MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
DUA PULUH ENAM



"Kamu ingin datang?"


"Aku tidak tertarik."


"Lalu kenapa kamu kemari?"


"Kamu diundang pamanku, kan?"


"Ya. Ajeng beritahu aku."


"Aku-"


Adair bisa melihat keraguan Erina. "Ada apa? Kenapa kamu ragu?"


"Boneka-"


"Apa?"


"Boneka yang kamu berikan padaku waktu itu, hilang."


"Oh, aku bisa belikan yang baru untukmu."


Erina menggeleng cepat. "Maksudku, kamu ingat boneka yang kamu berikan padaku, di dalam boneka itu ada kunci untuk brankas. Brankasnya diambil paman, mungkin saat ini tidak bisa dibuka karena brankas itu pesanan khusus ibu."


"Kamu ingin aku membawa kembali brankas itu?"


"Tidak, aku hanya ingin minta tolong ambil isinya saja."


"Bagaimana bisa brankasnya diambil?"


"Brankasnya kecil dan ditanam di dalam tembok, memang butuh empat orang dewasa untuk membawanya."


"Kamu tahu isi di dalam brankas?"


Erina menggeleng. "Tidak tahu, ibu juga tidak pernah mengatakannya."


"Aku akan ke sana, ada lagi yang lain?"


"Tidak ada, terima kasih." Kata Erina lalu pamit keluar ruang kerja. Jantungnya masih berdebar keras begitu mengingat ciuman di dapur.


"Anda baik-baik saja nona?"


"Kepala pelayan." Erina hampir terkejut ketika kepala pelayan tiba-tiba berdiri di belakangnya.


"Sepertinya anda demam, wajah memerah. Perlu saya panggilkan dokter?" tanya kepala pelayan dengan cemas. "Atau anda ingin makan sesuatu?"


"Tidak, tidak perlu. Aku bisa mengatasi demamnya. Terima kasih sudah khawatir." Geleng Erina.


"Nona, sudah menjadi kewajiban saya untuk peduli kepada anda." Senyum kepala pelayan.


Erina melirik pintu ruang kerja yang sudah ditutup. "Apakah dia yang bilang?"


"Anda calon istri tuan, akan menjadi pemilik rumah ini. Wajar beliau meminta hal ini kepada kami."


Erina yang tidak mau, dia tidak suka menyusahkan orang lain meskipun orang itu tidak dikenalnya. "Oh."


"Beritahu saya jika anda memerlukan sesuatu, saya ke dapur dulu."


Erina mengangguk lalu melihat kepala pelayan sudah berjalan menjauh.


"Nona, ternyata anda ada di sini." Rei lari menghampiri Erina dengan panik.


"Rei, ada apa?"


"Anda sudah melihat TV?"


"Apa?"


"Ada beberapa obat yang ditarik dari peredaran, kita sudah terlanjur membeli banyak beberapa obat yang sudah diumumkan pemerintah. Distributor sekarang tidak bisa dihubungi, bahkan salesnya blok nomor saya."


Erina terkejut. "Jika ada peraturan yang membuat barang-barang ditarik, bukankah harusnya pihak produsen menerima barang-barang yang kita beli?"


"Seharusnya, tapi saat saya coba memastikan ke pihak sales, nomor saya di blok."


"Apakah kamu tahu alamat distributornya?"


"Ya, saya tahu."


"Kita ke sana sekarang."


"Tapi-"


"Jika kamu keluar, bawa salah satu orangku untuk menemani."


Rei dan Erina menoleh ke arah pintu yang sudah dibuka, Adair berdiri bersandar di pintu.


"Suara kalian berisik sekali."


"Aku juga minta maaf karena sudah mengganggu."


Adair mengacak rambutnya dengan frustasi. "Tidak perlu, minta maaf. Kalian pasti panik sekarang. Apakah kalian sudah membayar penuh barang-barangnya?"


"Hanya lima puluh persen." Jawab Erina.


"Barangnya sudah dikirim ke tempat kalian?" tanya Adair lagi.


"Ya, kami sudah menerimanya." Jawab Erina.


"Anak buah kamu sudah cek barang yang datang sesuai dengan jumlah dan jenis barang?"


"Ya, biasanya mereka selalu cek."


"Bagus, setelahnya beritahu aku alamat distributor. Biar aku yang menangani."


"Eh?" Erina menjadi bingung.


