
Jawaban Adair sangat mencengangkan namun Rei dan Erina bisa memahami. Pria membutuhkan kebutuhan fisik dan harus dilampiaskan, terutama jika pria itu seperti Adair.
Tidak mudah berada di posisi Adair.
Rei melirik Erina yang masih menatap lurus Adair, dia khawatir Erina terjebak ke hal yang tidak baik tapi-
Di zaman modern, kebutuhan hidup semakin tinggi. Apakah Erina mampu menghadapi sendiri tanpa bantuan Adair?
Adair berdiri lalu mengacak rambut Erina. "Tidak usah dipikirkan terlalu berat, aku tetap bantu kamu."
Erina mendongak dan menatap curiga Adair. "Benarkah?"
"Kenapa? Kamu curiga?"
Erina mengangguk, dia tidak bisa berbohong di depan Adair. Suatu saat pria itu akan menjadi pasangan hidupnya.
Kedua tangan Adair diletakkan di atas sofa lalu membungkuk sehingga mata mereka saling bertatapan.
Erina tidak tahu kenapa Adair melakukan tindakan tidak biasa itu. "Ad-"
"Kalau begitu, cium aku."
Erina terbelalak lalu menundukkan kepala, masih segar di ingatannya saat mereka berdua berciuman waktu itu.
Adair menatap rumit Erina lalu menegakkan tubuhnya. "Aku tidak akan memaksa, pergilah bersama asisten."
Rei yang masih melihat interaksi mereka berdua, terkejut lalu pamit. "Ah, sepertinya ada yang harus saya lakukan di luar. Nona, anda bersama tuan dulu."
Erina ingin ikut tapi Rei sudah lari keluar ruangan.
Adair mencibir. "Untuk seorang pria yang tidak pernah olah raga, cukup cepat juga dia saat berlari."
Erina cemberut. "Jangan menghina dia, dia sudah banyak bekerja demi aku."
"Demi kamu, bukan aku." Adair menaikkan dagu Erina. "Kamu bisa minta tolong sesuka hati padaku, bahkan jika kamu ingin aku membayar semua hutang orang tua kamu, aku bisa melakukannya."
Erina tergoda dengan rayuan manis Adair tapi instingnya mengatakan untuk tetap bertahan meskipun harus merasakan sakit. "Terima kasih, tapi aku ingin melakukannya sendiri."
Adair menatap tidak percaya Erina. "Benarkah?"
"Ya." Erina mengangguk tegas lalu mencubit celana Adair. "Tapi, aku tidak bisa melakukannya sendiri tanpamu."
Adair menaikkan salah satu alis.
Erina memang tidak tahu apa pun tentang bisnis keluarganya karena dilarang ikut campur oleh sang ayah, namun dirinya juga tidak terlalu bodoh untuk menolak bantuan dari pihak luar. Contoh nyata saja dokumen yang diberikan barusan, Adair mampu memberikan bantuan yang tidak bisa diberikan oleh orang lain.
Kedua mata Erina terbuka sekarang. Jika dirinya yang datang ke sana langsung, para pemilik pasti tidak akan menemuinya dan hanya menganggap sambil lalu. Jika tidak ada tanggapan, Erina harus mengganti rugi semua yang dilakukan pamannya.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Adair.
Erina mendongak. "Memberikan apa yang kamu inginkan, jika memang tujuanku bisa tercapai."
"Aku bisa-"
Erina memotong perkataan Adair. "Di dunia ini tidak ada yang namanya gratis."
Adair terkejut lalu tertawa. "Benar, di dunia ini tidak ada yang namanya gratis. Mau aku bantu pergi ke kamarku?"
Erina menunduk dan menggelengkan kepala dengan wajah memerah. "Tidak, aku bisa pergi sendiri. Aku juga harus bicara ke mereka berdua, kalau aku menginap di kamar kamu malam ini?"
"Hanya malam ini?"
Erina menggigit bibir. "Selanjutnya juga."
Adair tersenyum.
Menjelang malam, Ajeng pulang dengan langkah tergesa-gesa.
Ketika melihat kepala pelayan, dia segera bertanya. "Dimana tuan besar?"
Sebelum kepala pelayan menyelesaikan kalimatnya, Ajeng segera pergi menuju kamar Adair dengan langkah lebar.
"Tunggu, Ajeng! Kamu tidak bisa pergi ke sana."
