
Armand yang sedang memasang headset bluetooth yang tersambung dengan Adair, berjalan memasuki memasuki jalan sepi dan tidak rata, kanan-kiri masih berupa hutan, rumah warga jauh dari tempat ini.
Adair memberikan informasi kepadanya mengenai anak buah sekaligus polisi yang berani berkhianat, saat ini mendapat hukuman dan akan dibunuh bersama keluarganya tapi sekarang orang itu sedang dihukum langsung oleh Adair.
Sadis? Memang itu caranya.
Dunia hitam sangat keras dan kejam, jika kalian takut- tidak usah melibatkan diri ke dalam dunia hitam.
Saat ini Adair meminta tolong kepada dirinya untuk mengejar sekumpulan orang yang sudah menjadi anak buah orang itu.
"Dia polisi?"
"Ya."
Armand menertawakan kekacauan yang dibuat polisi itu. "Bagaimana bisa kamu kelolosan? Dia dari awal bergabung tidak bilang profesinya?"
"Dia sudah bergabung lama dengan organisasi milikku sebelum menjadi polisi, setelah bergabung- dia tidak memberikan informasi kepada kami, justru dia bilang sedang menjadi polisi gadungan untuk mendekati polisi dan menjual narkoba."
Armand bersiul nyaring. "Wow, dia jelas-jelas tidak ingin melepas kesempatan."
"Dia tahu bagaimana caranya mendapatkan uang banyak dengan cara aman, aku melindunginya. Ternyata malah menghianatiku dengan membocorkan jalur dagang kecil ke polisi yang ingin naik jabatan instan."
"Ah, lebih tepatnya dia menjual informasi?"
"Ya, saat ini kepolisian pusat dan kepala polisi sedang giat mengawasi para polisi yang membuat kasus palsu jadinya mereka nekat membeli informasi kepada orang itu lewat kaki tangannya. Supaya posisi dan identitasnya aman, dia berpura-pura pernah memakai jasa kaki tangannya. Dia tidak berani menjual informasi untuk klien besar."
"Cerdik juga, dengan begitu- tidak akan ada yang menyalahkannya." Armand kagum dengan kecerdikan orang itu. "Apa yang harus aku lakukan untuk kaki tangannya?"
"Bunuh saja mereka, jangan sampai ketahuan."
"Kelihatannya sulit." Armand tersenyum lebar ketika delapan orang pria sudah mengelilinginya dengan berbagai macam benda tajam.
"Hati-hati."
Sambungan telepon Adair diputus Armand, dia menatap sekeliling dengan santai dan menyapa mereka. "Hallo, apakah kalian saat ini menjadi begal?"
"Berisik, bule! Berikan harta kamu kepada kami!" teriak seorang pria yang memiliki tato di seluruh wajah.
"Sayangnya saya saat ini tidak membawa benda berharga apa pun." Armand menertawakan kebodohan mereka.
"BERISIK! KAMI TIDAK AKAN PERCAYA!" bentak pria yang memiliki tato di seluruh wajah. "HAJAR DIA!"
Armand menghela napas panjang lalu mengeluarkan pistol Glock17 dan menembak kedua kaki mereka dengan cepat, jika ada yang masuk ke dalam jangkauannya dan sedang mengganti peluru, otomatis kakinya bergerak cepat menyerang musuh sebelum mengayunkan senjata mereka.
Dor! Dor!
"Argh!"
Armand sangat menikmati suara pistol dan raungan kesakitan mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkan kesombongan mereka, delapan pria berjatuhan dengan luka tembak di kedua kaki.
Apakah kamu tahu siapa aku?
Apakah kamu tahu kenapa aku di sini?
Apakah kamu tahu kenapa aku marah?
Apakah kamu tahu kenapa aku sedih sekarang?
Dan apakah kamu tahu kenapa aku ingin membunuh kamu?
Armand mengulang kalimat itu berulang kali, mengubahnya menjadi lagu ngawur dan nada sumbangnya di tengah tangisan delapan pria yang ketakutan setelah kakinya ditembak hingga tidak bisa jalan, mau menyeret badan pun tidak bisa, mereka akan mati kehabisan darah.
"Satu lawan delapan orang, bagaimana? Saya hebat bukan?" tawa Armand sambil duduk bersandar di kursi kayu yang dicurinya di dekat pohon dan merokok dengan santai.