Adair tersenyum dan mencium kening Erina. "Aku bantu cek distributornya, ingat janji kamu waktu itu untuk tidak keluar sementara waktu."


Erina menghela napas dengan pasrah.


"Jangan melanggar janji, Erina."


"Baiklah." Erina dengan enggan setuju.


Rei berkata ke Adair. "Saya akan mengirim lewat email."


Adair mengacak rambut Erina. "Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja."


Erina mengangguk. "Ah, ngomong-ngomong beberapa hari ini aku tidak bertemu pendeta. Bolehkah aku ke tempatnya?"


"Tidak boleh."


"Kenapa?"


"Dia sedang sibuk, jangan ganggu."


"Apakah kamu tahu semua jadwal pendeta?"


"Tidak, tapi kadang kala dia melapor padaku. Tempat tinggalnya masih di sekitar wilayah yang aku miliki, bisa bahaya jika ada sesuatu padanya."


Erina menatap Adair dengan tatapan tidak mengerti.


----------


"Kata orang, hutang itu dibawa mati. Jika kalian mati dalam keadaan berhutang, maka tidak bisa mati dengan tenang- itu kata kepercayaan kalian, tapi kenapa kalian malah kabur begitu saja?"


Armand duduk santai di sofa bersama dua bodyguard berdiri di belakang sementara sepasang suami istri duduk di lantai dengan ketakutan.


"Kami tidak akan kabur, berikan kami waktu dan kami akan membayarnya."


"Aku pernah memberikan kesempatan untuk kalian, hasilnya apa? Kalian berdua malah melarikan diri dan bersenang-senang mendapatkan korban baru lagi."


"Kami sedang melakukan bisnis, tidak mungkin menipu banyak orang. Anda jangan fitnah kami ya." Balas si suami dengan marah. "Harusnya sekarang kami bertemu dengan klien, kalau begini- kapan kami bisa membayar semua hutang?"


"Apakah aku terlihat seperti orang bodoh?" tanya Armand. "Setiap bertemu, yang dikatakan selalu janji sementara kalian bisa memiliki rumah sebesar ini."


Sang istri cepat-cepat membalas Armand. "Rumah ini peninggalan orang tua saya, tolong jangan lakukan apapun. Saya rela melakukan apapun untuk mempertahankan rumah ini."


"Yang aku inginkan hanyalah hutang yang belum kalian lunasi, kapan kalian akan membayarnya?"


"Kami tidak tahu, tapi kami pasti akan membayar secepatnya. Saat ini perusahaan sedang kesulitan karena salah satu produk kami ditarik dari peredaran pasar, kami terpaksa menghentikan produksi sementara waktu sampai ada kepastian dari pemerintah."


"Kalian sendiri yang salah, pemerintah sudah melakukan langkah benar supaya tidak timbul korban lagi." Armand menggeleng miris. "Lagipula ada juga kan salah satu produk dikirim sample yang berbeda dengan produk yang diedarkan di pasaran, ada banyak hal seperti ini."


"Anda tidak akan paham bagaimana kejamnya bisnis dan ketatnya persaingan, kami berusaha keras membuat perusahaan tetap berdiri."


Armand mengangkat kedua bahu dengan santai. "Kamu benar, aku tidak cocok menjadi pengusaha. Aku lebih suka mengejar orang-orang yang memiliki banyak gaya tapi tidak mampu bayar uang."


Si istri menatap marah Armand. "Perbuatan kalian semua bisa kami laporkan ke polisi sebagai bukti tindakan pemerasan."


"Pemerasan? Aku?" Armand tertawa. "Jika kalian rajin membayar hutang, tidak mungkin akan bertemu denganku."


"Lalu apa? Anda akan membunuh kami?" tanya si suami.


"Sangat rugi membuat kalian mati setelah mengambil uang kami." Armand memiringkan kepalanya dan menatap sinis pasangan suami istri. "Apakah kalian lebih memilih mati daripada membayar utang?"


Pasangan suami istri hanya diam menundukkan kepala, Armand kembali tertawa.


"Yah, memang. Aku ke sini bukan untuk membunuh kalian, berhubung kalian berdua tidak bisa membayar utang, bagaimana jika aku memberikan saran gratis untuk kalian dan wajib dipenuhi."


Si suami langsung setuju. "Beritahu kami, selama kami bisa melakukannya, kami akan mengabulkannya."