
Ajeng berdiri di sudut pintu perpustakaan supaya tidak menggangu, setelah diperiksa dokter dan meminum obat yang diberikan Adair. Tubuhnya merasa enak.
1 jam
2 jam
Tidak ada yang menyuruh Ajeng pergi sementara kedua sejoli membaca dengan tenang di posisi sama.
Ajeng ingin mengatakan sesuatu lalu tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, dia menghela napas lega.
"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu." Kepala pelayan masuk setelah diizinkan Adair.
"Siapa?"
Kepala pelayan melirik Erina sekilas. "Pasangan suami istri yang berhutang dengan anda, sepertinya mereka membawa uang dan barang-barang berharga."
Erina bangkit dan tetap duduk membaca buku.
Adair menepuk kepala Erina sekilas lalu pergi, Ajeng mengikuti dari belakang bersama kepala pelayan.
Setelah pintu tertutup, Erina membuka pintu ruang kerja supaya suara tamu itu terdengar.
Adair, Ajeng dan kepala pelayan yang menuruni tangga, melihat Haris, Endang dan kedua anaknya berdiri di tengah ruangan yang kosong, menatap cerah dirinya.
Haris menggosok tangannya dengan tidak sabar. "Saya sudah membawa uang dan beberapa barang berharga untuk membayar bunga, anda harus bersabar sedikit lagi supaya saya bisa membayar hutang lainnya."
Adair tetap berdiri di tengah tangga, menatap jijik Haris dan keluarganya. Mereka mengosongkan harta berharga keluarga tunanganku demi membayar bunga hutang?
Tangan kanan Adair yang berada di bawah tangga, segera menghitung jumlah uang bersama yang lain.
"Sepertinya, kamu tidak hanya berhutang di tempat aku saja," kata Adair.
Haris mengangguk. "Saya mengutamakan pembayaran untuk anda, biar bagaimanapun- selama ini anda membantu dan mendukung saya. Lihat, saya datang bersama istri dan anak-anak."
Istri dan anak-anak Haris membungkuk untuk memberikan salam.
Ajeng menatap angkuh para badut yang sedang memainkan lelucon buruk.
Dian, anak perempuan Haris. Menatap tidak suka Ajeng yang bisa berdiri di belakang Adair. "Kenapa kamu berdiri di sana? Bukankah wanita yang hanya menjadi gudang para pria, harusnya berdiri jauh dari tuan Danel?"
Ajeng menoleh dan melihat seorang anak kecil sedang memprovokasi dirinya. "Terima kasih atas pujiannya, tapi saya hanyalah bawahan yang setia kepada atasannya."
Dian tidak percaya. Dia berjanji di dalam hati, suatu hari jika bisa menikah dengan Adair, akan mengusir jauh wanita tidak tahu malu ini.
Setelah anak buah Adair menghitung total barang dan uang, tangan kanannya segera memberikan ke dia.
Adair membaca list barang-barang dan juga uang di dalam koper. Dia mengerutkan kening ketika melihat salah satu list yang menarik perhatiannya.
"Boneka teddy bear?"
...
...
Tangan kanan Adair segera menjelaskan. "Jika saya cek harga beli, sekitar satu juta delapan ratus untuk kurs sekarang. Tapi nilai bekasnya-"
"Tidak perlu dijelaskan, aku mengerti." Adair memberikan laporan ke kepala pelayan lalu turun dan mencari sendiri boneka teddy bear itu.
Dia membelikannya untuk Erina saat lulus SMA, anak itu bilang kesepian sementara Adair sendiri tidak bisa terus-terusan menemani, hingga pada akhirnya- dia beli sepasang boneka teddy bear saat di eropa, di punggungnya ada inisial nama. Teddy Alma diberikan inisial E dan dia yang bawa, lalu Teddy Arnulf diberikan inisial A, yang dibawa Erina.
Haris bingung melihat tingkah Adair. "Pak, anda cari apa? Anda bisa membeli segalanya tanpa harus mengorek sampah-sampah di sana."
Tangan Adair berhenti bergerak. "Sampah?"
"Ya, ini semua sampah. Jadi kenapa anda mengore-"
BRAK!
Haris berlutut ketakutan. "Ma- maaf, saya salah bicara. Itu semua bukan sampah.'
