MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
SEMBILAN



Erina berjalan menuju ruang rapat lalu saat melewati UGD, terdengar teriakan orang-orang.


"ADA YANG BUNUH DIRI!"


"ADA PASIEN BUNUH DIRI MASUK!'


Erina menghentikan langkahnya.


"DOKTER, PASIEN KEHILANGAN BANYAK DARAH!"


"BANTU AKU!"


"JANGAN LAMBAT!"


Erina sekarang berdiri di pintu belakang UGD yang tersambung dengan lorong untuk ke bagian dalam rumah sakit.


"Bunuh diri lagi? Kali ini di mana?"


"Universitas. Menjijikan."


"Kurang iman."


Di saat para dokter dan perawat bekerja keras menyelamatkan pasien bunuh diri itu, orang-orang yang lalu lalang hanya mencemooh pasien.


Erina menatap pintu yang tertutup itu lagi lalu pergi ke ruang rapat.


Semua orang menoleh ke Erina yang masuk dan langsung duduk di tempat CEO, sontak beberapa orang tidak setuju bahkan ada yang menertawakan Erina.


"Erina, kursi itu bukan untuk kamu. Masih belum ada hasil untuk-" Endang yang duduk di kursi belakang suaminya, tertawa mengejek.


"Mau rapat apa pun, tetap saja saya adalah CEO-nya." Erina menatap tegas sekeliling ruangan. "Jika ada yang keberatan, silahkan mengundurkan diri."


Haris berdiri dan menggebrak meja. "Tidak bisa begitu! Bagaimana bisa kamu seenaknya sendiri memutuskan? Mereka adalah dewan direksi, jadi kamu harus menghargai keputusan mereka!"


"Saya hargai kerja keras kalian, tapi kali ini saya akan mengambil alih rumah sakit dan semua usaha lain keluarga saya. Meskipun di ambang kesulitan, saya akan mempertahankan peninggalan keluarga saya." Erina menjelaskan dengan tenang tanpa emosi.


"Apakah kamu tahu arti dari bekerja yang sebenarnya? Semua orang tahu, kamu hanya suka bersenang-senang dan menghabiskan banyak uang keluarga!" Haris menunjuk Erina dengan marah. "Jangan jadikan rumah sakit ini mainan!"


Erina melirik sekilas kakeknya lalu menatap para dewan direksi. "Apakah anda semua setuju dengan pendapat paman saya?"


Beberapa dewan direksi menjadi bingung. Seharusnya mereka menghadapi anak kecil sombong dan emosi meledak, tapi ini malah tenang dan seolah tidak takut menghadapi mereka. Justru yang meledak-ledak adalah Haris.


Kelima orang yang setia pada orang tua Erina dan duduk di dewan direksi, mengangguk bangga. Erina tidak terpancing sedikit pun dari amarah pamannya.


Dewan direksi rumah sakit terdiri dari sepuluh orang, kecuali paman yang duduk hanya sebagai perwalian. Lima sudah menyatakan setia pada orang tua Erina meskipun dia sendiri belum percaya sepenuhnya sementara lima lagi kemungkinan besar di pihak paman.


"Nona Erina, rumah sakit memiliki hutang yang cukup besar. Kami ingin memiliki CEO yang cukup terampil dalam bidang keuangan."


"Benar, terutama yang paham seluk beluk manajemen rumah sakit ini."


"Rumah sakit bukan tempat mainan anak kecil yang suka menghamburkan banyak uang."


Haris mengangguk setuju sambil melipat tangan di depan dada. "Benar, Erina. Kamu tinggal mendapatkan hasil saja dan menyelesaikan kuliah kamu."


Erina tertawa di dalam hati. Bagaimana bisa aku mendapatkan hasil? Kamu saja mengambil barang-barang di rumah.


"Manajemen rumah sakit sangat rumit, tidak mudah orang awam belajar. Tempat ini bukan bisnis dagang."


"Apakah nona Erina mengatakan bahwa tempat ini adalah bisnis dagang?"


Erina bisa melihat salah satu orang yang setia, membela dirinya.


"Bukan begitu, anda lihat sendiri apa yang sudah ditimbulkan karena nona Erina?"


Erina mengerutkan kening. "Memangnya apa yang saya timbulkan?"


"Haris, aku tidak bisa diam saja begitu mendengar ceritanya. Bahkan dia dengan angkuh mengusir kita semua demi mengosongkan rumah keluarganya, padahal tanah mereka belum kering."


"Benar, dia sudah menghina dengan mengusir kita. Padahal kita berbaik hati mengunjungi makam rekan kami."


"Saya mengusir anda, karena saya tidak kenal anda." Erina membela dirinya.


"Kurang ajar!"


Haris dan Edi senang melihat tingkah Erina yang sesuai dengan rencana mereka.


Erina melirik sekilas Haris dan keluarganya yang tersenyum penuh kemenangan lalu ke salah satu dewan direksi yang tersinggung.


"Seperti yang anda semua ketahui, saya tidak begitu paham tentang manajemen rumah sakit karena seharusnya yang menjadi pewaris adalah kakak saya, tapi dia malah meninggal dalam kecelakaan. Anda semua bersimpati tentang kematian keluarga saya, saya berterima kasih. Tapi, jika memang anda bersimpati, kenapa tidak memberikan waktu kepada saya untuk menyelesaikan masa berduka."


Dewan direksi itu ingin membalas tapi terdiam ketika melihat Erina mengangkat tangan kanannya.


"Saya paham dengan kegusaran anda semua tanpa menunggu selesainya masa berkabung, masalah ini mungkin lebih urgent daripada kematian keluarga saya."


Suasana menjadi hening dan mendengarkan Erina menyelesaikan kalimatnya.


"Karena itu saya ingin kalian anda semua memberikan saya kelonggaran satu minggu untuk saya."


"Kelonggaran?"


"Saya akan membayar semua hutang rumah sakit dalam waktu seminggu."


Haris tertawa mengejek. "Bocah, satu minggu dapat uang darimana? Logika saja, rumah sakit berhutang banyak. Atau jangan-jangan kamu akan menjual rumah milik keluarga?"


Erina menatap bingung Haris. "Rumah keluarga saya jual atau tidak, keputusannya ada di tangan saya."


"Dalam surat wasiat tidak ada nama kamu!" bentak Dian yang terpancing.


"Memang tidak ada namaku, tapi di surat wasiat kedua orang tua saya juga tidak ada nama kalian. Kenapa kalian repot mengurus harta keluarga saya? Ini usaha milik keluarga saya, bukan kalian!" balas Erina.


"Erina, paman sudah berjuang keras hingga lelah untuk membuat rumah sakit ini maju dan-"


"Paman hanya duduk sebagai pengawas keuangan rumah sakit, bagaimana bisa orang yang hanya duduk membuat rumah sakit maju? Seharusnya saya juga bisa meminta pertanggung jawaban ke paman karena sudah membuat rumah sakit memiliki hutang."


"Kamu-"


"Apakah paman sudah membayar semua tagihan? Sudah menjaga pengeluaran tidak perlu? Sudah cek data pemasukan?"


"KURANG AJAR! Paman kamu lebih senior dari anak bau kencur seperti kamu! Dasar anak tidak tahu terima kasih!" Bentak Endang.


"Untuk apa saya berterima kasih pada paman? Dia bekerja, mendapatkan banyak uang. Jika paman merasa lelah dan tidak sanggup, dengan senang hati aku menerima surat pengunduran diri dari paman."


Haris menatap marah Erina. Bukan begini seharusnya, anak ini harus tunduk ketakutan atau marah menghadapi para tetua, tapi kenapa dia malah bersikap tenang dan menyerang kami semua?


"Dalam waktu satu minggu, saya berjanji membayar semua tagihan rumah sakit ini. Tidak perlu khawatir."


Kesepuluh dewan direksi saling bertatapan.


"Anggap saja waktu satu minggu adalah masa berkabung keluarga saya."


Edi yang tidak tahan, akhirnya mengeluarkan kartu as. "Erina, untuk menjadi pemimpin juga harus memiliki moral yang baik sebagai contoh para bawahan. Kami rasa, kamu tidak akan bisa memimpin baik dengan emosi kamu yang masih meledak-ledak."


"Maaf?"


Edi menatap kesepuluh dewan direksi. "Kakak kandung ayah saya tidak hanya memiliki satu istri dan dua anak, tapi juga ada wanita dan anak-anak lainnya."


Kedua tangan Erina mengepal erat di bawah meja ketika mendengar Edi akan mengungkap aib keluarganya.