
Erina tadinya merasakan rasa sakit dan penderitaan yang tidak dapat dilukiskan. Sakit karena harus melepas kegadisannya dengan sadar dan tanpa rayuan manis serta menenangkan dari Adair.
Dulu Erina pernah melihat film dewasa dan tokoh pria selalu menenangkan wanita di awal atau memberikan foreplay supaya pasangan wanita tidak merasakan sakit.
Di sudut hati terkecil, Erina mengharapkan hal seperti itu. Namun, rupanya Adair tetap tidak melakukan apa pun di awal, hingga pada akhirnya Erina harus menangis.
Dari bawah, Erina bisa melihat wajah Adair yang konsentrasi menyenangkan dirinya, tanpa sadar Erina mengulurkan kedua tangan hingga menyentuh pipi Adair.
Adair tersentak.
Erina tiba-tiba merasakan perasaan menyenangkan dan menekan jeritan untuk menutup rasa malunya.
Adair sedari tadi memegang kaki Erina yang melilit di pinggangnya, sontak memeluk wanita mungil di bawahnya dan mencium mata yang tertutup karena dipenuhi air mata. "Maafkan aku." Katanya dengan suara serak dan menarik di telinga Erina.
Erina menggeleng lalu melingkarkan tangan di leher Adair. Dirinya terlalu malu untuk mengatakan bahwa Adair memberikan kesenangan yang tidak terlukiskan setelah merasakan rasa sakit.
"Apakah sakit?"
Baru sekarang Adair bertanya, rasanya menyebalkan bagi Erina.
"Tapi menyenangkan, bukan?" Goda Adair di telinga Erina dengan setengah berbisik.
Erina memutar bola mata.
"Lagi?"
Erina mengangguk tanpa malu.
"Good girl." Puji Adair lalu mulai menggerakkan pinggulnya dan melihat reaksi menantang Erina.
Erina yang sedari tadi menatap kesal Adair tanpa bersuara, mulai mengedipkan mata dan merasakan perasaan yang tidak dapat dilukiskan kembali.
Adair tertawa kecil. "Ingin menantang?"
Erina tidak berani menatap Adair lagi dan menyembunyikan wajah di leher tunangannya. Pantas saja banyak wanita yang ketagihan, ternyata memang sangat menyenangkan.
Sementara di kamar Erina, Dewi membersihkan kamar dan Rei membereskan dokumen yang berserakan.
Dewi bertanya pada Rei, dua jam setelah Erina bicara ke mereka berdua bahwa Erina akan menginap di kamar Adelio yang lain. "Apakah nona pada akhirnya menyerahkan segalanya ke tuan?"
"Tuan sudah membantu dari berbagai hal, bisa dibilang nona harus membayar semuanya."
Dewi berkacak pinggang. "Tapi, bukankah tuan adalah tunangan sekaligus calon suami nona muda? Sudah sewajarnya membantu nona."
"Apakah kamu pikir segalanya bisa didapatkan secara gratis? Orang tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk mobil usang. Kolektor mobil? Bisa dihitung dengan jari tapi tidak mungkin mereka memberikan harga mahal ke anak kecil yang tidak tahu mengenai uang."
Dewi menghela napas. "Kamu benar."
"Nona saat ini harus menerima bantuan dari tunangannya, siapa lagi yang akan membantu anak yatim piatu yang dikepung orang-orang serakah?"
Dewi duduk di pinggir tempat tidur dan merasa sedih. "Aku kasihan dengan Nona, padahal dulu sangat dimanjakan Nyonya. Tapi Tuan besar dan Tuan muda benar-benar keterlaluan, sampai meninggal pun menyusahkan Nona."
"Kita tidak tahu perasaan orang kaya, sebaiknya tidak perlu ikut campur dan cukup membayar kebaikan mereka dengan bakti."
Dewi mengangguk setuju. "Sepertinya aku harus menyiapkan banyak makanan bergizi untuk nona."
Rei tersenyum begitu mendengar perkataan Dewi.
Di saat Rei dan dewi bersuka cita karena nona mereka mau memperbaiki hubungan dengan calon suami, Ajeng mabuk di bar mahal dengan perasaan sedih.
"Nona, apakah anda sendirian?"
Pria itu bersiul.
