
Dian dan ibunya masuk ke restoran mewah dan bertemu dengan para sosialita, di sana mereka tidak sengaja bertemu dengan wanita tua dan anaknya dari keluarga Tjokro.
"Hebat sekali hidup kalian, bisa makan mewah dan membeli barang-barang mewah. Apakah kalian sudah berhasil menggerogoti harta anakku?" sindir wanita tua itu ketika melihat Endang dan Dian berjalan dengan santai. "Bangga menikah dengan anak haram?"
Senyum Dian dan Endang yang awalnya mengembang, langsung lenyap seketika begitu melihat wajah yang tidak ingin mereka temui.
"Ibu, jangan berkata seperti itu. Nanti dia minder." Sindir putri tertua.
"Hah! Lihat saja riasannya yang tebal, mereka tidak kenal yang namanya malu."
Dian tidak bisa membalas perkataan wanita tua itu karena paham posisi ayahnya. Tidak ada tempat untuk anak haram.
Endang menyapa mereka berdua yang sudah duduk di sofa nyaman dengan para sosialita lain yang duduk di sekitar wanita tua itu, termasuk desainer incarannya. "Hallo, lama tidak bertemu. Saya terkejut anda datang ke tempat ini."
"Apa? Apakah kamu sedang mengambil alih pemilik acara ini?"
Endang menjadi gugup ketika disindir seperti itu, karena pemilik acara sedang berdiri tidak jauh dari mereka dan mengamati dengan tenang. "Bisakah kita melupakan masa lalu dan bersenang-senang? Saya kira semua orang pasti ingin bersenang-senang juga."
"Bersenang-senang? Apakah arisan ini kamu anggap sebagai tempat bersenang-senang? Ah, memang anak haram cocok menikah dengan wanita udik seperti kamu." Tawa wanita tua itu dengan anggun. "Wanita yang hanya mengandalkan ************ untuk membangun kekayaan."
Apa yang dikatakan wanita itu telah menusuk hatinya, memang benar Endang menikah dengan Haris karena melihat kekayaan yang dia punya.
"Aku ingat, dulu suamiku bersikeras mengirimkan uang untuk sekolah anak haramnya tapi ternyata malah digunakan pelacur untuk bersenang-senang, apakah kamu sudah belajar banyak dari ibu mertua kamu yang matre?" tanya wanita tua itu dengan nada mengejek dan suara dibesarkan.
Endang mengatur napas supaya meredam emosinya. "Saya sudah lama tidak berkomunikasi dengan beliau karena sibuk, tapi anda tidak perlu khawatir karena beliau-"
"Aku khawatir? Apa yang harus aku khawatirkan dengan para pelacur dan anak-anaknya? Mereka semua tidak selevel denganku. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang menjadi korban lagi, jadi kalian semua yang sudah menjadi ibu dan memiliki anak dewasa, jangan jadikan dia sebagai besan. Rugi, yang ada harta kalian digerogoti sampai habis seperti yang dialami putraku."
Dian menjadi tidak tahan lagi. "Apa hubungannya kami dengan putra anda yang sudah meninggal? Yang membuat perusahaannya bangkrut adalah Erina, cucu kandung anda sendiri. Anak itu hanya tahu cara menghabiskan uang keluarga, mungkin dia belajar dari seseorang di sini."
"Apakah sekarang tempat ini menjadi tempat murahan? Kenapa berisik sekali?!"
Semua orang menoleh kepada seorang wanita tua bule yang dipapah dengan wanita tua bule juga.
Abby melihat sekeliling ruangan. "Apakah tempat ini sedang disewa? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?"
Manajer restoran yang melihat itu, buru-buru mendekati Abby. "Nyonya, tempat ini sudah dipesan. Jika nyonya ingin makan, bisa menelepon dan kami akan mengantar ke rumah."
Sebagai pemilik restoran mewah, Abby senang tempatnya telah disewa. Tapi dia tidak suka ada keributan di tempatnya sendiri. "Aku tidak masalah tapi kenapa restoran yang harusnya tenang malah ada keributan? Apakah yang menyewa bukan kalangan atas?"
