MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
TIGA PULUH SATU



Adair memanggil pelayan itu lalu memberikan sejumlah uang. Si pelayan mengangguk setuju dan menyimpan uang ke dalam saku celana.


Tidak lama Dian muncul sambil membawa dua gelas champagne, salah satu gelas diberikan ke Adair. "Saya harap anda suka minuman alkohol ini, saya memilihkannya."


Adair menerima gelas dari Dian tanpa menunjukkan raut wajah apa pun. "Terima kasih."


Dian tersipu malu lalu untuk menutupi kegugupannya, dia menghabiskan minuman di tangan.


Dari kejauhan, Haris dan Endang menyeringai puas ketika melihat kedekatan Adair dan Dian.


Endang bertanya pada Haris. "Menurut kamu, apakah Dian bisa merayu tuan Danel dan kita selamat dari hutang?"


"Tentu saja, bagaimana bisa Dian tidak berhasil merayu tuan? Beliau mata keranjang dan aku sudah mencari banyak bukti."


Endang menghela napas dan merasa ada yang aneh. "Aku merasa ada maksud lain tapi-"


"Tidak usah terlalu dipikirkan, kamu bisa melihat langsung di depan mata bagaimana tuan Danel tidak melepaskan pandangannya dari putri kita. Karena itu- kita harus bisa merebut semua bisnis milik kakakku dan menginjak orang-orang yang sudah menghina kita."


Endang mengangguk setuju. Putrinya bisa dibilang cantik dan memiliki tubuh yang bagus, banyak pria di sekolah yang berusaha menarik perhatian. Namun sayang, Dian tidak pernah tertarik dengan mereka.


Sempat Endang bertanya karena penasaran, kenapa Dian selalu menolak mereka.


Jawabannya tentu saja di luar dugaan tapi memang harapan terpendam Endang dan Haris.


"Aku tidak mau memiliki hubungan dengan pria yang tidak punya uang sama sekali, lebih baik aku berkencan dengan pria kaya, meskipun dia sudah beristri."


Dian menyatakannya terang-terangan di depan orang tua tanpa malu, tentu saja orang tua Dian mendukung selama mendapatkan manfaat dari kegiatan putrinya.


Dian tanpa malu menatap Adair dengan tatapan merayu yang bisa membuat para pria di sekitarnya bertekuk lutut, sayangnya Adair bukan tipe pria seperti itu.


Adair memberikan minuman yang diambilnya dari pelayan tadi. "Ini, aku rasa kamu haus."


Dian menghabiskan minuman dari Adair dengan senang hati. "Terima kasih."


Adair hanya menunggu reaksi minuman Dian.


"Tuan Adair yang tampan, maukah menghabiskan malam bersama saya?" Tanya Dian dengan mata menyala penuh gairah.


Adair memeluk bahu Dian dan berbisik di telinganya dengan suara serak yang khas. "Boleh."


Dian merasa lututnya akan melemas ketika mendengar bisikan memabukan itu.


"Tapi-"


Endang memukul tangan Haris dengan semangat. "Lihat! Lihat! Rencana kita berhasil!"


Haris tersenyum bahagia melihat putrinya jatuh ke pelukan Adair.


Adair tahu dirinya dan Dian sedang diawasi oleh Haris serta istrinya.


Tubuh Dian mulai memanas dan matanya menggelap. "Tapi apa?"


"Bisakah kamu tunjukkan aku sebuah brankas?"


"Brankas?"


"Ya." Adair meremas pantat Dian yang montok. "Brankas milik keluarga orang tua Erina, sepupu yang kamu benci."


Dian benci ketika mendengar nama itu muncul. "Untuk apa?"


"Bukankah kamu membencinya? Aku ingin membalaskan dendam untuk kamu."


Dian menatap sendu Adair. "Apakah anda mencintai saya?"


Adair menyipitkan kedua matanya, dia tahu Dian suka kepada dirinya, namun tidak disangka wanita gila ini memiliki fantasi liar.


Adair sebenarnya muak merayu Dian. "Dimana brankasnya?"


Dian tersenyum lalu menarik tangan Adair.


Adair memberikan tanda ke pelayan yang dibayarnya tadi.


Pelayan yang melihat tanda dari Adair segera mengikutinya diam-diam.


