
Erina mengerutkan kening ketika membaca email yang diberikan Rei. Laporan keuangan yang sempat disembunyikan pamannya telah ditemukan. Namun semua tanggalnya tercantum saat ayah kandung Erina masih menjabat.
Sekarang Erina menunggu Adair di dalam mobil. Karena bosan, akhirnya menggunakan
Muncul pesan chat di laptop Erina, dia segera membukanya.
'Nona muda, saya mendapat data itu berkat tunangan anda, namun sayang sekali kita tidak bisa mengungkapnya.'
Erina paham yang dimaksud Rei. Jika mereka mengungkap ke dewan, otomatis nama ayahnya akan diseret dan Erina bisa saja dikeluarkan dari daftar pewaris. Ada tanda tangan ayahnya juga.
Erina segera membalas. 'Apakah ada yang lain?'
Tidak lama, Rei membalas. 'Sayangnya tidak ada.'
Erina menghela napas panjang lalu menutup laptop. Paman terlalu lihai dan manipulator ulung, kenapa ayah bisa percaya padanya? Rasa kasihan 'kah?
Pikiran itu selalu muncul berulang kali di benak Erina.
"Nyonya, apakah anda lapar?"
Erina melihat kaca pembatas antara sopir dan penumpang belakang terbuka, dia memang sengaja buka karena takut sendiri.
"Memangnya kalau aku lapar, kalian akan menyiapkan makanan?" Tanya Erina sambil tertawa geli.
"Kami akan mengambil makanan di dalam pesta, sepertinya tuan rumah ingin menjilat tuan besar sehingga membiarkan kami mengambil makanan tamu."
Erina bisa menebak. "Paman pasti sekarang menyodorkan Dian ke Adair, malam ini lihat saja- apakah mereka akan tidur bersama?"
Sopir dan pengawal yang duduk di depan menjadi bingung dengan perkataan Erina.
"Nyonya, apakah anda tidak cemburu?"
"Tuan besar memang memiliki banyak kekasih, namun hanya anda yang akan menjadi istrinya. Apakah anda tidak merasakan perasaan posesif sedikit pun?"
Erina tertawa mendengar nada khawatir sopir dan pengawal. "Tidak, aku tidak bisa cemburu. Bukankah kaum pria tidak suka mendapat wanita pencemburu?"
Sopir dan pengawal saling bertukar tatapan lalu pengawal mulai mengaku dosa ke Erina.
"Jujur saja, nyonya muda. Saya lebih nyaman dengan wanita yang cemburu, jika mereka cemburu- saya semakin mantap selingkuh, bukankah pada akhirnya kita tahu telah dicintai dan nanti akan kembali padanya?"
Sopir memukul kepala pengawal dengan keras. "Kamu bicara apa di depan nyonya? Nanti Tuan marah lagi."
"Aduh!"
Erina bisa mendengar suara pukulan keras dan teriakan kesakitan secara bersamaan. "Apakah itu yang dipikirkan pria?"
"Nyonya muda, jangan dipikirkan. Tuan tidak mungkin berpikir jahat seperti itu."
"Ah, benar-benar. Tuan pasti ingin yang terbaik untuk Nyonya."
Erina merasa terhibur. "Terima kasih banyak."
Sopir dan pengawal menjadi salah tingkah.
"Dalam keadaan apa pun, aku tidak akan meninggalkan Adair, jadi kalian tidak perlu cemas," janji Erina.
Sopir dan pengawal menghela napas lega.
Erina menatap luar jendela dengan tatapan sayu, menunggu tunangan kembali dari misi.
Di ruang kerja Haris.
Dian merintih bahagia. "Yah- di situ-"
Kedua kaki Dian terbuka lebar sementara dia setengah berbaring di atas meja, kedua tangan diikat ke belakang sementara ****** ***** masih tergantung di pergelangan kaki kanan.
"Ah-" Dian tiba-tiba merinding. Kedua matanya ditutup dengan kain, sehingga tidak bisa melihat apa yang dilakukan lawannya. "Tuan... aku akan memberikan segalanya..."
Adair berdiri di belakang pelayan yang kepalanya terbenam di antara paha Dian. Dia menjambak rambut pria itu hingga menengadah ke atas.
Adair bertanya dengan suara serak. "Benarkah? Kamu akan memberikan segalanya kepadaku?"