Wanita tua Tjokro yang melihat Abby dengan tatapan penasaran mulai mengingat lalu seketika berdiri menghampirinya.
"Apakah anda pemilik gedung ini?"
Abby mengamati wanita tua ini dari atas dan bawah, dia mengenalnya tapi tidak ingin semua orang tahu. "Anda mengenal saya?"
"Saya suka dengan makanan di sini termasuk koktailnya, kenapa anda tidak bergabung arisan bersama kami? Penyelanggara acara pasti tidak akan keberatan."
Abby menolak. "Tidak, saya hanya ingin makan dengan tenang lalu istirahat. Silahkan kalian melanjutkan acara."
"Tapi, bolehkah saya menghubungi anda?"
Abby tidak menjawab lalu meninggalkan restoran.
Wanita tua Tjokro kecewa.
"Ayah kamu pernah bilang kalau nenek itu dulunya orang hebat tapi ibu tidak tahu kehebatannya di mana, tapi begitu mendengar kekayaannya yang luar biasa, termasuk memiliki gedung ini. Kenapa tidak dijadikan teman saja?"
"Ah, benar. Dengan begitu kita tidak perlu antri lagi untuk masuk ke sini."
Penyelenggara acara bertanya kepada manajer. "Manajer, apakah anda tahu rumah atau no telepon yang bisa dihubungi ke nenek itu?"
Manajer menggeleng. "Saya memang bilang akan mengantar ke rumah tapi sesungguhnya beliau selalu menyuruh orang untuk datang mengambil makanan, saya hanya bicara secara formal. Beliau memang pemilik tempat ini tapi kami tidak terlalu kenal, komunikasi hanya sebatas dengan wanita di sampingnya."
"Misterius sekali, apakah dia tidak punya keluarga?"
"Sejauh ini kami, para pegawainya. Tidak pernah melihat keluarga beliau."
Semua orang menghela napas panjang sementara Endang dan Dian saling bertukar tatapan dan sepakat dalam diam.
-------
Erina meregangkan badan, baru sebagian tagihan sudah dibayar dan Rei segera konfirmasi pihak supplier. "Ah, aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kamu."
Rei minum kopi yang sudah dipesan lewat online. "Baru sebagian."
"Aku tidak menyangka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membayar tagihan, pantas saja orang akunting harus teliti." Erina tertawa sedih lalu memakan toast yang sudah dipesannya. "Sepertinya aku harus menaikan gaji mereka."
"Tidak perlu, cukup memberikan uang lemburan."
"Kenapa?"
"Keuangan kita sedang tidak stabil."
Erina menertawakan kebodohannya. "Ah, benar. Aku sampai lupa karena melihat uang sebanyak itu, pantas saja banyak orang menjadi serakah."
Rei menatap aneh Erina. "Apakah anda tidak pernah memegang uang banyak?"
"Selama ini aku hanya belanja menggunakan kartu jadi tidak begitu tahu mengenai uang, baru belajar ketika masuk SMA dan memegang keuangan klub."
"Klub apa yang anda ikuti?"
"Melukis. Aku suka melukis dari dulu, tapi hanya aku jadikan sebagai hobi."
"Apakah sebagian besar lukisan di rumah adalah lukisan anda?"
"Hah? Bagaimana kamu tahu?"
"Tanda tangan anda dengan lukisan itu sama."
Erina menjulurkan lidah. "Ah, aku bingung mengenai tanda tangan jadinya aku memakai tanda tangan saat melukis. Ternyata kamu tahu, padahal ayah dan kakak tidak tahu."
"Bagaimana dengan tunangan anda?" tanya Rei.
"Tunanganku tahu dan dia juga tidak terlalu peduli, mungkin baginya aku masih seperti anak kecil. Dan lukisan hanyalah permainan anak-anak."
"Jika dijual bisa sampai ratusan juta."
Kedua mata Erina terbelalak. "Aku tidak sampai sehebat itu, jika aku bisa menghasilkan banyak- pasti aku bisa hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain."