
Erina tahu, Adair hanya mengucapkan kata 'maaf'. Tidak ada penyesalan atau ketulusan, pria di hadapannya hanya ingin menghargai perasaan orang lain.
Erina meletakkan buku di atas meja dan berdiri. "Boneka itu, lebih baik kamu simpan dan berikan kepada wanita lain."
Adair terdiam.
Erina pergi meninggalkan ruangan lewat jalan belakang, dengan bantuan kepala pelayan yang sudah berdiri di depan pintu.
Kedua tangan Adair mengepal erat di masing-masing sisi.
Adair tahu, Erina sangat kesal. Wanita itu sebenarnya tidak mempermasalahkan harta yang dihancurkannya, hanya saja dia kesal karena tidak bisa menjaga peninggalan keluarga.
Adair tidak bisa membalas atau menghiburnya. Ini bukan masalah dirinya bucin atau cinta ke Erina, dia hanya ingin menghargai hubungan keluarga dan pertunangan yang sudah lama terjalin.
Dari ujung tangga, Ajeng menatap kesal sosok Erina. Wanita tidak tahu diri!
---------
Keesokan harinya, Erina datang ke rumah sakit dan disambut para staff yang masih setia dengan orang tuanya. Mereka semua menyampaikan duka cita dan tidak bisa hadir karena takut dengan adik dari ayah Erina.
"Yang datang adalah petinggi saingan, rumah sakit kita memang besar. Tapi masalahnya banyak manajemen berantakan dan keuangan- sejak orang tua anda meninggal, kebanyakan barang dan uang diambil alih oleh pak Haris."
"Pak Haris memang kepala keuangan rumah sakit, beberapa staff percaya dengan beliau karena memegang lama posisi keuangan rumah sakit kita."
"Akhirnya dia menunjukkan topeng asli dengan mengambil banyak uang rumah sakit dan meninggalkan beberapa hutang, kita harus membayar tagihan-tagihan bulan ini."
Erina yang sudah duduk di tempat ibunya dulu, diberondong keluhan banyak pihak.
Erina mulai berpikir. Rumah sakit memiliki masalah kondisi finansial, tidak ada yang berani menduduki kursi CEO kecuali paman. Tapi kenapa orang itu bersikeras ingin mengambil alih rumah sakit? Apakah dia ingin menjual tempat ini?
"Sebentar lagi rapat dewan direksi, lalu seminggu lagi rapat dewan komisaris. Nona harus bisa menunjukkan ke mereka bahwa nona pantas menduduki posisi ini."
Erina menghela napas panjang dan bingung. "Tapi, saya tidak paham manajemen rumah sakit dan baru masuk kuliah. Jadi-"
Lima orang yang berdiri di depan meja Erina, saling menatap bingung lalu tak lama mereka mulai sepakat diam-diam.
"Nona, kami akan mengajarkan manajemen rumah sakit. Nona hanya harus bersikap tegas di depan mereka."
"Benar, nona ikuti saja perkataan kami."
Erina tersenyum canggung. "Bolehkah saya minta waktu sebentar, saya ingin mempelajari semua dokumen di sini."
Mereka semua memberikan semangat sekilas lalu keluar dari ruangan.
Erina bersandar di kursi ketika pintu sudah ditutup dan suara langkah kaki telah menjauh.
Salah satu dari pengikut kedua orang tua Erina yang menyatakan dirinya setia, bisa saja juga mata-mata untuk paman. Dia harus bisa pintar memilah atau menyaring semua saran mereka termasuk-
Erina mengedarkan pandangan di seluruh ruangan kerja ibunya. Banyak file dokumen yang sudah diarsip dan masukan ke dalam binder.
Erina menghela napas panjang, tidak mungkin tiba-tiba belajar langsung masalah keuangan tanpa mempelajari manajemen dari depan. Takutnya jika ada yang terlewat, dia harus mengulang dari awal.
Siapa yang bisa dipercaya? Tentu saja dirinya sendiri, tapi apa salahnya mengambil ilmu dari mereka?
Sementara di tempat Adair, Ajeng mulai melapor.
"Nona muda sudah mulai bekerja dan rapat dengan para pengikut yang tersisa, sebagian besar staff rumah sakit berada di pihak paman nona."
Adair yang duduk di ruang kerjanya, menatap foto-foto Erina yang tersenyum tapi juga terlihat lelah di matanya. Anak kecil yang ingin menjadi dewasa, hidup di rumah bagaikan putri tapi sekarang harus menghadapi kenyataan hidup yang menyakitkan.
Ajeng menatap bingung Adair. "Tuan?"
"Hm?"
"Masalah Haris, apakah dibiarkan begitu saja? Ini sudah lewat satu tahun dan dia hanya mampu membayar separuh bunga, belum hutang pokok."
"Dia sebenarnya sudah jatuh bangkrut sekarang, tidak punya apa pun dan hanya mengandalkan posisi sebagai adik kandung dari ayah Erina. Dia ingin melahap harta seorang anak yatim piatu."
"Dan anda hanya melihat saja tunangan anda dilahap paman sendiri?"
Adair menaikkan salah satu alis tampannya.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Biarkan saya membantu nona."
"Dan kamu membantu dari mana?"
"Saya cepat belajar dan juga bisa melindungi nona."
Adair bangkit dari kursi dan berjalan perlahan menuju Ajeng.
Kali ini mereka saling berhadapan dekat.
Jantung Ajeng berdebar kencang.
Jari jempol dan telunjuk Adair menjepit keras dagu Ajeng hingga mendongak ke atas, agar menatap langsung mata Adair.
Kedua mata Adair menyipit. "Apa yang kamu inginkan?"
"Saya hanya melindungi nona, beliau adalah calon istri anda."
"Kenapa yang terdengar di telinga saya adalah kamu sedang cemburu sekarang?"
"Saya-"
"Kamu ingin menyangkalnya?"
Ajeng terdiam, kali ini tubuhnya gemetar ketakutan.
"Jangan pernah menyentuh Erina sedikitpun, kamu hanya teman tempat tidurku. Tidak lebih."
"Tapi saya juga bawahan anda, kenapa anda tidak percaya kepada saya?"
"Karena jika aku percaya padamu masalah Erina, itu berarti kamu sudah mati, Ajeng."
Ajeng tersentak.
"Aku hanya percaya pada pekerjaan lain, tidak Erina. Karena jika wanita cemburu, dia hanyalah seonggok daging yang tidak berguna di depan mataku."
Ajeng menelan saliva ketakutan.
"Kamu dengar itu?"
Ajeng mengangguk.
Adair melepas jepitan jari di dagu dan menjauh dari Ajeng. "Awasi terus mereka dan jangan sampai terlewat satu pun."
"Baik."
Setelah menjawab, Ajeng bergegas pamit pergi untuk menjauh dari Adair. Jantungnya berdebar ketakutan dan kaki melemas ketika sudah jauh dari ruangan.
Tubuh Ajeng bersandar di tembok. Kenapa? Kenapa orang itu tetap saja menakutkan?
"Kamu baik-baik saja?"
Ajeng mendongak dan bertatapan dengan pendeta Armand yang setiap hari keluar masuk rumah ini. Dia sempat heran, keluarga ini selalu melakukan kejahatan, tapi kenapa ada pendeta keluar masuk rumah? Apakah mereka mengungkapkan dosa ke pendeta supaya dimaafkan Tuhan?
Ajeng sendiri atheis, setelah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga kandung dan lingkungan sekitar.
Ajeng berdiri dan mengangguk sekilas. "Tidak apa, saya hanya kelelahan."
Pendeta Armand menaikkan salah satu alisnya. "Anakku, jangan pernah berbohong di depan pengikut Tuhan. Saya tahu kamu sedang ketakutan sekarang, siapa yang menakuti kamu?"
Ajeng menggeleng lalu pergi melewati Armand, dia tidak mau membuang waktu untuk pria konyol ini.
Kepala Armand menggeleng miris. "Apakah anak muda zaman sekarang tidak percaya dengan Tuhan? Sayang sekali, semoga dia kembali ke jalan yang benar."
Kepala pelayan yang berdiri di belakang pendeta, hanya tersenyum kecil melihat tingkah lakunya.