MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
EMPAT BELAS



Di tempat Adair, dia sedang bertemu dengan kliennya dan duduk sambil berbincang santai.


"Saya sudah mendapatkan rumah itu."


"Hm? Cepat sekali. Hanya butuh waktu satu bulan?"


"Itu mudah jika diberikan sedikit trik."


"Hahahaha- aku suka dengan anak muda penuh semangat seperti kamu, tidak sia-sia mengeluarkan uang banyak."


"Sebentar lagi sertifikat rumah dan tanah akan berganti, apakah anda akan mengurus sisanya?"


"Apakah mereka mau memberikannya secara cuma-cuma? Atau menjual dengan harga tinggi?"


"Dua hal itu tidak penting dibahas selama anda bisa mendapatkan rumah yang anda inginkan."


"Wow! Kamu memang hebat."


"Terima kasih."


"Aku harap dengan begini ibuku akan meninggal dengan tenang, rumah itu adalah milik keluarga ibuku dan diambil pria tidak tahu malu dengan selingkuhannya."


Adair mendengar cerita kliennya.


"Kami diusir sehingga aku bersumpah akan membalas dendam perilaku mereka semua, ternyata aku tidak bisa melakukannya waktu itu dan lebih miris lagi ketika aku bisa di posisi melakukannya, aku tidak bisa mengotori tangan."


"Bisa dimengerti, posisi anda tidak mudah."


"Yah, pokoknya aku mengucapkan terima kasih dan aku tidak akan melupakan semua balas jasa kamu. Jika kamu membutuhkan aku, jangan sungkan."


Inilah yang diinginkan Adair sejak awal, tidak hanya uang yang didapat tapi juga hubungan baik baik dengan orang penting. "Aku akan mengingatnya, anda juga bisa melakukan hal yang sama kepadaku."


Pria itu tertawa lalu meminum gelasnya dengan santai.


-------


Erina yang sudah mencairkan uang di bank bersama Rei, segera pulang dan menyaksikan lima mobil mewah dibawa pergi anak buah Adair.


Rei menyarankan membeli mobil minibus yang aman dan bisa dibawa kemanapun dengan mudah, Erina menyerahkan semua kepadanya.


Lalu mereka berdua cepat-cepat ke rumah sakit, mengunci pintu ruangan dan bergegas mengurus tagihan pembayaran rumah sakit.


Rei memberikan saran. "Nona, sebaiknya kita tidak membayar semua tagihan rumah sakit."


"Apa?" tanya Erina tidak mengerti.


"Biasanya tagihan dibayar sesuai jatuh tempo."


"Tapi bukankah lebih baik dibayar jauh sebelum jatuh tempo?"


Rei menggigit bibir bawah dengan cemas lalu menunjuk salah satu kertas tagihan. "Anda bisa lihat yang ini?"


Erina melihat tagihan pembelian linen untuk sprei kamar rumah sakit dan juga tirai. "Aku tidak tahu dimana letak kesalahannya tapi jika kamu menunjukan ini kepadaku, pasti ada yang salah bukan?"


Rei mengangguk cemas. "Jika nona tahu jumlah kamar dan tempat tidur, anda bisa mengetahui bahwa ini pembelian yang sudah di mark up. Anda juga harus hapal budget tahun ini."


Erina paham tentang budget tapi dia tidak terlalu paham tentang isi rumah sakit lalu meletakkan surat-surat tagihan itu. "Jadi, lebih baik aku mempelajari struktur rumah sakit daripada membayar semua tagihan ini? Waktuku hanya satu minggu!"


Rei juga mencemaskan hal itu. "Bagaimana jika saya memilah tagihan yang harus dibayar? Sisa tagihan lainnya, anda bisa belajar bersama saya."


Erina merenungkannya lalu mengangguk. "Oke, mohon bantuannya."


"Anda juga harus belajar, kenapa saya setuju membayar tagihan-tagihan ini." Rei segera duduk berhadapan dengan Erina lalu mengambil kertas-kertas tagihan yang sudah di file sesuai tanggal.


Erina buru-buru mengambil buku kosong dan mencatatnya. "Aku catat di buku, biar tidak lupa."


Sementara Erina bekerja keras bersama Rei.


Haris duduk di ruangannya dengan geram sambil melihat mejanya yang kosong. "Kemana semua tagihan aku?"


Haris tertawa muram. Dipelajari? Hah! Dengan otak seperti itu, dia tidak akan bisa belajar cepat!


Haris lalu teringat dengan laporan kedua anaknya mengenai semua mobil yang sudah dijual Erina.


Mobil sudah dijual dan tidak mungkin dia mendapatkan harga tinggi dalam satu hari. Teman-teman kakakku tidak terlalu mengenal Erina dan anak itu juga tidak terlalu paham mobil. Jadi jika aku menekannya sedikit-


Ajeng yang duduk tidak jauh dari Haris tahu jalan pikiran pria bodoh itu. "Apakah anda sedang berpikir untuk menekan keponakan anda lagi?"


Haris tersadar dari lamunan lalu menatap Ajeng dengan kesal. "Bukan urusan kamu!"


"Anda memiliki urusan dengan saya jadi ini juga urusan saya."


Keenam pegawai keuangan di dalam ruangan yang mendengar itu menjadi salah paham, mereka mengira Ajeng adalah selingkuhan Haris.


"Hah! Kamu bilang ini menjadi urusan kamu, tapi sama sekali tidak membantuku. Aku akan mengadukannya kepada dia!"


Dia yang Haris maksud adalah Adair.


"Jika anda ingin mengadu, silahkan. Kira-kira siapa yang akan beliau percaya?"


Haris menatap kesal Ajeng. Suatu saat jika hutang lunas dan keuangannya stabil, dia akan menculik dan menyiksa wanita ini. "Suatu hari aku akan membuat kamu menyesal karena telah meremehkan aku!"


"Buktikan dulu dan jangan banyak bicara!"


Endang dan Dian masuk ke ruangan bagian keuangan tanpa mengetuk pintu.


"Ayah!"


"Suamiku!"


Haris berdiri dan menyambut mereka berdua. "Edi mana?"


"Kakak kembali ke perusahaannya." Dian mengucapkan dengan bangga dan sombong di para bawahan ayahnya.


"Suamiku, kami akan datang ke arisan. Di sana katanya akan mengadakan pesta berlian, bolehkah kami membelinya?"


Haris mengerutkan kening tidak setuju. Mereka sedang dikejar hutang sekarang, ini saja mati-matian ingin melunasi hutang dengan mengambil alih rumah sakit.


Endang yang paham jalan pikiran sang suami, berjinjit dan bicara di telinganya dengan nada pelan. "Aku sudah menjual sebagian berlian kakak ipar, aku harus mendekati orang itu karena istrinya adalah desainer berlian."


Haris terpana lalu mengangguk setuju. "Lakukan yang kamu inginkan selama orang itu mudah didekati."


Endang tersenyum lebar bersama putrinya. "Suamiku tidak akan pernah menyesal mengambil keputusan."


"Ya, ya. Cepat pergi sebelum terlambat, mereka tidak suka membuang waktu." Usir Haris dengan tidak sabar, dia ingin melihat hasilnya.


Dian cemberut lalu merengek. "Ayah, ayah melupakan aku? Ibu sudah memegang uang tapi aku tidak punya sama sekali. Apakah ayah tidak bisa memberikan aku uang untuk makan di sana?"


Haris menatap bingung Endang.


Endang segera menjelaskan. "Aku bawa putri kita untuk menemaniku selama di sana supaya tidak bosan, tapi masalahnya hanya orang yang terdaftar bisa mendapatkan paket makanan tapi Dian tidak terdaftar. Jadi kami datang ke sini selain minta izin juga minta uang."


Haris cemberut lalu mengambil dompet di saku celananya, dia mengambil lima lembar seratus ribu lalu memberikannya ke Dian. "Seginu cukup?"


Dian kecewa melihat jumlah uang di tangannya, Endang menggeleng.


"Di sana restoran mewah, tidak mungkin harganya murah."


Haris semakin cemberut lalu mengambil segepok uang seratus ribu yang jika dijumlah senilai sepuluh juta dari brankas rumah sakit.


Kedua mata Dian dan Endang berbinar.


"Cukup?" tanya Haris.


Endang dan Dian mengangguk bersamaan.