MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
TUJUH BELAS



"Erina apa?" tanya Adair ketika mendapat laporan.


"Di rumah sakit dan menolong anak perempuan orang itu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kenapa anaknya bisa ada di rumah sakit?"


"Bunuh diri dari lantai tiga universitas."


Adair mendecak kesal. "Awasi saja dia."


"Dia?"


"Awasi orang itu."


"Tunangan anda?"


"Selama tidak ada yang tahu aku tunangannya, dia aman."


"Baik."


Sementara di rumah sakit, Erina harus menghadapi keluarga egois.


Kakak anak perempuan itu melirik kalung salib di leher Erina. "Pantas saja bicaranya ngawur begitu, kamu agamanya kristen."


"Tidak ada hubungannya dengan agama." Erina tidak paham dengan jalan pikiran keluarga konyol ini.


"Di agama kami, bunuh diri itu sangat dilarang karen mereka menyalahi aturan Tuhan. Tentu saja di ajaran kamu tidak ada hal seperti itu?"


Erina tertawa mengejek. "Kalau begitu, apakah di agama kalian ada aturan mengejek orang yang bunuh diri? Hanya karena kalian merasa agama paling sempurna, itu tidak menjadikan kalian sebagai manusia sempurna."


"Keluar dari tempat ini! Kamu hanya orang luar!" Usir ibu anak perempuan itu.


"Saya lebih berhak mengusir kalian semua dari sini karena telah mengganggu pasien." Erina mengabaikan usiran wanita itu. "Anak itu adalah pasien kami, jangan mengganggunya."


"DIA ANAK KAMI!" bentak ayah anak perempuan itu.


"Dan dia adalah pasien rumah sakit saya." Tekan Erina.


"Nona."


Erina menepis tangan Rei.


Rei langsung paham kenapa Erina bersikap seperti ini, mungkin anak itu memiliki masa lalu sama dengan Erina.


Rei membungkuk lalu berbisik di telinga Erina. "Nona, kita tidak bisa ikut campur urusan orang lain."


Erina tersadar lalu menoleh ke Rei. "Benar, maafkan aku."


Rei hanya bisa tersenyum maklum.


Erina menatap anak perempuan itu kembali. "Tawaranku masih berlaku, jika kamu ingin menghubungi aku- bisa beritahu ke petugas rumah sakit."


Anak perempuan itu menatap cemas Erina yang sudah pergi meninggalkan kamar. 


Erina berjalan cepat mendahului Rei, dia sudah mulai muak berada di sini dan cepat-cepat ingin memeluk dua bocah kesayangannya.


Rei mengikuti Erina dari belakang tanpa berkomentar, khawatir Erina akan melakukan hal sama lagi.


Setiba di gereja dengan menumpang mobil Rei, Erina kelua


r dari mobil dan disambut dua bocah kesayangan yang sedang bermain dengan Armand.


Armand terkejut melihat kedatangan Erina yang tiba-tiba. "Kenapa tidak memberikan kabar terlebih dahulu? Bagaimana jika saya tidak ada di gereja?"


"Maaf, saya mendadak datang dan merepotkan pendeta."


Armand melambaikan tangannya. "Aih, tidak perlu. Saya juga suka anjing dan kucing lagipula mereka tidak terlalu nakal dan suka bermain, jadi membantu saya berolah raga supaya sehat dan kuat."


"Pendeta, terima kasih sudah merawat anjing dan kucing saya." Erina memeluk mereka berdua dengan rindu, hampir menangis.


Armand tersenyum lembut. "Jangan mengatakan hal seperti itu, berterima kasihlah pada Tuhan."


Erina membuat tanda salib lalu menggenggam kedua tangannya dan berbisik. "Terima kasih Tuhan."


"Erina, terima kasih sudah bertahan selama ini." Tawa Armand lalu melirik sekilas Rei,


"Kamu jangan membenci paman dan bibi ya, mereka memang salah di mata orang lain tapi bagi mereka tindakan itu benar. Padahal ayah kamu sudah beda agama." Armand menyayangkan sikap keluarga dari pihak ayah Erina. "Tapi jika kamu ingin balas dendam, pendeta ini bisa berdoa meminta kepada Tuhan."


Erina tersenyum. "Terima kasih."


Rei yang berdiri tidak jauh dari Erina, menatap curiga pendeta Armand.


Armand yang sedari tadi membungkuk karena Erina duduk di tanah sambil memeluk Pino dan Nuna, meluruskan punggungnya sambil memegang pinggang dan mengeluh kesakitan. "Orang tua selalu saja kena encok di mana pun. Ngomong-ngomong sekretaris, lama tidak jumpa. Masih setia dengan keluarga gadis manis ini?"


Kedua mata Rei menyipit curiga. "Saya akan selalu setia kepada nona muda, pendeta sendiri bagaimana kabarnya?"


"Baik, saya mengurus anjing dan kucing si gadis manis."


Erina cerita tanpa menoleh. "Paman dan bibi sempat membuang Pino dan Nuna. Jika aku bawa pulang, aku khawatir mereka akan membuangnya kembali jadi aku minta tolong pendeta untuk menjaganya sementara waktu."


Rei mengangguk mengerti.


Armand mengajak Rei dan Erina masuk ke dalam rumah dinasnya. "Kalian berdua silahkan masuk dan istirahat sebentar, pendeta tua ini akan mencarikan camilan dan minuman."


Erina menolak. "Tidak perlu repot-repot."


Armand mengibaskan tangan. "Tidak repot, memang itu tugasnya tuan rumah dalam menyambut tamu. Jika kalian berdua menolak, saya akan menangis keras."


Rei dan Erina terpaksa mengikuti pendeta dengan ditemani Pino dan Nuna.


--------


Haris membaca daftar hutang rumah sakit dan tertawa bahagia, sebentar lagi rumah sakit ini akan menjadi miliknya dan bisa membayar hutang banyak lalu membangun usaha baru lagi bersama Edi.


Ajeng yang melihat tawa bahagia Haris, segera berdiri di depan meja dan mengetuknya. "Apakah anda sudah cek email rumah sakit hari ini?"


Haris yang tersadar dari lamunan menoleh ke Ajeng. "Hah? Apa?"


"Anda belum cek email?"


Dahi Haris berkerut. "Buat apa aku cek? Tidak ada gunanya!"


"Cek dan lihat isi salah satu email sebelum anda menyesal."


Haris cemberut dan bergegas menyalakan komputer. "Awas, jika tidak ada yang menarik."


Ajeng melipat tangan di depan dada. "Lihat dulu baru bisa mengancam."


Haris membuka salah satu isi email terbaru yang baru masuk dan membacanya.


Ajeng tersenyum mengejek ketika wajah Haris berubah menjadi tegang. "Sudah dibaca?"


Supplier memberikan surat pelunasan hutang, tidak hanya satu tapi juga supplier lain.


Haris melihat nama pengirim e-mail. "Sejak kapan Erina punya alamat email khusus staff?" tanyanya dengan geram.


Ajeng memutar bola mata lalu kembali duduk di depan laptop dan menyindir Haris. "Jika anda bisa bekerja dan memutar otak, hutang-hutang ini bisa saja anda yang bayar terlebih dahulu untuk menarik simpati dewan direksi dan komisaris. Sekarang keponakan anda yang sudah membayarnya, saya yakin para dewan akan berubah pikiran."


Haris melihat keseluruhan email yang dikirim Erina. "Dia pasti tidak hanya mengirimkan email ini kepadaku tapi juga ke para dewan direksi sebagai bukti telah membayar hutang?"


"Tepat."


Haris menggebrak meja dengan tangan kanan mengepal. "Kenapa bisa dia mendapatkan pembeli sekaligus membayar semua hutang-hutang ini? Pasti ada harta yang disembunyikan atau dia memiliki rekan lain."


Haris takut Erina bisa mengambil alih rumah sakit, lalu bertanya pada Ajeng. "Apa yang harus aku lakukan? Diam saja melihat anak-anak itu membayar hutang?"


"Kenapa anda bertanya pada saya?"


"Bukankah orang itu mengirim kamu untuk membantuku?"


Ajeng menatap ironis pria serakah itu. "Nasi sudah menjadi bubur, nikmati saja dan jangan membuat ulah sampai rapat dewan komisaris. Jangan menyinggung masalah pribadi juga, mereka tidak mau tahu tentang hal itu."


"Tapi-"


"Jika anda tidak mendengarkan saya, saya juga tidak akan peduli."


Haris terdiam lalu menuruti nasehat Ajeng tapi hatinya masih merasakan sakit ketika melihat jumlah hutang yang sudah dibayar Erina termasuk kehilangan mobil-mobil yang sudah diincarnya. "Aku telah meremehkan gadis kecil itu."


Ajeng menatap remeh Haris dan berkata di dalam hati. Tentu saja, karena kamu terlalu bodoh untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya.