
Apakah kalian pernah mencintai pria yang tidak bisa atau tidak boleh dijangkau? Bagaimana perasaan kalian dan apa yang kalian lakukan? Bertahan atau justru menghindar?
Tapi, untuk seorang Ajeng yang mendedikasikan hidup ke seorang pria sejak kecil saat kedua orang tua membuangnya. Pilihan terbaiknya adalah bertahan.
"Anak itu- kemana lagi sih?" Omel Haris sambil duduk dan meletakan handphonenya di atas meja. Pagi terburuk baginya adalah melihat pagar rumah yang sudah ditutup rapat dengan beberapa orang berdiri tegap di depan pintu pagar.
Haris yang tadinya ingin menemui sang keponakan untuk mengambil barang sisa di rumah kakaknya, memutuskan pergi ke rumah sakit sambil berusaha menghubungi Erina.
"Ada apa? Tidak bisa menghubungi keponakan anda lagi?" tawa Ajeng. Hiburannya sekarang adalah melihat kebodohan seorang paman yang hendak menjebak keponakan sendiri.
"Pagar rumah ditutup rapat, bahkan ada penjaga di luar pagar. Buat apa dia pelihara body guard di saat keuangan menipis?"
Bukankah anda sendiri yang lebih serakah? Toh itu uangnya dia sendiri. Batin Ajeng sambil menatap remeh Haris dan duduk di kursinya. "Anda terlalu berpikir banyak, keponakan anda masih kecil dan tidak punya pengalaman apa pun, jadi lebih baik abaikan saja."
"Bagaimana bisa aku abaikan ketika dia sudah membayar banyak tagihan hari ini?" Haris semakin kesal ketika menyalakan komputer dan melihat banyak email masuk dari Erina. "Uangnya cukup banyak untuk membayar hutang, hah! Meskipun mengerahkan banyak upaya, belum tentu bisa menjalankan operasional rumah sakit! Aku ingin melihat wajah sakitnya."
Erina melirik sekilas Haris. Anda memang sakit!
"Oh ya, apakah bos kamu punya waktu luang untuk lusa?"
"Saya tidak tahu, ada apa? Anda akan membayar semuanya?"
Haris mengibaskan tangan dengan santai. "Bagaimana bisa aku membayar jika ada pengganggu? Tidak, yang aku maksud adalah waktu untuk pesta."
"Pesta?"
"Putriku mengadakan pesta super meriah, tentu saja kami akan mengundang kalian."
Ajeng tidak paham. "Apakah ini alasan anda marah? Anda juga akan mengundang keponakan?"
"Tidak mungkin aku mengundang anak pembawa sial itu, kakakku selalu mengatakan Erina tidak bisa diatur dan sebagainya. Buat apa dia diundang?" Haris mengangkat kedua bahu dengan santai.
Ajeng tidak berkomentar banyak.
"Pokoknya datanglah ke rumahku, di jamin kalian akan menyukainya. Putri dan istriku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Tidak ada undangan?"
"Khusus kalian, tidak ada undangan. Lagipula putriku sendiri yang mengundang kalian, bukankah merupakan suatu kehormatan untuk kalian?"
"Berhentilah mengucapkan omong kosong, akan saya sampaikan ke atasan."
"Yah, semoga tuanmu mau ikut supaya putriku menjadi lebih semangat lagi."
Di rumah pribadi Haris.
"Buat apa kamu mengundang mafia itu? Dia bisa membunuh keluarga kita!" Tolak Edi.
Dian tertawa. "Kakak, jangan bodoh. Jika kita berhasil menjalin hubungan dengan tuan Danel, hutang kita pasti akan dipertimbangkan lebih jauh lagi."
"Kamu kira dia orang semudah itu?" tanya Edi tidak percaya dengan kebodohan adiknya sendiri. "Dia jelas-jelas penjahat, buat apa cari muka untuk penjahat."
"Edi, jaga bicara kamu. Dian itu adik kandung kamu!" tegur Endang dengan marah ketika mendengar perseteruan kakak-adik dari jauh.
Dian menjulurkan lidah lalu mengejek kakaknya.
Edi menghela napas dan menjelaskan kepada ibunya. "Bu, coba nasehati anak ini. Tidak mungkin dia bisa menikah dan hidup bahagia dengan mafia."
Endang menatap bingung Dian. "Menikah? Mafia?"
Edi memberitahu ibunya. "Dia jatuh cinta pada tuan Danel."
Dian cemberut. "Kakak, tidak mungkin aku mengabaikan pria setampan itu. Bayangkan saja betapa tampan dan cerdasnya dia, jika kita bisa menjalin hubungan dengan baik maka dia bisa memberikan keuntungan untuk kita."
"Kamu jangan terlalu banyak bermimpi, Dian! Sudah jelas pria seperti itu tidak akan menjadikan kamu pujaan hatinya."
"Memangnya kenapa?"
"Dia pasti sudah memiliki banyak kekasih, dan semuanya pasti cantik, tidak seperti kamu."
"Ibu-" rengek Dian ke Endang. "Aku tidak bisa mengundang orang ini datang ke ulang tahunku untuk mengacau!"
"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Kakak, aku tidak pernah ikut campur kehidupan cinta kakak. Kenapa sekarang malah marah kepadaku untuk menjauh darinya? Apakah kakak tidak bisa berpikir mengenai keuntungan yang akan kita dapatkan?"
Edi mengacak rambutnya dengan frustasi. "Keuntungan? Kamu pikir cinta bertepuk sebelah tangan yang kamu miliki itu bisa menghasilkan keuntungan untuk kita?"
"Ibu, lihat. Kakak bahkan mengejek aku, padahal ini rencana bagus untuk mengubah masa depan kita."
Endang menepuk kepala Dian dengan lembut. "Tenang putriku yang cantik, tidak ada yang bisa mengubah semua rencana kita. Rencana kamu memang pintar dan ayah saja memujinya dengan bangga."
Dian melirik kakaknya dengan angkuh. "Ibu bahkan setuju dengan rencana yang aku buat, kakak jangan menyesal ya."
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesal dengan semua keputusanku. Aku ingin lihat wajah lesu kamu saat pria itu menghina kamu habis-habisan."
"Kakak, aku ini cantik. Dipoles sedikit saja sudah melebihi wanita yang selalu menempelnya itu, jadi tolong hargai adik kakak ini."
Edi berjalan meninggalkan adik dan ibunya dengan muak.
Endang dan Dian saling menatap bahagia.
"Biarkan saja kakak kamu, yang terpenting coba dulu rencana ini. Jika berhasil, kakak kamu pasti akan menyesal dan minta maaf.'
Dian mengangguk setuju.
----------------
Malam hari, di rumah Adair.
Tok! Tok!
"Masuk."
Adair mendengar suara langkah kaki yang sedikit berat. "Letakan saja di meja sana, nanti aku makan. Terima kasih Erina."
Terkadang Erina kagum dengan kecerdasan Adair. "Bagaimana kamu tahu?"
Adair tetap sibuk dengan dokumennya. "Kita tumbuh bersama, aku hapal langkah kakimu."
Erina meletakan nampan di atas meja dekat sofa dan berjalan menuju meja Adair. "Apakah kamu sangat sibuk?"
"Ya."
"Kemarin, terima kasih sudah membantuku membuat kue."
"Tidak usah mengucapkannya, memang aku yang suka melakukan. Kamu tidak perlu merasa terbebani."
"Aku tidak merasa terbebani."
"Oke."
Hening sejenak.
Adair mengangkat kepala ketika menyadari tidak ada suara selanjutnya. "Ada apa? Tidak ada yang ingin kamu katakan?"
Erina terlihat ragu. "Uhm-"
Adair meletakan pena dengan anggun dan menatap lurus Erina.
"Kita memang tumbuh bersama tapi tidak saling mengenal."
Adair tidak membantahnya.
"Aku dengar sebentar lagi pesta ulang tahun saudara sepupuku dan aku tidak diundang, tapi kamu."
"Tahu dari mana?" tanya Adair tidak mengerti. Ajeng memang memberikan laporan mengenai undangan anak perempuan Haris, tapi dia belum berikan info apa pun ke Erina.
"Tangan kanan ibuku yang cerita, semua membuat story mengenai undangan sepupuku dan antusias. Sepertinya hanya aku yang tidak diundang."
"Kecewa?"
"Tidak, lebih ke penasaran saja."