
"A- Adair?" Erina bingung dengan perilaku tunangannya yang tiba-tiba.
"Jangan bergerak." Perintah Adair.
Erina tidak berani bergerak.
Kepala pelayan berjalan mundur lu pergi meninggalkan dapur.
Setelah di dapur hanya ada mereka berdua, Erina bertanya. "Ada apa?"
"Aku hanya mengisi tenaga."
Erina memutar bola mata dengan bosan. "Kamu bisa pergi ke kekasihmu yang lain."
"Kamu tahu?" tanya Adair yang merasa senang jika Erina mengetahuinya, itu berarti dia cemburu bukan?
"Aku tidak mau tahu tapi banyak orang yang tiba-tiba memberikan informasi tidak berguna."
"Oh." Adair kecewa dan melepas pelukannya.
Erina bisa mendengar nada kecewa Adair. "Aku membuat kue, kamu mau?"
"Ya." Adair mengamati Erina. "Bagaimana dengan kondisi rumah sakit? Kamu bisa mengatasinya?"
"Ah, berkat Rei aku berhasil mengatasi beberapa masalah. Terima kasih sudah membeli mobil-mobil keluargaku."
"Sebentar lagi ada rapat komisaris, kamu tidak bersiap menghadapi mereka atau bertemu sebelum rapat?"
Erina mengangkat kepala dan menatap lurus Adair. "Haruskah? Bukankah itu curang namanya?"
"Tidak ada namanya curang dalam dunia bisnis, semua saling menyikut. Kamu harus tegas dan jangan takut untuk melangkah, aku akan mendukung dari belakang."
Erina ingin mengatakan tidak, lalu menyadari bahwa dirinya masih membutuhkan uang dan posisi Adair. "Terima kasih."
Adair terkejut. "Kamu tidak menolaknya?"
Erina menghela napas ironi. "Aku tidak bisa menolak bantuan dari pria tampan."
Adair tersenyum kecil, hatinya seperti dicubit manja, rasanya sangat menyenangkan. "Sejak kapan kamu bisa merayu pria? Apakah selama ini kamu merayu Rei?"
"Hah?"
Adair mencubit lembut kedua pipi Erina. "Jadi selama ini kamu selingkuh di belakangku?"
Kedua mata Erina mengerjap tidak mengerti.
Adair menghela napas panjang lalu melepas cubitannya. "Aku minta maaf yang tadi."
Erina menyentuh kedua pipinya. "Memangnya kamu salah apa?"
Adair tidak berani mengatakannya.
Erina sedikit kesal dengan sikap Adair. "Jika kamu tidak tahu letak kesalahan, lebih baik jangan minta maaf. Tidak semua wanita mau menerima permintaan maaf pria yang seenaknya saja."
Adair menepuk kepala Erina dengan lembut. "Lalu apa yang harus aku lakukan supaya bisa mendapatkan kue-kue ini?"
Erina yang berkacak pinggang, menatap tajam Adair. "Ajeng-"
"Hm?"
"Apakah kamu menyukai Ajeng?"
Adair menatap bingung Erina dan berkata jujur. "Aku hanya tidur dengannya, tidak lebih."
Adair tahu, Erina tidak akan terkejut mengenai hal ini karena dirinya juga sudah mendengar dari kepala pelayan bahwa para kekasih yang tidur dengannya diawasi Erina.
'Nona kecil, hanya ingin memastikan supaya tuan tidak terjangkit penyakit.'
Saat pertama kali mendengar laporan itu, Adair merasa bersalah pada tunangannya tapi lama-lama dia menikmati semua upaya dan kepedulian Erina.
"Meskipun aku melakukan dengan banyak wanita, hanya kamu yang akan jadi istriku." Kata Adair sambil mencium tangan Erina dengan lembut.
Erina menatap dingin Adair. Lihat pria tidak tahu malu ini, dia bahkan mengatakan hal yang tidak berguna.
Selesai mencium tangan Erina, agak lama. Adair yang duduk di meja dapur, menarik perlahan Erina hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Jika kamu mau menggantikan mereka, aku akan mempertimbangkan hal lain," bisiknya.
Erina menggeleng. "Tidak, kita belum menikah."
Pemikiran Erina masih konservatif soal ****, berbeda dengan Adair yang bebas. Inilah yang membuat orang-orang menertawakan dirinya.
'Pria bejat mendapatkan istri alim.'
Tapi semua orang tidak pernah tahu sealim apa Erina, hanya Adair yang tahu.