Ajeng meletakkan gelas lalu turun dari kursi.
"Hei, nona. Jangan bersedih hati, aku bisa menjadi pelampiasan kamu."
Bartender yang mengambil gelas Ajeng, mengerutkan kening. "Tuan, tolong jangan ganggu dia."
Pria itu menoleh ke bartender. "Kenapa? Dia minum di sini, tentu saja butuh pelampiasan."
Ajeng pergi tanpa pedulikan cerocos si pria sambil melambaikan tangan ke bartender tanpa menoleh ke belakang.
Pria itu tertawa lalu hendak menyusul Ajeng.
Dua pria bertubuh besar menghalangi jalan pria itu.
Pria itu diam di tempat dan tidak berani bergerak ketika melihat tubuh besar dua pria. "Hm? Mau apa kalian? Aku tidak tahu apa-apa." Tantangnya meskipun di dalam hati ketakutan.
"Dia milik bos kami, jangan ganggu dia."
Ajeng menghentikan langkah lalu balik badan. Melihat dua bodyguard bertubuh besar melindunginya dari pria mesum.
Bodyguard milik Adair.
Ajeng tertawa miris. Tubuhnya memang selalu dipakai Adair tapi Adair juga tidak membiarkan dirinya berhubungan dengan pria lain kecuali jika Adair memberikan instruksi.
Di dunia bawah, bos memberikan wanitanya ke bos lain sudah menjadi hal lumrah.
Ajeng mulai tenang sekarang, jika dirinya saja yang sangat setia dan tunduk bisa diberikan pada pria lain, lantas kenapa tunangan sombong itu juga tidak diperlakukan sama? Bukankah Adair sangat adil untuk bawahannya?
Ajeng mendekati dua pengawal itu dan bicara. "Bawa aku pulang, aku sedikit mabuk. Bos pasti tidak suka melihat aku tergores sedikit pun."
Pria mesum yang hendak mendekati Ajeng meludah dan melempar tatapan menghina. "Cih! Ternyata pelacur kelas atas! Begitu saja bangga!"
Ajeng membalas. "Meskipun aku pelacur kelas atas, aku bisa membeli barang-barang asli, berbeda dengan kamu yang memakai barang tiruan dari atas sampai bawah lalu-"
Ajeng menyipitkan mata lalu mulai mencibir. "Mencari wanita untuk dijadikan pelampiasan nafsu gratis."
Pria itu marah. "Hah! Hanya barang-barang bermerk! Apa yang bisa dibanggakan?!"
Meskipun agak kesal, Ajeng belajar dari Erina. Erina yang kaya sejak lahir, tidak pernah sekalipun mencemooh penampilan orang lain, bahkan wanita yang tidur dengan tunangannya pun tidak pernah disinggung sama sekali.
Berbeda dengan orang miskin yang iri dengan apa yang bisa dimiliki orang lain. Mereka pasti akan menyerang kejelekan orang yang membuat dia iri.
Ajeng meskipun dilatih bersikap dingin dan tidak peduli pada orang lain, tetap saja tersulut emosi ketika ada yang menghina dirinya. Dia hanya ingin mempertahankan harga dirinya yang terluka.
"Bisa, aku bisa membanggakan apa yang aku miliki di depan kamu- sehingga kamu bisa melontarkan kalimat menjijikan seperti itu." Tunjuk Ajeng lalu balik badan dan pergi meninggalkan pria mesum itu.
Salah satu bodyguard menghajar pria yang hendak menerjang Ajeng sementara yang lain melindungi Ajeng dari belakang.
"Erina, bos tidak suka melihat kamu seperti itu. Jangan sampai membuat bos turun tangan untuk hal yang tidak perlu."
Ajeng menghela napas. "Ya, baik- baik. Aku tahu itu."
Bodyguard di belakang Ajeng menggelengkan kepala dengan miris. Padahal Ajeng tidak pernah bersikap seperti ini.
Ajeng tidak tahu apa yang ada di pikiran bodyguard, hatinya merasakan sakit ketika melihat Adair melakukannya dengan tunangan sendiri. Meskipun dia tahu Adair tidur dengan wanita lain selain dirinya tapi, Ajeng juga menghibur diri bahwa Erina pasti akan mendapat perlakuan yang sama dengan dirinya dan wanita-wanita lain.