MAFIA VS CEO

MAFIA VS CEO
DUA PULUH



Erina menyentuh pipinya dan bertanya sebelum Adair keluar. "Kenapa kamu menculik aku?"


Adair yang hendak menyentuh pintu, balik badan. "Pangeran tidak butuh persetujuan putri untuk menyelamatkannya."


Raut wajah Erina berubah masam.


Adair keluar dari pintu dan tanpa sengaja bertemu Ajeng.


Ajeng yang membawa nampan berisi minuman, terkejut. "Tuan."


"Apa?"


"Saya membuatkan minuman ini untuk tuan."


Pintu kamar belum ditutup dan Erina bisa melihat pemandangan itu.


"Tidak perlu." Adair menutup pintu lalu berjalan meninggalkan Ajeng.


Ajeng melirik sekilas kamar kepala keluarga lalu punggung Adair yang sudah menjauh.


Sementara di dalam kamar, Erina melihat sekeliling. Sepintas terlihat seperti kamar Adair tapi ternyata tempat ini jauh lebih luas dan mewah.


Kalau diingat kembali, ini adalah kamar kepala keluarga. Adair sengaja tidak menaruhnya di kamar apakah karena dia pernah memergoki pria itu sedang bersama wanita lain?


Erina mengangkat kedua bahu dengan santai lalu menghabiskan sarapannya. Selama ini Adair tidak mau memasok makanan untuknya karena tidak mau ada orang lain yang tahu hubungan mereka berdua, tapi dia bisa makan sepuasnya jika berkunjung ke rumah sementara tidak mungkin setiap hari datang ke rumah ini.


Kira-kira apa yang membuat Adair memaksa dirinya untuk pindah ke rumah keluarganya, ya?


Sementara Rei kebingungan setelah melihat dua pria bertubuh besar dan berkacamata serta memakai pakaian formal berdiri di hadapannya. Rei juga seorang pria, pria lurus. Tapi masalahnya tubuh dia kecil, imut seperti anak perempuan meskipun lebih tinggi dari tinggi perempuan normal Indonesia yang rata-rata di bawah 160cm.


Jantungnya berdebar ketakutan, menatap mereka berdua sementara Dewi sembunyi di belakangnya.


"Tuan menyuruh kami untuk menjaga anda selama mengambil dokumen di rumah sakit, lalu kamu!"


Pria itu mengalihkan tatapannya ke Dewi yang terkejut ketakutan di belakang Rei.


"Bawa juga barang-barang yang diperlukan, untuk kamu dan nona muda."


Dewi akhirnya paham siapa mereka. "Apakah kalian suruhan tunangan nona?"


Rei memang pernah mendengar nona muda bertunangan dengan seseorang, hanya saja dia tidak pernah melihatnya. Dia hanya bertemu dengan orang tua tunangan nona.


"Aku akan berkemas." Angguk Dewi lalu menoleh ke Rei. "Aku juga perlu mengemas barang-barang kamu nggak?"


Rei menggeleng cepat. "Barangku sedikit, nggak perlu. Habis ini aku berkemas lalu titip ke kamu, setelah itu aku ke rumah sakit."


"Ya."


Rei melirik curiga kedua bodyguard itu sebelum masuk ke dalam rumah.


 


"Tuan."


Adair mengangkat kepalanya ketika salah satu suruhannya masuk ruang kerja tanpa mengetuk pintu.


"Saat ini para polisi gencar mencari pelaku penjualan narkoba."


"Apa yang harus dikhawatirkan? Mereka hanya menangkap kasus kecil untuk naik pangkat." Jawab Adair dengan santai. Dia tidak peduli masalah kecil seperti ini dan semua anak buahnya pun tahu. "Kenapa kamu jadi panik?"


"Masalahnya yang ditangkap perdagangan besar."


Adair meletakkan pena lalu menatap lurus anak buahnya. "Aku tidak mengerti."


"Jadi ada orang bodoh yang mengungkapkan nama salah satu bandar dan bandar itu diperiksa lalu menyebut nama salah satu orang kita dan-"


Adair mengangkat tangan untuk menghentikannya. "Aku paham, yang aku tidak mengerti- kenapa mereka sampai mengejar kita? Apakah kekurangan uang?"


"Kami sedang menyelidikinya."


Adair mengangkat salah satu alis. "Kalian tidak tahu?"


"Kami belum mendapatkan hasil, tapi kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan jawabannya."