"Curang! Kamu curang! Memakai senjata, sementara kami dengan tangan kosong!" Isak pria kurus yang hanya memakai kaos dalam.
Armand menertawakan mereka semua. "Bukankah kalian juga membawa pisau dan celurit? Apa? Kalian merasa aman karena berkelompok sementara aku sendiri?"
"Nah, sekarang aku ingin bertanya kepada kalian semua sebelum darah habis- apakah kalian tahu polisi bernama Nate?"
"Bagaimana kami bisa tahu nama polisi?!" teriak pria yang memiliki tato di wajah.
"Hoo- apakah kali ini aku menembak tangan kalian?" tanya Armand dengan santai.
Mereka semua kembali diam.
"Nah, sekarang aku ingin tanya lagi- siapa yang sudah memberikan informasi kepada polisi Nate?"
Armand diam, melihat reaksi mereka yang hanya diam seribu bahasa.
"Tidak ada yang mau menjawab?"
Mereka semua sepakat tidak akan membocorkan rahasia sampai mati.
"Siapa pemimpin kalian di sini?" Armand bangkit dari kursi lalu berjalan mendekati mereka yang berbaring di jalan.
Tujuh pria menatap seorang pria yang memiliki tato di seluruh wajah.
Armand mendekati pria itu. "Jadi kamu ya, pemimpin mereka?"
Pria itu menggeleng ketakutan.
"Kalau di pikir ulang, kamu juga tadi yang berteriak untuk mengepung dan membunuhku?"
"A- ampuni kami, kami tidak tahu apa pun! Kami akan cerita semua yang kami ketahui." Pria berwajah penuh tato meraung kesakitan sambil mengeluarkan air mata.
Armand mengeluarkan perekam suara dan mulai merekam. "Nah, jelaskan mengenai polisi Nate yang selalu menjual informasi ke polisi lain."
"Ti- tidak, kami tidak tahu nama polisi Nate-" geleng pria itu lalu berteriak ketika Armand mengarahkan pistol ke kepalanya. "Kami memang tidak tahu kalau dia polisi, dia selalu mengaku bernama Bambang!"
"Teruskan!" Perintah Armand dengan nada dingin.
"Kami mencari pembeli narkoba, kami lihat dulu selama tiga bulan masa pembelian. Apakah dia membeli dalam jumlah besar atau kecil. Jika jumlah besar, kami merahasiakan pembeli tapi jika jumlahnya kecil, kami menjual informasi itu dengan syarat tertentu."
"Apa syaratnya?"
"Perlindungan saksi! Kadang kala kami juga akan dibawa sebagai saksi, tapi mereka memberitahukan jadwal penangkapan sehingga kami tidak menggunakannya dan saat tes urine aman. Identitas kami pun dilindungi."
"Lalu?"
"Atasan mereka sangat ketat soal kasus palsu. Jika ketahuan, mereka akan dikeluarkan dari kepolisian. Mereka juga hati-hati dalam penggunaan media sosial supaya tidak ada yang curiga dan kasus mereka menjadi viral, makanya kami kebanyakan memberikan tersangka yang jarang aktif di media sosial juga. Supaya tidak bicara di sana."
"Berapa lama kalian melakukan hal ini?"
"Hampir empat tahun."
Armand tertawa. "Lama juga ya, pantas saja kalian merasa tenang dan hebat sekarang. Lalu kenapa menjadi begal?"
Pria itu mendengus marah. "Kamu terlihat kaya di tempat sepi seperti ini, kami tidak akan menyia-nyia-"
Dor!
Armand menembak tepat di dahi pria itu, mengerutkan kening dengan jijik ketika darah terciprat kemana-mana.
Tujuh orang lainnya menatap horor Armand. Ada yang pasrah, ada yang langsung pingsan dan ada juga yang berusaha kabur dengan menyeret tubuhnya sekuat tenaga.
Armand menembak mereka semua, yang berusaha kabur dibiarkan menjadi terakhir.
Setelah tugas selesai, dia mengirimkan lokasi ke Adair supaya anak buahnya mengambil mayat-mayat ini.
Dari rumah, Adair memberikan perintah ke anak buahnya setelah mendengar laporan Armand. "Jual saja mayatnya di pasar gelap, mahasiswa kedokteran di luar negeri pasti membutuhkannya."
"Baik!"