Endang dan anak-anaknya melakukan hal sama, mereka takut dengan kemarahan Adair.
Adair melihat boneka teddy bear dari tumpukan guci yang pecah, dia mengangkatnya dengan jari telunjuk dan jempol, menatap jijik boneka yang sudah kumal karena dimasukan sembarangan.
Apakah dia menganggap remeh pemberianku?
Dian menatap boneka kumal itu. "Tu- tuan, saya menemukan boneka itu dalam keadaan terbungkus plastik, tapi entah kenapa malah tidak ada plastik dan kotor."
Edi menatap jijik adiknya. "Buat apa kamu mengumpulkan boneka itu? Tidak ada nilainya. Di pinggir jalan banyak!"
"Kakak sudah dengar perkataan pegawai tadi 'kan? Harganya saja sudah jutaan. Aku sempat melihat boneka itu ditaruh di dalam kotak kaca. Karena aku butuh kotak itu, jadi aku membungkusnya dengan plastik."
"Aku pikir boneka tidak berguna, makanya aku taruh asal di guci. Plastiknya aku butuh buat buang sampah."
Akhirnya Adair paham sekarang, dia membawa boneka itu dan melemparnya ke kepala pelayan.
Kepala pelayan menangkapnya dengan cepat.
"Cuci bersih boneka itu!" Perintah Adair tanpa malu.
Dian menegakkan tubuhnya. "Tuan, jika anda menyukai boneka. Saya bisa berikan yang lebih bagus, bahkan saya juga bisa menjahit yang lebih besar."
Adair berjalan melewati keluarga sirkus itu dan memberikan perintah ke tangan kanannya. "Hitung ulang semuanya, aku tidak mau sampah."
Raut wajah Haris memucat, Edi melayangkan protesnya. "Tuan, anda tidak adil. Kami memberikan utuh dan memiliki nilai, tapi anda malah menghancurkannya dan sekarang benda-benda ini tidak memiliki nilai."
Ajeng tertawa mengejek. "Bukankah kalian terlebih dahulu yang bilang benda-benda itu sampah?"
Edi tertegun, tidak bisa membalas perkataan wanita cantik itu.
Endang menatap sedih serpihan barang-barang yang sudah menjadi sampah. Tahu begitu, barang-barang ini ditaruh di rumah atau diuangkan terlebih dahulu.
Adair yang menaiki tangga, dan tahu Ajeng mengikuti, dia menegurnya. "Jangan ikuti aku!"
Ajeng menghentikan langkah dan menatap punggung Adair. Dia terlihat kesepian tapi tidak menunjukkannya, sayang sekali aku tidak bisa menghibur.
Adair yang melihat pintu ruang kerja terbuka lebar, segera masuk dan menutupnya. "Kamu dengar?"
"Tidak heran, orang itu memiliki banyak selingkuhan dan anak-anak liar, jadi dia harus mendapatkan banyak uang sesegera mungkin. Bibi dan anak-anaknya menutup mata dan telinga, selama ayah mereka masih bertanggung jawab."
Adair duduk di sebelah Erina dan menggodanya. "Seperti kamu? Apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama? Menutup semua akses, bersikap tidak peduli selama aku bisa memberikan semua keinginan kamu."
Erina membalas tatapan Adair. "Apakah kamu akan berhutang seperti yang dilakukan paman?"
"Tidak."
"Apakah kamu akan memiliki anak-anak liar?"
Adair menyipitkan mata. "Apakah kamu sedang menghinaku sekarang?"
Erina tidak peduli dengan pertanyaan Adair lalu kembali bertanya. "Apakah kamu tahu semua keinginanku?"
Adair tidak bisa menjawab. Dia memang kenal Erina sejak kecil, tapi tidak tahu semua keinginannya jika dia tidak bicara langsung.
"Kamu hanya manusia biasa, dan aku tidak pernah menuntut kamu untuk tahu segalanya tentang aku, Adair. Aku datang kesini juga ingin memastikan bahwa kamu tidak pergi dariku, tapi bukan berarti aku menahan semua kebebasan kamu."
"Eri-"
"Sekarang aku sudah tahu dilarikan kemana semua harta keluargaku, lalu kamu menghancurkan sebagian harta berharga."
"Aku- minta maaf."