"Ya, ya- aku akan berikan segalanya." Dian merasa kosong setelah lidah itu tidak ada lagi. "Masuk- tolong masuk."
"Aku akan masuk, tapi beritahu aku satu hal."
Adair berbisik di telinga Dian. "Di mana brankas milik keluarga paman kamu?"
Dian menjadi bingung. "A... aku tidak tahu... tolong masuk... aku tidak tahan lagi."
"Benarkah kamu tidak tahu?" Tanya Adair. "Coba bayangkan, jika malam ini aku memberikan yang kamu inginkan- lantas apa yang kamu bisa berikan kepadaku? Banyak wanita cantik yang ingin menjadi kekasihku."
Dian tahu cerita Adair yang memiliki banyak kekasih, cemburu merayap di hatinya. "Aku bisa memberikan semua yang Tuan inginkan."
"Bagus, maka berikan aku brankas paman kamu."
"Kenapa Tuan menginginkannya?" Dian mencurigai Adair.
Adair menegakkan tubuh lalu menatap jijik wanita murahan di atas meja. "Karena aku ingin bukti, sangat tidak adil jika aku berikan semua yang kamu inginkan di masa depan tapi kamu tidak memberikan apa yang aku inginkan."
Perasaan serakah muncul di benak Dian. Karena sedikit mabuk, dia tidak bisa berpikir jernih lagi. "Aku akan beritahu."
Adair menatap pelayan yang berjongkok lalu memberikan tanda lewat mata.
Pelayan itu mengangguk dan berdiri, jari telunjuk menusuk taman bunga milik Dian.
Dian menjerit nikmat.
"Ini hanya permulaan, beritahu aku di mana letaknya."
Tangan pelayan itu mulai bergerak.
Dian dengan susah payah menjawab.
Adair mengikuti arahan Dian lalu menemukan yang dicari, dia segera menukar isi dokumen dengan dokumen palsu. Besok, dia akan mengarahkan Ajeng untuk menukar dokumen palsu yang disesuaikan dengan dokumen asli dan sedikit dirubah.
Erina sudah memberitahu letak kode disimpan, jadi dia bisa bergerak cepat menukarnya.
Adair menyembunyikan di balik jas yang sudah dimodifikasi, lalu mengambil jas pelayan yang sudah dimodifikasi juga.
Adair segera menutup brankas dan bicara ke Dian. "Sayang sekali, aku tidak tahu password nya."
Dian tidak menjawab dan hanya merintih.
Adair menunggu sebentar hingga mereka berdua selesai.
Dian pingsan.
Adair dan pelayan segera keluar dari ruangan, Adair berpura-pura memperbaiki pakaiannya sementara pelayan di belakang sudah rapi.
Tidak ada cctv di dalam ruangan karena Haris tidak mau gerak-geriknya diketahui orang lain, hal itulah yang menjadi kelemahan Haris.
Cctv hanya tersedia di luar ruangan sehingga Adair harus pura-pura memperbaiki pakaiannya.
Haris dan Endang yang mengamati tidak jauh dari ruang kerja bersorak bahagia, meskipun sedikit bingung karena ada pelayan yang mengikuti.
Haris dan Endang tidak begitu memperhatikan pelayan sewaan, siapa pun yang tidak berguna bagi mereka, tidak akan mereka kenali. Hal inilah yang dijadikan celah untuk Adair.
Endang bertanya ke sang suami. "Kenapa pelayan ikut bersamanya?"
"Mungkin untuk berjaga supaya tidak ada yang masuk, yang terpenting Putri kita sudah tidur bersama Tuan dan kita akan mendapat keuntungan banyak."
Endang menghela napas lega. "Aku tidak sabar belanja banyak dan ikut arisan lagi."
"Sabar, nanti Dian akan meluluhkan hati Tuan. Sekarang baru awal."
Adair dan pelayan berjalan keluar rumah tanpa pamit ke Haris dan Endang.
Tuam rumah pun hanya bisa maklum.
Adair masuk ke dalam mobil.
Erina menatap lekat Adair dan mencium wangi parfum mahal kelas menengah. "Kamu tidur dengan Dian?"
Adair menoleh. "Kenapa memangnya jika aku tidur dengan sepupu kamu?"
Erina tertawa renyah dan menyindir. "Bukankah tuan mafia harus jatuh cinta dengan satu orang saja?"
Sopir menaikan kaca pembatas, tidak ingin ikut pertikaian.