"Lalu aku harus kemana? Aku harus bicara ke tuan besar masalah penting!"
"Tidak! Tidak! Tuan besar saat ini sedang sibuk!"
"Apa yang lebih sibuk dari bisnis yang diganggu? Tuan besar pasti akan mengerti."
"Bisnis diganggu?" Tanya kepala pelayan yang sempat membeku sejenak lalu kembali sadar dan berusaha mengejar Ajeng. "Tidak bisa! Kamu tidak bisa pergi ke sana!"
"Bagaimana bisa aku tidak pergi?" Tanya Ajeng lalu membuka pintu kamar Adair yang memiliki dua pintu, Ajeng harus mendorongnya sekuat tenaga dengan kedua tangan. "Tuan besar! Kita mendapatkan masa-"
"Ah!" Kepala pelayan hampir mendapat serangan jantung ketika melihat apa yang terjadi di atas tempat tidur.
Kepala pelayan dan Ajeng hanya melihat punggung telanjang seorang perempuan yang dipegangi dua tangan Adair. Satu di punggung, yang lain di pinggang.
Suara erangan yang tidak asing masuk ke dalam telinga mereka berdua.
Bagian bawah ditutup dengan selimut sementara wanita itu melingkarkan lengannya di leher Adair sambil menggerakkan pinggul perlahan.
"Bergerak perlahan, supaya tidak sakit mhm."
Perempuan itu terdengar mengerang sambil menangis bersamaan, apakah ini pertama kalinya?
Suara magnetis dan geraman dalam Adair menghipnotis Ajeng.
Kepala pelayan menelan saliva lalu buru-buru menarik Ajeng keluar dari kamar.
Ajeng masih diam membeku meskipun pintu sudah ditutup kepala pelayan. "Apakah tadi, nyonya muda?" Tanyanya dengan wajah pucat.
Kepala pelayan balik badan dan menatap Ajeng dengan tatapan marah. "Lalu bagaimana jika itu nyonya? Mereka memang pasangan sejak awal. Kamu bisa menunggu nanti."
Ajeng menatap pintu dengan tatapan cemburu. Jika dia tidak salah lihat, perempuan itu menarik rambut belakang Adair. Selama ini pria itu tidak pernah mengizinkan wanita manapun menyentuh kepalanya.
Kepala pelayan menggeleng lalu menarik Ajeng menjauh dari pintu.
Sementara di dalam, Erina menangis karena terlalu lelah, dia menyerah. Adair benar-benar menyiksanya.
Normalnya untuk wanita yang pertama kali melakukan, para pria selalu membujuk dengan kata manis atau melakukan dengan hati-hati.
Namun, Adair berbeda. Erina harus melakukannya sendiri untuk membuktikan tidak ada paksaan. Alhasil dia harus menangis kesakitan saat pertama kali bergerak dan melakukan sendiri.
Erina menangis sambil menggerakkan pinggulnya. "Sakit..." erangnya di telinga Adair.
Adair mengusap punggung Erina untuk menenangkan. "Bergerak perlahan, supaya tidak sakit mhm."
Napas Adair memburu.
Erina tidak sanggup lagi dan bersandar di tubuh Adair lalu tiba-tiba muncul sensasi aneh yang tidak bisa diungkapkan.
Erina terkejut lalu menatap mata lawannya ketika sang lawan mulai bergerak menggantikan perlahan.
"Bagaimana?"
Erina tidak sanggup menjawab dan mengejapkan kedua mata, mulutnya terbuka lebar lalu berteriak tanpa suara.
Jadi begini rasanya? Pantas saja banyak wanita yang ingin tidur dengan tunangannya secara sukarela, rasanya tidak dapat dilukiskan.
Padahal dulu dia selalu menertawakan orang-orang yang melakukan hubungan kotor dengan liar dan bebas atau menatap rendah orang-orang yang mengagungkan hubungan kotor itu.
Adair yang sudah mendengar kepala pelayan dan Ajeng berjalan menjauh dari pintu, merebahkan Erina di tempat tidur tanpa melepas penyatuan mereka, kepalanya menghadap pintu masuk supaya bisa waspada jika ada orang yang masuk.
Selain itu-
Adair tidak ingin menyakiti Erina dan membuat kaki Erina melingkar di pinggangnya dan mulai bergerak.