
Adair yang mendengar ucapan sarkas Erina tertawa geli. "Siapa yang kamu bicarakan, Erina?"
Erina cemberut. "Siapa lagi? Kamu kan."
Adair merangkul bahu Erina. "Apakah kamu sedang membaca cerita roman?"
"Anggap saja begitu." Erina memutar bola matanya dengan bosan. "Katakan padaku, apakah kamu tidur dengan Dian?"
"Apakah kamu marah jika aku tidur dengannya?"
Erina tidak pernah mempermasalahkan Adair tidur dengan wanita mana pun, pria itu juga bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Namun yang menjadi masalah adalah Erina tidak mau melihat Adair tidur dengan sepupunya yang licik dan jahat. "Aku memang tidak suka kamu tidur dengannya."
Adair mengangguk paham. "Baiklah, Tuan Putri. Jangan marah kepada tunangan yang sudah berjuang keras ini. Lihat."
Erina mengambil dokumen di tangan Adair. "Kamu sudah mendapatkannya? Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan dokumen ini? Apakah Dian menukarnya sebagai kompensasi dia bisa tidur dengan kamu?"
Adair menaikkan salah satu alis. "Apakah kamu tidak cemburu kepadaku?"
Erina menoleh. "Apakah aku harus cemburu? Bukankah pria paling benci dikekang."
Memang benar, Adair mengakuinya. Namun entah kenapa dia tidak suka jika Erina memegang prinsip itu. "Aku lebih suka melihat calon istriku cemburu."
"Jika aku cemburu, apa yang bisa aku dapatkan dari kamu? Bukankah cemburu itu sangat melelahkan?" tanya Erina sambil memasukkan dokumen ke dalam tas laptop. "Aku tidak suka cemburu jika tidak ada keuntungannya sama sekali."
"Bagaimana jika aku ingin melihat kamu cemburu?"
"Hadiah?" tanya Erina.
"Aku." Adair menggesekkan hidung mancungnya ke Erina.
Erina cemberut dan tidak menyukai jawaban Adair. "Tidak, kamu sudah milikku sejak awal. Bagaimana bisa aku tidak mendapatkan hadiah, setelah mengeluarkan energi yang melelahkan?"
"Jika kamu cemburu-" Adair memainkan kancing baju atas Erina. "Aku bisa memberikan hadiah yang kamu inginkan."
"Apa itu?" tanya Erina sambil bersandar di tubuh Adair sementara kepalanya mendongak manja, tangan kanan melingkar di pinggang sang tunangan. Erina yakin, para kekasih Adair yang lain, tidak akan pernah bisa mendapatkan hak istimewa ini. "Aku lebih suka hadiah yang memiliki banyak uang sehingga bisa dijual."
Adair mengerutkan kening. "Hadiah untuk dijual? Apakah kamu tidak bisa menghargai si pemberi?"
Erina mengangkat bahu dengan anggun. "Kamu sudah mengenal aku dengan baik, dari dulu aku selalu menjual hadiah dari para penggemar pria."
Adair mengetahui hal itu dan tidak ikut campur dengan keputusan Erina, dia justru senang mendengar keputusan tunangannya yang sedikit materialistis.
"Jangan bilang kamu tidak pernah mendengar berita tentang aku," kata Erina.
Adair menggelengkan kepala. "Tidak, aku pernah mendengarnya tapi tidak menyangka kamu bisa melakukannya kepadaku. Apakah aku bukan calon suami yang baik? Tidak bisakah kamu pertimbangkan hadiah pemberian aku dengan menyimpannya?"
Erina cemberut, dia tidak suka menyimpan barang. Semua koleksinya saja sudah dirampok sepupu sendiri. "Aku tidak suka menyimpan barang yang nantinya berakhir di tangan orang lain."
"Apakah kamu berpikir kita akan berpisah?"
Erina menggeleng lalu menyandarkan pipinya di dada Adair, aroma parfum Dian masih menyengat di pakaian Adair, menjijikan. "Entahlah, semuanya tergantung padamu."
Adair mempererat pelukannya. "Kita tidak akan pernah berpisah," tegasnya.
Erina tersenyum dan tidak mengatakan apa pun.
"Aku serius, Erina."
"Ya."
"Lalu sekarang kamu tidak memberikan hadiah untuk aku?"
"Tidak," tegas Erina.
Erina menghela napas ironi dan sedikit menjauh dari tubuh Adair, tangannya hendak melepas jas Adair.
Adair menangkap tangan Erina. "Kenapa kamu tidak menjawab dan malah hendak membuka pakaianku?"
Erina memutar bola matanya dengan bosan. "Jika aku melakukan itu, kamu pasti akan terus menerus meminta hadiah kepadaku."
Adair berbunga ketika mendengar jawaban Erina, rupanya wanita mungil ini sangat mengenal baik sifatnya. "Aku memang akan menuntut hadiah kepadamu, kamu pasti tidak akan keberatan."
"Aku yang keberatan, aku tidak sekaya kamu. Adair." Erina menarik tangan lalu berusaha membuka jas Adair. "Cepat lepas dan bakar jas itu! Aku tidak tahan dengan baunya yang menyengat."
Adair menurut lalu melempar jas itu ke lantai mobil. "Sudah."
Erina mencium kemeja Adair lalu menghela napas lega.
"Apakah baunya sudah tidak tercium lagi?" tanya Adair dengan geli. Hanya Erina yang bisa melakukan ini kepadanya, para kekasih lain tidak berani bersikap egois karena takut ditinggalkan dirinya. "Aku bisa membuka yang lain jika kamu mau."
Erina menggeleng tegas. "Tidak, sudah cukup." Setelah itu dia kembali bersandar di tubuh Adair dan melingkarkan tangan di pinggang tunangan. "Dian sangat buruk dalam mencari wangi parfum, dia terlalu norak. Baginya, semakin menyengat akan membuat lawan jenis penasaran dan tertarik. Menjijikan." Cibirnya.
Adair baru kali ini mendengar omelan Erina tentang wanita lain, biasanya dia hanya diam atau menghindari membahas wanita lain supaya tidak terdengar cemburu. Sekarang dia mulai memikirkannya. Mungkin saja Erina memang cemburu namun tidak sadar, atau tidak mau mengatakannya karena terlalu takut melukai harga diri.
Mau alasan manapun, Adair tetap suka Erina yang sekarang, dia mengutarakan pikirannya ke sang tunangan. "Sejak kita sudah menyatu di atas tempat tidur, kamu sekarang mulai cerewet."
Wajah Erina merona ketika mendengar komentar Adair. "Apa sih? Apa kamu mau cari mati?"
"Uh, aku takut." Goda Adair.
Erina cemberut.
Adair tidak tega menjahili Erina lagi. "Aku tidak meniduri Dian, aku mencari orang lain yang memiliki perawakan sama denganku untuk menidurinya."
"Apakah dia tidak menyadarinya? Kamu mematikan lampu?" tanya Erina yang masih menyandarkan kepala di dada Adair. "Atau dia memang bodoh karena dibutakan nafsu?"
Adair menghela napas. "Aku buat dia mabuk dan sedikit memberikan obat."
"Oh, waw."
"Sebentar lagi polisi juga datang ke tempat itu untuk membereskan semuanya, setelah mendengar adanya obat-obatan di dalam pesta."
Erina yang tadinya memejamkan mata, spontan membuka mata lalu menegakkan tubuhnya untuk menatap Adair.
Adair tersenyum licik. "Aku hanya memberikan sedikit hadiah untuk mereka, siapa tahu dengan begitu- mereka jadi sedikit kehilangan uang."
"Kamu yang memberikan obat, dan kamu yang melaporkannya?" tanya Erina dengan tidak percaya. "Asataga. Dasar pria licik!"
"Aku memang licik." Adair mengakui kelicikannya dengan baik. "Jika aku tidak melakukan itu, bisa-bisa Dian meniduri aku."
"Tapi-"
"Sejak awal salah satu anak paman kau, melakukan transaksi narkoba di dalam pesta. Tidak perlu khawatir, mereka pasti bisa keluar dengan selamat setelah mengeluarkan sedikit uang."
Erina tidak tahu bahwa Adair sudah merencanakan hal itu dengan cepat dan singkat, dia tertawa dan mencium bibir tunangannya. "Anak pintar."
Adair terpana dengan tindakan Erina lalu memeluk tubuh tunangan mungil supaya bisa menempel ke tubuhnya lalu mereka berciuman secara intens.
Erina yang tidak memakai apa pun di dalam pakaiannya merasakan sengatan muncul ketika tubuh mereka melekat. "Mhm-"
Adair mengusap punggung Erina dari atas sampai ke bawah dan mengulanginya terus menerus hingga tunangannya duduk di atas paha Adair.
Adair dan Erina saling menatap ketika menghentikan ciuman, benang kecil muncul diantara bibir mereka, napas memburu meskipun ac di dalam mobil menyala dan dinginnya menusuk kulit sepasang sejoli.