.


Adair hampir tertawa begitu membaca pesan dari Erina. Memiliki dua wajah sangat menguntungkan aku, kamu tidak mau belajar?


Tidak butuh waktu lama Erina membalasnya. 'Tidak untuk sekarang, aku sibuk. Jika ada waktu luang, ajarkan aku.'


Adair tersenyum. Erina sudah tidak marah lagi pada dirinya, untuk sekarang.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. 'Sudah makan malam?'


Tidak ada balasan cepat, Adair memegang erat handphone. Dia memang sudah kenal lama dengan Erina, perasaan yang tumbuh adalah perasaan melindungi seorang kakak terhadap adiknya.


Adair adalah anak tunggal sementara Erina adalah anak bungsu yang diabaikan keluarganya.


Erina membalasnya dengan foto.


Adair tersenyum. Hanya nasi dan telor ceplok, tidak sesuai dengan kondisi dia tadi makan dengan daging sapi mewah.


Adair membalas pesan Erina. Aku tidak bisa mengirim makanan untukmu supaya tidak menimbulkan kecurigaan, suatu hari nanti aku akan menyewa koki yang kamu inginkan dan makan sepuasnya hingga memiliki berat badan seratus kilo.


Erina membalas pesan dengan cepat. 'Dan kamu bisa selingkuh sepuasnya dengan alasan aku tidak bisa menjaga berat badan?'


Adair mengerutkan kening. Apakah aku terlihat seperti pria yang suka membalikkan fakta?


'Aku tidak tahu, aku belajar itu dari lingkungan sekitar. Belajar bagaimana brengseknya seorang pria.'


Adair menutup handphone dan memutuskan pulang ke rumah dengan senyum licik, dia tidak membalas pesan Erina lagi.