MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
TIGA BELAS



Edi dan Dian terkejut. Bagaimana bisa Erina mengetahuinya?


Erina bisa melihat tanda tanya di benak mereka lalu mengejek. "Kenapa terkejut? Apakah kalian tidak melihat di penjualan barang bekas online? Ada lampu gantung rumah yang sudah aku cat, tidak ada yang memiliki motif itu karena aku yang membuat motifnya."


Edi dan Dian saling menatap.


"Erina, kamu tahu dalam dunia bisnis tidak ada yang namanya tanpa hutang. Pasti ada hutang, maka dari itu kami menjual barang-barang yang bisa dijual untuk menutupinya. Ayah kamu pun pasti tidak akan keberatan." Edi menjawab dengan enteng dan tanpa merasa bersalah. "Rumah sakit sekarang saja memiliki hutang banyak."


Dewi semakin jijik melihat kelakuan mereka berdua yang tidak tahu malu.


"Karena itu, lebih baik kamu menyerahkan rumah sakit kepada orang yang berpengalaman seperti ayah kami," kata Edi.


Erina menelepon.


"Hah! Kamu mau telepon siapa? Tidak akan ada mau menolong anak egois macam kamu!" Ejek Dian.


"Hallo polisi, ada orang yang memaksa masuk ke property rumah keluarga saya," kata Erina.


Edi tertawa mengejek. "Erina, jangan mempermainkan kami."


Erina tersenyum lalu memberikan alamat rumahnya, Edi dan Dian yang semakin panik, mundur dan meninggalkan rumah dengan terpaksa.


Dewi menggeleng miris. "Padahal mereka adalah sepupu nona, manusia memang tidak punya empati jika berhubungan dengan uang."


Erina menutup sambungan telepon. "Biarkan saja, saat ini mereka sedang menjalankan karma buruknya."


Dewi dan Rei menatap tidak mengerti Erina.


Erina balik badan dan menatap Rei. "Aku pergi sebentar untuk mengurus cek, kamu di sini bersama Dewi dan tamu."


Rei merasa berat meninggalkan Erina sendiri lalu menawarkan diri. "Saya akan menemani nona, saya takut mereka mengikuti nona."


Erina menggigit bibir bawahnya. "Kemungkinan saja itu bisa terjadi, tapi jika tidak ada pria, kasihan Dewi sendirian bersama tamu."


Dewi menggeleng dan menepuk dada dengan bangga. "Tidak apa nona, saya bisa menjaga diri dan tamu. Nona tidak perlu khawatir, lagipula tamunya adalah kenalan nona."


Erina melirik sekilas anak buah Adair, dia tidak bisa cerita yang sebenarnya.


Anak buah itu berkata, "Anda tidak perlu khawatir, atasan kami sudah memberikan perintah untuk menjaga anda selama saya di sini. Justru jika anda pergi sendiri, semakin bahaya. Bisa saja mereka mencegat anda di luar."


Erina tersenyum canggung lalu menerima saran Rei. "Baik, kita pergi bersama."


---------


"Tolong, tolong maafkan putra saya."


Tangan kanan Adair, Roland. Melempar kertas dengan jijik di lantai, tepat di kepala pria tua itu. "Putra kesayangan kamu memiliki hutang judi dan meminjam sejumlah uang kepada kami. Mau dibayar sampai kapan?"


Kedua tangan pria tua itu gemetar, jantungnya berdebar keras ketika membaca isi perjanjian uang dan jumlah nominalnya. "Putra saya tidak mungkin berhutang sebanyak ini."


"Dia juga sudah menjadikan rumah ini sebagai jaminan hutang."


"Tidak, tidak. Ini pasti kesalahan! Aku tidak akan pernah setuju memberikan rumah ini!" teriak pria tua itu. "Dia tidak mungkin menjaminkan rumah ini, tolong pertemukan saya dengannya atau saya akan menghubungi polisi."


Pria tua itu terguncang ketika melihat wajah tampan putranya tidak dikenali lagi. "Putraku, kenapa bisa seperti ini? Siapa yang sudah menghajar putraku? Kalian iblis! Rentenir! Tuhan akan memberikan hukuman untuk iblis seperti kalian!" Teriaknya.


Tangan kanan Adair tertawa mengejek. "Kenapa anda tidak mengatakan itu ketika putra kesayangan melakukan judi?"


"Dia hanya melakukan kenakalan kecil, dia hanya belajar untuk menjadi dewasa. Kalianlah yang membuat dia terjebak!"


Semua anak buah Adair yang berdiri mengelilingi pria tua itu tertawa mengejek.


Tangan kanan Adair jongkok dan menarik kepala anak pria tua itu dan bertanya. "Kata ayah kamu, kamu sedang dalam masa pembelajaran menjadi usia dewasa. Berapa usia kamu?"


Pria tua itu memukul tangan kanan Adair. "LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI PUTRAKU!"


Pria yang berhutang membuka mata perlahan dan melihat wajah ayahnya, seketika mata terbuka lebar lalu menangis ketakutan seperti anak kecil. "Ayah! Ayah!"


Pria tua itu memeluk anaknya dengan sayang. "Anakku, kenapa kamu seperti ini? Siapa yang sudah melukai kamu?"


Anak pria tua itu hanya melirik pria di depannya dengan takut lalu kepalanya dibenamkan ke leher sang ayah seperti anak kecil. "Ayah, ayah aku menyesal. Aku tidak akan mengulanginya lagi, tolong bayar semua hutangku."


Tangan pria tua itu gemetar. "Jadi, jadi kamu yang sudah mengambil sertifikat rumah dan memberikannya kepada mereka sebagai jaminan?"


Anak itu tidak menjawab karena ketakutan.


Pria tua itu menarik putranya hingga keluar dari dalam pelukan. "Beritahu ayah, apa benar kamu berhutang sebanyak itu dan memberikan jaminan?"


"I- iya, aku melakukannya ayah, itu karena aku dijebak teman-temanku. Mereka bilang bisa mendapatkan banyak uang dengan judi! Aku memasang taruhan dan hampir menang tapi ternyata ada yang melakukan kecurangan lalu ayah! Ayah!"


Pria tua itu memegang dadanya dengan wajah sakit, putra yang paling dia sayangi dan dimanjakan telah menghancurkan kerja kerasnya selama ini.


Tangan kanan Adair berdiri dan menatap jijik kedua orang itu. "Usir mereka berdua dari rumah lalu segel tempat ini!"


"Tu- tunggu, ayahku pasti akan membayarnya. Kami punya perusahaan dan akan membayarnya dengan uang dari perusahaan!" Panik anak itu.


"Berapa usia kamu?" tanya tangan kanan Adair.


"Ti- tiga puluh tahun."


"Tiga puluh tahun berarti sudah paham dengan masalah bisnis bukan? Ayah kamu kehilangan perusahaan karena temannya membawa lari uangĀ  sehingga harus berhutang besar. Kamu tidak akan bisa membayar hutang yang banyak."


Anak itu terkejut lalu menggoyang tubuh ayahnya tidak sadarkan diri. "Ayah! Ayah! Benarkah itu? Ayah bangkrut? Kita akan miskin dan tidak punya apa-apa? Ayah, tolong bangun! Ayah!"


Anak itu menjerit sambil menangis, dia takut tidak punya apa-apa, dia tidak ingin kehilangan segalanya, dia baru mendapatkan kekasih yang diinginkan dan sekarang hidupnya harus hancur?


Tangan kanan Adair dan bawahannya segera membersihkan lokasi rumah dan mengusir mereka berdua lalu melapor ke Adair.


"Kami sudah membersihkan rumah, isinya akan diambil untuk menutup bunga hutang anak itu. Kami belum berhasil mendapatkan tanda tangan pengalihan hak rumah, tapi sepertinya anak ayah itu akan mati dan anaknya tidak tahu arah hidup."


Tangan kanan Adair mendengarkan instruksi dari Adair.


"Ah, baiklah. Itu mudah, dia tidak punya uang jika saya berikan sedikit untuk tanda tangan pengalihan hak rumah mungkin bisa. Baik."


Tangan kanan Adair menutup telepon setelah lawan bicara memutuskan sambungan lalu menjalankan instruksi dari Adair.