"Hanya ciuman saja, boleh?"
Erina menertawakan Adair. "Apakah kamu selalu minta izin seperti ini ke orang lain?"
"Hanya kamu."
Erina pasrah ketika Adair mendekatkan bibirnya perlahan.
BRAK!
Adair menyelipkan lidah ke dalam mulut Erina.
Seluruh tubuh Erina gemetar karena terkejut.
Lama mereka berciuman secara intens, kepala Adair bersandar di dada Erina.
"A- Adair." Erina menjadi panik. "Tunggu- kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?"
"Kenapa kamu tidak pernah bersandar kepadaku?"
Erina terdiam begitu mendengar pertanyaan tunangannya. Kenapa?
"Apakah kamu belum percaya kepadaku?"
"Tidak, aku percaya padamu."
"Lantas kenapa?"
"Aku hanya ingin belajar mandiri." Jawab Erina. Hanya itu jawaban terbaik yang bisa dia pikirkan. "Aku tidak memiliki pengalaman banyak, jadi biarkan aku mencobanya sendiri."
"Jika aku tidak mengizinkannya?" tanya Adair.
"Aku akan membencimu." Jawab Erina.
"Oh."
Erina menghela napas panjang. "Biarkan aku menyelesaikan semua kue ini."
Adair melepaskan pelukannya lalu menggulung lengan baju. "Aku bantu."
"Kamu tidak kerja?" tanya Erina. Dia tidak mau mengganggu pekerjaan tunangannya.
"Tidak, semua pekerjaanku sudah selesai." Jawab Adair.
Erina mengangguk lalu memberikan arahan ke Adair. Tidak ada salahnya menggunakan jasa bos mafia untuk membuat kue bukan?
__________
Ajeng yang haus dan hendak ke dapur, tanpa sengaja melihat pemandangan tidak diinginkan.
Tuan bersama tunangannya, memang tidak aneh tapi tetap saja-
Ajeng duduk di kursi taman dan menatap langit.
Kenapa aku tidak bisa memiliki tuan? Kenapa aku hanya bisa menyerahkan tubuh ini?"
"Ajeng."
Tanpa disadari Ajeng, kepala pelayan berdiri di belakang kursinya.
"Apakah kamu melihat tuan bersama tunangannya di dapur?"
Ajeng yang kesal, tidak menjawab pertanyaan kepala pelayan. Mendadak aliran udara berubah dan dia segera bangkit dari kursi taman, melihat kepala pelayan berdiri tegak lalu pisau menancap di punggung kursi, tepat yang dia tempati.
"Ke- kepala pelayan."
"Gerak refleks yang sangat bagus, tapi kurang hati-hati karena membiarkan saya masuk ke area kamu. Apa yang kamu pikirkan waktu itu?"
Ajeng menggigit dalam bibirnya, tidak bisa menjawab.
"Cemburu?"
Ajeng tidak menjawab.
"Apa yang kamu cemburukan? Melihat sepasang kekasih dan jadi ingin memiliki kekasih? Atau- melihat tuan sedang bersama tunangannya?"
"Kepala pelayan, saya-"
"Ah, jadi kamu cemburu melihat tuan bersama tunangannya? Apakah kamu tidak bisa menempatkan diri?"
"Saya hanya tidak sengaja melihat dan ingin bersantai di tempat ini."
"Mata tidak bisa dibohongi, Ajeng. Kamu jatuh cinta pada tuan."
Ajeng menutup mata dan tidak membantah.
"Ingat, kamu hanya teman tidur tuan. Jika tuan tahu, kamu bisa dibuang dengan mudah. Saya sukarela memberikan nasehat gratis karena melihat kamu tumbuh menjadi wanita yang bisa meringankan pekerjaan tuan."
"Saya mengerti."
"Jangan melakukan hal konyol, di masa depan- tuan akan menikah dengan tunangannya. Kamu tidak boleh memiliki perasaan khusus."
"Ya."
"Jika tuan mengetahui perasaan kamu, aku sendirilah yang akan menyingkirkan kamu."
"Baik."
Kepala pelayan balik badan lalu berjalan meninggalkan Ajeng sendiri di taman.
Ajeng menatap punggung tegap kepala pelayan dengan sedih. Tuan dan pelayannya tidak boleh memiliki hubungan khusus?
Peringatan kepala pelayan tidak bisa dia lupakan, tapi sulit melupakan perasaan yang sudah ditanam bertahun-tahun lamanya.