Adair melempar asbak keramik di dekat kaki anak buah itu. "Kamu datang ke sini tanpa mendapatkan jawaban pasti dan hanya melapor? Tujuan kamu apa?"


"Apakah ingin aku menyelamatkan kalian semua?"


"Tuan, bukan begitu. Saya hanya melapor karena-"


"Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membungkam dan menyelamatkan kalian, lalu kalian tidak becus menyelamatkan diri sendiri?"


"Maafkan saya, saya telah lalai."


"Uang adalah transaksi kita dan itu sama dengan aku telah membeli nyawa kalian, aku tinggal menikmati hasilnya. Jika ada masalah di luar itu, kalian cukup mengatasinya sendiri, jika tidak bisa, kalian bisa mencari musuh yang bisa ditumbalkan. Bermainlah cerdas."


Erina yang hendak mengetuk pintu ruang kerja Adair, membeku ketika mendengar kalimat tunangannya itu.


Bermainlah cerdas.


Erina mencerna kalimat Adair lalu mengaitkannya dengan orang'orang di sekitarnya yang bisa dianggap cerdas. Pantas saja, banyak orang cerdas yang terlibat masalah- ternyata mereka melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?"


Erina menoleh dan melihat Ajeng berdiri anggun tidak jauh darinya.


"Tuan ada di dalam, anda juga bisa masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu."


Dahi Erina berkerut tidak mengerti. "Apakah kamu sedang mengejekku?"


"Tidak, hanya memberikan informasj gratis."


Erina tersenyum. "Terima kasih."


Ajeng tidak menyangka dengan reaksi biasa Erina. "Saya juga bisa melakukan itu juga."


Erina menaikan salah satu alis.


Ajeng tersenyum licik lalu membuka pintu kantor tanpa mengetuk pintu.


Erina mundur.


Sebelum Adair melihat sosok Erina, Ajeng menutup pintu terlebih dahulu dan mengatakan sesuatu.


"Tuan, saya mendapatkan laporan dari salah satu pengusaha yang anda inginkan, mereka ingin bertemu dengan anda."


"Bagus."


Ajeng tersenyum puas begitu mendengar reaksi Adelio. "Apakah anda tidak ingin memberikan saya hadiah?"


"Jangan sekarang."


"Tapi saya ingin sekarang."


Adair mengusir anak buah itu lalu memanggil Ajeng untuk duduk di pangkuannya.


Anak buah itu membuka pintu dan terkejut melihat sosok Erina berdiri diam dengan tatapan dingin, dia sangat mengenal wajah tunangan tuannya. "No- no- hmph."


Erina menutup mulut pria itu lalu melirik di belakang anak buah itu, Ajeng sudah duduk di pangkuan Adair. Punggung wanita itu membelakangi mereka.


Erina menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. Jika ada cerita mengenai mafia bucin dan hanya mencintai wanita polos di dunia ini, aku tidak akan pernah percaya. Batinnya.


Anak buah itu menutup pintu dari belakang dengan perlahan sambil mulutnya ditutup Erina.


Erina menghela napas ketika pintu sudah tertutup.


"Nona, anda tidak akan masuk ke dalam?"


"Tidak perlu, dia sepertinya akan sibuk." Ejek Erina lalu pergi menjauh. Tadinya dia ingin meminjam ruang kantor atau perpustakaan, untuk dijadikan ruang kerja. Tapi lebih baik bekerja di dalam kamar kepala keluarga.


Anak buah itu terkejut dengan reaksi dingin Erina, normalnya pasangan wanita pasti akan cemburu dengan marah, menyerang mereka berdua ataupun menangis. "Nona, apa anda tidak cemburu dengan wanita itu? Mereka akan tidur bersama."


Erina tertawa sinis dan mengeraskan suaranya hingga terdengar di dalam ruang kerja Adair. "Wanita itu hanya mendapatkan tubuh Adair sementara aku mendapatkan harta Adair, sampai matipun dia berlutut dan merayu tunanganku- dia tidak akan pernah bisa tidur di kamar kepala keluarga."


Anak buah Adair menatap takjub Erina dan memujinya. "Anda memang cocok menjadi wanita pangeran mafia."


Erina menjawab santai. "Aku tidak suka menjadi wanita yang hanya membuka kaki untuk menyenangkan pria, lebih baik aku menyenangkan diriku sendiri."


Setelah puas mengeluarkan balasan, Erina buru-buru masuk ke dalam kamar dan menguncinya, menunggu Rei dan Dewi sampai ke rumah ini.