Haris dan Endang yang tadinya ingin mengikuti mereka, tiba-tiba dihadang body guard Adair.


Haris dan Endang yang tadinya ingin melihat, tidak berani melangkah lebih jauh lagi jika rencana mereka tidak ingin gagal.


Sementara tidak ada yang tahu rencana busuk Adair di pesta, Erina bersandar di kursi dengan wajah mengantuk. "Aku ingin pulang dan tidur nyenyak."


"Nyonya, apakah anda yakin tidak menyusul tuan besar di dalam?"


"Untuk apa? Dia yang diundang, bukan aku." Jawab Erina dengan santai.


"Bagaimana jika ada yang merayu tuan besar? Apakah anda tidak akan mempermasalahkannya?"


"Aku tidak peduli."


Dua bawahan Adair heran dengan sikap cuek Erina, bukankah wanita memiliki sifat cemburu? Bahkan semua wanita yang pernah tidur dengan tuan mereka selalu cemburu jika mendengar cerita petualangan cinta tuan mereka.


Ajeng yang selalu disamping Adair juga menunjukan sikap cemburu.


"Apakah anda tidak mencintai Tuan Besar?"


Hanya itu alasan yang paling masuk akal sekarang.


"Aku mencintainya dengan caraku sendiri, aku juga bukan wanita yang suka menuntut. Kenapa? Apakah kalian keberatan?"


"Tidak, bukan seperti itu!" Panik sopir. "Saya hanya heran saja kenapa anda tidak peduli padahal tuan besar sangat peduli pada anda."


"Oh." Erina tidak peduli Adair peduli pada dirinya atau tidak sejak dulu. "Berikan aku waktu untuk istirahat sebentar."


"Ah, baik. Maafkan saya."


Sopir menaikkan kembali kaca mobil.


Erina mulai tertidur dengan pulas.


--------


Ajeng tanpa sengaja menabrak seseorang dengan langkah sempoyongan ketika berada di parkir VIP.


Bodyguard di belakang pria setengah baya itu hendak maju dan mengusir Ajeng, namun dilarang atasannya.


Dua bodyguard yang berdiri di belakang Ajeng terkejut.


"Nona, sangat berbahaya jalan sambil mabuk. Apakah anda ingin membunuh orang lain?" Tanya pria itu dengan senyum mengembang.


Ajeng mendongak lalu menyipitkan mata, sepertinya mengenal wajah pria yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa? Apakah kamu tidak kuat berdiri?"


Ajeng mendorong pria itu dan memakinya. "Pergi! Kamu tidak tahu siapa aku!"


Pria itu kembali tertawa lalu menarik tangan Ajeng hingga masuk ke dalam pelukannya. "Sangat berbahaya mabuk di tempat seperti ini meskipun ada dua penjaga di belakang."


Ajeng berusaha menjauh.


Bodyguard yang menjaga Ajeng dihalangi bodyguard pria itu.


Ajeng yang memakai rok pendek, menggigil ketika pria itu menyentuh taman bunganya. "Kamu-"


"Sudah aku bilang, berbahaya mabuk di tempat seperti ini terutama memakai pakaian ketat tanpa pakaian dalam."


Kedua bodyguard Ajeng terkejut.


Ajeng bersandar di tubuh pria itu dan menggigil, berusaha menahan erangan serta rasa nikmat yang mulai datang.


"Tidak perlu ditahan, tempat ini VIP. Wanita ****** tidak akan dipanggil ****** oleh pengguna VIP."


Pria itu menghina Ajeng terang-terangan.


Ajeng berusaha menutup kakinya. "Keluar! Lepaskan! Pergi!" Desisnya dengan marah.


Pria itu tersenyum, dua jarinya mulai masuk ke inti bunga Ajeng dan memainkannya dengan cepat.


Ajeng tidak tahan lagi dan mengerang keras, suara erangan itu menggema di parkir VIP.


Ajeng yang tidak tahan mulai mengeluarkan kenikmatan serta kencing.


Pria itu mengernyit jijik lalu mendorong Ajeng yang sudah puas.


Salah satu bodyguard Ajeng dengan sigap menangkapnya.


Pria itu membersihkan tangannya dengan semprotan alkohol dari bawahannya lalu mencibir dengan tatapan merendahkan. "Hah!"