MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
TIGA PULUH EMPAT



Haris dan Endang bahagia karena anaknya bisa mendapat perhatian dari Adair, mereka berdua bergegas mencari tempat persembunyian anaknya, Dian. Di kamarnya tidak ada, di taman tersembunyi juga tidak ada, bahkan di gudang pun tidak ada.


Mereka berdua saling bertukar tatapan dengan heran dan mulai bertanya-tanya, di mana Dian melakukannya?


Lalu saat mereka berdua menuju ke kantor, Dian membuka pintu dan melihat kedua orang tuanya hendak masuk ke dalam ruangan, mereka bertiga terkejut dan saling bertukar tatapan sepersekian detik.


Dian menghela napas lalu memutus sorot mata penuh harapan orang tuanya. "Aku berhasil." Dan berkat itu pula, dia harus mengalami lebam di seluruh tubuh dan berjalan pun harus menyeret kakinya. "Bolehkah memanggil dokter?"


Endang tertawa bahagia lalu menepuk punggung putrinya dengan lembut. "Anakku memang hebat, kamu memang cantik dan tidak ada seorang pun yang meragukan kecantikan putri kesayanganku. Jadi, bagaimana tadi? Apakah dia mengatakan sesuatu?"


Dian masih tidak ingin membahasnya meskipun wajah bersemu merah. "Aku hanya ingin istirahat."


Haris menegur keras istrinya. "Biarkan dia istirahat dan carikan dokter, kamu tidak lihat bagaimana dia terlihat lelah."


Endang sedikit cemberut ketika ditegur suaminya, tapi tidak bisa berbuat apa pun. Dia membantu sang anak berjalan menuju kamarnya.


Haris masuk ke dalam kantornya dan melihat sekeliling, hanya di meja yang berantakan sementara di tempat lain tidak ada. Dia tersenyum puas setelah memeriksa ruang kerjanya, lalu berjalan ke luar ruangan untuk menyusul istri dan putrinya.


Haris berteriak di dalam hati dengan bangga. Tidak lama keluargaku akan mendapatkan kekayaan dan kekuasaan yang melimpah.


Endang membantu putrinya masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur, memperhatikan bekas ciuman di seluruh tubuh dan juga tubuh putrinya yang melemah, sedikit cemburu karena putrinya berhasil mendapatkan pria tampan dan juga suaminya tidak pernah melakukan seperti itu. Bagaimana rasanya tidur dengan pria tampan dan memiliki kekuasaan seperti Adair? Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya secara langsung karena tahu suaminya ada di belakang.


Haris memperhatikan Dian lalu kembali menegur istrinya. "Kenapa kamu diam saja? Cepat panggil dokter sana!"


Endang bergegas menghubungi dokter langganan, sekaligus mengeluh di dalam hati. Aku sedari tadi mengantar dan membantu anak sedari tadi, lalu apa yang kamu lakukan tadi? Hanya jalan dan melihat?


Dian melirik kesal orang tuanya yang seperti anak kecil. Satunya harus dicambuk sementara satunya lagi hanya bisa mengomel, seandainya dia sudah memiliki anak dan menikah dengan Adair, dia tidak akan pernah mau membawa orang tuanya ke kerajaan kecil miliknya.


Haris tersenyum dan memperbaiki selimut putrinya. "Kamu tidak mau berganti baju dulu?"


Dian menggigit bibir lalu menggeleng pelan, energinya sudah habis, bahkan untuk mandi.


"Mau dibantu mandi dengan pelayan?" tanya Haris.


Dian mengerutkan kening dan merasa malu karena banyak ciuman di tubuhnya.


Haris paham setelah melihat reaksi sang anak. "Tidak apa, sudah biasa memiliki banyak bekas di tubuh. Kamu tidak perlu khawatir dengan reaksi orang, lagi pula mereka dibayar untuk menutup mulut dan menggerakkan tubuh."


Haris tersenyum lega lalu bergegas menyusul istrinya.


Dian menghela napas lega ketika sudah di dalam kamar sendirian, memejamkan mata untuk beristirahat sebentar.


Endang menunggu di ruang pesta sambil memastikan dokter datang secepatnya sementara Haris segera bertemu dengan teman-temannya sambil mengeluarkan omong kosongnya, mereka berdua tidak tahu bahwa Adair mempersiapkan kejutan yang lebih baik.


Satu jam kemudian, setelah dokter datang dan memeriksa kondisi Dian lalu memberikan beberapa resep serta nasehat kepada Endang, polisi datang dan menggeledah rumah Haris.


Haris menjadi bingung. "Apa-apaan ini?"


Seorang polisi berjalan menghampiri Haris dan menyampaikan tujuannya. "Kamu mendapat kabar bahwa anda mengadakan pesta narkoba, karena itu kami datang dan hendak menggeledah tempat anda."


"Narkoba apa?!" teriak Haris yang membuat para tamu undangan spontan menoleh ke arahnya dan saling berbicara satu sama lain. "Aku mengadakan pesta untuk keluarga, bukan mengadakan pesta untuk hal konyol itu!"


"Biarkan kami menggeledah supaya anda bisa tenang dan para tamu tidak perlu panik, kami hanya memeriksa satu persatu."


Para tamu undangan Haris merupakan orang-orang kaya, mereka merasa dihina dan mulai mengeluarkan keluhannya satu persatu.


"Kami datang hanya memenuhi undangan."


"Bukan urusan aku jika pemilik rumah mengadakan pesta, aku tidak pernah menyentuh barang itu."


"HARIS! APA-APAAN INI?"


"Kami datang secara baik-baik dan kamu menghina kami seperti ini?"


Haris menjadi bingung, dia berusaha menjaga baik hubungan dengan orang-orang ini, dan sekarang ada yang berusaha mengacaukan hidupnya, dia menoleh ke polisi dan bertanya dengan nada marah. "Siapa yang sudah melaporkan omong kosong seperti itu? Pertemukan saya dengannya!"


Polisi tidak menanggapi dan menyuruh anak buahnya untuk bekerja.


Haris berusaha menghalangi sambil melempar tatapan marah ke polisi tersebut, para tamu berteriak marah dan beberapa ada yang memutuskan keluar rumah tanpa memperdulikan polisi, bahkan ada yang berani membayar mahal supaya lolos.


Polisi tetap tidak bergerak, karena mereka jauh lebih takut kepada atasannya dari pada orang-orang kaya seperti mereka. Mau diberikan uang berapa pun, mereka tidak akan peduli selama atasan sudah bertindak tegas.


Haris menjadi marah karena pesta yang tadinya berlangsung dengan baik dan moodnya juga membaik, harus dihancurkan karena ulah dari orang tidak dikenal, dia bersumpah akan mencari dan mengejar orang itu, lalu membunuhnya setelah disiksa perlahan. Dian akan menjadi calon istri Adair dan membalaskan semua dendamnya.