
Rei merasa kasihan dengan Erina. Orang-orang hanya melihat hidupnya yang serba mewah dan bergelimang harta, tapi mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya hidup Erina.
Erina menghela napas panjang. "Ah, setelah ini aku mau ke rumah pendeta Armand. Bisa antar aku ke sana?"
"Tidak masalah, saya akan menemani anda."
"Terima kasih," ucap Erina.
Setelah menghabiskan makanan-minuman, Erina menyelesaikan pekerjaannya bersama Rei.
Waktu menunjukkan tepat jam lima sore, mereka berdua bergegas pulang sebelum orang-orang keluar. Tentu saja mengamankan semua tagihan yang sudah dibayar ke dalam brankas besi.
Melewati ruang kelas dua, Erina dan Rei mendengar suara teriakan dari dalam ruangan.
"Apa gunanya bunuh diri? Kamu memang tidak punya otak! Dibesarkan susah-susah malah bunuh diri!"
"Pak, jangan berkata seperti itu. Ini anak sendiri, istighfar pak."
"Istighfar, istighfar. Anak kamu ini dajjal! Tidak tahu diuntung! Dia sudah mempermalukan aku! Kenapa tidak sekalian mati saja?!"
"Pak!"
"Yang dikatakan bapak itu benar, dia saja yang kurang iman makanya seperti itu. Ibu tidak usah bela dia, dianya sendiri tidak pernah perhatikan ibu, bisanya duduk bengong, nangis, gak ngapa-ngapain."
"Kamu kok bicara begitu ke adik sendiri?"
Rei yang melihat Erina tidak ada di sampingnya, sontak berhenti dan balik badan. Erina berdiri di depan ruang kelas dua.
"KAMU MATI SAJA SANA! SUDAH TIDAK INGAT TUHAN MALAH BUNUH DIRI! DOSA KAMU ITU MASIH DI BAPAK!"
Erina melihat anak itu hanya duduk diam dengan wajah pucat, menerima semua cacian keluarganya.
Ruangan kelas dua terdiri dari delapan ruangan yang berjejer, satu kamar terdiri dari dua tempat tidur dan satu kamar mandi. Di depan ruangan diisi tempat duduk untuk pengunjung.
Orang-orang yang duduk di sekitar kelas dua, mulai bergosip.
"Kenapa?"
"Itu lho, anak yang bunuh diri di universitas. Terjun dari lantai tiga dan ternyata hanya patah tulang saja."
"Ih, kurang iman dianya."
"Anak zaman sekarang memang begitu, bilangnya mental health. Faktanya sih mental mereka yang lemah."
"Setuju."
"JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAHKU!"
JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH!
"Dasar anak tidak berguna!"
Anak perempuan tidak pernah berguna dalam dunia bisnis.
"DIAM!"
Erina bisa mendengar teriakan anak perempuan itu.
"AYAH DATANG TANPA BERTANYA PENYEBAB AKU BUNUH DIRI! YANG AYAH TAHU AKU PUTUS DARI PACAR LALU BUNUH DIRI!"
"KARENA ITU MEMANG FAKTANYA!"
"FAKTANYA BUKAN BEGITU!"
Rei yang berjalan mendekati Erina, menghentikan langkahnya.
"Tidakkah ayah pernah bertanya apa yang terjadi padaku? Tidakkah ibu paham apa yang aku rasakan?"
"Bicara apa kamu?!" bentak ayah anak itu.
"Itu lagi yang kamu bahas! Kerja itu gak ada gajinya! Lebih besar menjadi perawat! Kamu juga bisa mendapatkan jodoh seragam."
"Tapi aku tidak mau, nilaiku tidak sampai semua dan aku tidak mau membuang uang ayah."
"Aku tidak mau mengeluarkan uang untuk kuliah jurusan tidak berguna itu!"
"Tidak apa, tidak apa ayah tidak memberikan biaya. Yang penting aku bisa melakukan apa yang aku sukai, aku- aku-"
Ibu anak itu bertanya. "Jadi, kamu bunuh diri hanya karena itu? Kamu merasa beban kamu berat karena itu?"
"Ibu- aku-"
"Kamu tidak tahu perjuangan ayah kamu untuk mencari biaya? Ibu juga bekerja keras memenuhi kebutuhan supaya kamu sukses, dan lihat apa yang kami dapat?"
"Ibu-"
"Padahal kami berencana jika kamu lulus kuliah, ayah berhenti kerja dan ibu di rumah saja jualan sementara kamu yang menggantikan tugas."
"Bagaimana dengan kakak?"
"Kakak kamu akan menjadi ulama terbaik se Indonesia, jangan ganggu belajarnya dia. Justru kamu yang harus menopang keluarga kita untuk membalas jasa yang telah kami lakukan."
Rei melihat air mata Erina keluar. "Nona."
Erina menghapus air mata lalu masuk ke dalam kamar dengan berani. "Apakah kamu mau bekerja di rumahku?"
Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh.
Anak perempuan itu menatap bingung Erina. "Kamu siapa?"
"Aku- hanya kebetulan lewat dan mendengar semua pembicaraan kalian. Kamu ingin menggapai mimpi kamu bukan? Aku bisa membantu kamu."
Anak perempuan itu menatap Erina lalu melirik keluarga kandung yang menunggu jawaban darinya.
"Mereka hanya menganggap kamu sebagai investasi masa depan, kamu wajib merawat mereka, mengutamakan mereka dan tidak akan pernah mendukung ataupun membantu kamu mencapai cita-cita."
"Aku juga pernah di posisi kamu tapi sayangnya sampai akhir, aku tidak bisa mengatakannya. Tapi jika kamu ingin menggapai mimpi itu, aku bisa menampung kamu."
Ayah anak perempuan itu berkata. "Anak kecil, apa yang dikatakan anakku itu hanya alasan, dia itu hanya putus cinta."
"Aku-"
"Apakah anda pernah mendengar perkataannya?" Potong Erina.
"Apa?"
"Dia pacaran untuk mencari penghiburan karena keluarganya sendiri tidak pernah paham perasaannya, sekarang dia bicara saja kalian tidak mau mendengar dan hanya membuat asumsi sendiri. Begitu berpisah tentu saja dia akan merasa patah hati. Siapa yang akan mendengar dia lagi? Siapa yang akan menghibur dia lagi?"
"Sementara kalian yang mengaku sebagai keluarga- apa yang kalian lakukan sekarang?" Erina balik badan lalu bertanya dengan tegas. "Jika kamu ikut aku, aku akan mendukung kamu. Mereka memang keluarga kamu, dan harus membalas semua balas jasa- tapi bukan berarti kamu harus menyerahkan segala hidup kamu kepada mereka. Kamu adalah kamu, saat mati hanya sendirian, dosa dan amal pun hanya dibawa sendiri."
Bibir anak perempuan itu bergetar dan tangisannya pecah. "Kenapa- kenapa justru orang asing yang paham perasaanku?"
"Bunuh diri bukan kejahatan, mereka hanya ingin diselamatkan. Tapi kalian yang mencacinya tidak pernah mau mengulurkan tangan, hanya bisa menilai buruk orang bunuh diri." Erina menatap getir anak perempuan itu. "Di dunia ini hanya sedikit yang peduli dengan psikologis orang lain, sisanya mereka hanya mengejek ataupun mencaci kamu."
Ibu anak perempuan itu lari mendekati anaknya dan menggoyang tangannya. "Kami keluarga kamu, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Apakah kamu tidak takut pada Tuhan? Kenapa kamu tidak pertebal iman?"
"Kenapa anda hanya bicara saja?"
"Apa?" Ibu anak perempuan itu melotot marah ke Erina.
"Jika anda bisa dengan mudahnya mengatakan itu, kenapa tidak menemaninya untuk mempertebal iman? Kenapa tidak selalu berada di sisinya? Kenapa tidak mau mengerti egonya sementara kalian sendiri minta dimengerti."
"Kami orang tuanya, anak-anak muda zaman sekarang seperti kalian itu sendiri yang suka seenaknya! Sudah bagus kami merencanakan masa depan, tapi apa? Malah pilih jalan yang tidak berguna!"
Erina sangat membenci orang-orang ini. Hanya memikirkan dirinya sendiri lalu jika orang lain melakukan kesalahan maka akan dimaki seolah mereka itu suci dan tidak memiliki kesalahan.